
Matahari sudah mencapai puncaknya. Teriknya begitu terasa menyengat ketika bertemu dengan kulit tubuh. Menjadi pertanda, bahwa suasana siang ini begitu cerah dan panas. Tapi tetap saja, suasana hiruk pikuk kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Aini, Umar dan Kenzo siang ini jadi untuk pergi ke lapas. Mereka diantar oleh Reno yang kini menjadi pengawal Aini. Semenjak Ardi dan Aini menikah, Reno berpindah tugas mengawal dan mengantar Aini kemanapun.
Iya, Erna sudah tidak menjadi pengawal Aini lagi. Ia mengundurkan diri dari kepengawalan Ardi karena ingin menikah, seminggu setelah pernikahan Ardi dan Aini. Awalnya Ardi menolaknya, karena ia berpikir, Erna sudah terbiasa dengan Aini.
Tapi, karena permintaan Aini yang sudah sangat mengenal Erna dan ia juga seorang wanita, Aini membujuk Ardi untuk mengijinkan pengunduran diri Erna. Agar Erna bisa fokus menjadi seorang istri setelah menikah.
Ardi akhirnya mengijinkan Erna untuk berhenti jadi pengawalnya. Tapi, Angga tetap harus bekerja padanya. Dan itu jelas disambut baik oleh semuanya. Dan kini, sepasang sejoli itu, sedang mempersiapkan hari istimewa mereka.
Kenzo dan Umar antusias pergi ke lapas bersama Aini. Meski Umar sudah pernah ke sana beberapa kali bersama Aini, tetap saja ia antusias jika pergi ke tempat itu. Apalagi Kenzo yang belum pernah. Ia begitu penasaran dengan yang namanya lapas.
Setelah tadi sebelum dzuhur Rama dan Niken pergi lebih dulu untuk memenuhi undangan rekan lama Rama. Kini selepas dzuhur giliran ibu dan dua putranya itu yang pergi.
"Apa ini yang namanya lapas, Bunda?" Polos Kenzo, saat mobil yang ditumpanginya mulai memasuki sebuah area parkir bangunan yang asing baginya.
"Iya, Ken. Ada banyak orang di sana." Sahut Umar.
Kenzo masih terus memandangi bangunan yang terlihat cukup aneh baginya. Ia berpikir, lapas seperti rumah-rumah biasa yang ia tempati. Tapi, ini sungguh berbeda.
Setelah Reno memarkirkan mobil, Aini serta Umar dan Kenzo segera turun. Bahkan, Kenzo masih fokus memperhatikan keadaan sekitar lapas. Hingga,,
"Aini?"
Suara seorang wanita, menggema di telinga keempat orang yang baru saja turun dari mobil itu. Mereka serentak menoleh ke sumber suara, yang berasal tak jauh dari mereka.
"Mama." Sahut Aini bahagia.
Wanita itu jelas tersenyum bahagia melihat Aini. Wanita yang juga baru saja turun dari mobil, dengan seorang bayi perempuan yang ada di gendongannya. Bayi itu baru berusia sekitar empat bulan.
"Utii!" Panggil Umar tak kalah bahagia.
Wanita itu segera melambaikan satu tangannya juga pada Umar. Ia pun bahagia menyambut Umar yang bersiap menghampirinya.
Sedang Kenzo, kebingungan dengan reaksi Aini dan Umar. Dan Reno, sedikit terkejut dengan kehadiran wanita itu. Karena ia cukup tahu, siapa wanita itu.
"Uti? Itu, neneknya Umar?" Batin Kenzo.
"Ayo Sayang, Bunda kenalin ke uti Heni." Ajak Aini yakin.
Kenzo yang sedang sedikit melamun, sedikit terkejut dengan ajakan Aini. Ia akhirnya hanya mengekori Aini dan Umar, yang melangkah pasti menghampiri wanita itu. Yang tak lain adalah Heni.
"Assalamu'alaikum, Ma." Ucap Aini, saat ia sudah berada tepat di depan Heni.
Heni segera merentangkan satu tangannya untuk menyambut Aini. Ia pun langsung memeluk Aini, yang juga segera dibalas oleh Aini.
"Wa'alaikumussalam. Kebetulan banget ya bisa ketemu di sini." Sahut Heni bahagia, masih dalam pelukan bersama Aini.
"Iya, Ma. Padahal nggak janjian."
"Allah yang janjiin." Canda Heni.
"Kamu ke sini juga, Ni?" Sapa laki-laki yang baru turun dari mobil, yang tadi ditumpangi Heni.
Aini pun menoleh. "Iya, Pa. Mumpung ke Surabaya."
__ADS_1
Aini segera menyalami tangan laki-laki itu. Arif. Arif pun juga nampak bahagia bertemu Aini di sana.
"Akung!" Panggil Umar singkat.
Arif pun menoleh ke samping kanan Aini. Ia tersenyum lebih lebar lagi saat melihat Umar.
"Umar ikut juga ternyata." Canda Arif.
"Iya dong, Kung."
Umar pun segera mengulurkan tangannya, untuk menjabat tangan Arif, setelah tadi bersalaman dengan Heni.
Arif dan Heni datang ke lapas, jelas untuk mengunjungi putri mereka. Dan tak lupa, juga menantu mereka yang juga ada di lapas ini.
"Oh iya, Ma, Pa. Kenalin, ini Kenzo. Putra Aini." Ucap Aini, seraya merangkul Kenzo dengan hangat.
Arif dan Heni menatap Kenzo dengan bingung. Tapi, sejurus kemudian mereka tersenyum.
"Iya, Ken. Ini akung Arif dan uti Heni. Papa dan mamanya mama Ratri." Jelas Umar tanpa ragu.
Kenzo masih mematung. Ia mencoba memahami ucapan Umar. Karena baginya, nama-nama yang baru saja Umar sebutkan, sangat asing baginya.
"Ken, ayo salim dulu, sama akung sama uti!" Pinta Aini pelan.
Lamunan Kenzo pun berakhir. Ia segera mengulurkan tangannya untuk menyalami Arif dan Heni.
"Halo, Kenzo." Sapa Arif dan Heni bergantian.
Kenzo masih diam tak menjawab. Ia masih tetap berusaha memahami, siapa dua orang asing yang ada di hadapannya itu. Dan Aini, menyadari itu
Kenzo mengangguk kecil karena malu.
"Akung Arif dan uti Heni itu, orang tuanya tante Ratri. Dan tante Ratri itu, mama tirinya Umar." Jelas Aini pelan.
Otak kecil Kenzo mulai bekerja untuk memahami penjelasan Aini. Ia lalu mengangguk paham dengan hati-hati.
"Jadi, Umar punya dua ibu? Kayak aku?" Polos Kenzo.
"Iya, Sayang."
"Iya, Ken. Kita punya dua ibu." Sahut Umar paham.
"Kalau aku punya mama Oliv sama bunda. Kalau kamu punya bunda sama tante Ratri."
Umar mengangguk yakin. Ia dan Kenzo lalu saling melempar senyum. Aini pun tersenyum lega, karena Kenzo bisa memahami apa yang ia maksudkan.
"Hai Akung Arif, Uti Heni!" Sapa Kenzo ramah.
Arif dan Heni jelas terkejut mendengar sapaan Kenzo yang tiba-tiba. Tapi, mereka segera menyambutnya.
"Iya, Kenzo. Hai juga." Jawab Arif bahagia.
Arif dan Heni sudah paham, siapa Kenzo. Karena mereka sudah tahu, jika Aini sudah menikah lagi satu bulan lalu.
"Maaf ya, Ni! Kami tidak bisa hadir dalam pernikahanmu kemarin. Alya sempat masuk rumah sakit kemarin karena demam." Sesal Heni.
__ADS_1
"Alya sakit apa, Ma? Kenapa harus masuk rumah sakit?" Cemas Aini, seraya melirik ke arah bayi yang ada di gendongan Heni.
"Waktu itu demamnya tinggi, dan tidak turun selama dua hari. Jadi, kami membawanya ke rumah sakit. Dia dirawat dua hari di rumah sakit." Jelas Heni.
"Alya sakit apa, Ma?"
"Kata dokter, ada masalah dengan pencernaannya. Mungkin kurang cocok dengan susu formulanya. Karena saat itu, kami mencoba memberinya susu formula untuk membantu asupan asinya."
"Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa kan, Ma?"
Aini mulai mengamati dengan seksama, wajah bayi perempuan yang sedang terlelap di gendongan Heni. Ia pun sedikit mentowel pipinya yang mulai gembul.
"Sudah. Sekarang sudah tidak apa-apa. Kami mengikuti saran dokter untuk pemberian susu formulanya." Jelas Heni, yang juga menatap gemas pada bayi yang digendongnya.
"Alhamdulillah. Sehat-sehat ya, Cantik! Mama pasti cemas jika kamu sakit." Hibur Aini.
"Aamiin."
"Boleh aku menggendong Alya, Ma?" Tanya Aini.
"Tentu."
Heni lalu membiarkan Aini menggendong bayi itu. Dan hal itu, disambut sedikit keributan dari Umar dan Kenzo.
"Bunda, aku mau lihat adeknya!" PInta Kenzo segera.
"Aku mau cium dek Alya, Bun!" Pinta Umar tanpa ragu.
"Iya, sebentar!" Sabar Aini, seraya membenarkan gendongannya.
Aini lalu sedikit membungkuk, dan membiarkan Kenzo untuk melihat bayi yang digendongnya yang bernama Alya itu.
Alya adalah anak perempuan yang dilahirkan Ratri sekitar empat bulan lalu. Setelah ia dipastikan mendapatkan hukuman penjara, ia dinyatakan hamil oleh petugas kesehatan lapas. Dan karena ia mendapatkan hukuman yang tidak hanya beberapa bulan, ia juga melahirkan di lapas.
Hal itu jelas terasa miris dan menyakitkan bagi Ratri dan keluarganya. Terlebih, bagi sang suami, Adit. Apalagi, mereka juga tahu, bahwa Ratri sempat digilir oleh beberapa pria saat disekap oleh Ardi karena membalas apa yang Aini terima dulu.
"Dia masih kecil sekali, Bun?" Celetuk Kenzo.
"Usianya baru sekitar empat bulan, Ken." Jelas Aini.
Dan tanpa permisi, Umar langsung menyosor pipi Alya yang sedikit gembul. Tapi, Alya bahkan tidak terbangun karena kegaduhan dari dua anak laki-laki itu. Ia tetap terlelap dalam gendongan Aini.
"Pelan-pelan, Mar! Nanti dek Alya nangis!" Tegur Aini.
"Maaf, Bun! Hhehe,," Sahut Umar sambil menyengir.
"Aku juga boleh menciumnya, Bunda?" Tanya Kenzo.
"Boleh, Sayang. Tapi, pelan-pelan, ya! Dia masih kecil." Jawab Aini perhatian.
Kenzo lalu dengan sangat hati-hati mencium pipi Alya yang masih terlelap. Ia lalu tersenyum bahagia karena berhasil mencium bayi itu, tanpa mengusik tidurnya. Aini pun juga tersenyum bahagia.
Dan tanpa diketahui oleh beberapa orang yang sedang asik melepas rindu itu, Reno diam-diam merekam kejadian sederhana yang baru saja terjadi itu. Ia pun mengirimkan video itu pada Dika. Dengan sebuah pesan,,
"Sepertinya, dua putra pak Ardi dan bu Aini, sudah siap memiliki adik."
__ADS_1