
Selamat datang mentari pagi. Sinarnya menyapa dengan lembut para penghuni bentala dengan sejuta kehangatannya. Memberikan asupan semangat yang penuh kebaikan bagi setiap rasa yang menjalar dengan indah di setiap hati para pemiliknya.
"Aini!"
Panggilan itu menggema dengan indah di seluruh penjuru rumah. Rumah satu lantai yang berukuran sedang, tapi penuh dengan kehangatan dari para penghuninya.
"Iya Bu'?" Jawab Aini sambil sedikit berlari.
"Kamu jadi ke sekolah Umar hari ini?" Tanya wanita itu.
"Jadi Bu. Apa Ibu ada acara?"
"Tidak. Kalau kamu sekalian belanja, gimana? Beberapa kebutuhan rumah sudah menipis."
"Iya Bu."
"Ya sudah, bersiaplah! Aku akan buatkan daftar belanjanya. Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah Bu."
"Oke."
Wanita itu lantas tersenyum dengan sangat ramah pada Aini. Ia lantas berbalik badan dan meninggalkan Aini. Aini pun membalas senyuman itu dengan senyuman hangatnya.
Dewi Septiana. Seorang vlogger yang cukup dikenal di dunia maya. Konten-kontennya tentang kehidupan yang dilihat dari berbagai sisi, menjadi magnet tersendiri bagi para pengikut dan penontonnya.
Dewi adalah majikan Aini. Ya, Aini sekarang bekerja menjadi seorang asisten rumah tangga. Sudah sejak satu tahun terakhir ia menjadi ART di rumah Dewi dan suaminya. Suami Dewi, Galih, adalah salah satu pegawai di pengadilan negeri di kota penuh sejarah ini, Surabaya. Mereka sudah memiliki dua orang putra yang berusia lima tahun dan dua tahun, yang kini juga dibantu diasuh oleh Aini.
Jalan kehidupan tak ada yang tahu, termasuk Aini. Ia tak pernah menyangka, jalan hidupnya akan seperti ini.
Saat itu, Aini akhirnya memilih menyelamatkan ibunya. Karena ia yakin, Tuhan tak akan memisahkan anak dari ibunya. Dan itu benar.
Setelah Aini menandatangani surat gugatan cerai dari Adit, Suharti membiayai seluruh biaya rumah sakit Ratmini. Dan pastinya, Suharti mengatakan pada Adit, bahwa Aini mengancamnya untuk membawa Umar jauh darinya jika ia tak mau membiayai Ratmini di rumah sakit.
Adit jelas mempercayai itu. Dan makin bertumbuhlah rasa benci dalam hati Adit pada Aini. Ia pun segera mendesak pengacaranya untuk bisa segera menyelesaikan sidang perceraianya dengan Aini.
__ADS_1
Dan Tuhan sepertinya berpihak pada Aini. Pengadilan memutuskan bahwa hak asuh Umar jatuh ke tangan Aini. Aini sangat bahagia dengan itu. Ia lega, karena operasi ibunya berjalan lancar, dan juga bisa kembali bersama putra kesayangannya. Meski ia harus merelakan Adit selamanya.
Tapi Adit tak tinggal diam. Ia mengajukan tuntutan kembali atas hak asuh Umar, agar jatuh ke tangannya. Adit bahkan mencari pengacara handal dari firma hukum kondang di Jogja kala itu.
Aini yang tak memiliki kemampuan seperti Adit, hanya bisa memasrahkan semuanya pada Sang Kuasa.
Setelah beberapa persidangan, pengadilan akhirnya memutuskan hak asuh Umar akhirnya jatuh ke tangan Adit. Tapi, Aini masih tetap bisa menemuinya.
Dan disitulah penderitaan lain Aini dimulai. Tanpa sepengetahuan Aini, Adit membawa Umar dan seluruh keluarganya pindah ke Surabaya. Bahkan, Aini tidak diizinkan sama sekali menemui Umar, barang sedetik.
Bahkan meski Aini sudah jauh-jauh datang dari Jogja ke Surabaya, Aini tetap tidak diijinkan melihat Umar sama sekali. Meski Aini sudah memohon dan merayu, ia tetap tidak mendapatkannya.
Hingga, setelah enam bulan kepergian Umar ke Surabaya, kondisi Ratmini kembali memburuk. Usianya yang sudah kepala enam, masalah putri keduanya yang tak kunjung usai, membuat kondisinya menurun dari hari ke hari, meskipun, operasi livernya saat itu berhasil. Dan akhirnya, Ratmini menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
Aini benar-benar tak memiliki semangat hidup lagi. Orang-orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Untuk beberapa saat, ia menjadi Aini yang pendiam. Ia bahkan harus berhenti bekerja karena keterpurukannya.
Hingga dua bulan setelah kepergian Ratmini, Heni dan Arif datang ke rumahnya. Mereka yang berada di Singapura sejak satu tahun terakhir, tak tahu jika Ratmini sudah tiada dua bulan lalu. Dan bahkan, ia juga tak tahu jika Adit dan Aini sudah bercerai. Karena Ratri merahasiakan hal itu dari mereka selama ini.
Akhirnya, Heni dan Arif membawa Aini ke Surabaya untuk menemui Umar. Dan saat itulah, keluarga Adit tak bisa menolak kehadiran Aini di sana.
Heni sempat berdebat dengan Suharti karena memfitnah Aini memanfaatkan orang tua Ratri agar bisa bertemu dengan Umar. Tapi akhirnya ditengahi oleh Aini sendiri.
Dan karena hal itu, setelah hari itu, Aini akhirnya bisa menemui Umar. Ia datang ke Surabaya satu bulan sekali untuk menemuinya, meski hanya satu hari. Aini sangat berterima kasih pada Heni dan Arif untuk hal itu.
Dan akhirnya, satu tahun setelah itu, Aini memutuskan untuk pindah ke Surabaya, agar bisa lebih dekat dengan Umar. Ia tak ingin lagi bekerja seperti dulu. Ia akhirnya memilih menjadi ART, yang menurutnya tak begitu berat.
Dan semenjak Aini pindah ke Surabaya, ia bisa menemui Umar satu minggu sekali di sekolahnya, atas ijin dari Ratri. Tapi tanpa sepengetahuan Adit. Ratri hanya mengijinkan Aini menemui Umar saat jam istirahat sekolah, dan diawasi oleh wali kelas atau kepala sekolah.
Untuk mendapatkan hal sederhana itu, Aini harus memohon dan merayu Ratri cukup lama. Hingga akhirnya Ratri menyetujui permintaan Aini itu.
Umar sekarang duduk di bangku kelas dua SD. Ia bersekolah di sekolah berstandar internasional yang dinaungi oleh sebuah yayasan besar yang sudah mendirikan banyak cabang di kota-kota besar di Indonesia.
"Bundaa!"
Suara anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan seragam sekolahnya, menelusup dengan indah di indra pendengaran Aini. Ia baru saja sampai di depan ruang tamu sekolah, saat para siswa keluar dari kelasnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Aini yang bersiap menyalami sang kepala sekolah, segera menoleh ke sumber suara. Terlihat dengan jelas di netranya, dua anak laki-laki berlari kecil ke arahnya. Ia pun tersenyum lebar melihat mereka.
Aini lalu kembali menoleh pada sang kepala sekolah yang sudah menantinya, lalu menyalaminya terlebih dahulu. Sang kepala sekolah, Kumala Sari, segera mempersilahkan Aini masuk ke ruang tamu untuk menghabiskan waktu bersama Umar, seperti biasa.
Pihak sekolah sudah terbiasa dengan kedatangan Aini setiap hari Rabu. Mereka yang sudah menerima ijin dari wali Umar, membiarkan Aini menemui Umar seperti saat ini. Mala pun juga sedikit tahu sepenggal kisah Aini yang harus dipisahkan secara paksa dengan Umar, oleh mantan suaminya. Mala sering mengobrol sejenak dengan Aini saat Umar sudah kembali ke ruang kelasnya.
"Assalamu'alaikum Bunda." Sapa Umar saat masuk ke ruangan itu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Aini dan Mala bersamaan.
"Hai Tante!" Sapa teman Umar, yang selalu ikut Umar untuk menemui Aini, Kenzo.
"Halo sayangnya Bunda dan Tante." Jawab Aini bahagia.
Umar dan Kenzo bergantian menyalami dan mencium tangan Aini. Mereka lantas duduk di sebelah Aini, dan mengapitnya, seperti biasa.
Aini pun mengeluarkan bekal yang ia bawa sambil menanyakan beberapa pertanyaan pada Umar dan Kenzo. Tak lupa, menawari Mala yang sedang menemani mereka saat ini.
Obrolan pun berlangsung penuh kebahagiaan. Diselingi canda tawa dari keempat orang yang berada di ruangan itu. Hingga waktu pun berlalu dengan begitu cepat.
Bel tanda istirahat selesai pun berbunyi. Umar dan Kenzo segera berpamitan pada Aini dan Mala. Tak lupa, Aini memeluk putra semata wayangnya itu dengan sedikit air mata.
Begitulah Aini menghabiskan waktu berharganya dengan sang putra. Meski hanya sebentar, tapi utu sudah sangat membahagiakan bagi Aini. Mengingat, bagaimana ia harus terpisah jauh dari putra kecilnya karena keterpaksaan yang tak diinginkan.
Setelah Umar dan Kenzo kembali ke kelas, Aini pun segera berpamitan pada Mala. Ia takut, jika ia terlalu lama di sekolab, kehadirannya akan diketahui oleh Adit, dan akan membawa dampak buruk bagi putranya.
Aini berjalan dengan tergesa-gesa menuju parkiran motor. Ia menundukkan kepalanya demi menyembunyikan wajahnya. Ia bahkan tidak melihat jalan di depannya dengan benar.
BRUK.
"Maaf, Pak. Maaf." Ucap Aini singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Aini segera kembali berjalan untuk keluar dari sekolah. Ia bahkan tidak tahu, siapa yang baru saja ditabraknya. Ia hanya tahu, bahwa ia seorang laki-laki, dari sepatu yang dikenakannya. Aini pun dengan cepat mengeluarkan motornya dan keluar dari area sekolah.
Di sisi lain, orang yang tadi ditubruk Aini, melihat Aini hingga ia keluar dan tak terlihat lagi oleh kedua mata tajamnya.
__ADS_1
"Siapa dia? Kenapa dia selalu seperti itu?" Gumam orang itu lirih.