Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Poligami


__ADS_3

Sang surya masih belum menampakkan sinar hangatnya, karena sang rembulan juga masih setia menggantung indah di langit bersama ribuan bintang. Hawa nan dingin pun masih menyelimuti sebagian permukaan bumi.


Ardi membuka matanya karena Aini sedikit menggeliat untuk menyamankan posisi tidurnya. Ia menatap dengan seksama, wajah lelap Aini yang berada di pelukannya.


"Terima kasih, Sayang." Lirih Ardi.


Ardi pun mendaratkan sebuah kecupan di kening Aini. Ia lalu melirik ke arah nakas di samping tempat tidur. Ia ingin tahu, jam berapa sekarang. Ia lalu meraih ponselnya.


"Masih jam empat." Batin Ardi saat melihat jam di layar ponselnya.


Dengan perlahan, Ardi melepaskan pelukannya pada Aini. Dan membiarkan Aini melanjutkan tidurnya lagi. Ardi lalu pergi ke kamar mandi.


"Ma! Tolong minta salah satu pengawal mengantarkan baju untukku dan Aini ke rumah lama." Pinta Ardi, setelah ia keluar kamar, selesai mandi.


"Emang kamu nggak pulang?" Sahut Niken dengan sedikit kesal.


"Aini nggak punya baju ganti, Ma. Semalam kami tercebur ke kolam bersama."


"Alesan aja kamu! Bilang aja, mau bulan madu lagi kan kalian?" Sindir Niken.


"Rencananya sih enggak, Ma. Tapi karena kecebur kemarin, jadi iya, deh."


"Kan ada bajumu di sana."


"Celananya terlalu besar Ma, untuk Aini."


Niken terdiam di ujung telepon.


"Ma!" Panggil Ardi memastikan.


"Berarti semalaman Aini nggak pake baju? Wah, kebangetan kamu, Di."


"Pake kok, Ma. Aini pake kemeja Ardi semalam."


"Modus kamu!"


"Sama istri sendiri kan nggak papa, Ma."


"Sama apa lagi?"


"Udah, Ma. Itu aja. Nanti Ardi kan juga harus ke acara pernikahan Angga. Cuma butuh baju buat pulang aja, Ma."


"Ya sudah. Cepetan pulang! Kenzo nanyain terus semalam."


"Iya, Ma. Makasih, Ma."


"Ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ardi sengaja bangun lebih dulu, untuk meminta Niken mengirimkan baju ganti untuknya dan Aini. Ia sangat tahu, ibunya itu selalu bangun paling pagi di rumah. Jadi, ia dengan santainya meminta itu pada sang ibu.


Ardi lalu kembali ke kamar untuk membangunkan Aini. Karena memang, sebentar lagi juga sudah masuk waktu sholat subuh.


"Sebentar lagi, Mas! Aku masih capek." Sahut Aini dengan mata yang masih terpejam.


Dan bukannya bangun, Aini malah memeluk Ardi dengan sangat erat. Seolah-olah, Ardi adalah gulingnya yang sangat nyaman. Ia bahkan menempel ke dada Ardi dengan begitu nyaman.


"Apa sangat nyaman, Sayang?" Tanya Ardi sambil melihat Aini.


Aini mengangguk begitu saja. Ia masih sangat diliputi rasa lelah dan kantuk yang begitu besar, setelah bulan madu tak terencana semalam.


Ardi pun masih membiarkan Aini kembali terlelap. Sembari menunggu anak buahnya mengantarkan baju ganti.


Setelah kumandang adzan subuh, Ardi benar-benar membangunkan Aini. Tapi,,


"Mas, aku nggak punya baju ganti. Nggak ada jilbab juga di sini." Bingung Aini setelah ia bangun.


"Mama sudah meminta seseorang mengirimkan baju untuk kita. Tunggulah sebentar lagi! Kamu mandilah dulu!"


"Mama?" Ucap Aini tak percaya.


"Iya. Aku tadi menelepon mama dan memintanya mengirimkan baju ganti untuk kita." Santai Ardi.

__ADS_1


"Aaaahhh Maaasss,, kok bilang mama sih?" Panik Aini.


"Lha kenapa memangnya?"


Aini segera menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Ia bahkan menghentak-hentakkan kakinya.


"Kamu ini kenapa, Sayang?" Bingung Ardi.


"Mas, sih! Kenapa pake bilang sama mama kalau kita nggak punya baju ganti,," Kesal Aini.


"Kan biar mama bisa ngirimin kita baju ganti buat pulang, Sayang."


"Tapi kan mama jadi tahu, semalam kita habis ngapain, Mas."


"Astaga, Sayang. Buat mama, itu sudah bukan hal yang aneh, Sayang. Mama sudah terbiasa dengan papa tentang hal seperti itu."


"Ya kan itu sama papa, Mas." Rajuk Aini dengan perasaan kesal dan malu.


Aini merasa malu karena Niken jelas tahu, jika semalam ia dan Ardi pasti menikmati waktu berdua. Dan malah menitipkan dua putra mereka pada Niken dan Rama.


Ardi lalu mengecup kening Aini untuk menenangkannya.


"Tenanglah! Sekarang, mandilah dulu! Setelah itu kita sholat dan segera pulang. Semua pasti baik-baik saja dan akan seperti biasa. Kamu tak perlu sekhawatir itu!" Lembut Ardi.


"Aku malu, Mas."


"Mama pasti paham, Sayang. Kita juga belum lama menikah. Wajar jika kita ingin sering menghabiskan waktu berdua dan melakukan hal itu lebih sering."


"Tapi Mas,,"


"Aku ingin segera memiliki buah cinta kita, Sayang. Jadi, kita harus lebih sering melakukan itu. Dan mama, pasti paham tentang itu."


Aini terdiam.


"Tenanglah! Aku yakin, mama tidak akan membicarakan hal itu nanti."


Aini masih merasa cemas dan malu. Meski, yang dikatakan Ardi ada benarnya. Sindrom pengantin baru masih melekat di hati mereka hingga saat ini. Jadi, mereka masih ingin sering-sering menghabiskan waktu berdua. Seperti malam tadi misalnya.


Ardi lalu mendekap Aini dengan hangat. Ia kembali mencoba menenangkan Aini. Dan akhirnya, Aini pun lebih tenang setelah mendapat pelukan dari Ardi. Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari menunggu anak buah Ardi datang mengantarkan baju gantinya.


Dan tepat seperti apa yang Ardi katakan, saat sampai di rumah, Niken sama sekali tidak mengungkit perihal apa yang dilakukannya dengan Ardi semalam di rumah lama.


Siang harinya, Ardi dan Aini menghadiri pernikahan Angga dan Erna yang digelar sederhana di panti asuhan dimana Erna dibesarkan. Kedatangan mereka jelas disambut hangat oleh pemilik panti. Apalagi, pemilik panti sudah beberapa kali bertemu dengan Aini. Karena Aini sempat ikut Erna pulang ke panti, saat Erna menemani Aini di Banyuwangi dulu.


Acara yang awalnya digelar sederhana, mendadak begitu ramai karena kedatangan teman-teman kedua mempelai yang memang cukup banyak. Mereka sangat antusias dengan pernikahan kedua rekan seperjuangan mereka itu.


...****************...


Matahari pagi sudah bersinar dengan begitu cerahnya. Menghangatkan bumi pertiwi dengan perlahan namun pasti. Membawa suasana bahagia pada setiap hati yang selalu menantinya.


Waktu terus saja berlalu. Menapaki setiap detik dan menit tanpa henti. Dan tanpa terasa, dua bulan sudah pernikahan Ardi dan Aini berjalan. Tapi sampai saat ini, belum ada tanda-tanda kehamilan dari Aini. Bahkan, ia baru beberapa hari yang lalu selesai datang bulan.


Dan itu jelas menjadi beban pikiran tersendiri bagi dirinya. Ada ketakutan tersendiri di dalam diri Aini. Ketakutan karena tidak bisa memberikan keturunan pada Ardi. Karena ia dulu pernah keguguran karena kecelakaan.


Meski saat itu, dokter mengatakan, bahwa rahim Aini tidak apa-apa. Tapi, itu menjadi momok tersendiri bagi Aini saat ini. Dan ia takut mengatakan itu pada Ardi. Ia takut akan mengecewakan Ardi.


Dan pagi ini, akhir pekan. Ardi sedang bersantai di tepi kolam renang sendirian. Sedang Aini, ia tengah membereskan almari dan kamarnya yang sedikit berantakan. Lalu Umar dan Kenzo, sedang diajak jalan-jalan oleh Rama yang tadi pagi-pagi sekali sudah datang dengan Niken. Karena Niken ada janji dengan temannya yang rumahnya terpaut beberapa rumah dengan rumah Ardi.


Ardi dan Aini sebenarnya sedang menunggu seseorang. Ardi yang sedang menunggu lebih tepatnya. Tapi Aini tidak tahu siapa tamu Ardi. Ia hanya tahu, Ardi sedang menunggu seseorang. Dan Ardi berjanji akan memperkenalkannya padanya nanti. Dan berharap, mereka bisa berteman dekat nantinya.


Hingga, sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah Ardi. Aini yang hampir selesai membereskan kamarnya, sedikit teralihkan perhatiannya.


"Mungkin itu tamunya datang." Gumam Aini.


Aini lalu mempercepat acara beres-beresnya. Ia sangat ingin tahu, siapa tamu Ardi yang ingin dikenalkan Ardi padanya. Ia pun segera turun ke bawah untuk menghampiri Ardi.


Dari ujung tangga lantai dua, Aini bisa melihat sepintas, tamu Ardi adalah seorang wanita. Karena tambut panjangnya terlihat dikucir kuda. Dan perutnya terlihat sedikit besar, dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu gemuk.


"Apa teman mas Ardi sedang hamil?" Gumam Aini, setelah sepintas melihatnya.


Dan ada yang lebih mencuri perhatian Aini selain itu. Yang tak lain adalah sikap Ardi, yang nampak begitu perhatian pada tamu wanitanya. Karena Ardi sedikit merangkul wanita itu dengan hati-hati. Dan hal itu cukup membuat Aini merasa cemburu.


"Kenapa mas Ardi bersikap seperti itu? Siapa dia? Apa saudara sepupunya?" Gumam Aini sembari terus berjalan menuruni tangga dengan perlahan.

__ADS_1


"Tapi, kalau itu sepupu mas Ardi, kenapa mama nggak bilang sama sekali? Papa juga nggak bilang apa-apa tadi pagi."


Aini mulai diliputi pikiran yang aneh-aneh. Mengingat, Ardi dulu pernah bermain dengan beberapa wanita sebelum menikah dengannya. Dan Ardi juga belum mengatakan siapa tamu yang ditunggunya.


"Astaghfirullah, aku tidak boleh berburuk sangka." Akhir Aini, sembari mengusap dadanya.


Aini mengambil nafas dalam untuk menenangkan pikirannya yang mulai tak karuan. Ia lalu kembali berjalan, hendak menghampiri Ardi dan sang tamu yang membuatnya penasaran itu. Karena Ardi mengajak tamunya mengobrol di tepi kolam renang belakang rumah.


Tapi, saat Aini hampir sampai di pintu, ia berpapasan dengan asisten rumah tangganya yang akan mengantarkan minuman dan camilan untuk Ardi dan tamunya.


"Biar saya saja yang bawa, Bik. Bibik lanjutin aja kerjaannya!" Pinta Aini, seraya mengulurkan tangan untuk meminta nampan yang dibawa Inah, asisten rumah tangga di rumah Ardi.


"Nggak papa, Buk. Saya saja." Tolak Inah sopan.


"Nggak papa, Bik. Saya juga mau kenalan sama tamunya mas Ardi." Jujur Aini.


"Tapi,,"


"Nggak papa. Sini!" Pinta Aini halus.


Inah akhirnya mengalah pada Aini. Ia memberikan nampan yang dibawanya pada Aini. Ia lalu kembali ke dalam, dan melanjutkan acara menjemur bajunya.


Aini pun mulai membawa nampan itu dengan hati-hati. Tapi, langkahnya kembali terhenti, tepat satu langkah sebelum sampai pintu. Tanpa sengaja, percakapan Ardi dan tamu wanitanya itu terdengar jelas di telinga Aini.


"Aku sedang hamil, Di. Dan sudah hampir tiba HPL." Ucap si tamu wanita.


"Iya, aku tahu. Tapi, aku tidak bisa langsung memutuskan begitu saja, Di." Jawab Ardi lembut.


Bahkan, siluet gerakan tubuh Ardi pada sang tamu wanita, terlihat begitu lembut dan penuh perhatian. Hal itu nampak jelas di netra Aini dari balik pintu kaca yang sudah terbuka.


"Ayah sama ibu bilang, kalau kamu yang bertanggung jawab, mereka mengijinkannya. Tapi kalau orang lain nggak boleh, Di." Ucap si tamu itu lagi, sambil mengusap perutnya yang sudah besar.


"Iya, kamu juga udah bilang semalam. Tapi, aku juga harus bilang ke Aini dulu, Di. Aku tak mau melakukan itu tanpa ijinnya." Jawab Ardi.


Si tamu wanita terdiam.


"Aku sudah menikah sekarang. Beberapa hal harus aku rundingkan dulu dengan istriku sekarang. Apalagi, permintaanmu jelas akan berhubungan langsung dengan Aini. Jadi, aku harus mengatakan dulu padanya." Jelas Ardi.


"Apa kamu belum mengatakannya?" Tanya si tamu.


"Belum. Aku ingin memperkenalkan kalian lebih dulu. Jadi, aku belum mengatakannya." Santai Ardi.


Percakapan itu jelas tak bisa Aini abaikan begitu saja. Apalagi, sikap Ardi terlihat begitu perhatian pada si tamu wanita.


"Apa mas Ardi akan menikah lagi? Apa dia akan menikahi wanita itu? Siapa wanita itu?" Batin Aini cemas.


Bayangan sikap Ardi yang begitu perhatian pada sang tamu wanita, jelas langsung bermain di kepalanya. Ditambah, perut besar sang wanita, yang jelas ia dengar tadi, sebentar lagi akan melahirkan. Makin menambah kalut hati dan pikiran Aini.


Belum lagi, bayangan masa lalunya ketika dipoligami oleh Adit, dan ia bahkan perlahan tersisihkan oleh madunya, makin menambah bayangan hitam di hati dan pikiran Aini saat ini.


Perlahan-lahan, Aini memundurkan langkahnya. Bahkan, kepalanya menggeleng dengan sangat keras dan berkali-kali. Netra bening Aini pun mulai merah, dan ada genangan air yang siap untuk tumpah di sana pelupuk matanya.


"Enggak! Mas Ardi nggak mungkin mempoligamiku." Gumam Aini panik.


"Aku tahu, aku belum bisa hamil sampai saat ini. Tapi, pernikahan kami baru dua bulan. Wajar jika aku belum hamil. Mungkin Allah belum mengijinkannya."


"Tapi, kenapa wanita itu meminta mas Ardi bertanggung jawab? Apa mas Ardi, ayah dari bayi di kandungan wanita itu? Tapi, mas Ardi tidak pernah mengatakan apapun selama ini." Cemas Aini makin menjadi.


"Enggak! Mas Ardi nggak mungkin mempoligamiku. Dan aku juga tidak mau dipoligami lagi. Tidak!"


"Tidak!" Pekik Aini tiba-tiba.


Aini refleks melepaskan nampan yang dipegangnya tadi. Ia lalu berbalik badan dan berlari kembali ke arah kamarnya


PYAARR. Suara itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Mengagetkan semua orang yang ada di rumah. Tak terkecuali Ardi dan tamunya.


"Astaghfirullah. Apa itu?" Gumam Ardi seraya berdiri.


"Apa itu, Di?" Tanya si tamu wanita.


Ardi lalu segera berjalan menuju pintu. Ia melihat nampan dan pecahan gelas dan toples kaca berserakan. Ia segera mengedarkan pandangannya. Dan melihat Aini berlari menaiki tangga.


"Aini?" Gumam Ardi bingung.

__ADS_1


__ADS_2