Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Madu (Lagi)


__ADS_3

Pagi yang cerah. Secerah suara-suara alam yang saling bersahutan dengan indahnya. Menambah indah suasana pagi ini.


Di sebuah rumah yang berada di salah satu sudut Kota Bandung, seorang wanita tengah bersiap untuk keluar rumah. Ia mengikat rambut hitam panjangnya agar tidak begitu menganggunya.


"Kamu jadi ke rumah Ardi, Di?" Tanya seorang wanita paruh baya, yang berada di ambang pintu.


"Jadi, Buk. Ini baru siap-siap." Jawab si wanita sambil terus merapikan ikatan rambutnya.


"Jangan nyetir sendiri, lho!" Pesan sang ibu.


"Enggak, Buk. Dian minta tolong pak Yatno buat nganter." Jujur sang wanita tadi, seraya berdiri dari kursi riasnya.


"Iya. Minta tolong pak Yatno juga, kalau sewaktu-waktu bayimu kontraksi! Minta tolong dia buat antar ke rumah sakit!" Pinta sang ibu lagi.


"Iya, Buk. Dian udah bilang ke pak Yatno kemarin."


Sang ibu mengangguk lega. "Salam ya buat mamanya Ardi. Bilangin ke mama sama papanya Ardi, maaf karena kemarin nggak bisa menghadiri undangan mereka!"


"Iya, Buk. Nanti Dian bilangin."


Sang ibu mengangguk paham.


"Yaudah, Dian berangkat dulu ya, Buk. Ayah mana, Buk?" Pamit sang wanita.


"Di halaman belakang. Baru kasih makan ikan."


"Dian pamit ke ayah dulu, Buk."


"Iya, sana!"


Dua wanita berbeda generasi itu lalu pergi ke halaman belakang. Di sana, ada seorang laki-laki yang duduk di kursi kayu di tepi kolam ikan. Ia sedang memandangi ikan-ikannya yang sedang berebut makanan.


Wanita muda yang perutnya sudah membuncit karena usia kehamilannya sudah hampir memasuki hari persalinannya itu, lantas berpamitan pada laki-laki yang tak lain adalah ayahnya. Ayah wanita itu terkena stroke ringan sejak beberapa bulan lalu, setelah terkejut karena mendengar berita kecelakaan yang menimpa menantunya.


Rio Prayogi, suami dari Diandra Kinanthi. Wanita yang kini tengah hamil dan sudah mendekati hari persalinannya itu.


Rio dan Dian sudah menikah sejak sepuluh tahun lalu. Rio dan Dian sudah melakukan banyak usaha agar segera mendapat momongan. Tapi, barulah di tahun ke sepuluh pernikahan mereka, mereka diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki momongan.


Dan tepat saat usia kandungan Dian lima bulan, Rio mengalami kecelakaan. Rio yang berprofesi sebagai seorang pilot, akhirnya gugur saat pesawat yang dikemudikannya mengalami kegagalan mesin saat belum lama mengudara. Pesawatnya akhirnya jatuh dan meledak. Semua penumpangnya tidak selamat. Termasuk seluruh kru pesawat.


Dan karena hal itulah, ayah Dian mengalami serangan jantung hingga terkena stroke ringan sampai saat ini. Dian pun akhirnya juga harus berjuang untuk bayi kembar yang ada di dalam kandungannya seorang diri. Karena Rio adalah yatim piatu dan dia adalah anak tunggal.


Dian adalah seorang pengusaha kuliner. Ia memiliki tiga warung makan siap saji. Sebenarnya itu adalah usaha yang dirintis oleh ayahnya dulu. Tapi, saat dikelola oleh Dian, warung makan yang tadinya hanya satu, kini sudah memiliki dua cabang.

__ADS_1


Butuh sekitar tiga puluh menit bagi Dian untuk sampai ke tempat tujuannya. Rumah Ardi. Ardi dan Dian adalah teman sejak kecil. Ayah Dian adalah sahabat Rama sejak masih sekolah. Dan pertemanan antara dua laki-laki itu, menurun ke anak mereka.


Setelah sampai di rumah Ardi, Dian disambut oleh Inah. Inah yang juga sudah lama bekerja menjadi asisten rumah tangga di kediaman Ardi, sudah terbiasa dengan kedatangan Dian. Apalagi, tadi ia juga sudah diminta oleh Ardi, untuk mrngantar Dian ke halaman belakang jika ia sudah tiba.


"Mbak Dian sudah ditunggu mas Ardi di belakang." Ucap Inah.


"Iya, Bik." Ramah Dian.


Dian pun berjalan santai menuju halaman belakang rumah Ardi. Dan ternyata, Ardi juga menghampirinya untuk memastikan tidak terjadi sesuatu yang kurang baik pada Dian. Karena Ardi tahu, Dian sedang hamil besar.


"Kita ngobrol di belakang aja, ya?" Sambut Ardi.


Dian mengangguk setuju. "Mana istrimu?"


"Baru di kamar. Nanti juga turun. Ayo! Hati-hati jalannya!" Ucap Ardi perhatian.


Ardi pun refleks mengangkat tangannya ke belakang bahu Dian. Ia tak mau, jika sampai terjadi sesuatu pada Dian dan ia tidak sigap menolongnya. Dian sudah seperti saudara bagi Ardi.


"Gimana kabarmu? Tanya Ardi, setelah ia dan Dian duduk di kursi.


"Ya, beginilah, Di. Alhamdulillah ada kalian yang selalu menemaniku. Terima kasih." Jawab Dian sedikit sedih.


Ardi mengangguk saja. "Gimana?"


"Iya, aku tahu. Tapi, aku tidak bisa langsung memutuskan begitu saja, Di." Jawab Ardi lembut.


"Ayah sama ibu bilang, kalau kamu yang bertanggung jawab, mereka mengijinkannya. Tapi kalau orang lain nggak boleh, Di." Ucap Diandra sambil mengusap perutnya yang sudah besar.


"Iya, kamu juga udah bilang semalam. Tapi, aku juga harus bilang ke Aini dulu, Di. Aku tak mau melakukan itu tanpa ijinnya." Jawab Ardi.


Diandra terdiam. Ia paham dengan maksud Ardi.


"Aku sudah menikah sekarang. Beberapa hal harus aku rundingkan dulu dengan istriku sekarang. Apalagi, permintaanmu jelas akan berhubungan langsung dengan Aini. Jadi, aku harus mengatakan dulu padanya." Jelas Ardi.


"Apa kamu belum mengatakannya?" Tanya si tamu.


"Belum. Aku ingin memperkenalkan kalian lebih dulu. Jadi, aku belum mengatakannya." Santai Ardi.


"Tidak!" Pekik Aini tiba-tiba.


PYAARR. Suara itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Mengagetkan semua orang yang ada di rumah. Tak terkecuali Ardi dan Diandra


"Astaghfirullah. Apa itu?" Gumam Ardi seraya berdiri.

__ADS_1


"Apa itu, Di?" Tanya Diandra terkejut.


Ardi lalu segera berjalan menuju pintu. Ia melihat nampan dan pecahan gelas dan toples kaca berserakan. Ia segera mengedarkan pandangannya. Dan melihat Aini berlari menaiki tangga.


"Aini?" Gumam Ardi bingung.


"Kenapa, Di?" Tanya Dian yang sudah berdiri di samping Ardi.


"Ada apa, Mas?" Tanya Inah sedikit terengah-engah setelah berlari.


"Tolong dibersihkan ya, Bik!" Pinta Ardi cepat.


Inah segera mencari apa yang dimaksud Ardi. "Astaghfirullah. Mbak Aini? Mbak Aini nggak papa kan, Mas?"


"Bentar ya, Di! Kamu duduk dulu, ya!" Sambung Ardi.


"Iya." Singkat Dian, dengan perasaan sedikit bingung.


Ardi segera berjalan ke dalam rumah untuk mengejar Aini yang langsung masuk kembali ke kamarnya. Pikirannya cukup kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.


Sedang Inah, segera mempersilahkan Dian untuk duduk kembali dan menunggu Ardi. Ia pun juga langsung mengambil sapu dan kain pel untuk membersihkan pecahan kaca dan makanan serta minuman yang berserakan.


Perasaan Ardi sedikit kurang baik saat melihat Aini tadi berlari menaiki tangga. Tapi ia berusaha menutupi itu dari Dian. Dan saat ia membuka pintu kamar, Aini terlihat sedang tiduran di atas ranjang dengan membelakangi pintu. Ia pun segera menghampirinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Cemas Ardi, karena jelas terlihat dari gerakan tubuh Aini, ia sedang menangis.


Ardi lalu duduk di tepi ranjang, sembari membersihkan air mata Aini yang sudah membasahi wajahnya. Bahkan, wajah Aini sudah berubah merah saat ini.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah? Katakan padaku, Sayang!" Bujuk Ardi lembut.


Bukannya berhenti menangis dan menjawab Ardi, tangisan Aini malah makin menjadi. Airmatanya malah mengalir makin deras. Matanya terpejam begitu rapat demi menahan apa yang sedang bergejolak dalam hatinya. Hingga membuat tubuhnya pun bergetar makin hebat karena menahan suara tangisnya.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Ardi makin panik, karena Aini tak mau membuka matanya atau menjawab pertanyaannya sedikit pun. Aini malah menangis tanpa henti.


Iya, Aini terlalu sedih dan takut jika sampai Ardi menikahi temannya yang baru berkunjung ke rumah itu. Bayangan masa lalunya, tentang bagaimana ia dimadu oleh sang suami, menjadi hal yang paling menakutkan bagi Aini saat ini.


Memang, awalnya semua terlihat baik. Awal saat Aini memiliki madu, Ratri bersikap baik padanya. Tapi lama-kelamaan, sikap Ratri berubah padanya. Apalagi, Ratri juga disayangi oleh mertuanya dulu. Yang notabene, tidak menyukai Aini sejak awal.


Dan kini, ada seorang wanita yang sedang hamil besar dan meminta Ardi bertanggung jawab. Dan hanya Ardi saja yang mendapat restu dari orang tua si wanita untuk bertanggung jawab. Dan bahkan, Ardi juga nampak sangat perhatian padanya.


"Haruskah aku dimadu lagi, Ya Allah?" Batin Aini pedih, bersamaan dengan airmatanya yang terus mengalir tanpa henti.

__ADS_1


__ADS_2