
"Ardi?" Sapa Niken penuh keterkejutan, kala sang putra kembali ke rumah sakit, saat jam kerjanya.
"Iya, Ma, Pa." Sahut Ardi datar.
Ardi berjalan begitu saja memasuki ruang perawatan Kenzo. Sang putra sedang tidur siang saat ini. Jadi ia belum tahu, jika ayahnya kembali ke rumah sakit.
"Ada apa? Kamu bilang ada dua rapat hari ini?" Tanya Rama paham.
"Ada yang ingin Ardi katakan, Pa." Jawab Ardi lesu.
Ardi duduk di sofa, tepat di sebelah kiri ayahnya. Niken yang sedang duduk di dekat ranjang Kenzo, akhirnya juga ikut duduk di sofa karena penasaran dengan apa yang akan Ardi katakan. Karena ia cukup paham, bagaimana sifat putranya itu.
"Ada masalah di kantor?" Tanya Rama ragu.
"Tidak, Pa."
"Lalu?"
"Aini hilang."
"Hilang bagaimana maksudmu? Bukannya tadi dia ke pasar dengan Reno?" Tanya Niken panik.
"Dia di culik, Ma."
"Kamu jangan bercanda, Di! Itu bukan hal yang lucu." Sahut Niken kesal.
"Ardi juga tidak ingin itu terjadi, Ma. Tapi itu adalah kenyataannya. Aini diculik saat ia di pasar tadi." Aku Ardi sedih.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa Reno hanya seorang diri? Dia dikepung?"
"Tidak, Pa."
"Lantas? Reno bukanlah pengawal baru yang bisa sangat ceroboh, Di."
"Ardi juga tahu itu, Pa. Ardi juga ikut andil dalam masalah ini."
"Jelaskan yang benar, Di!"
Ardi lantas menceritakan kejadian bagaimana Aini bisa diculik saat di pasar tadi. Dika sudah menceritakan padanya tadi saat di rumah.
Dika menceritakan hal itu juga pada Sri, dan Joko yang memang sedang berada di rumah. Dengan harapan, mereka bisa membantu Ardi, menjaga dan memberitahu Umar tentang hal itu nanti.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Ardi kembali memikirkan keputusannya yang telah membiarkan Aini pergi ke pasar dengan Reno tadi. Ia benar-benar menyesali keputusannya itu.
"Siapa pelakunya?" Tanya Niken cemas.
"Pelaku apa?" Sapa seseorang yang tiba-tiba masuk begitu saja ke ruang perawatan Kenzo, yang tak lain adalah Gilang.
"Aini diculik." Jawab Rama sedih.
"Om bercanda?" Remeh Gilang sambil berjalan mendekati tiga orang itu.
"Tanyakan pada Ardi!" Sahut Niken singkat.
"Itu nggak bener kan, Di?" Tanya Gilang santai.
Ardi diam tak menjawab. Laki-laki gagah itu sedang sangat enggan untuk banyak bicara. Pikirannya sedang sangat sibuk memikirkan bagaimana dan dimana Aini sekarang.
"Kamu jangan bercanda, Di! Aini masih dalam masa pemulihan pasca operasi." Imbuh Gilang tak terima.
Ardi segera menoleh ke arah sahabatnya. Matanya membelalak sangat terkejut. Ia bahkan melupakan hal penting itu sejak tadi.
Ya, kondisi Aini belum pulih seutuhnya. Meski ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa, tapi memang masih butuh waktu untuk pulih seutuhnya setelah ia mendonorkan sumsum tulang belakangnya kemarin. Apalagi, Aini kemarin sempat mengeluhkan nyeri pada bagian yang dilakukan prosedur pengambilan sumsum tulang belakangnya.
"Jangan main-main dengan hal itu, Di! Aku akan membunuhmu jika sampai itu benar-benar terjadi." Ancam Gilang tanpa ragu.
Ardi menghempaskan tubuhnya lemas. Hatinya makin tak karuan mengingat hal itu.
"Bagaimana kamu menjaganya, Di? Itu bisa berakibat fatal untuknya." Marah Gilang.
"Aku juga tak menginginkan hal itu, Lang." Jawab Ardi frustasi.
"Apa dia pergi sendirian?"
Ardi hanya menggeleng.
"Lalu?"
__ADS_1
"Dia pergi ke pasar dengan Reno."
"Reno katamu? Bukankah dia salah satu pengawal handalmu? Bagaimana bisa dia bisa kehilangan Aini?"
"Cukup, Lang!" Bentak Ardi seraya berdiri.
"Aku juga sedang berusaha mencari Aini dan siapa pelaku yang sebenarnya. Karena dari penuturan Reno, penculik Aini sudah cukup profesional. Jadi jelas, para penculik itu hanyalah orang bayaran."
Gilang makin terkejut mendengar jawaban Ardi. "Lalu, siapa yang kamu curigai?"
"Siapapun bisa menjadi pelakunya, Lang."
"Bagaimana dengan mantan istri sialanmu itu. Jangan lupa, ia hampir mencelakai Aini kemarin." Jawab Gilang kesal karena mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Apa maksudmu, Lang? Siapa yang mau mencelakai Aini?" Sahut Niken tak percaya.
Ardi memang belum memberitahukan pada Rama dan Niken tentang kejadian di rumah sakit tempo hari. Meski Rama dan Niken saat itu ada di rumah sakit sedang menjaga Kenzo, tapi mereka tidak begitu menghiraukan kegaduhan yang terjadi di luar ruang rawat Kenzo.
Dan lagi, Ardi juga belum sempat memberitahukan kejadian itu, karena pikirannya yang memang sedang terbagi pada dua orang yang ia sayangi itu. Ia juga tak mau memikirkan hal yang bersangkutan dengan mantan istrinya itu. Ia lebih memilih fokus pada Aini dan Kenzo.
"Kamu belum kasih tahu om sama Tante?" Tanya Gilang santai.
"Belum."
"Apa ini, Di? Apa maksud ucapan kalian tadi?" Tanya Rama ikut penasaran.
Ardi pun akhirnya menceritakan kejadian saat kemarin Aini dikunjungi oleh seorang perawat aneh dan beruntung bisa diselamatkan oleh pengawalnya. Meski Aini harus terlelap cukup lama karena obat bius yang masuk ke tubuhnya.
"Kenapa kamu tak melaporkannya ke polisi, Di?" Tanya Rama bingung.
"Ardi tak mau gegabah, Ma. Dengan obat yang ditemukan di bawah ranjang Aini kemarin, Ardi yakin, Oliv tak mungkin sendirian. Dan jika Ardi langsung melibatkan pihak kepolisian, mereka pasti sudah sangat siap dengan hal itu."
"Dan sekarang, Aini berhasil diculik mereka, bukan?" Remeh Niken.
"Kita tak tahu Ma, apakah yang menculik Aini ada hubungannya dengan Oliv dan rekannya atau tidak."
"Pasti jelas ada. Mereka pasti melakukan itu, karena Oliv gagal mencelakai Aini. Dan sekarang, itu tujuan mereka."
"Atau mungkin, salah satu rival bisnismu, Di?" Tanya Rama curiga.
"Itu juga bisa, Pa. Dika dan Reno sedang berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk hal itu."
"Karena Ardi pernah menyatakan di depan publik, bahwa Aini adalah calon istrinya, Tante. Jadi, mereka pasti ingin membalas dan menjatuhkan Ardi dari orang yang dekat dengan Ardi, Tante." Jelas Gilang yakin.
Ardi memejamkan matanya. Ia juga mendengarkan hal yang sama dari Dika dan Reno tadi mengenai hal itu. Ia sungguh menyesal jika memang itu benar adanya. Karena secara tidak langsung, jika memang dugaan mereka benar, apa yang Aini alami saat ini, adalah karena Ardi.
Semuanya terdiam sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Papa!"
Tiba-tiba, sebuah panggilan yang sangat familiar di telinga mereka, mengalihkan perhatian keempat orang yang sedang sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri itu. Kenzo. Ia terbangun karena suara gaduh keempat orang dewasa di ruang rawatnya.
"Iya, Ken. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ardi, seraya berjalan menghampirinya.
"Bunda mana, Pa?" Tanya Kenzo dengan suara yang masih mengantuk.
Ardi segera terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan putranya. Karena jika ia jujur, pasti akan sangat mempengaruhi kondisi Kenzo. Tapi jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya, Kenzo pasti akan terus menanyakan Aini yang belum diketahui keberadaannya saat ini.
"Bunda masih di rumah, Ken. Kata bunda, kamu minta dibuatin sesuatu. Mungkin, bunda sedang membuatkannya untukmu di rumah." Jawab Ardi ragu-ragu.
"Apa masih lama?"
"Bunda kan juga habis sakit, Ken. Ia pasti masih sedikit kesulitan membuatnya, karena kondisinya yang belum pulih." Bohong Ardi lagi.
"Kenapa bunda nggak dirawat di sini aja Pa, sama Kenzo?"
"Bunda nggak mau, Ken."
Rama, Niken dan Gilang, hanya mendengarkan percakapan Ardi dan Kenzo. Ia tak mau mengganggu dua laki-laki itu. Karena mereka juga tak tahu, apa yang ada di pikiran Ardi, untuk mengatasi situasi yang mereka khawatirkan saat ini.
"Umar?"
"Umar pergi sekolah, Ken." Jawab Ardi sedikit lega, karena Kenzo mengalihkan pertmhatiannya pada Umar.
"Kenzo nggak sekolah dong, Pa?"
"Kamu besok sementara, home schooling dulu ya! Kamu nggak boleh kelelahan selama pemulihan." Jelas Ardi perhatian.
__ADS_1
"Tapi Pa,,"
Ceklek. Suara pinru ruang rawat Kenzo tiba-tiba terbuka. Semua orang pun mengalihkan perhatiannya. Dan seseorang masuk ke ruangan itu dengan santai.
"Mama!"
"Iya, Ken." Jawab sang tamu yang baru saja masuk, Oliv.
Rama, Niken, Gilang dan Ardi sangat malas melihat kedatangan Oliv. Tapi tidak Kenzo. Ia terlihat cukup antusias menyambut wanita yang sedang berjalan menghampirinya itu.
"Saya permisi dulu, Om, Tante!" Pamit Gilang segera.
"Oh iya, Lang." Jawab Niken singkat.
Gilang segera berdiri dan berniat untuk pergi. Ia benar-benar malas, bertemu dengan Oliv. Mengingat, ulah terakhirnya yang hampir mencelakai Aini. Meski ia tak melihatnya secara langsung.
"Urusi dia, Di!" Pinta Gilang datar, sambil berjalan menuju pintu.
"Iya."
Gilang pun segera keluar dari ruang rawat Kenzo. Ia tak mau, nantinya akan lepas kendali pada Oliv, jika berlama-lama di sana. Dan jika itu terjadi, pasti akan mengejutkan Kenzo. Dan berakhir pada kondisi Kenzo yang tak bisa diprediksi.
Oliv begitu acuh pada Gilang. Ia tak mempedulikan nada bicara Gilang atau bahkan sikap Gilang yang tidak menyapanya sama sekali. Ia lebih memilih mendekati putranya yang antusias menyambutnya.
Oliv segera mengobrol banyak hal dengan Kenzo. Rama, Niken dan Ardi membiarkan hal itu. Ketiga orang dewasa itu, memilih diam dan tak mengusik mereka berdua.
Setelah cukup lama Oliv dan Kenzo mengobrol, ponsel Oliv tiba-tiba berdering cukup kencang. Oliv pun segera meraih benda pipih yang masih berada di dalam tasnya itu. Ia sedikit terkejut dengan nama yang tertera di layar ponselnya.
"Sebentar ya Sayang, Mama terima telepon dulu di depan!" Pamit Oliv lembut.
Kenzo hanya mengangguk patuh. Ia membiarkan Oliv keluar dari ruang rawatnya tanpa banyak bertanya.
"Ada apa?" Tanya Oliv sedikit panik, saat ia sudah berada di luar.
"Kita berhasil. Mereka berhasil membawa Aini."
"Oke. Aku akan mengunjunginya besok."
"Jangan! Itu terlalu berbahaya. Ardi pasti sedang mengawasimu saat ini."
Oliv segera menoleh kesana-kemari. Ia takut, jika peecakapannya dengan seseorang di seberang telepon, di dengar oleh orang lain. Apalagi, orang yang sedang dibicarakan oleh lawan bicaranya, berada tak begitu jauh darinya.
"Lalu? Aku sudah tak sabar. Tanganku sudah sangat gatal untuk membuatnya menyesal karena berani merebut posisiku."
"Terserah! Tapi aku yakin, Ardi sekarang diam-diam sedang mengawasi setiap gerak-gerikmu."
"Kenapa aku?"
"Kamu lupa, kemarin kamu sudah gagal melakukan bagianmu?"
"Oke, aku paham."
"Tiga hari lagi, jam lima sore. Kita bertemu di sana."
"Tapi,,"
"Terserah! Aku tak akan membantumu lagi jika sampai Ardi menemukan Aini sebelum kita mengunjunginya."
"Oke, oke."
"Baiklah. Hati-hati! Pasti ada mata yang sedang mengawasimu saat ini."
"Iya, terima kasih."
Panggilan Oliv pun berakhir. Ia kembali menoleh kesana-kemari untuk memastikan bahwa tak ada yang mendengar ucapannya saat bertelepon barusan.
Oliv lalu kembali masuk ke ruang rawat Kenzo. Ia pun kembali menemani Kenzo.
Dan karena hal itu, Ardi memilih untuk pergi dari sana. Ia ingin mencoba mencari keberadaan Aini saat ini. Bersama Dika dan para pengawalnya.
...****************...
Tak ada yang pernah tahu, kapan ujian itu akan datang. Dan juga tak ada yang tahu, ujian itu akan berakhir. Semua selalu menjadi misteri bagi setiap akal yang berpikir.
"Aku dimana ini?" Gumam seorang wanita yang sedang terbaring di atas lantai yang dingin.
Wanita itu merasakan beberapa bagian tubuhnya sedikit kebas dan kaku. Belum lagi, pergelangan tangan dan kakinya, yang jelas terasa, ada tali yang cukup kuat mengikat di sana. Mulutnya juga kesulitan untuk dipakai berbicara.
__ADS_1
Wanita itu sedikit menggeliat lalu berusaha untuk duduk. Ia berusaha menetralkan penglihatannya dengan kondisi ruangan yang minim pencahayaan.
"Halo Aini, Sayang!"