
Pagi yang indah. Terlebih bagi seorang model cantik, yang sedang vakum dalam beberapa minggu terakhir dari pekerjaannya karena beberapa alasan. Indah Olivia.
Pagi ini terasa begitu indah, selain karena memang cuacanya yang sedang cerah, tapi karena juga berita bagus yang ia terima dari rekannya kemarin. Dan lagi, sore ini, ia juga memiliki janji temu dengan seorang produser iklan, yang akan menandatangani kontrak dengannya untuk sebuah merk kosmetik lokal.
Oliv sedang duduk santai dengan Desi setelah menikmati sarapan pagi mereka. Mereka mengobrolkan tentang kontrak yang akan ditandatangani Oliv sore ini.
Tapi, sebuah ketukan dari pintu depan mengalihkan perhatian mereka. Karena asisten rumah tangga Oliv sedang berada di halaman belakang, Oliv akhirnya pergi sendiri untuk membukakan pintu.
"Siapa sih, pagi-pagi gini udah bertamu? Jangan-jangan, sales susu kemarin?" Gumam Oliv sambil berjalan menuju pintu.
"Hai, Liv." Sapa sang tamu cukup ramah.
Oliv segera membulatkan kedua bola mata indahnya. Mulutnya bahkan sedikit ternganga karena terkejut.
"Mas Ardi?" Ucap Oliv terkejut.
Tamu Oliv pagi ini memang Ardi. Ia datang seorang diri pagi ini. Ardi tersenyum kecil mendapat tatapan penuh keterkejutan dari Oliv.
"Apa aku boleh masuk?" Tanya Ardi sesantai mungkin.
"Apa? Oh, iya, Mas. Masuk, Mas Ardi!" Jawab Oliv gelagapan.
Oliv masih belum percaya dengan apa yang dihadapinya saat ini. Ardi datang ke rumahnya pagi-pagi seorang diri, dan bahkan sikap Ardi cukup ramah padanya.
Ardi pun masuk, setelah Oliv memberikan jalan untuknya. Ia sedikit mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah Oliv.
"Siapa, Liv?" Tanya Desi, seraya berjalan menuju ruang tamu.
Desi menghentikan langkahnya saat melihat Ardi sudah berada di dalam rumah. "Ardi?"
"Hai, Des!" Sahut Ardi ramah.
"Ada apa nih? Tumben kesini? Mau marah-marah lagi sama Oliv?" Sindir Desi santai.
"Kenapa aku harus marah-marah sama Oliv? Emang dia bikin ulah lagi?" Jawab Ardi sedikit menyindir, sambil melirik ke arah Oliv.
Oliv segera menelan salivanya dengan berat. Pikirannya segera melayang pada Aini, yang sekarang sedang berada jauh dari rumah dan kerabatnya. Bahkan, pasti sekarang sedang menjadi salah satu orang yang dicari keberadannya.
"Aku nggak ngapa-ngapain, kok." Jawab Oliv cepat.
"Yakin?" Tanya Ardi singkat, dengan tatapan yang datar pada Oliv.
"Iy, iyalah. Memangnya aku bikin ulah apaan?" Jawab Oliv sekenanya, demi menutupi kegugupannya.
"Ya makanya aku tanya sama kamu, emang kamu bikin ulah? Sampe aku harus marah-marah sama kamu? Gitu, Des?"
"Hmm" Jawab Desi kesal.
Desi adalah salah satu orang yang enggan berbicara dengan Ardi. Karena ia tahu, Ardi yang berprofesi sebagai pengacara, bisa dengan mudah memutar kata-kata, hingga membuat lawan bicaranya tak bisa membantahnya.
"Duduk dulu, Mas!" Pinta Oliv bahagia, demi mengalihkan perhatian Ardi.
"Oh, iya. Sini, Des! Ikutan ngobrol bentar. Atau kamu lagi sibuk, ya?" Tanya Ardi.
"Enggak juga sih. Oliv kan baru nggak ada job, jadi agak santai. Nanti sore baru mau tanda tangan kontrak." Jujur Desi, sambil berjalan menghampiri Ardi.
"Oh, gitu rupanya. Pantes aja, kemarin Oliv bisa seharian nemenin Kenzo di rumah sakit."
__ADS_1
"Oh, iya. Gimana kondisi Kenzo? Aku denger, dia baru aja dapat donor?"
"Alhamdulillah, operasi donornya lancar. Tinggal observasi dan pemulihan pasca operasi."
"Syukurlah. Aku ikut seneng dengernya, Di."
"Makasih, Des."
"Aku boleh nemenin Kenzo di rumah sakit lagi, kan Mas?" Timpal Oliv.
Ardi yang tadi sibuk mengobrol dengan Desi, segera menoleh pada Oliv yang duduk di sampingnya. Oliv begitu antusias dengan pertanyaannya dan tak sabar menunggu jawaban dari Ardi.
"Karena itulah aku ke sini." Jawab Ardi santai.
"Maksud kamu?"
"Tolong temani Kenzo di rumah sakit saat siang! Dia masih harus menginap di rumah sakit beberapa hari lagi. Papa dan mama ada urusan selama dua atau tiga hari kedepan. Jadi, Kenzo tidak ada yang menemani di rumah sakit." Jelas Ardi.
"Bukankah dia punya perawat? Calon istrimu." Sahut Desi bingung.
Oliv menoleh pada Desi dengan sangat terkejut. Ia kembali gugup karena Desi menanyakan tentang Aini pada Ardi.
"Aini harus menjalani pemulihan juga. Ia belum bisa menjaga Kenzo sementara ini."
"Pandai sekali kamu Mas, menutupi hilangnya Aini." Cibir Oliv dalam hati.
"Gimana, Liv? Kamu bisa nggak?" Tanya Ardi segera.
"Kita lihat, Mas! Kamu ataukah maut yang lebih dulu menemukan Aini nanti." Batin Oliv lagi.
Oliv yang sibuk memikirkan Aini yang masih berada di tempat yang sangat jauh itu, tak begitu memperhatikan ucapan Ardi.
"Liv?" Sentak Desi cukup keras.
"Eh, iya. Apa?" Tanya Oliv gelagapan.
"Kamu ngelamunin apa? Ditanyain malah bengong." Sindir Desi.
"Sorry! Kenapa?" Jawab Oliv cengengesan.
"Kamu bisa enggak nemenin Kenzo?" Tanya Ardi lagi.
"Oh, iya Mas. Bisa dong." Jawab Oliv antusias.
"Aku bisa manfaatin kesempatan ini, untuk bisa kembali pada mas Ardi dan Kenzo." Batin Oliv semangat.
"Oke." Jawab Ardi ringan.
"Boleh aku pinjam toilet sebentar?" Imbuh Ardi.
"Iya. Itu, di sana!" Jawab Desi sambil menunjuk ke arah sebuah pintu kayu yang tak jauh dari tempat mereka mengobrol.
Ardi segera berdiri dan menuju pintu yang ditunjukkan Desi. Ia sedikit menoleh kesana-kemari untuk melihat isi rumah Oliv.
"Kamu nggak aneh dengan sikap Ardi?" Tanya Desi cepat, setelah ia berpindah duduk di samping Oliv.
"Aneh gimana?"
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri, gimana sikap Ardi setelah kalian bercerai. Tapi tiba-tiba, dia dateng nyari kamu dengan sangat santai."
"Nggak usah negative thinking! Siapa tahu, mas Ardi memang mulai lembut lagi sama aku." Jawab Oliv bahagia.
Desi mendengus remeh. Ia benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Oliv yang mungkin, telah dibutakan oleh rencana untuk kembali menjadi seorang nyonya Ardi.
"Emang kamu nggak seneng kalau aku deket lagi sama mas Ardi?" Imbuh Oliv tak percaya.
"Terserah kamu!" Jawab Desi singkat.
Tak lama, Ardi telah kembali dari toilet. Ia segera berpamitan pada dua wanita yang merupakan mantan teman kuliahnya itu. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih pada Oliv karena mau menemani Kenzo di rumah sakit esok.
Oliv jelas sangat bahagia karena kedatangan Ardi pagi ini. Hatinya yang sedari tadi memang sedang diliputi kebahagiaan, makin bertambahlah saat ini. Ia bahkan merasa, jalannya untuk kembali pada Ardi makin terbuka lebar dan nampak lebih halus, tanpa adanya batu kerikil yang menghalangi.
Tapi Oliv bahkan tak tahu, tujuan sebenarnya dari kedatangan Ardi ke rumahnya.
"Sudah. Segera laporkan apapun yang mencurigakan!" Ucap Ardi saat ia sudah meninggalkan rumah Oliv.
"Baik, Pak. Saya sudah mengaktifkannya." Jawab seseorang di ujung telepon.
"Oke."
Ardi lalu menutup sambungan teleponnya. Ia lalu kembali fokus pada jalanan yang dilewatinya. Ia melajukan mobilnya lebih cepat menuju tempat tujuannya yang kedua pagi ini. Dengan sebuah harapan, agar Aini bisa segera ditemukan. Kantor polisi.
Kedatangan Ardi ke rumah Oliv pagi ini, bukanlah karena ia ingin meminta Oliv untuk menemani Kenzo. Tapi ia memasang penyadap di rumah Oliv untuk memata-matai Oliv. Karena setelah kejadian tempo hari, Oliv adalah tersangka yang paling dicurigai.
Meminta Oliv untuk menemani Kenzo, hanyalah alasan klise semata. Niken dan Rama tidaklah pergi kemanapun. Niken hanya dirumah, sembari menjaga Umar yang masih murung karena berita buruk itu. Sedang Rama, membantu Ardi mengurusi urusan kantor dan yayasan yang sedikit terbengkalai karena fokus Ardi yang berpindah pada hilangnya Aini.
Bukan Ardi menyerahkan Kenzo pada Oliv. Tapi, Oliv tak akan mungkin melukai atau berbuat sesuatu yang buruk pada Kenzo. Apalagi, dengan niatan Oliv yang ingin kembali pada Ardi dan Kenzo.
Dan lagi, dengan Oliv yang berada di rumah sakit, ia lebih leluasa mengawasi Oliv yang tak mungkin pergi kemana-mana seharian. Karena sebenarnya, Ardi juga telah memasang penyadap di dalam dan di depan ruang rawat Kenzo, untuk mengawasi Oliv. Ia juga bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mencari keberadaan Aini dan mengurusi pekerjaannya.
...****************...
Keesokan paginya, Oliv benar-benar menepati ucapannya. Ia pergi ke rumah sakit menemani Kenzo. Ia juga sempat bertemu dengan Ardi, yang setiap malam menemani Kenzo di rumah sakit.
Dan demi menarik perhatian Ardi, Oliv membawakan bekal sarapan untuk Ardi.
"Maaf, Liv! Aku harus segera ke kantor. Ada rapat pagi hari ini." Bohong Ardi.
"Kalau begitu, bawa saja bekalnya ke kantor, Mas!" Rayu Oliv cepat.
"Kamu makanlah saja nanti! Kamu pasti akan kesulitan untuk membeli makan siang nanti, karena menjaga Kenzo seorang diri." Tolak Ardi halus.
"Bener juga." Gumam Oliv.
"Papa pergi kerja dulu ya, Ken! Kalau ada sesuatu, telepon Papa, ya?" Pamit Ardi segera.
"Oke, Pa." Jawab Kenzo bahagia.
Kenzo cukup bahagia karena ditemani Oliv siang ini. Meski ia tak memintanya, tapi itu jarang terjadi selama ini.
Perhatian Oliv pun teralihkan pada Kenzo yang menjawab Ardi dengan bahagia. Ia pun melupakan niatannya untuk merayu Ardi lagi agar membawa bekal yang ia siapkan.
Setelah Ardi pergi, Oliv membantu Kenzo untuk makan. Ia menyuapi Kenzo dengan telaten. Setelah itu, mereka pun asik mengobrol.
Tapi sayangnya, obrolan itu malah membuat Oliv naik pitam. Ia sangat berusaha keras menahan amarahnya yang tersulut secara perlahan karena obrolannya dengan Kenzo.
__ADS_1
Kenapa? Karena Kenzo menceritakan banyak hal tentang Aini. Dan bahkan, ketika Oliv berusaha menemukan sisi buruk Aini, Kenzo malah membantahnya dan membela Aini tanpa ragu.
"Sialan kamu, Aini! Awas saja! Aku tak akan membiarkan sisa hidupmu tenang." Batin Oliv geram.