Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Ketahuan


__ADS_3

Angin berhembus merdu diantara dedaunan. Menari dan menggoda setiap hal yang ia sentuh, dengan begitu indahnya. Membuai rasa yang terkubur dalam, hingga ia pun mulai bangkit dan menyeruak ingin kembali terjaga.


Selepas makan siang, Ardi dan Niken menemani Aini mengobrol di kamarnya hingga efek obat Aini bekerja. Mereka lalu turun ke bawah untuk membiarkan Aini kembali beristirahat. Ardi tetap memantau kondisi Aini, agar ia tak kembali ditemukan dalam kondisi yang tak diharapkan.


"Tika! Tolong bawakan kopi panas ke ruang kerjaku!" Pinta Ardi, saat ia bertemu Tika di ruang makan.


"Iya, Mas." Jawab Tika sedikit semangat.


Ardi pun segera berjalan menuju ruang kerjanya. Ia mulai mengecek laporan yang mungkin Dika atau Mira kirimkan ke emailnya. Tak lama, Tika datang dengan segelas kopi pesanan Ardi.


"Duduklah! Ada yang ingin aku katakan padamu." Pinta Ardi setelah Tika meletakkan gelas kopi Ardi ke atas meja.


Tika lantas duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Ardi. Ardi pun menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Katakan padaku! Apa alasanmu membantu Oliv? Apa selama ini, kamu sebenarnya adalah orang suruhan Oliv?" Tanya Ardi, sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya.


Tika terkejut mendengar ucapan Ardi. Tubuhnya seketika membeku karena ucapan Ardi. Ia tak mengira Ardi tahu, bahwa ia membantu Oliv beberapa hari terakhir. Ia pun terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan yang Ardi ajukan.


"Kenapa diam?" Tanya Ardi serius.


Tika makin ketakutan. Tubuhnya mulai gemetar dan dipenuhi hawa dingin. Ia tak tahu, harus bagaimana menjawab Ardi. Kepalanya tertunduk begitu dalam.


"Kenapa kamu melakukan itu pada Aini? Apa salahnya padamu? Kalian baru saja saling mengenal bukan?"


"Aku tahu, kamu sedang membutuhkan uang karena hutang suamimu. Apa karena itu kamu membantu Oliv?"


"Tapi, satu yang tidak aku mengerti. Kenapa kamu tega melakukan itu pada Aini? Apa salahnya padamu? Apa dia menyakitimu?"


Ardi lantas berdiri dan memutari meja kerjanya. Ia duduk bersandar di depan mejanya, tepat di samping kursi, dimana Tika tengah terduduk.


"Apa, kamu cemburu padanya? Cemburu karena aku memperlakukan Aini begitu istimewa?" Tanya Ardi santai.


Tika masih tetap diam. Ia malah teringat, bagaimana dulu Ardi pernah memarahinya habis-habisan, karena tak menjaga Kenzo dengan baik. Hingga Kenzo nyaris tenggelam di kolam renang di rumahnya. Ia takut, Ardi akan melakukan hal itu lagi padanya.


"Iya, Aini istimewa bagiku. Kamu tidak tahu bukan, siapa dia?" Remeh Ardi.


Ardi mencondongkan sedikit badannya, agar wajahnya lebih dekat ke telinga Tika.


"Kamu tahu kan, Kenzo mengidap leukemia. Dan kondisinya makin hari makin memburuk. Dia butuh donor sumsum tulang belakang. Dan Aini adalah pendonornya." Ucap Ardi tepat di telinga Tika, dengan nada yang penuh ketegasan.


Tika membulatkan kedua bola matanya. Ia segera menoleh pada Ardi dengan keterkejutan yang makin memuncak. Sedang Ardi, ia malah sangat santai melihat ekpresi Tika.


Memang, hanya Ardi, Rama dan Niken yang tahu bahwa Aini adalah pendonor untuk Kenzo. Para pegawai di rumah Ardi tak ada yang mengetahuinya. Mereka hanya tahu, bahwa Aini adalah orang yang akan merawat Kenzo setelah operasi.


"Kamu sebenarnya bisa meminta bantuanku untuk masalah suamimu. Dan kamu hanya tinggal bekerja dengan baik di sini untuk membayarnya perlahan. Tapi, kamu malah memilih jalan pintas yang salah." Tutur Ardi, sambil berjalan menjauhi Tika.


"Aku akan memberikanmu dua pilihan. Terserah padamu, mau pilih yang mana."


Tika kembali tertunduk. Jantungnya mulai berdetak makin tak karuan karena ucapan Ardi. Ia sudah mulai merasakan firasat tak baik tentang ini.


"Pergi dari sini, setelah Aini dan mbok Sri membaik, maka aku tak akan memberi tahu mama apa yang akan kamu lakukan. Atau, tetaplah di sini selama yang kamu mau, tapi aku pasti akan memberi tahu mama tentang perbuatanmu."


"Dan jika mama sampai tahu perbuatanmu, aku yakin, dia pasti akan sangat marah padamu. Dan kamu tahu sendiri, bagaimana jika mama sudah marah pada seseorang." Akhir Ardi.


Tubuh Tika melemas. Ia tak pernah membayangkan, Ardi akan tahu semua itu. Bahkan, Ardi langsung memberikan pilihan yang begitu sulit baginya.


"Atau mungkin, kamu mau meminta bantuan pada rekanmu itu? Tapi, apa kamu sudah mendapat kabar darinya hari ini? Aku yakin, kamu belum mendapatkan kabar darinya bukan hari ini?" Sindir Ardi santai.


Karena pekerjaan yang cukup banyak hari ini, Tika belum sempat mengecek ponselnya sejak pagi. Dan Ardi tahu pasti tentang itu.


Ardi lantas keluar dari ruang kerjanya begitu saja. Meninggalkan Tika yang kebingungan dan ketakutan. Ucapan Ardi, terngiang dengan begitu jelas di kepalanya. Ia segera teringat, bagaimana kemarahan Niken ketika Kenzo hampir tenggelam. Ardi dan Niken benar-benar marah besar padanya saat itu.


Dulu, Ardi dan Niken akhirnya masih bisa memaafkan Tika yang sedikit teledor saat menjaga Kenzo. Tapi kini, tidak lagi. Ardi bahkan langsung memberinya pilihan yang membuatnya tak bisa lagi bertahan di rumah itu.

__ADS_1


"Habis sudah." Gumam Tika tak berdaya.


Pilihan. Setiap orang pasti memiliki pilihan dalam hidupnya. Tentunya, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Dan pilihan mana yang akan dipilih, semua kembali pada pribadi masing-masing.


...****************...


Malam telah menyapa. Bulan dan bintang kembali bersembunyi di balik awan hitam yang menggantung indah di langit. Menambah pekat suasana malam yang baru saja bergulir.


Pukul setengah delapan malam, Gilang kembali menyambangi rumah Ardi. Ia sudah berjanji pada Ardi tadi pagi, ia akan kembali malam ini untuk mengecek kondisi Aini. Ia harua benar-benar memastikan kondisi Aini segera membaik. Agar operasi bisa segera dilaksanakan.


Dan, apakah Aini masih di kamar sang duda? Jelas saja, iya. Tapi, tidak ditemani oleh sang duda pemilik rumah pastinya. Ia ditemani oleh dua putranya sejak mereka pulang sekolah tadi.


Kondisi Aini sebenarnya sudah cukup membaik sejak sore tadi, hingga ia ingin kembali ke kamarnya sendiri. Tapi jelas, dilarang oleh Ardi. Jadi, dia meminta dua putranya untuk menemaninya di kamar Ardi. Karena ia merasa sangat kikuk di kamar itu. Apalagi, sang empunya kamar berada di rumah sejak siang.


"Gimana kondisi Aini?" Tanya Ardi khawatir.


Gilang yang baru saja duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, segera melirik kesal pada Ardi. Ia baru saja selesai mengecek kondisi Aini di atas.


"Dasar! Duda bucin!" Umpat Gilang asal.


Niken dan Rama yang juga berada di sana, jelas tertawa geli mendengar umpatan Gilang. Mereka sudah terbiasa dengan ulah dua sahabat itu.


"Iya Lang, gimana kondisi Aini?" Tanya Rama perhatian.


"Udah mendingan kok, Om. Udah nggak demam tinggi. Tinggal pemulihan pelan-pelan." Jujur Gilang.


"Alhamdulillah." Jawab Niken dan Rama lega.


Ardi hanya diam mendengarkan. Ia tetap fokus pada ponsel di tangannya. Tapi, hatinya mendadak lebih tenang dan lega setelah mendengar ucapan Gilang.


"Udah Om, Tante! Cepet nikahin aja itu si duda bucin sama jandanya! Kesel sendiri malahan Gilang lihat sikap duda anak Tante itu." Keluh Gilang sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.


"Maunya sih gitu Lang, tapi kalau tiba-tiba nyosor, pasti kan kaget itu jandanya. Kalau jantungan gimana? Nggak jadi punya mantu nanti Tante sama om." Jawab Niken belagak polos.


"Udah disosor kalik Tante itu jandanya sama Ardi." Sindir Gilang santai.


Niken segera menoleh pada Ardi.


"Aini udah kamu apain, Di?" Tanya Niken penasaran.


"Nggak Ardi apa-apain kok, Ma." Jawab Ardi segera.


"Yakiiinn?" Cibir Gilang santai.


Ardi hanya diam. Dia melirik ke arah Gilang penuh tanda tanya. Keningnya bahkan berkerut sangat dalam.


"Kenapa? Bukannya tadi pagi kamu nyosor Aini di kamar?" Sahut Gilang tanpa malu.


Ardi masih diam tak merespon.


"Beneran, Di?" Tanya Niken makin penasaran.


"Dudanya malu Tante, mau ngaku." Sindir Gilang.


Gilang memang tahu Ardi mengecup bibir Aini pagi ini. Ia tak sengaja melihat Ardi melakukan itu. Ia tak berniat mengintip atau memata-matai sahabatnya itu. Ia hanya ingin mengatakan sesuatu pada Aini sebagai dokternya.


Tapi, saat ia sampai di ambang pintu kamar Ardi, ia tak sengaja mendengar percakapan sepasang duda dan janda itu. Ia pun menghentikan langkahnya. Ia jadi tak sengaja melihat adegan yang tak pernah ia kira akan terjadi itu.


"Udah! Cepet nikahin aja Tante!" Tutur Gilang lagi.


"Pelan-pelan, Lang! Kasihan Aini-nya." Jawab Niken sambil tersenyum.


"Gilang bantuin deh, Tan." Sombong Gilang.

__ADS_1


"Boleh donk."


"Obat paling ampuh itu ya Tan, hati yang bahagia. Iya nggak sih, Tan?" Sahut Gilang, sambil tersenyum penuh arti.


Niken terdiam sejenak. "Bener banget."


Gilang, Niken dan Rama langsung paham dengan maksud ucapan Gilang. Mereka pun segera saling melempar senyum penuh makna. Tapi, tidak dengan Ardi. Ia masih fokus dengan ponsel yang sedari tadi ia pegangi. Meski, ia tetap mendengarkan apa yang tiga orang itu bicarakan.


"Di!" Bentak Niken mulai kesal.


"Apa sih, Ma?" Jawab Ardi malas, tanpa menoleh.


"Kamu gimana sih? Serius enggak sama Aini?" Tanya Niken makin kesal.


"Ya serius dong, Ma."


"Ardi kok jadi lola sih, Tante?" Cibir Gilang lagi.


"Ya gitu deh, Lang. Terlalu fokus sama Aini. Jadi susah dikasih kode pelan-pelan." Timpal Niken tanpa ragu.


"Dikasih kode?" Batin Ardi mulai memahami.


"Bukan terlalu fokus sama Aini, tapi kelamaan menduda itu, Tan." Ejek Gilang sambil tertawa bahagia.


"Sialan kamu!" Kesal Ardi.


"Ya emang bener, hhaha,," Jawab Gilang sambil terus tertawa.


"*Hati y*ang bahagia?" Batin Ardi lagi, tanpa menghiraukan tawa Gilang.


Ardi berpikir keras. Ia berusaha memahami maksud ucapan Gilang dan ibunya.


"Oke, Ma, Pa. Kita liburan tiga hari lagi." Celetuk Ardi tiba-tiba.


"Kenzo sama Umar kan sekolah, Di?" Tanya Niken bingung.


"Libur aja, Ma." Jawab Ardi tanpa berdosa.


Niken dan Rama menggelengkan kepala penuh ketidakpercayaan. Sedang Gilang, malah tertawa cekikikan melihat reaksi Ardi.


"Aku diajak nggak nih?" Sela Gilang.


"Ikut aja, kalau mau." Jawab Ardi datar.


"Oke!"


Gilang pun akhirnya antusias dengan jawaban Ardi. Ia ingin ikut, karena juga harus memantau kondisi Aini selama liburan, yang ia tak ketahui tujuan dan waktunya itu.


Rama dan Niken pun juga menyetujui usulan Ardi. Mereka juga cukup antusias menyambut usulan putra mereka itu. Karena, itu juga bisa menjadi sarana, mendekatkan Ardi dengan Aini nantinya.


Hati yang bahagia, memang salah satu obat terbaik untuk sebuah kesembuhan. Karena hati yang bahagia, akan membawa pikiran dan energi positif pada tubuh. Meski, semua kembali pada kehendak Sang Maha Kuasa. Tapi, itu bisa menjadi sebuah usaha bagi kita, dalam meraih sebuah kesembuhan.


****************


Maaf ya readers, up nya lama 🙏🙏🙏😁


Terima kasih buat semuanya yang masih setia sama Aini dan Ardi 😁😘😘 semoga suka dengan tiap babnya 😄🤩😍


jangan lupa tinggalkan jejak yaa 😉


see you next episode guys 🤩


lope yu semuanyah 😁😘🥰

__ADS_1


__ADS_2