
Sang surya mulai menggelincir ke barat. Kehangatan sinarnya pun mulai terasa begitu berbeda. Apalagi, beberapa gumpalan awan hitam, mulai berarak mengikuti kemana arah sang surya bergerak.
Ardi bersiap keluar kantor, setelah semua pekerjaannya ia selesaikan. Ia ingin mengunjungi tawanannya yang pasti sedang tidak menunggu kehadirannya saat ini.
Ardi berkendara bersama Dika seperti biasa. Saat ini, Reno diminta Ardi untuk menjaga Aini di rumah sakit. Meski, ada Imron dan Ratna di sana, tapi Ardi tak mau kecolongan lagi. Jadi ia tetap meminta Reno untuk berjaga di rumah sakit untuk Aini.
Ah iya, Dika dan Reno sudah lepas dari kecurigaan pihak berwajib. Setelah kemarin mereka bergantian dimintai keterangan, mereka bisa memberikan bukti dan alibi yang kuat, bahwa mereka tidak tahu menahu sama sekali, kemana hilangnya Oliv, Adit dan Ratri.
Itu semua jelas, juga karena campur tangan Ardi dan anak buahnya yang lain. Mereka bersama-sama menutupi bukti, bahwa Dika dan Reno yang membawa pergi tiga orang itu.
Ardi masuk ke ruangan dimana Adit berada dengan santai. Lampu ruangan segera dinyalakan oleh salah satu anak buahnya. Mereka kembali menyiapkan laptop dan sepasang meja kursi untuk Ardi seperti sebelumnya.
Ada yang berbeda dengan ruangan itu, dibanding terakhir kali Ardi menyambanginya. Ruangan itu, sedikit berbau tak sedap. Karena beberapa bangkai serangga yang Adit bunuh kemarin.
Adit nampak tertidur dilantai ruangan itu. Wajahnya sudah nampak lebih pucat dan sayu dibandingkan terakhir kali ia melihatnya.
"Bangunkan!" Pinta Ardi tegas, seraya duduk di kursi yang disiapkan untuknya.
Salah seorang anak buah Ardi segera menghampiri Adit. Dan lagi, anak buah itu membangunkan Adit dengan cara yang tidak halus pastinya.
"Bangun!" Teriak anak buah itu, dengan satu kakinya yang mendarat di lengan Adit, dan sedikit menendangnya.
Adit segera menggeliat. Matanya sedikit berkedip untuk menyeimbangkan dengan pencahayaan yang ada. Ia berusaha melihat dengan jelas, siapa saja yang ada di sekitarnya saat ini.
"Bagaimana kabar Anda, Pak Adit?" Tanya Ardi angkuh.
Adit jelas mendengar suara itu dan segera mengenalinya. Ia pun mulai membuka matanya, dan Ardi pun segera terpampang jelas di depan matanya.
"Apa yang Anda inginkan, Pak Ardi?" Sahut Adit lirih, setelah ia duduk dan bersandar di tembok.
"Tak banyak. Aku hanya ingin mengobrol dengan Anda dan ketiga wanita itu." Jawab Ardi santai.
"Sambungkan!" Imbuh Ardi cepat.
Layar LED di ruangan itu segera menyala. Bersamaan dengan itu, laptop di hadapan Ardi pun mulai menyala dan menampakkan gambar yang sama dengan apa yang ada di layar.
Nampak jelas, tiga orang wanita yang masing menggunakan pakaian yang sama dan jelas sedang kedinginan. Mereka tiduran di sudut ruangan yang berbeda-beda.
"Bagaimana kabar kalian, para wanita jal*ng?" Sapa Ardi santai.
"Jaga bicara Anda, Pak Ardi!" Bentak Adit tak terima.
"Ada apa, Pak Adit? Kenapa Anda marah-marah? Apa Anda tidak merasa lemas setelah beberapa hari tidak makan?"
"Atau jangan-jangan, Anda sudah memakan apa yang kemarin anak buahku kirimkan ke ruangan ini, demi tetap bisa hidup?" Imbuh Ardi santai.
"Jangan sembarangan bicara, Pak Ardi! Kalau hanya binatang seperti itu, aku bisa dengan mudah membunuh mereka dan menyingkirkannya agar tak mengangguku."
"Tapi bukankah, sekarang ruangan ini jadi sedikit berbau tak sedap, Pak Adit?"
"Bukankah ini yang Anda inginkan?"
"Anda benar, Pak Adit. Ini yang saya inginkan. Bagaimana? Apakah nyaman?" Tanya Ardi santai.
__ADS_1
Adit diam tak menjawab. Ia sebenarnya sudah sangat mual dengan bau ruangan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tak bisa berbuat banyak dengan keadaannya saat ini.
Sedang tiga wanita yang juga baru terbangun, jelas juga masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum melihat ke layar yang kembali menyala.
"Oh ya, Pak Adit. Bagaimana pertunjukannya kemarin? Apakah Anda menyukainya?" Tanya Ardi, setelah mengingat kejadian beberapa haru yang lalu, saat ia terakhir menyambangi rumah itu.
"Pertunjukan apa?"
"Pertunjukan dari tiga wanita di ruangan itu, Pak Adit."
Adit sedikit berpikir. Ia mencoba memahami apa yang Ardi katakan. Ia pun lalu teringat sesuatu.
"Anda gila, Pak Ardi!" Sahut Adit kesal.
"Saya gila karena mantan istri Anda, Pak Adit." Jawab Ardi remeh.
Adit melengos dari Ardi.
"Kalau saja, Anda tidak melakukan hal itu pada Aini, saya juga tidak akan segila ini pada Anda dan ketiga wanita itu." Imbuh Ardi geram.
Adit tak menjawab apapun. Ia juga sadar, kalau ia tidak menculik Aini kemarin, mungkin ia tidak akan ditempat itu saat ini. Dan dengan kondisi yang jelas tidak ia harapkan.
"Apa rekanmu, tidak memperingatkanmu, Pak Adit?" Tanya Ardi, sambil melirik ke arah laptop di hadapannya.
"Apa maksud, Anda?"
"Oliv. Apa dia tidak memperingatkanmu tentangku?"
Adit terdiam. Ia mengingat, pertemuannya dengan Oliv beberapa waktu yang lalu. Ketika Oliv memperingatkannya tentang sisi gelap Ardi.
Iya. Ardi dulu pernah menghancurkan kehidupan seorang haters yang nyaris mencelakai Oliv, saat mereka belum lama menikah. Ardi jelas tidak melibatkan polisi untuk hal itu. Ia bekerja dengan anak buahnya saja. Dan hal itu, jelas menjadi mimpi buruk bagi orang tersebut.
Tak banyak yang tahu tentang hal itu. Hanya keluarga Ardi dan jelas para anak buahnya saja yang tahu, bagaimana Ardi memperlakukan haters itu dengan sangat kejam.
(Kisah masa lalunya Ardi di skip aja ya readers 😁. Kalau kebanyakan adegan yang kejam, nggak lolos review nanti 😅 bisa-bisa, karya othor dihapus sama pihak NT 😁)
"Apa cerita Oliv itu benar?" Batin Adit panik.
"Bagaimana, Pak Adit? Aku dengar, mereka bertiga kemarin membuat pertunjukan yang sangat hebat. Apa Anda menikmatinya?" Tanya Ardi lagi.
Adit masih diam. Ia masih berusaha mengingat cerita Oliv tentang apa yang dilakukan Ardi pada para penghujatnya saat itu. Hanya karena, sebuah kesalahan yang ia lakukan secara tidak sengaja ketika berjalan di catwalk.
"Apa yang Anda pikirkan Pak Adit? Apa Anda tidak bisa melupakan pertunjukan ketiga wanita itu?" Tanya Ardi lagi, karena tak mendapat respon dari Adit.
"Aku dengar, mereka memberikan pertunjukan yang luar biasa kemarin. Apa Anda tidak tergoda, Pak Adit?" Imbuh Ardi dengan nada yang sangat mengejek.
Adit tersadar dari lamunannya. Ia akhirnya tak menanggapi ucapan Ardi, karena tak begitu mendengarnya.
"Bagaimana kondisi, Aini?" Tanya Ratri tiba-tiba.
Ardi jelas menoleh ke arah laptopnya. Ia bisa melihat, Ratri sedang menatap layar diruangan itu dengan seksama. Tubuhnya terduduk dengan kaki yang dilipat hingga menyentuh dada. Tangannya pun masih sibuk mengusap lengannya untuk mengurangi hawa dingin yang masih setia menyapanya.
"Tenang saja, Bu Ratri! Kondisinya sudah jauh membaik saat ini. Apalagi, ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Kondisinya pasti akan lekas membaik. Anda tak perlu khawatir!" Jawab Ardi yakin.
__ADS_1
"Syukurlah." Gumam Ratri lirih.
"Kenapa Anda menanyakan hal itu, Bu Ratri? Bukankah Anda juga ikut andil dalam penculikan kemarin?"
Ratri diam tak menjawab. Ia sungguh menyesali apa yang telah ia perbuat pada Aini. Diam-diam, air matanya menetes perlahan membasahi pipinya. Lambat laun, terdengar isakan kecil dari Ratri.
Ardi tersenyum remeh mendengar itu. Sedang Adit, malah kesal melihat tingkah istrinya. Oliv dan Reni yang berada di ruang yang sama dengan Ratri pun, ikut kesal melihat tingkah Ratri.
"Mas Ardi! Tolong bebasin aku, Mas! Aku tidak tahu apapun, Mas." Teriak Oliv tanpa malu.
"Benarkah?" Sahut Ardi santai.
"Iya, Mas. Aku tidak tahu apa-apa, Mas. Kenapa Mas menyekapku di sini bersama mereka?"
Ardi tak menjawab apapun. Ia malah menoleh pada Dika.
"Ambilkan barang itu!" Pinta Ardi singkat.
Dika berpikir sejenak. Ia lalu mengangguk paham dengan permintaan Ardi. Dan segera meminta salah satu anak buahnya, untuk mengambilkan barang yang diminta Ardi.
"Mas! Biarin aku pergi, Mas! Desi pasti sudah mencariku sekarang." Rengek Oliv.
"Iya. Dia bahkan sudah melaporkan ke polisi kalau kamu hilang." Jawab Ardi santai.
"Rasakan! Anda pasti akan segera tertangkap karena menyekap kami di sini." Umpat Adit kesal.
"Benarkah?"
"Iya, Mas Maka dari itu, lepasin kami, Mas! Biar Mas nggak terkena masalah nanti." Rayu Oliv penuh harap.
"Kalian tak perlu mencemaskan hal itu! Cemaskan saja, bagaimana kalian nanti akan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian dihadapan hakim!"
"Ini, Pak." Sela Dika, seraya memberikan sebuah plastik flip berukuran cukup besar, berisi sebuah barang.
Ardi pun menerimanya. Adit yang penasaran, akhirnya melihat dengan lebih seksama apa yang Ardi bawa.
"Apa kamu mengenali ini?" Ucap Ardi seraya menunjukkan apa yang dibawanya ke arah kamera laptopnya.
Adit, Ratri, Oliv dan Reni mengamati apa yang ditunjukkan oleh Ardi dengan seksama. Ekspresi Oliv dan Reni berubah seketika. Sedang Adit dan Ratri, nampak kebingungan dengan itu.
"Ituu,," Ucap Adit tak paham.
"Ini ikat pinggang milik Oliv, yang digunakannya untuk mencambuki Aini kemarin. Di ikat pinggang ini, jelas ditemukan DNA milik Aini dan Oliv. Yang berarti, ini adalah alat bukti untuk membawamu tinggal lama di dalam jeruji besi penjara." Jelas Ardi sambil menahan geram.
Oliv jelas panik bukan main. Ia tak tahu, jika ikat pinggang itu akan ditemukan oleh Ardi. Karena seingatnya, ia sudah membuang ikat pinggang itu di tengah belukar.
"Kenapa kalian diam? Apakah, kalian mendadak amnesia? Atau perlu kubantu lagi agar kalian mengingatnya?" Tanya Ardi, seraya menjatuhkan benda di tangannya dan sedikit menggebrak meja.
"Saya tidak tahu apapun tentang ikat pinggang itu." Sahut Adit membela diri.
Ardi menoleh remeh. "Iya. Mereka juga berkata, Anda tidak di sana saat Oliv menyiksa Aini kemarin."
Adit menghela nafas lega. Karena memang ia tak tahu bagaimana Oliv menyiksa Aini dengan cambuk itu kemarin.
__ADS_1
"Tapi jangan lupa, Pak Adit! Aku dengar, Anda-lah yang lebih dulu menemui Reni dan anak buahnya, dan meminta mereka untuk menculik Aini. Benar bukan, Pak Adit?" Ucap Ardi menahan geram.