Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Mulai Romantis


__ADS_3

Setan dalam setiap diri manusia, terlalu sulit untuk dikendalikan. Bahkan, manusianyalah yang lebih sering dikendalikan oleh keinginan dalam diri setan itu. Hingga mereka, melakukan hal yang seharusnya tak mereka lakukan.


Dan entah, setan apa yang merasuki tubuh sepasang duda dan janda itu. Yang kini masih dalam posisi yang belum mereka sadari sepenuhnya. Buaian gelora rasa yang begitu menggebu, memenuhi rongga hati mereka masing-masing. Menuntut dengan cara yang begitu halus.


Tautan benda nan lembut itu, masih terus saja bermain indah satu sama lain. Saling membalas dengan penuh gejolak rasa yang tak terelakkan.


Kedua tangan Aini yang sedari tadi bertaut dan saling menggosok satu sama lain demi menghilangkan hawa dingin yang memenuhi tubuhnya, perlahan mulai terangkat ke arah wajah Ardi. Dan perlahan, membelai lembut wajah laki-laki yang sedang tak berjarak sama sekali dengan dirinya.


Sentuhan tangan dingin Aini, menyadarkan Ardi seketika. Ia yang sedari tadi memejamkan matanya karena buaian rasa yang tak terbendung, sejurus kemudian matanya terbuka dengan sempurna. Ia bisa melihat wajah Aini yang berada tepat di depannya.


Ardi segera menghentikan ciuman lembut itu. Aini pun perlahan membuka matanya. Ia lantas menatap Ardi tanpa berkedip. Ia merasa begitu malu, karena bisa dengan mudahnya, membalas ciuman Ardi yang begitu membuainya. Kedua tangannya pun ia tarik kembali turun.


Ardi menyadari gelagat Aini. Ia segera tersenyum hangat pada Aini. Dan kembali mendaratkan sebuah kecupan di bibir nan basah dan sedikit merah itu. Ardi lalu kembali menarik Aini dalam pelukan kedua tangannya. Aini pun kembali pasrah saat lengan kekar itu kembali melingkari tubuhnya.


"Maaf!" Ucap Ardi lirih, tapi masih terdengar oleh Aini.


Aini mengangguk pelan dalam pelukan Ardi. Ia menikmati kehangatan dan perhatian yang tak pernah ia duga akan ia dapatkan saat ini. Perhatian dari seseorang yang mulai menjadi orang istimewa di hatinya.


Tak lama, mobil yang dikendarai Dika mulai memasuki gerbang rumah yang nampak sangat biasa. Tetapi sangat berbeda dengan isi rumah di dalamnya.


Nampak seorang laki-laki dengan payungnya, membukakan gerbang itu di tengah guyuran hujan yang masih lebat. Dika segera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah. Agar sang empunya mobil tak kehujanan. Ia pun segera keluar, hendak membukakan pintu untuk sang atasan.


"Tunggu sebentar! Aku akan membantumu masuk." Pinta Ardi penuh perhatian.


Ardi melepaskan pelukannya. Ia pun segera turun dari mobil, yang pintunya sudah dibukakan oleh Dika. Ia segera memutari mobil bagian belakangnya, dan bersiap untuk membantu Aini masuk ke rumah.


Ardi dengan segera membungkukkan badannya, dan bersiap untuk membopong Aini, yang ingin turun dari mobil.


"Mas Ardi mau apa?" Tanya Aini sambil sedikit beringsut.


"Membawamu masuk." Jujur Ardi.


"Saya bisa sendiri, Mas." Jawab Aini malu.


"Tapi kondisimu belum baik, Ni."


"Saya masih bisa berjalan sendiri, Mas. Lagi pula, Umar pasti akan sangat cemas jika melihat ibunya pulang dengan digendong orang lain." Tolak Aini pelan.


"Benar yang Bu Aini katakan, Pak." Timpal Dika.


Dika segera mendapat lirikan tajam dari sang atasan.


"Ya sudah, aku akan memapahmu saja." Paksa Ardi.


"Tapi Mas,,"


"Tak apa-apa, Bu Aini. Kondisi Ibu juga masih belum baik." Saran Dika lagi, yang kini membela Ardi.


"Jangan membantahku!" Pinta Ardi tegas.


Hati sang duda satu ini sedang tak ingin dibantah. Ia benar-benar cemas pada kondisi wanita yang masih kedinginan itu.


Aini tertegun mendengar permintaan Ardi. Ia sejenak menghentikan aktivitasnya karena terkejut mendengar ucapan laki-laki yang tiba-tiba begitu romantis padanya sejak tadi..


"Ayo masuk! Di sini dingin." Ajak Ardi sambil menarik Aini dalam pelukannya.


"Kamu juga masuklah dulu, Dik! Hujannya masih lebat." Imbuh Ardi setelah menoleh pada Dika.


"Saya langsung pulang saja, Pak. Keluarga saya pasti sudah menunggu." Tolak Dika halus.


"Ya sudah, hati-hati! Bawa mobilku sekalian saja! Mobilmu pasti masih di garasi." Saran Ardi.


"Baik, Pak."

__ADS_1


Ardi lantas memapah Aini masuk ke rumah, setelah Dika lebih dulu membukakan pintu untuk mereka. Pintu rumah memang belum dikunci, karena Ardi belum pulang. Dika pun segera meninggalkan kediaman Ardi.


Tubuh Aini sudah mulai menghangat perlahan sejak masih di mobil tadi. Dua buah jas kerja yang menempel di tubuhnya, pelukan hangat penuh perhatian dari Ardi, dan pastinya, pergulatan kecil dari dua buah bibir yang tak terencana tadi, membuat suhu tubuh Aini perlahan menghangat lagi.


"Bunda!"


Suara dua orang anak laki-laki, segera menggema di telinga Ardi dan Aini. Mereka sejak tadi menunggu kepulangan dua orang itu di ruang keluarga bersama Tika dan Sri. Empat orang yang sedang berada di rumah besar itu, segera menghampiri Ardi dan Aini.


Umar langsung menghambur ke tubuh Aini.


"Baju Bunda basah, Sayang." Ucap Aini perhatian.


"Bunda kenapa nggak pulang-pulang?" Adu Umar sedikit sesenggukan.


Hati Aini tak bisa menahan perasaannya. Ia segera berlutut dan mensejajarkan tubuhnya dengan Umar. Ia pun memeluk Umar dengan penuh perhatian.


"Maaf, Sayang. Bunda tadi nggak tahu jalan pulang dan juga terjebak hujan lebat." Jujur Aini.


"Kenapa Bunda nggak telepon?"


"Kan ponsel Bunda ketinggalan. Tante Oliv kan sudah memberi kabar, bukan? Melalui bude Tika."


Umar mengangguk begitu saja. Hati anak laki-laki berusia delapan tahun itu, benar-benar cemas memikirkan ibunya yang tak kunjung pulang sejak tadi. Apalagi cuaca di luar sedang sangat buruk.


Ardi melihat dan mendengarkan dengan seksama, apa yang dilakukan sepasang ibu dan anak itu. Ia pun juga sedang memeluk hangat putranya, yang juga sedang menantinya sejak tadi.


"Ada yang tak beres sepertinya." Batin Ardi.


"Umar! Sekarang biarkan Bunda mandi dan mengganti pakaiannya dulu, agar tak kedinginan lagi! Kamu bisa menemaninya lagi nanti." Sela Ardi perhatian.


Umar segera melepaskan pelukannya.


"Baju Bunda kenapa basah semua?" Tanya Umar polos.


"Kena hujan tadi, Nak!" Jujur Aini.


"Tidak usah, Mas. Terima kasih. Saya mandi di bawah saja, seperti biasa." Tolak Aini sambil menoleh pada Ardi.


"Jangan membantahku!" Paksa Ardi.


Aini lalu berdiri kembali. Tubuhnya yang masih terasa cukup dingin, membuatnya enggan untuk berdebat. Ia pun akhirnya menuruti permintaan Ardi. Ia mandi di kamar Umar, yang ada pemanas airnya.


"Mbok, tolong buatkan Aini minuman dan makanan hangat! Tolong antarkan ke kamar Umar nanti!" Pinta Ardi setelah Aini menaiki tangga.


"Iya, Mas. Mas Ardi nggak sekalian?" Tawar Sri.


"Aku nanti saja, kalau Gilang sudah tiba. Dia pasti akan meminta yang aneh-aneh nanti." Sahut Ardi singkat.


"Nggeh, Mas."


Ardi pun lalu membersihkan diri di kamarnya. Ia meninggalkan dua anak laki-laki itu di bawah. Mereka sedang menunggui Sri yang sedang menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Aini.


Dan saat Aini keluar dari kamar mandi di kamar Umar, dua putra kesayangannya sudah menunggunya dengan setia di kasur Umar. Mereka memang sengaja menunggu Aini selesai mandi, setelah tadi membawakan makanan dan minuman hangat buatan Sri ke kamar.


"Bunda, itu diminum dulu teh hangatnya! Terus minya juga dimakan! Mbok Sri yang buatin tadi." Pinta Kenzo sambil menunjuk ke arah meja yang ada di ruangan itu.


Aini pun menoleh mengikuti arah tangan Kenzo. Ia pun tersenyum bahagia.


"Iya. Makasih, ya. Kalian udah makan?" Tanya Aini perhatian.


"Udah Bunda, tadi." Jujur Kenzo dan Umar bersamaan.


Aini pun lantas menikmati hidangan hangat yang begitu menggugah seleranya. Ia sesekali bercanda bersama Umar dan Kenzo sembari menghabiskan mi instan yang dibuatkan oleh Sri tadi.

__ADS_1


Dan saat itu terjadi, ada sepasang mata yang mengamati dengan seksama, canda tawa tiga orang itu. Ia melihatnya dari pintu yang terbuka separuh.


"Malam ini, tidurlah di kamar Umar! Ada penghangat ruangannya di sini." Pinta Ardi tiba-tiba.


"Tidak perlu, Mas. Saya tidur di bawah saja seperti biasa." Tolak Aini halus.


"Kamu tadi nyaris hipotermia, Ni."


"Saya sudah lebih baik sekarang, Mas."


"Benar yang dibilang Ardi. Tidurlah di kamar ini dulu. Ada penghangat ruangannya di sini." Imbuh Gilang dari belakang Ardi.


"Lama banget?" Cibir Ardi santai.


"Enak aja lama. Hujan deres itu bos, diluar." Jawab Gilang kesal.


"Alesan. Udah cepet, periksa Aini!" Sahut Ardi tanpa rasa berdosa.


"Sialan kamu!" Umpat Gilang.


"Ada anak kecil Pak Dokter Gilang! Jaga bicaranya!" Jawab Ardi penuh penekanan.


"Iya, iya. Maaf."


Gilang lantas mendekati Aini. Umar dan Kenzo yang tadi duduk mengapit Aini, segera berpindah tempat. Mereka lantas duduk di tepi kasur bersama Ardi. Gilang pun segera memeriksa kondisi Aini.


Gilang rela menembus hujan yang masih turun dengan lebatnya, bukan hanya karena permintaan Ardi. Tapi lebih karena Kenzo. Ia harus memantau kesehatan calon pendonor Kenzo secara intens, sebelum operasi dilakukan. Agar anak berusia delapan tahun itu, bisa segera membaik kondisinya.


"Oke! Udah sangat mendingan. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Aku kasih vitamin aja, ya! Kalau ada apa-apa langsung kabari aku. Ya?" Tutur Gilang sambil merapikan peralatannya.


"Baik, Dokter. Terima kasih. Maaf, merepotkan Anda malam-malam dan dalam kondisi cuaca yang seperti ini." Sahut Aini sungkan.


"Nggak papa. Tapi, lain kali jangan lagi ya! Kasihan itu si duda." Sindir Gilang sambil melirik ke arah Ardi.


Aini pun refleks menoleh pada Ardi. Ia cukup kebingungan mencerna ucapan Gilang barusan.


"Ah, aku jadi pengen makan mi hangat juga. Ayo Di, makan dulu!" Ajak Gilang santai.


Gilang dengan santainya, segera berdiri dan menarik lengan Ardi. Tapi Ardi masih tak beranjak.


"Umar malam ini tidur sama Kenzo, ya! Bunda biar tidur di sini dulu sendirian." Pinta Ardi.


"Iya, Om." Jawab Umar patuh.


"Ya sudah, kalian tidurlah! Bunda juga biar bisa beristirahat, supaya kondisinya cepat pulih." Pinta Ardi.


Umar dan Kenzo saling pandang.


"Siap, Bos!" Jawab dua anak laki-laki itu bersamaan, dengan tangan yang terangkat memberi hormat pada Ardi.


Ardi pun tersenyum. Umar dan Kenzo lalu keluar dari kamar itu. Mereka segera pergi ke kamar sebelah, yang merupakan kamar Kenzo.


"Istirahatlah!" Pinta Ardi lembut, sebelum ia keluar kamar bersama Gilang.


"Iya, Mas. Terima kasih." Tulus Aini.


Ardi lantas berjalan keluar kamar bersama Gilang. Dan tepat sebelum Ardi menutup pintu, Aini sempat mendengar percakapan Ardi dan Gilang.


"Kamu obati apa tadi Aini?" Tanya Gilang santai.


"Nggak perlu tahu." Sahut Ardi singkat.


Pintu pun segera tertutup. Aini tak lagi mendengar percakapan dua orang itu.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, ia teringat apa yang tadi terjadi di dalam mobil, antara ia dan Ardi. Setiap rasa dan sentuhan yang begitu membuai itu. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena mengingat ciuman pertamanya dengan Ardi tadi. Nafasnya seketika memburu. Suhu tubuhnya pun mendadak tak bisa ditebak.


"Kenapa mas Ardi menciumku tadi?" Gumam Aini, sambil meraba lembut bibirnya.


__ADS_2