
"Kamu terlalu polos, Ni." Batin Ardi, dengan tatapan iba pada Aini yang asik bercerita.
"Dan akhirnya, Mas Ardi datang kemarin." Ucap Aini, untuk mengakhiri ceritanya.
Aini lalu menoleh pada Ardi. Dan ternyata, Ardi begitu fokus memandangi dan mendengarkan cerita Aini sejak tadi. Ia pun tersenyum pada Aini, saat Aini menoleh padanya.
Aini segera menundukkan wajahnya. Ia sungguh tak ingin, bertemu pandang dengan laki-laki yang sedang berada di sampingnya itu. Ia takut, perasaannya akan semakin dalam pada Ardi, dan nantinya akan membuatnya merasakan sakit yang terlalu dalam.
"Kamu tak tahu jalan pulang ke rumah ini?" Tanya Ardi santai.
"Tidak, Mas." Cicit Aini.
"Perumahan ini sangat ternama. Kamu bisa sangat mudah menemukan tempat ini."
"Tapi, saya bahkan tidak tahu nama perumahan ini, Mas." Jujur Aini malu.
Aini memang tak mengetahui sama sekali, alamat rumah Ardi. Ia bahkan juga tak tahu, nama perumahan yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Saat pertama kali datang, Aini tak begitu memperhatikan nama yang terpampang jelas di gerbang masuk. Ia sedang diajak mengobrol oleh Dika saat itu.
Dan kemarin, saat Oliv mengajaknya keluar, ia terlalu fokus pada cerita masa lalu Oliv dan Ardi. Apalagi, saat pulang bersama Ardi kemarin, jelas ia tak memikirkan hal itu sama sekali. Jadi, ia pun tak memperhatikan lagi nama perumahan ini.
"Dream Island. Itu namanya. Hanya ada satu tempat seperti ini di Jawa Timur. Aku sedang berusaha membangun tempat seperti ini di Bandung." Jelas Ardi, sambil memutar tubuhnya.
"Dream Island?"
"Iya. Penggagas tempat ini, ingin memberikan sebuah hunian yang menjadi impian para pemiliknya, tapi berkonsep seperti perumahan. Hingga terciptalah, Dream Island."
Aini menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk memahami maksud penjelasan Ardi.
Perumahan tempat tinggal Ardi memang cukup unik. Perumahan ini, adalah salah satu perumahan elit yang ada di Kota Surabaya. Semua rumah di perumahan ini, memiliki desain dan ukuran yang berbeda satu sama lain. Tergantung dengan pemiliknya masing-masing. Meski seperti itu, semua penghuni perumahan ini, berhubungan baik satu sama lain.
"Apa kondisimu sudah membaik?" Tanya Ardi perhatian.
"Sudah, Mas. Hanya masih demam dan sedikit sakit kepala." Bohong Aini.
"Kamu yakin?"
Bukannya menjawab, Aini malah menoleh pada Ardi. Ia cukup kebingungan dengan sikap penuh perhatian Ardi.
"Aku harus memantau kondisimu. Atau Gilang akan memarahiku lagi nanti." Sahut Ardi cuek.
Aini tertegun. "Ah, iya. Aku adalah pendonor untuk Kenzo."
Aini hanya mengangguk pelan tanpa berkata apapun. Ardi yang tadi sudah mengalihkan pandangannya dari Aini, akhirnya kembali menoleh.
"Kenapa tidak menjawab? Kamu masih sakit? Atau ada yang lain, yang kamu rasakan?" Tanya Ardi cemas.
Aini hanya menggeleng. Ia sebenarnya menahan sakit di kepalanya, karena tiba-tiba berdenyut sangat keras.
"Kenapa kepalaku mendadak sesakit ini?" Batin Aini kebingungan.
"Kenapa diam?"
Aini kembali menggeleng. Ardi menyadari gelagat aneh Aini. Ia segera memutar tubuhnya lagi menghadap Aini. Ia pun akhirnya memegang bahu Aini lalu sedikit memutarnya. Hingga memaksa Aini, mau tidak mau, mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Katakan padaku yang sebenarnya, Ni? Bagian mana yang sakit?" Paksa Ardi.
Aini berusaha tersenyum. "Saya tidak apa-apa, Mas."
Ardi tidak mempercayai ucapan Aini. Ia masih setia menatap wajah Aini yang sedikit pucat. Dan nampak cukup jelas, tak ada raut wajah kesakitan di sana. Aini benar-benar berhasil menutupinya.
"Saya tidak apa-apa, Mas." Bohong Aini lagi.
"Ehem!"
Sebuah deheman dari arah pintu, membuyarkan suasana yang sedikit canggung ini. Dua insan yang sedang saling berhadapan itu pun, segera mengalihkan pandangannya.
Ada seorang laki-laki berdiri tegak dengan sikap sedikit canggung di sana. Ia cukup ragu, apakah harus membuang muka atau tetap menatap pemandangan yang sedikit romantis itu.
"Iya, sebentar! Turunlah dulu, kita bicara di ruang kerja!" Ucap Ardi santai.
"Baik, Pak." Jawab laki-laki itu patuh. Yang tak lain adalah Dika.
Dika tadi diminta oleh Ardi untuk datang ke rumah. Ada hal yang ingin Ardi bicarakan dengannya. Dan itu juga karena laporan yang Dika dapatkan dari anak buahnya.
Dika segera memutar tubuhnya. Ia pun segera kembali ke dalam rumah dan meninggalkan dua orang yang sedang sedikit malu, karena kembali terciduk sedang dalam posisi yang cukup romantis.
"Ayo masuk! Di sini dingin. Aku tak ingin kondisimu memburuk lagi." Jujur Ardi penuh perhatian. Tangannya pun refleks meraih tangan Aini.
Perasaan Aini berdesir hebat. Tatkala, kulit tangan Ardi menyentuh dengan begitu lembut di kulit tangannya.
"Mas Ardi masuk saja dulu! Saya akan menyusul nanti." Tolak Aini, setelah melirik tangan Ardi yang memegang tangannya.
"Ini sudah malam, Ni. Kamu juga masih sakit."
__ADS_1
"Iya, Mas. Saya akan turun sebentar lagi."
Ardi menghela nafas sedikit kesal.
"Ya sudah, cepatlah turun! Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Ardi akhirnya melepaskan tangan Aini. Ia pun mulai berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Aini. Aini pun memandangi punggung laki-laki yang baru saja menggenggam tangannya.
"Jangan lama-lama ya!" Pesan Ardi, saat ia diambang pintu.
Aini hanya mengangguk dan tersenyum hangat pada Ardi. Ardi pun lantas hilang di balik pintu. Aini lantas kembali menyandarkan punggungnya sambil melihat awan yang berarak dan menggumpal semakin pekat. Hawa dingin pun semakin terasa.
"Aku tahu, mbak Oliv bohong padaku kemarin. Tapi, aku tak tahu kenapa dia melakukan itu. Apa mungkin dia tahu, aku memiliki perasaan pada mas Ardi?" Gumam Aini penasaran.
"Iisshh! Kenapa makin sakit kepalaku?" Rintih Aini, saat denyutan di kepalanya terasa semakin tak karuan.
Aini perlahan berdiri sambil berpegangan erat pada kursinya. Baru saja ia melangkahkan kaki, denyutan di di kepalanya makin tak terkendali. Ia semakin meremas kursi itu. Ia pun sedikit bersandar dengan tubuhnya yang terasa memburuk tiba-tiba.
GLUDUK.
Kursi yang Aini jadikan sandaran, ternyata tak kuat menahan tubuhnya, hingga akhirnya terguling. Aini pun refleks ikut jatuh karena tak siap. Apalagi, ia hanya berpegangan pada kursi itu dengan satu tangan, dan tangan yang lain memegangi kepalanya.
"Astaghfirullah!" Rintih Aini, saat tubuhnya menyentuh lantai cor.
Kepala Aini tak sengaja terbentur lantai sedikit keras. Ia meringis kesakitan. Dan saat ia berusaha bangun, bayangan hitam kelopak matanya mulai membayangi. Dan Aini, akhirnya pingsan di sana.
Sedang di ruang kerja Ardi, Dika sudah menunggu dengan beberapa hal yang ingin ia sampaikan. Langkah Ardi terhenti seketika saat memasuki ruang kerjanya. Ada perasaan aneh tiba-tiba menghampirinya.
Dika yang sedari tadi sudah menunggu Ardi, segera menyambutnya.
"Dugaan Anda, benar Pak. Bu Oliv membohongi bu Aini." Ucap Dika tanpa ragu.
Dan hal itu, berhasil mengalihkan perhatian Ardi.
"Dasar wanita itu!" Umpat Ardi.
Ardi segera melangkahkan kembali kakinya. Ia menuju meja kerjanya dan diikuti oleh Dika.
"Dan Tika, yang menjadi mata-mata bu Oliv di rumah ini. Dia yang melaporkan apa yang Anda dan bu Aini lakukan di rumah ini. Dia menawarkan sejumlah uang pada Tika sebagai imbalannya. Dan Tika menerimanya. Karena suami Tika terlilit hutang yang tidak sedikit di desa." Jelas Dika.
"Oke, cukup! Aku paham maksudmu." Jawab Ardi singkat.
Ardi dan Dika lantas merencanakan apa yang akan mereka lakukan dengan dua orang itu. Dika pun juga melaporkan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaannya di kantor, yang belum sempat ia sampaikan.
Dan saat itu terjadi, hujan pun turun dengan cukup lebat di luar. Bahkan, petir beberapa kali menggelegar memecah keheningan. Tapi, karena ruang kerja Ardi yang rapat dan tertutup, membuat dua orang itu tak begitu menyadari jika hujan sudah turun.
Pukul sepuluh malam, Ardi dan Dika keluar dari ruang kerja. Ardi tiba-tiba teringat tentang perasaan anehnya tadi.
"Hujan?" Ucap Ardi bingung.
"Sepertinya iya, Pak."
"Astaga, Aini." Batin Ardi.
"Ada apa, Pak?"
"Firasatku buruk. Kamu pulanglah, ini sudah larut! Sebelum itu, telepon Gilang! Minta dia kemari secepatnya!" Pinta Ardi gelisah.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Dika penasaran.
"Aku tak tahu. Tapi, firasatku tak baik." Jawab Ardi makin gelisah.
Ardi segera melangkahkan kakinya menuju lantai tiga rumahnya.
"Aini sudah turun. Aini sudah turun." Gumam Ardi sepanjang perjalanannya. Hati Ardi benar-benar gisah saat ini.
Dika pun lantas mengikuti langkah Ardi. Tak lupa, ia pun sembari menelepon Gilang, sesuai permintaan Ardi. Tapi, Gilang tak menanggapinya serius. Karena Ardi tak memiliki alasan yang jelas, yang bisa membuat Gilang datang ke rumahnya, di waktu yang cukup larut.
Ardi segera menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru lantai teratas rumahnya. Hujannya begitu lebat.
Hati Ardi sedikit lega, karena tak ada Aini di tempat ia mengobrol dengannya tadi. Ardi pun bersiap kembali masuk, tapi sesuatu menghentikannya. Ada sesuatu yang tak begitu jelas, tertutupi oleh kursi yang terguling. Ardi pun menajamkan penglihatannya.
"Aini!"
Ardi segera berlari menghampiri sesuatu yang mengusik penglihatannya tadi. Dan benar, itu Aini yang masih tak sadarkan diri di bawah guyuran hujan.
Ardi segera mengangkat tubuh Aini. Ia tak menghiraukan hujan yang turun dengan lebatnya, yang juga membasahi tubuhnya.
Dika yang baru saja sampai, terkejut melihat Ardi membopong Aini dengan tubuh yang basah dan tak sadarkan diri. Ia kembali menelepon Gilang agar segera datang ke rumah Ardi, karena Aini kembali kehujanan.
Ardi membawa Aini ke kamarnya. Ia meletakkan tubuh basah Aini di salah satu sisi ranjangnya. Perasaannya bercampur aduk tak karuan. Ia menatap Aini penuh penyesalan.
__ADS_1
"Kenapa aku kembali menemukanmu dalam kondisi seperti ini?" Ratap Ardi pedih.
"Aini! Aini! Bangun, Ni" Ardi menepuk pelan pipi Aini. Tapi tak ada respon.
Hati duda satu ini, sedang begitu sedih tak terkira. Melihat wanita yang ia sayangi, tak sadarkan diri di tengah guyuran hujan. Dan kini, wajahnya bahkan lebih pucat dari pada kemarin saat ia menemukan Aini di pinggir jalan.
"Gilang. Gimana Gilang? Dia segera kemari bukan?" Tanya Ardi panik.
"Dokter Gilang sepertinya tidak menanggapinya dengan serius, Pak." Jujur Dika.
Ardi segera mengambil ponselnya yang berada di saku celana.
"Cepat kemari, atau kubuat kau menyesal!" Geram Ardi saat teleponnya tersambung.
"Tenang Bro! Ada apa?"
"Aini pingsan ditengah guyuran hujan. Wajahnya sangat dingin dan pucat."
"Kamu bercanda?"
"Cepat kemari!" Bentak Ardi keras.
Ardi membuang ponselnya ke ranjang.
"Kamu masih di sana, Di?"
"Hmm."
"Lepaskan baju basah Aini! Ganti dengan yang kering. Hangatkan tubuhnya dengan apapun. Kamu bisa lakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation)?"
"Tidak."
"Oke. Lakukan yang aku katakan tadi, dan bawa Aini ke klinik! Peralatanku lebih lengkap di sana."
"Mama dan papa masih di Malang. Aku tak bisa meninggalkan Kenzo dan Umar di rumah."
Tak ada jawaban dari Gilang.
"Pulanglah! Kasihan istri dan anakmu di rumah." Pinta Ardi pada Dika yang berdiri di belakangnya.
"Tapi Pak,,"
"Tak apa. Gilang pasti sedang bersiap."
Dika hanya mengangguk. Ia lantas pergi meninggalkan Ardi dan Aini.
"Bagaimana aku mengganti baju Aini? Apa aku minta tolong mbok Sri saja?" Gumam Ardi bingung.
"Tapi, mbok Sri pasti sudah tidur jam segini."
"Aku ganti baju dulu saja."
Ardi lantas pergi ke walk in closet miliknya. Mengganti bajunya dan mencarikan ganti baju untuk Aini. Ia mengambil sebuah kaos lengan panjang dengan celana training miliknya.
Ardi menatap Aini bingung. Ia mendadak kikuk di tengah gundah hatinya.
"Masak iya, aku harus melepaskan semua pakaiannya? Berarti, dia nanti telanjang di depanku?" Gumam Ardi makin bingung.
"Haaaiisshh! Ayo Di, mikir! Aini sedang butuh bantuanmu." Monolog Ardi.
"Aarrgghh!"
Ardi kesal sendiri, karena tak menemukan solusi dalam situasi yang genting ini.
"Sudahlah! Maafkan aku, Ni!" Ucap Ardi pasrah.
Ardi akhirnya perlahan melepaskan jilbab Aini. Ia tertegun seketika.
"Cantik sekali wajahnya."
Ardi langsung terpesona melihat wajah Aini tanpa jilbab. Rambut hitam basah nan panjang, tergulung di bawah kepalanya. Ardi pun melepaskan gulungan itu perlahan. Ardi tersenyum melihat wajah paripurna Aini. Wajah mungil yang tak banyak diketahui oleh orang-orang.
Ardi pun lantas melepaskan jaket Aini. Ia menjatuhkannya di dekat ranjang, bersama dengan jilbabnya. Ia kembali berpikir keras.
"Jika aku membuka bajunya, bagaimana aku menghadapi pemandangan itu?" Gumam Ardi lagi.
Ardi terdiam.
"Aarrghh! Biarlah! Aku harus bisa mengganti bajunya."
Ardi meyakinkan diri dan hatinya. Perlahan, ia memiringkan tubuh Aini, dan mulai membuka resleting gamis yang Aini kenakan. Kebetulan, resleting itu berada di punggung Aini.
Pemandangan indah itu pun mulai terpampang di depan mata Ardi. Punggung putih nan mulus, mulai menggoda iman seorang Ardiansyah El Baraja.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus bangun sekarang?" Gumam Ardi sambil menatap bagian atas celananya, yang mulai menonjol.