
Jalan takdir, tak pernah kita tahu akan seperti apa nantinya. Terkadang berjalan sesuai yang kita harapkan, tapi juga terkadang melenceng jauh dari apa yang kita inginkan. Tapi satu hal yang pasti, itu adalah yang terbaik untuk kita. Bukan yang terbaik menurut kita, tapi yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa.
Seperti apa yang sedang Ardi alami saat ini. Ia tak pernah mengira, akan bertemu kembali dengan Umar dengan cara yang tak pernah ia harapkan. Meski hanya kecelakaan kecil, tapi sungguh, Ardi tidak mengharapkan itu.
Dan karena hal itu pula, Ardi pun mau tak mau menemui Aini. Meski sebenarnya, ia juga berniat menengok Aini seperti yang biasa ia lakukan.
Setelah keluar dari rumah sakit, Ardi mengalami pergulatan di hatinya. Ia ingat, ia sudah berjanji untuk tidak menemui Aini. Tapi, dengan keadaannya saat ini, sangat sulit baginya untuk tidak menemui Aini. Apalagi, dengan Umar yang berada tepat disampingnya dan bahkan memeluknya dengan erat.
Mobil yang Ardi tumpangi, baru saja terparkir di depan sebuah warung makan yang sedang tak banyak pembelinya.
"Ayo Pa, turun!" Ajak Umar antusias.
"Kamu turun dulu, ya!" Pinta Ardi sambil tersenyum.
"Tapi Papa ikut turun, ya? Nanti kita ngobrol di atas sama bunda juga." Polos Umar.
Ardi hanya tersenyum. Umar pun langsung turun dari mobil. Ia segera disambut oleh Aini. Dan itu jelas tertangkap oleh netra Ardi.
Ardi masih diam tak bergerak. Ia hanya melihat setiap hal yang dilakukan oleh Umar dan Aini dari dalam mobil.
"Anda tidak turun, Pak?" Tanya Dika.
"Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji untuk tidak menemuinya." Datar Ardi.
"Ini bukan kehendak Anda, Pak. Anda sudah memenuhi janji Anda untuk tidak menemuinya selama satu tahun ini."
Dika tahu, janji Ardi untuk Aini. Jadi, ia juga memahami, kenapa Ardi selama ini diam-diam melihat Aini dari jauh.
Ardi menoleh pada Dika.
"Ini kehendak Yang Maha Kuasa, Pak." Imbuh Dika yakin.
Ardi lalu teringat, satu janjinya yang lain.
"Aku akan menuruti permintaanmu, Sayang. Aku akan melepaskanmu saat ini. Tapi, jika nanti Allah mempertemukan kita kembali dengan cara-Nya, sungguh, aku tidak akan melepaskanmu. Meskipun jika nanti kamu sudah memiliki pendamping, aku tetap akan memperjuangkanmu."
Ardi mencoba merenungi ucapan Dika. Ia memang berniat menengok Aini, tapi tidak menemuinya secara langsung. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain.
"Bu Aino belum tahu, jika Anda yang menolong Umar." Bujuk Dika perlahan.
"Erna?"
"Erna sudah tahu. Tapi saya memintanya untuk tidak memberitahu bu Aini." Jujur Dika.
Ardi kembali terdiam. Dan akhirnya,,
"Baiklah. Aku akan memperjuangkanmu lebih keras mulai saat ini, Khadijah Isnaini." Batin Ardi.
Ardi lalu mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari mobil. Dan Dika pun mengikuti apa yang dilakukan Ardi.
Ardi berdiri tegap di dekat pintu mobilnya. Dipandanginya sepasang ibu dan anak yang masih cukup asik mengobrol. Hingga sang anak menunjuk ke arahnya. Dan sang ibu pun ikut menoleh ke arahnya.
"Mas Ardi?"
Gumaman dari mulut sang ibu itu, jelas terlihat oleh netra Ardi. Ia pun tersenyum pada wanita yang telah berhasil menjadi penghuni tunggal di hatinya. Ardi lantas mulai berjalan memasuki warung bersama Dika.
Bagaimana dengan Aini? Aini masih mematung. Tubuhnya mendadak kaku dan terbujur dengan posisi berdiri begitu saja. Netra teduhnya, tidak lepas dari sosok laki-laki yang berjalan ke arahnya. Laki-laki yang jelas ia rindukan selama beberapa bulan ini.
Dunia seakan kosong dan hening dalam benak Aini. Hanya ada dirinya dan Ardi yang makin mendekat padanya. Detak jantungnya mendadak bertalu dengan begitu kencangnya. Hatinya pun berdesir keras tanpa permisi.
Terdengar alunan musik soundtrack salah satu film bollywood yang cukup familiar di telinga Aini, Pairon Mein Bandhan Hai, menelusup indah di indera pendengaran Aini. Aini seolah-olah menjadi tokoh wanita, yang berlari pada tokoh prianya yang sangat ia rindukan.
(Yang kagak tahu adegan lagu itu, bisa cari di youtube yaa 😁. Bayangin aja, itu si Aini jadi si Kiran, yang akhirnya dapet restu dari mertuanya buat menjalin hubungan sama si Karan, trus lari nyamperin si Karan 😅. Maap kalau nggak suka,, othornya soalnya udah jadi korban film Bollywood 😂 ngehalunya kadang nggak aturan 😁🙏.)
Tiba-tiba, Aini berlari begitu saja menghampiri Ardi. Menubruk tubuh tegap nan gagah itu tanpa rasa ragu. Memeluknya dengan erat untuk menumpahkan segala rasa yang menggebu di hatinya.
Ardi pun segera membalas pelukan Aini. Merengkuh tubuh mungil itu dengan segala rasa yang juga tertahan berbulan-bulan di hatinya.
"Aku rindu padamu, Mas." Lirih Aini, sambil memejamkan matanya.
"Aku juga, Sayang." Jawab Ardi.
Mereka makin erat berpelukan. Saling mendekap dan merengkuh raga satu sama lain. Menuntaskan rindu yang menggebu dari dalam hati masing-masing.
Hingga, suara seorang pengamen banci, tanpa permisi mengganggu momen indah itu.
"Makasih, Ganteng. Semoga lancar rejekinya dan sehat selalu yaa!" Ucap si pengamen.
"Iya. Udah, sana!" Sahut seorang laki-laki.
"Eh, Mbak Aini! Pembeli di warungmu kok ganteng-ganteng banget sih hari ini." Celetuk si pengamen itu.
"Iihh! Ganggu aja!" Batin Aini geram, yang memang hafal dengan suara itu.
Lalu, Aini merasa ada yang menarik-narik bajunya.
"Nda! Bunda! Bunda!" Panggil Umar, seraya menarik-narik baju Aini.
__ADS_1
"Bunda kok diem aja? Bunda nggak lupa kan, sama om Ardi? Papanya Kenzo." Imbuh Umar.
Aini tertegun seketika. "Apa?"
Aini kebingungan mendengar pertanyaan Umar. Ia lalu melepaskan pelukannya pada Ardi dan membuka matanya. Dan sedetik kemudian ia menyadari,,
"Astaghfirullah." Gumam Aini terkejut.
"Bunda kenapa?" Tanya Umar yang berdiri di sampingnya.
Aini segera menoleh pada Umar. " Nggak papa, Sayang. Iya, Bunda masih ingat kok."
Umar pun tersenyum lega. Aini lalu kembali menoleh pada orang-orang yang baru saja tiba di warungnya.
"Kenapa aku bisa membayangkan hal seperti itu tadi? Astaghfirullah." Batin Aini gusar.
Ah iya, Aini tadi melamun hingga tidak sengaja membayangkan dirinya berlari menghampiri Ardi dan memeluknya begitu saja. Hatinya yang terlalu merindu pada Ardi, membuatnya sedikit terbutakan oleh hasrat yang menggebu dalam jiwanya.
Aini merasa malu sekali. Ia pasti ketahuan, jika sedang menatap Ardi dan bahkan hingga melamunkannya.
Ardi hanya menatap Aini yang terlihat sedikit bingung. Ia pun memberanikan diri menyapa Aini lebih dulu.
"Bagaimana kabarmu, Ni? Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Ardi ramah.
Aini yang sedang meratapi kebodohannya karena membayangkan dirinya dan Ardi berpelukan hangat, terkejut saat Ardi menyapanya.
"Iya? Oh iya, Mas, aku baik. Bagaimana dengan kabarmu, Mas?" Jawab Aini sekenanya.
"Aku juga baik."
Ardi tersenyum pada Aini dengan hangatnya. Senyuman hangat itu, berhasil meluluhkan hati dua karyawan Aini yang lain, yang cukup terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Dua karyawan Aini tidak menyangka, laki-laki tampan yang baru saja tiba di tempat mereka bekerja, adalah kenalan dari pemilik tempat mereka bekerja.
"Tenang saja, Umar hanya mengalami luka lecet sedikit. Aku tadi sudah membawanya ke rumah sakit." Imbuh Ardi segera.
"Oh, iya Mas. Terima kasih telah menolong Umar." Jawab Aini mulai biasa.
"Tentu."
",, dia juga putraku, Ni." Batin Ardi.
"Maaf, Mas! Aku akan membantu Umar ganti baju dan membersihkan diri dulu. Silahkan duduk, Mas! Maaf jika kurang nyaman." Ucap Aini segera.
"Terima kasih."
"Biar aku yang bantu Umar, Mbak. Mbak Aini nemenin pak Ardi saja." Usul Erna tiba-tiba, sambil menghampiri Aini dan Umar.
Erna jelas tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Ia yang cukup tahu kisah Ardi dan Aini, segera berpikir cepat. Sedang Aini, malah menatap bingung pada Erna.
"Nggak papa, Mbak. Mbak kan baru ada tamu." Imbuh Erna.
"Iya, Bunda. Umar sama mbak Erna nggak papa. Bunda tolong temenin om Ardi dulu sambil nunggu Umar ganti baju!" Bujuk Umar.
Umar sebenarnya tidak sepemikiran dengan Erna. Ia hanya tidak ingin, Ardi pergi begitu saja saat ia ganti baju. Karena ia masih ingin menghabiskan waktu dan melepas rindu dengan Ardi.
Aini akhinya mengalah dengan dua orang itu. Ia membiarkan Erna menemani Umar dan membantunya jika Umar butuh sesuatu.
Dan saat Umar dan Erna mulai melangkahkan kakinya, terdengar sebuah motor yang cukup familiar di telinga Aini dan para karyawannya. Suara sebuah motor sport yang memang sudah sering menyambangi warung Aini. Dan motor itu, mulai terparkir di depan warung. Nampak dengan jelas, dua orang laki-laki turun dari motor.
Umar dan Erna jelas menghentikan langkah mereka. Mereka segera menoleh ke arah depan warung. Begitu juga dengan semua orang yang ada di situ.
Dan,,
"Sore, Aini Sayang." Sapa seorang laki-laki yang tadi memarkirkan motornya di depan warung, sambil berjalan menghampiri Aini.
"Mbak, ada om Anton. Bunda jangan ditinggal sendiri!" Rengek Umar.
"Iya, sebentar." Sahut Erna cemas.
Ardi mengerutkan keningnya mendengar sapaan laki-laki yang tadi sempat bertemu dengannya saat di proyek. Ia jelas tidak suka jika ada yang memanggil Aini dengan panggilan seperti itu.
"Jaga bicaramu, Mas!" Bentak Aini yakin.
Ardi jelas tersneyum kecil melihat reaksi Aini. Ia jelas tahu, jika Aini tidak suka dipanggil seperti itu oleh laki-laki itu, yang tak lain ada Anton.
"Ayolah Sayang, jangan seperti itu!" Sahut Anton santai, sambil mengambil kursi yang dekat dengan Aini.
Ardi menatap Aini yang terlihat tidak menyukai kehadiran Anton di sana. Ia lalu menoleh pada Erna, yang mulai mendekati Aini.
Dan kebetulan, Erna juga melihat ke arahnya. Ardi lalu mengangguk pada Erna. Dan Erna langsung memahami maksud Ardi. Erna pun akhirnya kembali pada Umar.
"Ayo ke atas!" Ajak Erna.
"Tapi Mbak, bunda gimana?" Cemas Umar.
"Kan ada papa." Jawab Erna santai.
__ADS_1
Umar menatap Erna dengan bingung.
"Mbak udah tahu, kamu manggil pak Ardi dengan papa, kan? Mbak nggak sengaja denger kamu ngobrol sama Kenzo di telepon waktu itu. Dan kamu santai banget nanyain kabar pak Ardi pada Kenzo." Jujur Erna.
"Tapi jangan bilang bunda ya, Mbak!" Pinta Umar.
"Iya." Jawab Erna sambil mengedipkan satu matanya.
Umar pun tersenyum lega. Erna lalu mengajak Umar berhenti di dapur sejenak untuk mengambil minum.
Tapi sayangnya, meski posisi Aini dengan Umar dan Erna tadi tidak terlalu jauh, Aini tidak mendengar obrolan dua orang itu. Aini kesal karena kedatangan Anton ke warungnya.
Dan saat itu terjadi, Aini harus meladeni Anton yang selama beberapa bulan ini mengejar cintanya.
"Kenapa kamu terlihat kesal, Sayang? Apa kamu tidak suka aku memanggilmu seperti itu? Atau lebih baik, aku memanggilmu, calon istriku?" Bujuk Anton bersemangat.
"Apa maksud ucapanmu, Mas? Aku tak pernah menerima tawaranmu selama ini." Jawab Aini tegas.
"Karena aku calon suamimu, kamu sudah berjanji padaku, bukan?"
"Janji apa?"
"Kamu sudah berjanji waktu itu, jika kamu tidak bisa mengembalikan uang yang aku dan mbak Nia pinjamkan padamu, kamu mau menikah denganku." Santai Anton.
"Aku tidak pernah menyepakati hal itu. Aku hanya berjanji, akan mengembalikannya dalam waktu sepuluh bulan. Dan aku hanya tinggal mengembalikan satu juta pada kalian. Aku hanya tinggal menunggu butik mbak Nia buka saja. Tapi ternyata, sudah satu minggu butik mbak Nia tutup." Jelas Aini makin kesal.
"Aku tidak pernah menerima uang itu, Sayang."
"Aku tidak peduli dengan hal itu. Itu urusanmu dengan mbak Nia. Yang pasti, aku sudah mencicilnya setiap bulan pada mbak Nia seperti kesepakatan kita dulu. Dan aku juga memiliki buktinya." Yakin Aini.
Aini memang pernah meminjam sejumlah uang pada Anton dan Nia. Yang tak lain adalah pemilik ruko. Nia adalah kakak kandung Anton dan kenalan dari anak budhenya Aini. Nia mengelola butik yang ia rintis, yang bersebelahan dengan warung Aini.
Warung Aini pernah kerampokan beberapa bulan lalu, saat warung itu kosong karena hari raya. Hampir semua barang di warung Aini raib. Hanya tersisa baju-baju dan beberapa barang pribadi di kamar atas.
Dan saat itu, Nia dan Anton dengan ramah menawarkan bantuan. Awalnya, Aini sempat menolak karena ia belum lama mengenal mereka. Tapi karena bujukan Nia, Aini pun menyambutnya.
Namun tak disangka, mereka memanfaatkan situasi Aini yang mereka sangat tahu, ia adalah single parent dengan kehidupan yang sederhana dan biasa. Itu ternyata hanya siasat Anton demi mendapatkan Aini, yang sudah menjadi tambatan hatinya sejak pertama kali ia melihatnya.
"Dia juga yang dilaporkan Erna, dalang dari kejadian yang menimpa bu Aini beberapa bulan lalu." Bisik Dika pada Ardi yang sedang menahan geram.
"Awas kau!" Batin Ardi makin geram.
Ardi dan Dika tahu, jika Aini sempat mengalami hal buruk itu beberapa bulan lalu. Ardi meminta Erna untuk mencari pelakunya. Dan ia berhasil menemukannya.
Tapi ternyata, hal itu diketahui oleh Aini. Aini memaksa Erna untuk merahasiakan itu dari Ardi jika masih ingin bekerja bersamanya. Aini tak mau, Ardi melakukan lebih banyak hal untuknya. Erna, sudah sangat cukup baginya.
Tapi Erna diam-diam melaporkan hal itu pada Reno. Dan akhirnya sampai ke telinga Ardi. Dan Ardi hanya berusaha memahami apa yang Aini inginkan. Ia pun akhirnya hanya bisa meminta Erna untuk lebih baik lagi menjaga Aini. Dan ia juga menjaga dan mengawasi Aini dari jauh.
Ardi menatap marah pada Anton yang duduk dengan santai sambil terus memaksa Aini. Ia tak menyangka, Aini dimanfaatkan oleh orang seperti itu.
"Aku tidak peduli dengan uangmu pada mbak Nia. Yang penting sekarang, kamu harus mau menjadi istriku karena tidak membayar uang yang aku pinjamkan padamu." Remeh Anton.
"Aku tidak pernah membuat janji seperti itu denganmu atau mbak Nia. Dan,,"
Ucapan Aini terpotong segera, saat seseorang tanpa ijin memeluk pinggangnya dengan nyaman.
"Ada apa ini, Sayang?"
Suara lembut itu, menelusup indah di indera pendengaran semua orang. Netra mereka pun segera membulat ketika seorang laki-laki yang sedari tadi di sana, memeluk begitu saja wanita yang sedang dipojokkan itu.
Aini menoleh segera ke sisi kanannya. Dan di sana, ada Ardi yang tersenyum padanya dengan penuh perhatian.
"Mas,, Mas,, Mas Ardi?" Gumam Aini lirih.
"Ada apa ini, Sayang? Siapa dia? Kenapa dia memaksamu menikah dengannya?" Polos Ardi santai, dengan tatapan yang lembut pada Aini.
"Ap,, apa?"
Aini tergagap saking terkejutnya. Jantungnya berdegup kencang saat tangan kekar itu, melingkar dengan sempurna di pinggangnya. Memeluknya dengan hangat dan terasa penuh perhatian.
"Siapa kamu? Berani-beraninya memeluk Aini-ku! Dia calon istriku." Marah Anton seraya berdiri dan tidak terima dengan apa yang diperbuat Ardi pada Aini.
Ardi menoleh santai. Ia berusaha untuk meredam amarahnya, agar tidak meluap karena geram dengan apa yang Anton perbuat pada Aini. Aini pun akhirnya juga menoleh pada Anton.
"Aku? Aku papanya Umar." Sahut Ardi santai.
Aini kembali menoleh pada Ardi dengan cepat.
"Hahaha. Kamu terlalu bodoh untuk berbohong." Remeh Anton.
"Apa maksudmu?"
"Jangan kira aku tak tahu! Papanya Umar itu ada di penjara, di Surabaya. Dan sekarang, kamu mengaku sebagai papanya Umar? Hahahaha,,"
Anton menertawai Ardi dengan puas.
"Aku koreksi kata-katamu. Yang di penjara itu adalah ayahnya Umar, Aditya Eka Subrata. Sedangkan aku, papanya Umar. Atau lebih tepatnya, calon papanya Umar dan sekaligus calon suami Aini." Jawab Ardi santai.
__ADS_1