
Sinar sang surya, meredup perlahan. Terhalang dan tertutupi oleh gumpalan awan kelabu yang mengarak membentuk barisan tak beraturan. Seolah menjadi pertanda, bahwa langit akan mengirimkan kebaikannya, sebagai sumber kehidupan dari Sang Maha Kuasa.
Saat gerimis mulai turun, suara motor lama milik salah satu pengusaha muda di Surabaya, mulai memasuki halaman sebuah rumah nan megah. Rumah dengan dua lantai yang terlihat begitu menawan, dengan arsitektur yang cukup unik di setiap sudutnya.
"Kenzo!" Panggil seorang anak laki-laki, yang tiba-tiba keluar dari pintu depan sambil berlari.
"Umar? Kamu di sini?" Sahut Kenzo yang baru saja pulang dari sekolah.
"Iya. Jadi benar, ini rumahmu? Bagus banget rumahmu." Ucap anak laki-laki tadi antusias.
"Ayo, ke kamarku!" Ajak Kenzo segera.
Kenzo segera merangkul bahu anak laki-laki yang tiba-tiba ada di rumahnya itu. Kenzo yang terlalu bahagia karena kedatangan sang anak laki-laki itu, tak menanyakan alasan atau bagaimana cara anak itu bisa sampai ke rumahnya.
Ya, dia Umar. Umar tadi berhasil dibawa oleh Handoko dari rumah Adit. Meski, Handoko harus berdebat dengan Adit dan seisi rumahnya terlebih dahulu. Perdebatan yang panjang dan cukup rumit pastinya.
Kedatangan Handoko ke rumah Adit, sebenarnya adalah atas permintaan Ardi. Ardi sudah menebak, jika Adit akan melakukan apapun demi mempertahankan Umar bersamanya. Termasuk membawa kabur Umar. Karena ia yakin, tak banyak pengacara di kotanya, yang berani berhadapan dengan dua pengacara kepercayaannya yang ia minta untuk menangani kasus Aini.
Flashback On
"Apa jadwal setelah ini?" Tanya Ardi saat ia selesai rapat dengan para managernya.
"Anda memiliki janji temu dengan Pak Malik. Beliau ingin membahas rencana kerjanya dengan Anda." Jawab Dika seraya berjalan mengikuti Ardi kembali ke ruangannya.
"Dimana kita akan bertemu?"
"Rose Gold Hotel."
"Oke."
Ardi dan Dika segera bersiap untuk keluar kantor. Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas siang ketika mobil Ardi keluar dari parkiran kantornya. Dan saat melewati depan rumah Dewi, Dika menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Kenapa berhenti?" Tanya Ardi penasaran.
"Itu pak Adit, Pak. Mantan suami bu Aini." Tunjuk Dika, ke arah seberang jalan.
Ardi pun mengikuti arah tangan Dika. Ia juga bisa melihat dengan jelas, Adit memasuki konter milik majikan Aini. Tempat yang sama yang pernah ia sambangi.
Ardi dan Dika memperhatikan dengan seksama apa yang Adit lakukan di konter itu. Hingga Aini tiba bersama majikannya, lalu bertengkar hebat dengan Adit. Meski tak terdengar dengan jelas perdebatan Aini dan Adit, tapi Ardi dan Dika masih bisa mendengarnya meski dari jauh.
Ardi sempat terkejut dengan sikap Aini. Ia bisa dengan begitu kerasnya membantah dan membalas setiap ucapan Adit sembari menahan amarahnya agar tak lepas kendali.
"Hebat! Aku memang tak salah menilaimu." Gumam Ardi, saat melihat Aini dan Adit bertengkar hebat di konter Dewi.
Ardi tertegun kala melihat tubuh Aini merosot lemas setelah kepergian Adit. Nalurinya secara alami muncul. Ia ingin keluar dan menghampiri Aini untuk menenangkan dan membesarkan hatinya. Bahkan, ada rasa ingin memeluk dan menguatkan hati wanita yang kini sedang berada dalam pelukan sang majikan sambil terisak.
"Kita lanjutkan perjalanannya, Pak?" Tanya Dika tiba-tiba.
Tangan Ardi yang sudah mulai terulur untuk memegang pegangan pintu mobil, hendak membukanya, segera terhenti seketika.
"Iya." Jawab Ardi datar.
Netra pengusaha tampan itu, masih lekat menatap wanita yang masih berada dalam pelukan sang majikan. Hatinya sungguh ingin menghampirinya dan menguatkan hatinya. Tapi ia juga sadar, ia bukanlah siapa-siapa bagi Aini. Tak lebih dari orang yang sedang bertransaksi demi kepentingan masing-masing. Akan terlihat sangat aneh, jika ia menuruti kata hatinya.
"Minta Handoko dan Feri mengajukan perlindungan ke Komisi Perlindungan Anak untuk Umar, secepatnya. Buat surat perintah palsu untuk mengelabuhi Adit, agar bisa menjemput Umar secepatnya, jika diperlukan. Aku yakin, Adit akan melakukan apapun agar Umar tidak kembali pada Aini." Ucap Ardi setelah mobilnya melaju kembali.
"Baik, Pak." Sahut Dika sambil tetap fokus menyetir.
"Agendakan untuk mengunjungi kantor Komisi Perlindungan Anak besok bersama Handoko dan Feri." Imbuh Ardi.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Jawab Dika paham.
Dika pun segera menghubungi Handoko dan Feri, pengacara yang menangani kasus Aini, untuk membuat janji temu dengan mereka besok. Ia juga mengutarakan keinginan Ardi tadi pada mereka. Mereka pun sangat paham dengan keinginan Ardi.
Dan benar, proses pengurusannya memakan waktu beberapa hari, itu yang dikatakan petugas di kantor Komisi Perlindungan Anak. Jadi, Ardi nekat membuat surat perintah palsu demi menguatkan tindakan Handoko esok untuk menjemput Umar.
__ADS_1
Ardi curang pada Adit? Apa salahnya? Bukankah Adit dulu juga curang pada Aini, hingga ia bisa memenangkan hak asuh Umar? Itulah pemikiran Ardi.
Flashback Off
Handoko tadi membawa Umar ke kediaman Ardi sesuai permintaan Ardi. Ia sudah diberitahu bahwa Rama dan Niken yang akan menemani Umar sementara Ardi belum pulang. Ardi juga sudah memberitahukan hal itu pada kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa nggak berangkat sekolah?" Tanya Kenzo setelah ia sampai di kamarnya bersama Umar.
"Aku nggak boleh berangkat sama ayah." Jujur Umar.
"Terus, kamu kesini sama siapa?"
"Om Handoko."
"Om Handoko? Teman papa?"
"Iya. Tadi om Handoko juga bilang gitu. Dia teman papamu." Jawab Umar polos.
Dua anak laki-laki yang usianya hanya terpaut beberapa bulan itu, langsung larut dalam obrolan dan cerita yang penuh keseruan. Mereka langsung bermain bersama seperti saat di sekolah.
"Assalamu'alaikum." Sapa seorang laki-laki berpakaian rapi, dari ambang pintu kamar Kenzo.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.
"Papa!" Panggil Kenzo bahagia.
Ya, dia Ardi. Ardi baru saja pulang dari kantor. Ia sengaja pulang lebih awal, karena ada janji temu dengan Handoko dan Feri di rumahnya.
Ardi segera menghampiri dua anak laki-laki yang sedang asik mengerjakan PR di kamar Kenzo. Ia pun menyapa Umar, dan disambut dengan ramah oleh Umar yang memang pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tak lupa, Ardi menyerahkan bekal yang ia minta dari Aini tadi pada Umar. Umar pun menerimanya dengan bahagia.
"Terima kasih, Om." Ucap Umar tulus.
"Iya. Makanlah!" Pinta Ardi penuh perhatian.
Umar pun segera memakan makanan yang dibawakan Ardi. Makanan yang ia pesan untuk dibuatkan oleh Aini minggu lalu. Tak lupa, ia membaginya dengan Kenzo dan Ardi. Ardi tersenyum haru melihat Umar bahagia dengan hal sesederhana itu.
"Om, kira-kira, ayah akan jemput Umar jam berapa? Apa dia nggak marah kalau Umar main seharian di sini?" Tanya Umar pada Ardi, yang sudah menyelesaikan pembahasannya dengan dua pengacara kepercayaannya.
"Sementara ini, Umar tinggal di sini dulu. Nggak papa kan?" Jawab Ardi perlahan.
Umar terdiam sejenak. "Kenapa Om?"
"Umar mau nggak tinggal sama bunda?" Tanya Ardi perhatian.
Umar pun mengangguk polos. Anak berusia tujuh setengah tahun itu, tak dapat membohongi hatinya. Ia sungguh ingin kembali tinggal bersama ibunya.
"Sabarlah sebentar lagi! Umar pasti bisa tinggal dengan bunda nanti. Dan sebelum itu, Umar tinggal di sini dulu ya? Sama Kenzo."
"Apa ayah nggak marah?"
"Bunda sedang berusaha membujuk ayahmu, agar kamu bisa tinggal dengannya nanti."
"Apa ayah akan kasih ijin ke bunda? Selama ini, ayah nggak pernah ijinin bunda ketemu Umar."
"Maka dari itu, bunda sedang berusaha agar kamu bisa tinggal dengan bunda terus nanti."
Mata anak laki-laki itu tiba-tiba berkaca-kaca. "Bunda!"
"Kamu kenapa, Mar?" Tanya Kenzo yang melihat Umar mulai menangis.
"Aku kangen bunda." Jujur Umar.
"Sabarlah sebentar! Bunda juga pasti rindu padamu saat ini." Hibur Ardi.
Ardi dan Kenzo lantas memeluk Umar dengan hangat. Mereka tahu, jika Umar memang sangat merindukan ibunya. Apalagi, tadi ia tidak bisa bertemu dengan ibunya di sekolah.
__ADS_1
Umar akhirnya mau tinggal sementara di rumah Kenzo. Dengan harapan, ia akan bisa tinggal dengan ibu kandungnya setelah ini.
Bukan Umar tak mau tinggal dengan ayahnya. Hanya saja, sikap ayahnya yang tak mengijinkan Umar bertemu dengan Aini, membuat Umar sangat kecewa. Apalagi, ia mulai sering dimarahi oleh ayah dan mamanya hanya karena hal sederhana yang sangat wajar jika dilakukan oleh anak seusianya.
Hadi yang selalu membela Umar. Tapi, lagi-lagi karena kondisinya yang tak sebaik dulu, ia pun kesulitan menjaga Umar ketika sedang dimarahi oleh Adit dan Ratri. Sedang Suharti, mulai lebih memperhatikan dan menyayangi adik Umar kini.
...****************...
Jalan kehidupan. Kadang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kadang tak seperti yang kita rencanakan. Tapi yakinlah, selalu ada kebaikan dibalik setiap jalan kehidupan yang kita lalui.
Waktu berjalan dan terus berlalu. Menapaki setiap hal yang telah tergariskan oleh tinta takdir Sang Kuasa. Merangkai cerita demi cerita, agar hati bisa menemukan setiap hikmah dibaliknya.
Hari terus berganti. Semua berjalan seperti apa yang seharusnya terjadi. Satu bulan sudah, kasus perebutan hak asuh Umar berjalan di pengadilan. Aini sudah berkali-kali datang ke pengadilan untuk menghadiri sidang yang harus dilaluinya.
Adit akhirnya menemukan pengacara yang mau membantunya mempertahankan Umar di sisinya. Pengacara dari luar kota yang memang cukup profesional dan tak kalah handal dari dua pengacara Ardi.
Ardi pun tak lepas tangan begitu saja dengan kasus Aini. Ia memantau dan ikut membantu dua pengacaranya agar bisa memenangkan kasus yang cukup sederhana ini. Ia bahkan, beberapa kali ikut menghadiri persidangan yang harus dijalani Adit dan Aini. Dan, sampai saat ini, Adit dan Aini tak tahu, jika Umar tinggal di rumah Ardi.
Aini baru saja meletakkan mukenanya, kala ponsel miliknya berdering, tanda sebuah panggilan telepon masuk ke nomornya. Ia pun segera meraihnya dan membaca nama si penelepon.
"Pak Ardi?" Guman Aini setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Ni."
"Wa'alaikumussalam, Pak."
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal yang harus kukatakan padamu."
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Aini penasaran.
"Temui aku besok di Rose Gold Hotel, kamar 507, jam tujuh malam. Aku akan mengatakannya di sana."
"Oh, iya Pak."
"Dan persiapkan dirimu dengan baik!"
Aini terdiam. "Untuk apa, Pak?"
"Janjimu."
"Janji?"
"Iya. Baiklah. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Panggilan pun segera berakhir. Aini duduk di tepi ranjangnya dengan pikiran yang cukup kebingungan. Apa alasan Ardi ingin menemuinya besok? Dan bahkan, Ardi meminta bertemu di hotel.
"Apa hasilnya sudah keluar? Tapi, kenapa harus di hotel?" Gumam Aini sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Apa hasilnya tidak cocok? Dan pak Ardi menagih perjanjian kami? Astaghfirullah!"
Aini segera bangkit dari posisinya. Ia pun langsung panik memikirkan hal yang baru saja ia terka. Karena memang, Ardi dan Aini tak memiliki perjanjian apapun selain mengenai proses perebutan hak asuh Umar. Yang kini tengah berlangsung di pengadilan, dan hampir mencapai keputusan hakim.
Janji memang harus dibayar dan ditepati. Agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Tapi, apakah janji yang semacam itu, juga harus ditepati?
...****************...
Assalamu'alaikum readers 🤗🤗
Maaf yaa, othor telat update 🙏🙏 othor baru disayang banget sama Allah 😁😁
Diusahakan tetap update, tapi tidak bisa on time seperti biasa yaa 🙏🙏 mohon pengertiannya ya 😊😊
Terima kasih buat semua yang udah dukung karya-karya othor 😘 love you all 🥰😍
__ADS_1
Okay, see you next episode 🤗
Wassalamu'alaikum readers 🤗🤗