
"Apa kamu sedang memikirkanku?" Tanya Ardi santai.
Ardi menatap dengan seksama, wajah ayu wanita di hadapannya. Wajah yang mengusik pikirannya beberapa hari ini. Wajah yang cukup sukses mengalihkan dunia Ardi akhir-akhir ini.
"Aku memang telah jatuh hati padamu, Khadijah Isnaini." Batin Ardi.
Aini diam tak menjawab. Ia malah mengedipkan kelopak matanya tanpa berekspresi. Tatapannya lurus ke arah laki-laki yang sedang menatapnya begitu dekat.
Detak jantung Aini benar-benar tak bisa dikondisikan. Aliran darahnya pun mengalir deras ke setiap pembuluh darahnya. Membuat wajah ayunya merona tanpa ijin. Dan hal itu jelas disadari oleh Ardi. Ardi pun tersenyum kecil melihat wajah Aini yang makin merona.
"Tolong buatkan sarapan untukku!" Pinta Ardi lembut.
Aini tertegun mendengar permintaan Ardi.
"Bapak belum sarapan?"
Ardi hanya menggeleng. Ia lalu kembali menegakkan tubuhnya. Begitu pun Aini, segera menegakkan kembali kepalanya.
"Tolong bawakan sarapanku ke kamar!" Pinta Ardi lagi.
"Baik, Pak."
Ardi lalu berjalan memasuki rumah dan diikuti oleh Aini. Ardi segera berjalan menuju kamarnya. Sedang Aini, langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Ardi.
Ardi memang sengaja belum sarapan saat ia berangkat dari Bandung tadi. Bahkan, ia tidak memakan hidangan apapun yang dihidangkan di pesawat yang membawanya kembali ke Surabaya pagi ini.
Semua itu jelas karena Aini. Ia rindu dengan masakan Aini. Dan rinud dengan Aini-nya juga pastinya.
Ardi mengganti pakaian yang ia kenakan dengan setelan kantornya. Sambil menunggu Aini menyiapkan sarapannya, ia menyempatkan melihat laporan yang sekertarisnya kirimkan melalui email.
Sedang di dapur, tangan Aini sedikit gemetaran karena masih berusaha menetralkan perasaan gugupnya saat bertemu dengan Ardi tadi. Apalagi, ia sudah dua kali menubruk Ardi di pintu tadi.
"Ayolah, Ni! Jangan mikirin pak Ardi terus!" Batin Aini menyanggah.
Aini berusaha fokus pada masakannya. Ia membuatkan nasi goreng pelangi kesukaan Kenzo. Itu masakan yang paling cepat, yang ia pikirkan, agar Ardi bisa segera sarapan.
Tok, tok, tok.
Aini mengetuk pintu kamar Ardi perlahan. Ardi pun membukakan pintu untuk Aini.
Aini kembali tertegun melihat laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang sama, yang kini telah terlihat begitu gagah dengan setelan kerjanya. Dengan kemeja berwarna marun dan dasi berwarna putih, yang nampak begitu pas di badan Ardi.
Jantung Aini yang tadi sudah tenang, kini kembali berdegup tak karuan. Bertalu dengan kerasnya tanpa tahu malu.
"Masuklah!" Pinta Ardi singkat.
Aini pun membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas teh hangat yang ia bawa, masuk ke kamar Ardi. Ia segera meletakkan nampan itu di atas meja.
"Temani aku makan!" Pinta Ardi lagi.
"Apa, Pak?" Tanya Aini tak percaya.
"Kamu sudah sarapan?
"Sudah Pak, tadi." Cicit Aini.
"Kalau begitu, temani aku makan! Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Duduklah!"
Ardi berjalan menuju sofa panjang di kamarnya. Ia pun segera duduk santai sambil mengamati hidangan yang tadi dibawa Aini. Aini pun dengan ragu, duduk di kursi santai yang ada di depan Ardi.
Ardi mulai menyeruput teh yang dibuat Aini. Ia tersenyum bahagia bisa menikmati segelas teh hangat yang beberapa hari ia rindukan. Padahal, ia baru dua kali menikmati teh buatan Aini sebelumnya.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya Ardi, saat melihat nasi goreng yang nampak berbeda.
"Itu nasi goreng pelangi kesukaan Kenzo, Pak." Jujur Aini, dengan wajah yang tertunduk.
Aini tak berani mengangkat wajahnya. Ia takut menyadari, bahwa ia mungkin akan jatuh hati pada Ardi nanti. Apalagi, sikap Ardi berubah cukup banyak, sejak kepulangannya dari Bandung beberapa saat yang lalu.
"Oh, ya? Pasti ini sangat enak, hingga Kenzo menyukainya."
Ardi segera menyendokkan setengah sendok nasi goreng, lalu menyuapkan ke mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan sambil menikmati hidangan itu.
"Rasanya,," Gumam Ardi tak begitu jelas.
Aini tiba-tiba mengangkat wajahnya. Ia mendadak panik karena ekspresi Ardi. Ekspresi yang susah untuk ditebak.
"Apa tidak enak, Pak? Ada yang kurang?" Tanya Aini cemas.
"Kamu belum mencicipinya?" Sahut Ardi polos.
"Belum, Pak." Jawab Aini takut.
Ardi kembali menyendokkan nasi goreng itu. Tapi, ia segera menyodorkannya pada Aini.
"Cobalah!" Pinta Ardi, dengan tangan yang siap menyuapi Aini.
"Saya,,"
"Buka mulutmu!" Pinta Ardi santai.
"Tapi Pak,,"
"Atau ada sesuatu di nasi gorengmu? Hingga kamu tak mau mencicipinya." Sindir Ardi.
"Bukan begitu, Pak. Tapii,,"
"Kalau begitu, buka mulutmu!" Pinta Ardi lagi.
Dengan perlahan, Aini akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ardi. Dengan hati-hati dan penuh kecemasan, ia mengunyah nasi goreng buatannya tadi. Ia sangat cemas, jika nasi goreng buatannya rasanya aneh, tak seperti biasanya.
"Kena juga dimodusin." Batin Ardi terkekeh.
Ardi bukan hanya duda yang sukses dengan bisnisnya yang tak bisa menggombal atau merayu wanita. Ia juga cassanova yang masih dipertanyakan tingkat keimanannya.
Aini berusaha menikmati nasi goreng yang disuapkan oleh Ardi. Ia mengerutkan keningnya penuh kebingungan. Sedang Ardi, malah memasang wajah polos tak berdosa.
"Inii,,"
"Gimana? Enak, kan?" Ucap Ardi santai.
"Bapak mengerjai saya?" Tuduh Aini.
"Untuk apa aku mengerjaimu?" Sahut Ardi bingung.
"Lalu, kenapa Bapak meminta saya mencicipinya tadi? Tak ada yang aneh dengan rasanya."
"Kamu bilang, kamu belum mencicipinya bukan? Aku hanya ingin kamu mencicipinya juga. Apa ada yang salah? Atau, kamu memang sengaja tidak mencicipinya tadi, agar kamu bisa menemaniku makan? Atau kamu ingin menerima suapan dariku untuk mencicipinya?" Tuduh Ardi sambil menahan tertawa.
"Apa? Mana mungkin saya melakukan itu, Pak." Sanggah Aini cepat.
"Lantas? Kenapa kamu mengira aku mengerjaimu?" Tanya Ardi santai.
"Ituuu,,"
__ADS_1
Aini kesulitan menjelaskan alasan ia bisa tiba-tiba menuduh Ardi tadi. Kepalanya kembali tertunduk malu dan penuh sesal. Ia spontan begitu saja mengucapkan itu tadi.
Ardi merasa gemas melihat tingkah Aini. Ia berusaha menahan tawanya karena baru saja berhasil mengerjai Aini.
"Bagaimana kondisi Kenzo selama aku di Bandung?" Tanya Ardi, untuk mengalihkan perhatian Aini.
"Kenzo baik-baik saja, Pak."
"Gilang bilang padaku, operasi akan dilakukan minggu depan jika kondisi kalian benar-benar baik selama satu minggu ini." Tutur Ardi sembari menikmati nasi gorengnya.
"Baik, Pak."
Aini masih tertunduk. Hatinya masih merasakan kegugupan yang sedikit tak biasa. Hingga membuatnya tak berani menatap pria di hadapannya itu.
Ardi membicarakan beberapa hal tentang Kenzo dan Umar sembati ia menghabiskan isi piring makannya. Ia pun dengan setia memperhatikan setiap gerak-gerik Aini yang nampak dengan jelas sangat gugup saat ini.
"Bagaimana dengan Oliv?" Tanya Ardi setelah ia menghabiskan nasi gorengnya.
"Astaga, mbak Oliv." Batin Aini sedikit kelabakan.
Aini teringat percakapannya dengan Oliv kemarin. Ia jadi sedikit merasa bersalah karena telah secara tidak langsung berduaan dengan Ardi saat ini.
"Ni,," Panggil Ardi pelan, karena tak ada respon dari Aini.
"Oh, iya Pak." Jawab Aini terkejut.
"Apa ada masalah?"
Aini hanya menggeleng. Ia sedikit mempertimbangkan ucapan Oliv kemarin.
"Apa Oliv mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Ardi penasaran.
Aini masih diam. Ia benar-benar memikirkan apa yang Oliv katakan kemarin.
"Katakanlah, Ni! Aku tak akan marah." Rayu Ardi.
"Mbak Oliv sepertinya ingin kembali pada Anda dan Kenzo. Ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu pada Anda dan Kenzo." Jujur Aini ragu.
Ada sebersit rasa tak nyaman saat Aini mengatakan itu pada Ardi. Ada rasa cemburu yang membuat Aini sedikit kebingungan karenanya.
Ardi memperhatikan dengan seksama, gelagat Aini saat mengatakan hal itu. Ia malah tersenyum kecil karena gelagat Aini.
"Tak usah kamu pikirkan terlalu jauh ucapan Oliv itu. Biar aku yang akan menanganinya nanti." Saran Ardi tenang.
"Daann, apa tadi? Kamu memanggil Oliv, mbak?" Tanya Ardi sedikit tak percaya.
"Oh, iya Pak. Beliau yang meminta saya memanggilnya seperti itu. Beliau bilang, agar terdengar lebih nyaman saja. Karena usia kami yang terpaut tidak terlalu jauh." Jujur Aini.
"Benar juga. Kalau begitu, kamu juga jangan memanggilku pak. Panggil aku dengan sapaan lain." Jahil Ardi.
"Tapi Pak,,"
"Kamu memanggil papa dengan pak, bukan? Masak iya, kamu manggil anaknya dengan sebutan yang sama. Apa aku terlihat setua papa?"
"Saya hanya ingin menghormati Anda, Pak." Jujur Aini.
Ardi tersenyum dan berdiri. Netra Aini pun mengikuti arah kemana Ardi bergerak.
"Panggil aku seperti mbok Sri atau Tika memanggilku, mas Ardi." Tutur Ardi nakal.
Aini mengerutkan keningnya bingung. Ardi lantas mendekati Aini dan membungkukkan badannya. Ia berniat membisikkan sesuatu pada Aini.
__ADS_1
"Atau panggil aku, sayang." Bisik Ardi tepat di telinga kiri Aini.