
WARNINGβΌοΈπ₯
Dalam bab ini, terdapat beberapa perkataan dan tindakan sedikit kasar dan kurang pantas.
Harap bijak dalam membaca ππΌπ
Terima kasih π ππΌ
****************
"Aini kenapa, Mas? Kenapa dia nggak bangun lagi?" Adu Ratna panik.
Semua pun panik karena Aini tidak lagi terbangun.
Tak lama, seorang perawat tiba bersama seorang dokter. Mereka segera memeriksa Aini dan menanyakan apa yang terjadi.
"Tenang saja! Bu Aini tidak apa-apa. Tubuhnya masih terlalu lemah, jadi ia kembali tertidur." Ucap sang dokter penuh kesabaran.
"Anda yakin, Dokter?" Tanya Ardi tak percaya.
"Iya. Ini sebuah perkembangan yang sangat bagus bagi bu Aini, mengingat kondisinya kemarin begitu buruk. Ia sudah mulai siuman, adalah sebuah kabar yang sangat bagus. Karena itu berarti, kondisinya membaik perlahan." Jelas dokter itu lagi.
"Alhamdulillah." Ucap Imron, Ratna dan Ardi bersamaan.
"Jika Anda masih kurang yakin, Anda bisa menanyakan hal ini pada rekan Anda yang tadi pagi menemui dokter Eki! Beliau juga dokter bukan, di Suarabaya?" Ucap sang dokter santai.
"Iya. Dia dokter pribadi keluarga saya." Aku Ardi tanpa ragu.
"Saya tidak begitu mengenal Anda, Pak. Tapi saya yakin, Anda bukanlah orang sembarangan. Karena setahu saya, dokter Gilang bukanlah dokter biasa. Kemampuan beliau sudah tidak diragukan. Dan bu Aini, sangat beruntung memiliki Anda dan beliau di sampingnya." Puji dokter itu yakin.
"Terima kasih, Dokter."
"Kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter.
"Tunggu sebentar, Dokter!" Cegah Ardi.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa itu berarti, Aini akan bisa dipindahkan ke Surabaya besok? Gilang bilang tadi, Aini bisa dipindahkan ke Surabaya, setelah kondisinya membaik." Tanya Ardi tanpa ragu.
"Dokter Eki yang akan memutuskan untuk hal itu. Tapi jika melihat kondisi bu Aini saat ini, kemungkinan, bu Aini besok bisa dipindahkan ke Surabaya."
Ardi tersenyum lega. "Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, Pak. Saya permisi!"
Dokter dan perawat itu pun lalu meninggalkan ruangan Aini. Ardi, Imron dan Ratna merasa sangat lega, setelah mendengar ucapan dokter tadi.
Tapi, Imron dan Ratna mengingat jelas ucapan dokter tadi.
",, Anda bukanlah orang sembarangan,,"
Kalimat itu terekam jelas dalam memori Imron dan Ratna. Dan mereka menjadi sangat penasaran, siapa sebenarnya Ardiansyah El Baraja, ini? Yang bahkan, ia punya pengawal pribadi dan bahkan dokter keluarga pribadi, yang sudah diakui kemampuannnya.
Tiba-tiba, ponsel Ardi berdering. Ia pun segera mengambilnya. Ia lalu keluar ruang rawat, setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Imron dan Ratna lantas kembali fokus pada Aini.
__ADS_1
"Cepatlah bangun, Nduk! Mbak kangen." Ucap Ratna sedih.
"Sabar, Bu'!" Sahut Imron.
Ratna hanya mengangguk lemas. Mereka lantas kembali duduk dan menunggu Aini kembali terbangun.
Sedang di luar, Ardi segera menjawab teleponnya.
"Aku segera kesana." Singkat Ardi.
"Baik, Pak."
Ardi pun segera mengakhiri panggilan teleponnya. Ia lalu kembali ke ruang rawat Aini.
"Maaf, Pak Imron, Bu Ratna! Saya ada urusan malam ini. Apa tidak apa-apa, jika saya pergi malam ini? Saya mungkin baru akan kembali besok pagi atau siang." Pamit Ardi ragu.
"Tentu saja, Pak Ardi. Kami akan menjaga Aini malam ini." Jawab Imron yakin.
"Terima kasih, Pak. Jika nanti ada apa-apa, tolong hubungi saya! Ini nomor ponsel saya." Ucap Ardi, seraya menyerahkan kartu nama pribadinya.
Imron menerimanya dengan sungkan. "Baik, Pak Ardi. Terima kasih atas segala kebaikan Anda pada Aini"
"Jangan sungkan, Pak. Saya berhutang banyak pada Aini. Ini semua belumlah sebanding, dengan apa yang sudah Aini berikan pada saya dan keluarga saya." Jujur Ardi.
"Berhutang?" Ulang Imron tak percaya.
"Iya, Pak. Hati Aini terlalu baik. Saya tak bisa membalas semua kebaikan hatinya itu. Jadi, yang saya lakukan ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebaikan hati Aini."
Imron dan Ratna makin bingung. Mereka tidak tahu sama sekali, tentang kehidupan Aini beberapa bulan terakhir. Karena memang, Aini menyembunyikan hal itu dari mereka. Termasuk, saat Adit memperlakukan Aini kurang baik di muka umum.
Ardi tersenyum ramah pada Imron dan Ratna. Ia lantas menghampiri Aini, yang masih setia menutup kedua matanya. Imron dan Ratna menatapnya begitu saja.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. Maaf, malam ini aku tak bisa menemanimu! Tapi malam ini, kamu tidak lagi sendirian tentunya. Ada mbak Ratna-mu yang akan menemanimu nanti." Pamit Ardi, sambil sedikit berbisik di telinga Aini.
"Cepatlah bangun, Sayang! Aku rindu mata teduhmu. Dan juga, semua tentang dirimu." Imbuh Ardi santai.
CUP. Ardi mengecup kening Aini. Dan itu jelas dilihat oleh dua pasang mata lain di ruangan itu. Mereka bahkan membelalak tak percaya.
"Pak,,"
Imron dan Ratna yang tadi hanya duduk sambil melihat apa yang dilakukan Ardi, seketika berdiri. Mereka terkejut dengan apa yang dilakukan Ardi pada Aini.
"Saya permisi dulu, Pak Imron, Bu Ratna!" Pamit Ardi, setelah ia berbalik badan.
Ardi pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi,,
"Tunggu sebentar, Pak Ardi!" Cegah Imron segera.
"Iya?"
Ardi menoleh dengan cepat, karena ia juga sedang ditunggu oleh beberapa orang. Imron menyadari ekspresi wajah Ardi yang sedang terburu-buru.
"Lain kali saja, Pak! Anda sepertinya sedang terburu-buru." Ucap Imron tak enak hati.
"Baiklah. Maaf, saya harus pergi!" Jujur Ardi.
__ADS_1
"Baik, Pak. Hati-hati, Pak Ardi!" Tulus Imron.
"Tentu, Pak Imron. Terima kasih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Ratna dan Imron bersamaan.
Imron dan Ratna melepaskan kepergian Ardi dengan sedikit rasa tak ikhlas. Karena ada beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran mereka tentunya. Pertanyaan yang belum mendapat jawaban pasti, tentunya.
Mereka masih belum menyadari siapa Ardi, bahkan setelah menerima kartu nama Ardi. Mereka terlalu fokus dengan apa yang Ardi ucapkan dan lakukan pada Aini tadi.
Sedang Ardi, kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat. Ia segera menuju tempat parkir, dimana mobilnya berada. Ia berkendara seorang diri malam ini. Membelah keheningan malam yang semakin larut dan gelap.
Sekitar satu jam kemudian, Ardi sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah yang lama tak ia kunjungi. Rumah yang biasanya sepi, kini cukup ramai dengan kehadiran beberapa orang di dalamnya.
Ardi segera disambut oleh beberapa orang yang sudah menunggunya di depan. Lalu, dua orang laki-laki, dengan yakin menghampirinya. Mereka pun berjalan memasuki rumah, dan menuju salah satu ruangan di lantai satu.
"Bagaimana?" Tanya Ardi datar, sambil menatap beberapa layar monitor di depannya.
"Mereka jelas kedinginan dan mulai kelaparan." Jawab laki-laki yang sedari tadi duduk di depan layar, Angga pastinya.
"Bagus." Jawab Ardi dingin.
Ardi pun keluar dari ruangan itu, dan pastinya bersama dua orang laki-laki yang tadi menyambutnya. Siapa lagi kalau bukan Dika dan Reno. Mereka lantas berpindah ke ruangan lain.
Reno membukakan pintu salah satu ruangan yang ada di bagian belakang rumah. Saat pintu dibuka, hawa dingin segera menerpa mereka yang ada di ambang pintu. Suasana di dalam pun begitu gelap.
Ardi melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki ruangan itu. Dika dan Reno pun mengikutinya.
"Nyalakan!" Pinta Ardi datar, setelah menghentikan langkahnya di tengah ruangan.
Dan seketika, sebuah lampu yang berada di tengah ruangan, menyala begitu terang. Dan nampaklah, seorang laki-laki, dengan kaos oblong dan celana kolor, terduduk lemas di salah satu sudut ruangan. Ia tertunduk dalam, dengan tangan yang diikat di belakang.
"Bangunkan!" Pinta Ardi tegas.
Bukan Ardi, jika ia melakukan dengan cara halus dan biasa. Dan anak buahnya, sudah memahami hal itu. Mereka sudah mempersiapkan segalanya.
Salah satu anak buah Ardi, segera datang dengan seember air berukuran sedang. Ia segera menghampiri laki-laki yang terduduk lemas tadi. Dan,,
BYUURR. Satu ember air itu, segera mendarat di tubuh yang kedinginan di sudut ruangan itu. Ia pun segera terbangun dengan gelagapan.
"Bangun!" Teriak anak buah tadi.
Laki-laki yang terkejut dan gelagapan karena air yang tiba-tiba mengguyur tubuhnya itu, berusaha menyadarkan diri dan menetralkan penglihatannya, karena suasana ruangan yang begitu terang.
Laki-laki itu berusaha membersihkan sisa air yang ada di jawahnya, agar bisa melihat dengan lebih jelas. Ia juga merasa makin kedinginan, karena air yang mengenai tubuhnya tadi.
"Sial*n! Apa yang kamu lakukan?" Marah laki-laki itu tanpa ragu.
Laki-laki yang menyiramkan air tadi, tersenyum mengejek ke arah orang yang disiramnya. Ia lalu berjalan pergi, membawa ember yang telah kosong.
Ardi tersenyum kecil penuh kepuasan melihat adegan tadi. Ia lalu berjalan mendekati laki-laki yang basah kuyub itu tanpa ragu. Dan ternyata, laki-laki itu juga sedang menatapnya. Tapi dengan tatapan keterkejutan.
"Pak Ardi?" Gumamnya lirih.
"Iya. Selamat malam, Pak Aditya Eka Subrata." Jawab Ardi angkuh.
__ADS_1