
WARNINGβΌοΈπ₯
Dimohon bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa, membaca bab ini ketika sudah buka puasa atau sedang tidak berpuasa ya π€
Othornya agak nakal di bab ini π maafkan ya semuanya ππ
Terima kasih π ππΌ
****************
"Maaasss,,," Teriak Aini, dengan tangan yang masih mengalung di leher Ardi.
Byuurr. Ardi dan Aini tercebur ke kolam. Ardi juga terkejut karena teriakan Aini. Ia tak siap menahan tubuh Aini, yang secara tidak sengaja menarik tubuhnya, karena lengan Aini masih mengalung di lehernya.
Ardi dan Aini akhirnya gelagapan di dalam kolam. Mereka sama-sama tidak siap tercebur ke kolam. Keduanya terhanyut dalam ciuman yang begitu menggebu dan penuh rasa. Hingga tanpa sadar, Ardi membuat Aini berjalan mundur, hingga kehabisan pijakan dan terpeleset ke kolam.
"Kamu nggak papa kan, Sayang?" Cemas Ardi setelah yakin, ia berdiri dengan baik di dalam kolam renang.
"Mas kenapa nggak menarikku tadi?" Kesal Aini, setelah mengusap wajahnya.
"Aku nggak siap, Sayang. Aku juga terkejut karena kamu berteriak." Aku Ardi.
"Mas sih, kenapa dorong aku jalan ke belakang?"
"Aku nggak sengaja, Sayang. Aku terlalu menikmati ciumanmu tadi." Jujur Ardi.
Aini merungut kesal. Sedang Ardi, malah tersenyum geli melihat Aini yang mendadak kesal karena tercebur ke kolam.
"Mas kan harusnya nahan aku supaya tadi nggak jatuh!" Sungut Aini.
"Ayolah, Sayang! Kita sama-sama terhanyut tadi. Iya, kan?" Goda Ardi.
Tidak bisa Aini pungkiri, apa yang dikatakan Ardi benar adanya. Ia juga menikmati ciumannya dengan sang suami tadi. Hingga ia juga lupa, bahwa ia berdiri di tepi kolam renang yang terisi penuh dengan air.
Ardi lalu menarik Aini ke dalam pelukannya. "Maaf, Sayang! Aku benar-benar tidak sengaja memaksamu berjalan mundur tadi."
Aini mengangguk paham dalam pelukan Ardi. Ia pun membalas pelukan Ardi dengan bahagia.
"Ayo naik! Nanti kedinginan kalau kelamaan di sini." Ajak Ardi.
"Iya, Mas. Eh, tapi, apa mas Reno sama pak Nanang ada di dalam? Aku nggak mungkin masuk dengan keadaan basah gini Mas, di depan mereka." Cemas Aini.
"Mereka sudah pulang. Aku sudah meminta Reno untuk pulang dengan pak Nanang tadi."
"Mas yakin?"
"Reno itu, tak mungkin membantahku, Sayang. Apalagi, setelah kejadian buruk yang menimpamu dulu. Ia bahkan tidak berani sedikit pun menyela ucapanku. Padahal, kami dulu terbiasa bercanda, karena dia selalu mengikutiku sebagai pengawal pribadi. Dia sangat merasa bersalah karena kejadian waktu itu, dan berusaha lebih profesional lagi dalam bekerja."
"Tapi itu bukan salah mas Reno, Mas."
"Aku tahu. Aku juga bersalah waktu itu, karena membiarkanmu pergi dalam kondisi yang belum pulih sempurna. Tapi, Reno sangat merasa bersalah karena gagal menjagamu. Padahal, selama ini dia selalu berhasil menjagaku."
"Apa Mas waktu itu menyalahkan mas Reno?"
"Sedikit." Ragu Ardi.
Aini sedikit curiga dengan jawaban Ardi. Karena ia cukup tahu, bagaimana sifat Ardi.
"Ya sudah, Mas! Semoga, tidak ada lagi hal seperti itu." Hibur Aini.
"Aamiin. Yuk!"
Ardi lalu keluar dari kolam lebih dulu. Ia lalu membantu Aini untuk keluar. Mereka berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, karena sekujur tubuhnya basah kuyub. Khawatir jika sampai terpeleset lagi nanti.
"Kamu sudah makan, Sayang?" Tanya Ardi saat berjalan bersama Aini.
"Belum, Mas. Aku khawatir denganmu tadi." Manja Aini.
"Kita pesan aja, ya?"
__ADS_1
Aini mengangguk setuju. Ardi pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedang Aini menyiapkan baju untuk Ardi. Dan setelah Ardi selesai, gantian Aini yang ke kamar mandi. Sedangkan Ardi, segera memesan makanan melalui aplikasi online menggunakan ponsel Aini.
Dan di kamar mandi,,
"Astaghfirullah! Aku nggak punya baju ganti kan, di sini? Terus, gimana dong?" Monolog Aini.
Aini yang tadi terlalu fokus mencarikan baju ganti untuk Ardi, belum menyadari jika ia tidak punya baju ganti di rumah itu.
Aini segera keluar kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Karena memang, tak ada handuk kimono di rumah itu. Jadi, Aini hanya memakai handuk biasa untuk mengeringkan tubuhnya. Ia pun berusaha mencari pakaian yang bisa ia kenakan.
"Ini semua bajunya mas Ardi. Terus, aku gimana dong?" Gumam Aini bingung.
"Haa! Ada celana training sama kaos. Pake ini ajalah!" Imbuh Aini, sembari merentangkan celana training panjang milik Ardi.
Aini pun segera memakainya. Tapi,,
"Yaaahh! Kok kedodoran pinggangnya. Kan jadi melorot." Sedih Aini.
Aini lalu kembali mencari baju dan celana yang mungkin bisa ia kenakan. Tapi, semua sama saja. Bagian pinggangnya terlalu besar. Hingga melorot saat ia kenakan. Dan kaos yang ia temukan, ternyata terlalu pendek di tubuhnya. Hingga, paha mulusnya bisa terekspos sempurna. Bahkan nyaris menampilkan bagian istimewanya yang tidak tertutupi sama sekali.
"Ini gimana ceritanya kalau kayak gini semua?" Kesal Aini, karena tak kunjung menemukan pakaian yang bisa dikenakan.
Aini pun mendengus kesal. Ia akhirnya memilih memakai kemeja Ardi yang cukup panjang. Hingga bisa menutupi paha bagian atasnya. Ia pun akhirnya keluar kamar menyusul Ardi, dengan perasaan sedikit kesal.
"Maass!" Panggil Aini sembari berjalan menuju tangga.
"Aku di bawah, Sayang!" Sahut Ardi.
"Maaasss! Iihhh!" Rajuk Aini di ujung tangga lantai dua.
Ardi yang sedang duduk santai di ruang keluarga sembari mengisi daya baterai ponselnya, segera menoleh ke sumber suara. Karena ia sadar, suara Aini sedikit kesal.
Dan bukannya menjawab, Ardi malah mengedipkan kelopak matanya berkali-kali. Untuk meyakinkan diri, bahwa apa yang dilihatnya memang benar.
"Dia sedang menggodaku atau memancingku?" Batin Ardi, sembari menelan ludahnya dengan ragu.
Ardi jelas ternganga melihat penampilan Aini. Dengan kemeja Ardi yang dikenakan Aini, membuat kaki Aini yang mulus terpampang indah di depan matanya. Apalagi, siluet tubuh polos Aini yang tertutup kemeja berwarna putih itu, nampak cukup jelas.
"Itu yang kamu pakai?" Santai Ardi, sambil terus menatap Aini menuruni tangga.
"Ini kan bajumu, Mas. Aku nggak punya baju ganti sama sekali. Celanamu semuanya kebesaran, Mas. Apa ada baju mama di sini?"
"Kayaknya enggak, Sayang. Soalnya, rumah ini habis direnovasi. Dan barang-barang mama sudah di bawa ke rumah yang kita tempati." Jujur Ardi.
Aini pun merungut kesal. "Mas sih tadi! Kenapa nggak nahan aku biar nggak jatuh."
Ardi malah tersenyum geli melihat Aini.
"Terus, nanti aku pulangnya gimana, Mas? Masa pake kayak gini?"
Ardi terdiam. "Nggak mungkin juga Aini pulang dengan baju kayak gitu."
"Kita nggak akan pulang malam ini, Sayang."
"Apa? Terus?"
"Kita nginep di sini aja."
"Tapi Mas,,"
Ardi lalu mengulurkan tangannya, untuk menyambut Aini.
"Kemarilah!"
Aini yang memang sudah berdiri di depan Ardi, dengan segera menuruti permintaan Ardi. Ardi lalu menarik tangan Aini, dan memintanya duduk di pangkuannya.
"Astaga!" Batin Ardi tak percaya.
Aini yang duduk menyamping di pangkuan Ardi, berusaha menyamankan diri duduk dipangkuan sang suami. Karena posisinya, sungguh membuatnya sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Apa kamu tidak memakai celana d*lam, Sayang?" Tanya Ardi, saat Aini sudah duduk di pangkuannya.
"Kan aku udah bilang Mas dari tadi. Aku nggak punya baju ganti. Bajuku tadi basah semua, Mas." Kesal Aini.
Ardi lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Aini. Memeluk ringan istrinya dengan penuh kehangatan. Dan jelas, menikmati pertemuan kulit pahanya dengan milik Aini, yang tanpa ijin, membuat sesuatu terbangun dan meminta untuk dituntaskan.
Otak Ardi malah tiba-tiba berkelana tanpa permisi setelah mendengar jawaban Aini. Ia lalu sedikit melirik tubuh bagian depan Aini, yang ternyata, tanpa sengaja juga terlihat sedikit menonjol.
"Mas, gimana aku pulangnya?" Manja Aini, sambil sedikit menggeliat kesal.
"Aduh! Kenapa dia malah menggeliat seperti itu?" Batin Ardi mulai tak tahan.
Ardi berusaha keras menahan juniornya agar tidak terpancing terlalu jauh. Karena jika ia bermain sekarang, akan ada tukang antar makanan yang akan mengganggu permainannya dengan Aini nanti. Jadi, ia diam dan berusaha menstabilkan gejolak tubuhnya.
Aini yang menyadari Ardi hanya diam, malah makin menjadi di pangkuan Ardi. Ia masih belum sadar, bahwa keadaannya kini sudah sangat memancing Ardi untuk menerkamnya.
"Iiihhh! Mas kenapa diem aja, sih?" Kesal Aini makin menjadi.
"Sial! Aku tidak bisa menahannya." Batin Ardi kalah.
Ardi menarik Aini agar lebih menempel padanya. "Cukup, Sayang! Aku sudah tidak tahan"
Aini menatap Ardi dengan bingung. Tapi sedetik kemudian, Ardi segera mencium bibir Aini dengan penuh kelembutan.
Aini yang tadi merasa kesal, malah langsung menyambut Ardi. Mereka kembali hanyut dalam ciuman yang penuh rasa.
Ardi jelas tak menyia-nyiakan keadaan dan posisi Aini saat ini. Posisi yang sangat-sangat menguntungkan baginya. Tangannya segera berkelana ke tempat yang diinginkannya. Bermain-main dengan suka hati di tempat yang sudah sangat menggodanya sejak tadi.
Dan tak butuh waktu lama bagi Ardi untuk melepaskan kemejanya yang dipakai Aini. Bahkan, Aini pun sudah mengubah posisi duduknya menjadi saling berhadapan dengan Ardi.
,, TTTIIIIITTTTT,, (Adegan selanjutnya, di sensor oleh othor π€)
Dan saat keduanya tengah bermain dengan penuh rasa, tiba-tiba, ponsel Aini berdering Tanda sebuah panggilan telepon masuk. Awalnya, keduanya mengacuhkan dering ponsel itu, tapi akhirnya, mereka merasa terganggu dengan deringnya.
"Siapa sih?" Kesal Ardi, setelah melepaskan pagutannya di tubuh Aini.
Ardi dan Aini lalu menoleh dan melihat si penelepon, tapi masih dengan posisi yang sama. Dan ternyata, kurir pengantar makanan yang tadi dipesan Ardi yang menelepon.
"Sebentar, ya!" Pinta Ardi lembut.
Aini mengangguk paham. Ia lalu turun dari pangkuan Ardi dan membiarkan Ardi mengambil makanan yang diantar kurir. Ia lalu kembali mengenakan kemejanya yang tadi dilepas Ardi.
"Kaos sama celananya dibenerin, Mas!" Saran Aini, karena memang, kaos dan celana Ardi sedikit berantakan karena permainan panasnya barusan.
"Biarin, Sayang! Nanti kan dilanjut lagi." Sahut Ardi sekenanya.
Aini hanya menatap Ardi dengan aneh. Ia sangat paham, apa maksud ucapan Ardi barusan. Tapi tetap saja, ia memakai kemejanya dengan benar.
Tak lama, Ardi sudah kembali dengan tiga tas plastik makanan dan minuman pesanannya. Aini pun segera mengambil alat makan untuknya dan Ardi menikmati makan malam yang cukup tertunda. Tapi, belum sempat Aini menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, Ardi malah sudah kembali menariknya ke pangkuannya.
"Ayo Sayang, dilanjut lagi yang tadi!" Bisik Ardi mesra.
"Kita makan dulu ya, Mas! Aku laper." Rengek Aini manja.
"Tapi aku pengen makan kamu sekarang, Sayang. Makan malamnya nanti saja."
"Bentar aja, Mas! Aku isi amunisi dulu. Nanti aku pasti nggak kuat ngimbangin kamu kalau belum makan." Rayu Aini, yang memang sudah merasa sangat lapar.
"Satu ronde aja, Yang! Setelah itu baru kita makan." Bujuk Ardi.
"Aaahh, Maaasss! Makan dulu."
"Ayolah, Sayang! Sebentar saja!"
Ardi jelas punya ide nakal demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ya sudah, kamu siapin dulu ya!" Ucap Ardi mengalah.
Aini pun mengangguk bahagia. Karena saking bahagianya, ia malah mengecup bibir Ardi. Dan Ardi jelas tak melepaskan kesempatan itu. Ia malah menahan Aini dan mel*mat bibir Aini dengan lembut.
__ADS_1
Aini jelas sedikit meronta, karena cacing-cacing di perutnya sudah berdemo untuk diberi asupan. Tapi, karena satu tangan Ardi langsung menjalar ke tempat dimana yang seharusnya, Aini akhirnya terbawa oleh permainan Ardi. Ia pun menyambut Ardi dengan penuh perasaan.
Dan,, adegan berikutnya,, di sensor lagi oleh Othor yaaa π.