Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Bertemu


__ADS_3

Selamat pagi mentari. Sinarmu memberikan kehangatan pada setiap hati yang mulai menapaki kembali, hari-hari yang penuh dengan kebaikan-kebaikan dari Sang Pencipta.


Tak terkecuali pada seorang anak laki-laki yang dilanda kesedihan beberapa hari terakhir, Umar. Ia sedih, karena minggu lalu ia tidak bisa bertemu dengan Aini. Meski hari sudah berganti dan terus berlalu, rasa sedihnya masih menggelayut di hatinya hingga kini.


Ya, hingga kini. Hingga hari Rabu yang kembali tiba. Ia juga sedih, karena ternyata Aini juga tak datang ke sekolah minggu lalu. Ia mengetahui hal itu dari Kenzo, keesokan harinya.


"Apa bunda tak mau menemuiku lagi karena ayah?" Batin Umar sambil melirik pada ayahnya yang sedang menikmati sarapan bersamanya.


Umar meletakkan alat makannya, lalu meminum susu yang ada di sebelah piringnya. Adit dan Ratri yang berada satu meja dengannya, segera mengalihkan perhatian mereka.


"Kamu sudah selesai makan, Umar?" Tanya Ratri penasaran.


Umar hanya mengangguk, setelah menenggak separuh isi gelasnya. Ia segera berdiri dan meninggalkan meja makan. Adit dan Ratri hanya melihat langkah Umar menuju kamarnya.


Adit dan Ratri menyadari perubahan sikap Umar sejak keributan di sekolahnya. Mereka sudah berusaha bicara dengan Umar, untuk mengetahui alasan perubahan sikapnya. Tapi Umar tak mau mengaku.


Adit yang selesai lebih dulu dengan sarapannya, segera menyusul Umar ke kamarnya. Ia ingin tahu, kenapa sikap putranya itu berbeda dan lebih diam selama beberapa hari.


"Ada apa, Yah?" Tanya Umar saat melihat Adit masuk ke kamarnya.


"Kamu sakit?" Tanya Adit perhatian.


Umar hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada masalah di sekolah?"


Umar kembali menggeleng, dengan tangan yang sibuk mempersiapkan tas sekolahnya.


"Lalu, kenapa kamu lebih diam beberapa hari ini? Kamu marah sama Ayah dan mama?"


Umar diam tak bereaksi. Ia malah sibuk menyiapkan keperluan sekolahnya.


"Umar mau berangkat sekarang, Yah." Pinta Umar setelah ia menggendong tasnya.


"Ayo, Ayah antar!" Jawab Adit bingung.


Umar pun keluar kamar dengan melewati Adit begitu saja. Adit sampai tercengang dengan sikap Umar satu ini. Karena, Umar tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.


Umar masih sangat kecewa dan sedih dengan sikap Adit dua minggu lalu. Yang memperlakukan ibunya dengan kasar dan mengatainya di depan umum. Ia juga kecewa, karena ayahnya melarangnya lagi menemui ibunya di sekolah, setelah Ratri menceritakan yang sebenarnya pada Adit.


Di tempat lain, seorang anak laki-laki sedang sedikit berdebat dengan ayah dan neneknya. Ia bersikeras ingin berangkat sekolah, meski tubuhnya belum pulih sempurna.


"Pokoknya Kenzo mau berangkat ke sekolah!" Ucap Kenzo penuh penekanan.


"Tapi Sayang, kamu masih belum pulih." Rayu Niken lagi.


"Benar yang dikatakan Oma. Kamu belum pulih. Jadi, kamu jangan pergi ke sekolah dulu." Pinta Ardi lagi.

__ADS_1


"Papa sendiri yang bilang kemarin, bunda akan ke sekolah hari ini. Kenzo mau ketemu bunda, Pa." Rengek Kenzo tak menyerah.


Niken menoleh pada Ardi dengan penuh tanya. Ia cukup penasaran, bagaimana bisa Kenzo mengatakan hal seperti itu. Dan, kenapa Ardi bisa mengatakan hal seperti itu pada Kenzo. Karena ia sangat tahu, Ardi bukanlah tipe orang yang bisa mengatakan sebuah kebohongan dengan mudah pada putranya, jika tidak menyangkut ibu kandung Kenzo.


Ardi menghela nafas panjangnya. Ia akhirnya sudah paham, kenapa sedari tadi Kenzo berkeras ingin berangkat sekolah. Dan itu karena ucapannya tentang Aini tempo hari.


"Ya sudah, bersiaplah! Tapi ingat, jika kamu merasa tubuhmu tidak baik, segera katakan pada pak guru atau bu guru. Oke?" Pesan Ardi.


"Siap Komandan!" Jawab Kenzo semangat, dengan tangan yang memberi hormat pada ayahnya.


Ardi tersenyum melihat putranya yang begitu bersemangat pagi ini. Ia bahkan tidak terlihat lemah atau menahan sakit sedikit pun.


Kenzo pun segera bersiap. Dibantu sang nenek yang sudah mengekorinya ke kamar, ia berganti pakaian dan menyiapkan tas sekolahnya. Ia pun diantar oleh supir seperti biasa.


Mentari makin meninggi. Kehangatannnya maki menelusup sempurna pada tiap permukaan yang ditemuinya. Memberikan rasa yang berbeda-beda bagi setiap yang menerimanya.


Bel tanda istirahat sekolah berbunyi. Dua anak laki-laki dari salah satu kelas segera berlari menuju ruang tamu sekolah, Umar dan Kenzo. Mereka sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan sosok yang mereka rindukan.


"Kok nggak ada?" Ucap mereka bersamaan.


Wajah yang tadi begitu berbinar dan bersemangat, mendadak mendung dan penuh kekecewaan. Mereka tertunduk lesu di depan pintu ruang tamu sekolah.


"Siapa yang nggak ada?" Sapa seorang perempuan dari belakang Umar dan Kenzo.


Umar dan Kenzo pun segera berbalik.


"Bunda!"


Aini sedikit terhuyung kebelakang karena ditubruk oleh dua anak laki-laki yang begitu merindukannya. Ia pun membalas pelukan dua anak laki-laki yang begitu erat memeluknya. Mengusap dengan lembut, kepala mereka dengan penuh kehangatan. Karena sungguh, ia juga rindu pada dua putranya itu.


Dua putra? Iya, Aini juga sudah menyayangi Kenzo seperti Umar. Rasa sayang yang tumbuh secara perlahan seiring berjalannya waktu, terukir sempurna di hati janda bertubuh mungil itu.


Mereka lantas berjalan masuk ke ruang tamu sekolah bersama-sama. Diikuti oleh Mala yang tadi sempat bertemu dengan Aini di halaman sekolah.


Suasana haru nan bahagia pun pecah memenuhi atmosfer ruang tamu sekolah. Riuh canda tawa dan keriangan dari dua siswa yang sedang melepas rindu, menggema dengan begitu indah di tembok-tembok pembatas yang mengitari mereka.


Isakan dan senyum penuh syukur pun menjadi pelengkap suasana yang begitu indah ini. Merangkai cerita demi cerita di setiap detik dan menitnya. Menjadi memori tersendiri yang langsung terekam dalam benak setiap pemiliknya.


Hingga, bel tanda waktu istirahat selesai pun berbunyi. Dua anak laki-laki itu, terasa begitu berat berpisah dengan sosok yang mereka rindukan. Begitu juga sebaliknya. Tapi perlahan, Aini berhasil membujuk mereka untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran.


Aini pun segera meninggalkan sekolah setelah Umar dan Kenzo kembali ke kelas mereka. Karena ia juga harus ke rumah sakit, sesuai perjanjian yang ia buat dengan Ardi kemarin.


Berbekal peta online, Aini membelah keramaian Kota Surabaya dengan motornya. Dan setelah berkendara sekitar dua puluh menit, Aini pun tiba di sebuah rumah sakit yang begitu megah. Ia bahkan sampai kebingungan menatap bangunan rumah sakit yang lebih mirip dengan hotel bintang empat atau lima itu.


"Aku nggak salah tempat kan?" Gumam Aini sambil terus menatap bangunan berlantai tujuh di depannya.


Aini menoleh kesana kemari. Memastikan ia berada di tempat yang seharusnya. Rumah Sakit Graha Medika. Rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit terbaik yang ada di negeri ini. Dengan fasilitas dan kelengkapan peralatan yang lebih baik, dibandingkan dengan rumah sakit lain. Bahkan, rumah sakit ini, memiliki ruang rawat inap super mewah, yang hanya para kalangan elit yang bisa menempatinya.

__ADS_1


Aini mulai melangkahkan kakinya menuju pintu masuk utama rumah sakit. Ia masih setia membaca tulisan-tulisan yang menunjukkan bahwa ia berada di tempat yang benar. Tempat dimana ia memiliki janji temu dengan seseorang.


"Permisi, Mbak! Apa benar, dokter Anggoro Gilang praktek di rumah sakit ini?" Tanya Aini pada resepsionis yang sedang tidak begitu sibuk.


"Benar, Bu. Apa Ibu sudah mendaftar?" Tanya resepsionis itu ramah.


"Belum. Saya ingin bertemu dengannya. Apa beliau ada?"


"Tunggu sebentar, Ibu!"


Resepsionis itu lantas mengalihkan pandangannya pada layar komputer di depannya. Ia membaca sesuatu dengan begitu seksama.


"Maaf, Bu. Dokter Anggoro Gilang, praktek malam hari ini. Poli penyakit dalamnya, akan buka pukul enam sore nanti. Ibu bisa mendaftar lebih dulu jika ingin berkonsultasi dengan dokter nanti." Jelas resepsionis itu penuh perhatian.


Aini terdiam. Aini ingat betul, ia dan Ardi berjanji akan bertemu di rumah sakit ini setelah ia pulang dari sekolah Umar hari ini. Dan Ardi memintanya menemui dokter yang ada di kartu nama yang diberikan Ardi tempo hari.


"Oh, ya sudah Mbak. Terima kasih. Saya akan kembali lagi nanti." Pamit Aini segera.


"Baik, Bu."


Aini memasukkan kembali kartu nama yang tadi ingin ia tunjukkan pada sang resepsionis. Ia pun tambah kebingungan, karena ia tidak mungkin bisa ijin keluar lagi nanti sore pada Dewi.


"Kamu sudah tiba, Ni?" Sapa seorang laki-laki dari belakang Aini.


Aini yang sedikit memutar tubuhnya sambil sibuk memasukkan kartu nama yang dipegangnya sedari tadi, segera mengalihkan perhatiannya. Ia bahkan sedikit berjingkat saking terkejutnya melihat siapa yang menyapanya.


"Pak Ardi?" Ucap Aini terkejut.


Ardi tersenyum kecil.


"Kenalkan, ini Gilang. Anggoro Gilang. Dokter pribadi Kenzo. Dia yang akan mengambil sample sumsum tulang belakangmu nanti." Ucap Ardi, sambil menepuk bahu laki-laki yang berdiri di sampingnya.


Laki-laki itu segera menoleh penuh tanya pada Ardi. Keningnya bahkan berkerut sangat dalam karena saking bingungnya.


"Dan Lang, ini Aini. Calon pendonor untuk Kenzo." Imbuh Ardi acuh, tanpa menghiraukan tatapan sang dokter.


Dokter laki-laki yang biasa dipanggil Gilang itu, menatap Ardi dan Aini secara bergantian. Ia masih berusaha mencerna kalimat yang Ardi ucapkan tadi. Ia bahkan tak memperhatikan, Aini yang berusaha menyapanya dengan ramah.


"Bentar! Aku mau bicara sama kamu!' Ucap Gilang, sambil menarik tangan Ardi menjauh dari Aini.


Ardi hanya mengikuti langkah teman lamanya itu tanpa bertanya. Sedang Aini dan Dika, hanya menatap mereka dengan beberapa pertanyaan di benak masing-masing.


"Kamu dapet dari mana pendonor itu?" Tanya Gilang cepat.


"Sekolah Kenzo." Jujur Ardi.


"Apa? Sekolah Kenzo?" Tanya Gilang tak percaya.

__ADS_1


Ardi mengangguk santai.


"Di sekolah Kenzo, ada anak kupu-kupu malam juga? Atau dia kerja di sekolah Kenzo? Atau jangan-jangan, kamu ketemu dia baru sama salah satu orang tua dari teman Kenzo?" Tanya Gilang lagi tanpa ragu.


__ADS_2