
Pagi kembali tiba. Menyapa para penduduk nusantara dengan kehangatannya. Memberikan rasa yang indah pada setiap hati yang tengah meniti asa dengan penuh kepastian. Menciptakan rasa yang begitu indah dalan setiap langkah yang terangkai perlahan.
Aini bangun pagi hari ini. Setelah entah pukul berapa semalam ia terbangun karena Ardi, kini ia bangun pagi dengan kondisi yang lebih baik.
Aini melihat ke sekitar. Ruang rawatnya sepi. Tak ada orang lain di sana.
"Mereka kemana? Apa aku semalam bermimpi?" Batin Aini bingung.
Tiba-tiba, sebuah suara menggema di telinga Aini.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Tanya Ardi, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aini jelas segera menoleh ke sumber suara. Ia hanya tersenyum lega, karena mendapati Ardi di sana.
"Pak Imron dan bu Ratna sedang keluar membeli sarapan. Bagaimana kondisimu?" Tanya Ardi, seraya berjalan mendekati Aini.
"Lebih baik, Mas." Jawab Aini singkat.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ardi, seraya duduk di tepi ranjang Aini.
Aini menggeleng. Ardi pun tersenyum padanya. Dan tanpa permisi, sang duda mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya pun mendekat ke wajah Aini.
Dan, cup. Sebuah kecupan hangat, mendarat di kening Aini. Aini sedikit memukul tangan Ardi yang ada di dekat tangannya.
"Aku belum mandi, Mas." Rengek Aini manja.
Ardi tersenyum lebar mendengar ucapan Aini. Tapi, ia belum menegakkan kembali tubuhnya. Wajahnya, masih berada beberapa inci di atas wajah Aini. Ia menatap lembut wajah bantal, yang dihiasi beberapa bekas luka.
"Berarti, kalau udah mandi, boleh dong dicium lagi?" Goda Ardi bahagia.
Ah, pipi Aini seketika merona. Aini tadi sebenarnya ingin menegur Ardi agar tidak sembarangan lagi menciumnya. Tapi, malah sedikit disalah artikan oleh Ardi, dan malah digunakan untuk menggodanya.
"Apa?" Sahut Aini bingung.
"Iya, kan? Kamu tadi bilang, kamu belum mandi. Berarti, kalau udah mandi, boleh kan aku cium lagi?"
"Bukan begitu maksudku, Mas."
Aini segera menoleh ke arah lain, agar wajahnya tidak berhadapan sangat dekat dengan Ardi. Ardi malah tersenyum geli melihat tingkah Aini yang malu-malu. Ardi lalu menegakkan kembali tubuhnya.
"Oh iya, Sayang. Maaf, aku mengatakan sesuatu pada pak Imron dan bu Ratna." Jujur Ardi.
Aini segera menoleh kembali pada Ardi. "Mengatakan apa, Mas?"
"Semalam, aku mengatakan pada mereka, bahwa aku mencintaimu."
Aini diam tak bereaksi. Ada pergulatan kecil dihatinya. Ada rasa bahagia, karena Ardi berani mengatakan itu pada Imron dan Ratna. Tapi, ia juga takut dan sedih, akan bagaimana reaksi mereka pada apa yang Ardi katakan.
"Aku tak tahu jika kamu belum menceritakan tentang kita pada mereka. Dan semalam, aku memanggilmu seperti biasa. Mereka pun akhirnya bertanya padaku tentang hubungan kita." Imbuh Ardi.
"Lalu? Bagaimana tanggapan mereka, Mas?" Tanya Aini cemas.
"Mereka tak bicara banyak. Aku tak tahu bagaimana pendapat mereka."
Aini mendadak sedih. "Apa mbak Ratna tetap pada keputusannya dulu?"
"Apa ada masalah, Sayang?" Tanya Ardi, yang menyadari perubahan ekspresi Aini.
Aini menggeleng sambil tersenyum manis pada Ardi. Ardi pun membalasnya. Aini berusaha mencari topik lain. Karena ia sendiri tak yakin, bagaimana tanggapan Ratna tentang hubungannya dengan Ardi.
"Mas,,"
"Iya, Sayang."
"Apa Mas tahu, siapa pelakunya?" Tanya Aini hati-hati.
"Pelaku apa?"
Aini terdiam. "Tidak ada, Mas."
Ardi tersenyum paham. "Aku sudah tahu, siapa yang menculikmu kemarin."
"Mas sudah tahu?"
"Sudah."
"Umar dan Kenzo?" Tanya Aini cemas.
"Aku belum memberitahu mereka. Tapi, pak Imron dan bu Ratna sudah tahu."
"Mas sudah mengatakan pada mereka?"
"Sudah, kemarin. Mereka bertanya padaku, bagaimana bisa kamu mengalami hal itu. Jadi, aku mengatakannya pada mereka."
"Lalu? Apa Mas melaporkan mereka pada polisi?"
__ADS_1
"Aku sudah lapor polisi sejak kamu menghilang."
Aini mulai panik. Ia tak mengira, Ardi bahkan sudah melibatkan pihak polisi sejak ia menghilang.
"Mas,, Mas, kenapa,,"
Nafas Aini mulai tersengal-sengal. Ia kesulitan melanjutkan apa yang ingin ia katakan pada Ardi. Kepanikan dan kecemasannya jelas segera mempengaruhi kondisinya yang belum stabil seutuhnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Panik Ardi.
Ardi jelas langsung bingung melihat kondisi Aini. Ia segera memencet tombol darurat di ruangan itu, untuk memanggil perawat.
"Mas,,"
Nafas Aini makin pendek. Dan saat itu terjadi, dua orang perawat masuk ke ruang rawat dengan tergesa-gesa. Mereka segera memeriksa kondisi Aini.
Beruntung, Aini tidak sampai pingsan. Ia diberikan alat bantu pernafasan dan diminta untuk kembali beristirahat.
Aini sebenarnya tidak memiliki masalah pada sistem pernafasannya. Tapi karena beberapa hari berada di atas lantai yang dingin dengan suhu udara yang tak tentu, membuat sistem pernfasannya sedikit bermasalah. Dan itu yang tadi ia alami.
"Maaf, Sayang." Sesal Ardi, sambil menatap Aini sendu.
"Jangan,, laporkan,, mereka,, pada,, polisi,, Mas!" Pinta Aini lirih.
"Kamu tak perlu memikirkan hal itu, Sayang! Kamu hanya harus fokus untuk pemulihanmu saja. Oke?" Sahut Ardi, untuk mengalihkan perhatian Aini.
"Aku,, mohon,, Mas!"
"Tenanglah, Sayang! Kamu harus banyak istirahat, bukan?"
"Tapi,,"
Tiba-tiba, pintu ruang rawat diketuk dengan lembut. Ternyata, seorang karyawan rumah sakit, mengantarkan sarapan untuk Aini. Ardi pun tersenyum lega dengan kedatangannya.
"Ayo, makan dulu! Aku akan menyuapimu." Ucap Ardi semangat.
"Nanti saja, Mas. Aku belum mandi." Jawab Aini malu.
"Oke! Aku akan meminta perawat membantumu mandi. Setelah itu, kamu harus makan." Sahut Ardi bahagia.
Aini mengangguk patuh. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Karena ia bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali ia mandi. Dan ia juga tidak tahu, berapa hari ia disekap di tempat gelap itu.
Ardi pun memenuhi ucapannya. Ia meminta perawat membantu Aini untuk membersihkan diri. Ia menunggu di luar ruang rawat, saat Aini sedang dibersihkan tubuhnya.
Aini tidak mandi di kamar mandi. Karena kondisinya yang masih lemah dan luka yang masih dalam proses penyembuhan, tubuhnya hanya dibasuh dengan air hangat oleh dua perawat yang membantunya. Setelah itu, luka-lukanya pun diolesi obat oleh perawat.
Entah kenapa, Aini sedang sangat ingin dimanja oleh Ardi. Jadi, ia pun menerima perlakuan Ardi dengan senang hati. Meski, ada sedikit rasa canggung yang menghinggapinya, karena ada Imron dan Ratna di sana.
"Sudah, Mas." Tolak Aini, saat ia baru memakan beberapa suap buburnya.
"Kamu baru makan sedikit, Sayang. Ayo, makan lagi!"
"Sudah, Mas! Perutku sudah tidak nyaman."
"Jangan dipaksa, Pak Ardi! Mungkin, pencernaannya masih butuh penyesuaian." Sela Ratna tiba-tiba.
Ratna menghampiri Ardi dan Aini. Aini pun mengangguk setuju dengan ucapan Ratna.
"Pak Ardi sarapan dulu saja! Kami tadi membelikan sarapan juga untuk Bapak." Pinta Ratna tulus.
"Iya, Mas. Mas Ardi sarapan dulu! Aku ingin mengobrol dengan mbak Ratna." Paksa Aini.
Ardi menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan sarapan dulu."
Aini tersenyum. Ardi pun meletakkan piring makan Aini, lalu menghampiri Imron yang masih menikmati sarapannya. Ia lalu duduk bersama Imron menikmati nasi uduk yang dibeli oleh Ratna dan Imron.
Aini dan Ratna mengobrol kecil. Tapi, Ratna belum berani menanyakan pada Aini tentang hubungannya dengan Ardi. Ia juga tidak membahas apa yang sudah ia, Ardi dan Imron bicarakan semalam. Ia tak ingin, pikiran Aini terlalu berat saat ini.
Pukul delapan pagi. Ardi berjalan mendekati Aini setelah menerima telepon di luar ruang rawat.
"Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Pamit Ardi.
Aini mengangguk paham.
"Gilang nanti akan kemari bersama Reno. Mereka akan mengurus kepindahanmu ke Surabaya hari ini. Aku akan segera kembali, setelah pekerjaanku selesai. Oke?" Ucap Ardi lembut.
"Pindah?" Tanya Aini bingung.
"Iya. Kamu harus mendapatkan perawatan terbaik, Sayang. Dan lagi, jika di Surabaya, akan lebih dekat dan mudah bagi Umar dan Kenzo untuk menjengukmu. Mereka kesulitan untuk hal itu sejak kemarin."
"Tapi,,"
"Kamu tak perlu mencemaskan apapun! Kamu hanya perlu fokus untuk pulih. Oke, Sayang?" Rayu Ardi cepat.
"Terima kasih, Mas."
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang."
Hati Ardi sungguh ingin mendaratkan sebuah kecupan hangat di wajah Aini. Tapi jelas ia urungkan, karena ada Imron dan Ratna di ruangan itu.
Ardi pun berpamitan pada Imron dan Ratna. Ia juga kembali meminta Imron dan Ratna untuk mengabarinya, jika terjadi sesuatu pada Aini. Apapun itu.
Ardi sebenarnya akan memenuhi panggilan pihak polisi untuk kasus hilangnya Oliv, Adit dan Ratri. Ia jelas akan didampingi oleh pengacara kepercayaannya. Meski, tanpa pengacara pun ia sudah jelas bisa mengatasi hal kecil itu.
Ardi, Dika dan Reno dijadwalkan hari ini menjalani pemeriksaan untuk kasus yang sama. Tapi, waktunya saja yang berlainan.
Ardi akhirnya juga dimintai keterangan oleh polisi, tentang bagaimana kondisi Aini saat ini. Tapi setelah pemeriksaan kasus hilangnya tiga orang itu selesai tentunya.
Di sisi lain, Desi masih mencoba mencari Oliv kemanapun yang mungkin didatangi Oliv. Menanyai beberapa rekan dan kenalan Oliv lagi. Tapi hasilnya tetap sama, tidak ada yang tahu kemana Oliv pergi.
Dan di rumah Adit, Heni dan Arif baru saja tiba dari bandara. Mereka baru saja pulang dari Singapura, satu minggu yang lalu. Setelah hampir setengah tahun mereka tinggal di sana, karena menemani kakak Heni yang sedang sakit dan menjalani perawatan.
Arif dan Heni jelas disambut oleh Suharti dan Rafa, putra Adit dengan Ratri. Mereka langsung menggendong Rafa dengan bahagia.
"Ratri dimana, Bu Harti?" Tanya Heni penasaran, karena sedari tadi belum melihatnya.
Bukannya menjawab, Suharti malah langsung menangis di hadapan Arif dan Heni. Arif dan Heni pun jelas merasa bingung.
"Anda kenapa, Bu Harti? Apa ada masalah?" Tanya Heni, seraya mendekati Harti, setelah memberikan Rafa pada Arif.
"Ratri,,"
"Iya, Bu. Ratri kemana? Kenapa dari tadi belum kelihatan? Dua hari yang lalu, dia bilang mau menjemput ke bandara. Tapi kenapa dari kemarin malah tidak bisa dihubungi? Tidak ada masalah bukan Bu, dengan Ratri?" Tanya Heni panjang lebar.
"Ratri,,"
Hati Suharti tak sampai untuk mengatakan apa yang sedang terjadi. Ucapannya pun menjadi terbata-bata.
"Bu Ratri dan pak Adit hilang, Bu." Sahut pengasuh Rafa.
"Hilang?" Ulang Arif dan Heni tak percaya.
"Iya. Sejak dua hari yang lalu." Jawab pengasuh Rafa lagi.
"Hilang bagaimana maksudnya?" Tanya Arif panik.
Pengasuh Rafa akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Adit dan Ratri. Arif dan Heni jelas sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Sudah lapor polisi?" Tanya Heni cemas.
"Sudah, Bu. Tapi sampai saat ini, belum ada kabar dari pihak polisi." Jawab Suharti sesenggukan.
"Apa Adit memiliki masalah dengan orang lain?" Terka Arif tanpa ragu.
Suharti terdiam. "Dengan wanita sialan itu."
"Tidak ada, Pak." Jawab Suharti lirih.
"Mama di sini saja menemani bu Harti! Papa akan ke kantor polisi menanyakan perkembangannya." Sahut Arif yakin.
"Tapi, segera kabari Mama kalau Papa sudah dapat kabar! Apapun itu." Jawab Heni cemas.
"Iya."
Arif yang baru saja tiba pun, akhirnya pergi ke kantor polisi dengan menggunakan mobil milik Adit. Ia ingin tahu, bagaimana perkembangan kasus hilangnya putri kesayangannya bersama sang suami.
Hati orang tua mana yang tak khawatir, jika terjadi sesuatu yang buruk pada anak mereka. Meskipun, sang anak sudah berusia sangat dewasa. Mereka tetap akan melakukan apapun untuk anak mereka itu, agar semuanya baik-baik saja.
****************
Hai readers π€π€
Di sini othor hanya ingin mengingatkan dan meminta tolong pada readers semua ππΌππΌππΌ
TOLONG! Bijaklah dalam berkomentar!
Kalau readers sudah tidak menyukai dengan cerita dan alur dari kisah ini, atau mungkin sudah tidak ingin melanjutkan membaca kisah ini, tolong tetap tinggalkan jejak yang baik!
Othor tidak akan keberatan jika readers sudah tidak berkenan membaca kisah yang othor tulis ini πKisah ini, hanyalah sebuah kisah yang jauh dari kata sempurna. Dan mungkin tidak akan sesuai dengan apa yang kalian harapkan.
Mohon hargai setiap penulis dengan semua idenya masing-masing! ππΌππΌ
Karena mendapatkan ide cerita, penokohan dan semua unsur cerita agar tidak sama dengan penulis lain itu, tidaklah mudah.
Jika kalian merasa cerita ini kurang sesuai dengan apa yang kalian harapkan, kalian bisa mencoba mencari cerita lain dari penulis lain atau mungkin menuangkan ide cerita kalian sendiri-sendiri menjadi sebuah novel π
Bukan othor tidak mau dikritik atau diberi saran ππΌππΌ hanya saja, MAAF, ada beberapa komentar yang menurut othor kurang baik dan kurang sopan ππΌππΌ
Othor sudah berusaha membalasnya dengan baik, tanpa berusaha menghakimi. Tapi ternyata tetap sama saja.
Terima kasih ππΌπ untuk semua dukungan dan jejak kalian ππΌππΌ kalian luar biasa π
__ADS_1
Maaf, jika cerita ini jauh dari yang kalian harapkan ππΌπ
Terima kasih semuanya πππΌ see you next episode π€π€