
"Bangun, Ken! Sholat subuh dulu!" Ucap Aini pelan, sambil sedikit menepuk lengan Kenzo.
"Umar! Ayo bangun, sholat dulu!" Ucap Dian, yang juga menepuk lengan Umar pelan-pelan.
Umar dan Kenzo sedikit menggeliat. Bukannya bangun, dua anak laki-laki itu, malah kembali terlelap sembari memeluk gulingnya masing-masing.
"Kok tidur lagi? Ayo bangun, sholat dulu! Itu udah ditungguin papa buat jama'ah." Bujuk Aini segera.
Umar dan Kenzo tidak merespon. Mereka masih tetap terlelap dengan memeluk guling dengan begitu nyaman.
Hingga, Vita tiba-tiba menggeliat. Dan dengan segera, mulai menangis begitu saja. Dian pun lalu memangkunya dan menenangkannya, agar Vito tidak ikut terbangun.
Tapi karena tangisan Vita,
"Dek Vito kenapa, Tante?" Tanya Umar tiba-tiba.
Dian dan Aini yang sedang berusaha menenangkan Vita, tiba-tiba menoleh pada Umar, yang sudah membuka matanya dengan malas.
"Dek Vita yang kebangun, Mar." Jawab Aini pelan.
"Popokmu sudah penuh, Sayang." Hibur Dian seraya menyusui Vita.
"Dek Vita kenapa, Bunda?" Tanya Kenzo.
"Popoknya penuh, Nak. Udah ayo, bangun dulu, sholat!" Pinta Aini lagi.
Umar dan Kenzo mengangguk malas.
"Sana sholat dulu! Adek kembar biar Tante yang urusin dulu. Nanti gantian kalian yang nemenin kalau Tante sholat." Usul Dian.
"Oke, Tante." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.
Umar dan Kenzo lalu sedikit meregangkan otot tubuhnya. Mereka lalu bangun dan mengambil air wudhu. Mereka segera menyusul Ardi yang sudah berada di mushola kecil yang ada di rumah.
Sedang Aini, masih berada di kamar, menemani Dian menenangkan dua bayi kembarnya. Vito yang memang hanya terusik sedikit karena Vita, dengan mudah Aini tenangkan.
Selesai sholat subuh, Umar dan Kenzo benar-benar menghabiskan waktu mereka bersama Vita dan Vito. Mereka bahkan ikut membantu Dian menyuapi Vita dan Vito yang sudah mulai mengkonsumsi makanan pendamping asi.
Saat sore menjelang, Dian dan dua bayinya diantar pulang oleh Ardi. Tapi kini, Rama dan Niken tidak ikut. Jadi hanya keluarga kecil Ardi saja yang mengantar. Dan saat pulang, Ardi mengajak keluarganya menikmati waktu bersama.
"Apakah mungkin, ucapan Dian semalam, bisa sedikit merubah keputusan Umar dan Kenzo?" Gumam Ardi, seraya melihat dua putranya sedang asik bermain di taman.
"Bersabarlah dan yakinlah, Mas!" Sahut Aini tiba-tiba.
Ardi pun menoleh pada Aini, yang sedang duduk di sampingnya.
"Yakinlah! Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kesanggupan makhluk-Nya. Jadi, bersabarlah sebentar! Allah pasti memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang ia berikan pada kita. Karena bukankah, gembok itu selalu berpasangan dengan kuncinya?" Jelas Aini lembut.
Ardi tersenyum haru mendengar jawaban Aini. Ia tidak menyangka, Aini masih bisa begitu bijak disaat ia dalam kondisi mengandung. Yang padahal, dalam dunia medis, wanita yang sedang mengandung, hormon dalam tubuhnya bisa sangat tidak stabil, hingga membuat emosinya pun tidak stabil.
...****************...
"Pa!" Panggil Kenzo pelan.
"Bunda!" Panggil Umar juga.
Ardi dan Aini yang sedang mengapit dua putranya di ranjang kamar mereka, jelas segera menoleh bersama.
"Kenapa, Ken?" Jawab Ardi perhatian.
"Iya, Sayang." Jawab Aini juga.
Bukannya menjawab, Kenzo tiba-tiba memeluk Ardi dengan erat. Dan Umar, juga segera memeluk Aini begitu saja.
Ardi dan Aini saling pandang.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Aini, seraya membalas pelukan Umar, lalu melirik ke arah Kenzo.
"Maaf Pa, Bunda! Maaf, karena Umar dan Kenzo kemarin menolak untuk punya adik." Ucap Umar lirih, tapi masih terdengar oleh Aini, Ardi dan Kenzo.
"Iya, Pa, Bunda. Maaf karena kami kemarin melakukan hal itu." Timpal Kenzo.
__ADS_1
"Papa dan Bunda kan nggak marah, Sayang. Kenapa kalian minta maaf?" Tanya Aini lembut.
Umar dan Kenzo hanya menggelengkan kepala tanpa berucap. Mereka masih memeluk Ardi dan Aini begitu erat.
Ardi dan Aini saling pandang. Mereka hanya membalas pelukan Umar dan Kenzo dengan perasaan yang lebih lega.
Setelah beberapa saat, Kenzo melepaskan pelukannya pada Ardi. Dan tiba-tiba, Kenzo bangun dari posisinya begitu saja.
"Mar, gantian!" Rengek Kenzo.
"Gantian apa?" Tanya Umar bingung.
"Aku juga mau meluk adek kecil." Jujur Kenzo.
Ardi dan Aini masih kebingungan dengan obrolan singkat Umar dan Kenzo barusan.
"Aku masih belum puas, Ken. Nanti, sebentar lagi!" Tolak Umar yakin.
"Ah, kamu curang! Aku juga mau meluk adek kecil." Rengek Kenzo.
"Aku belum selesai." Jawab Umar lagi.
"Kalian ini rebutan apa?" Sela Aini sambil menatap Kenzo.
"Aku mau meluk adek kecil, Bunda." Jujur Kenzo.
"Adek kecil?" Bingung Aini.
"Itu yang masih di perut Bunda."
Aini segera menoleh pada Ardi dengan bingung. Tapi Ardi malah tersenyum sambil menatap Kenzo.
"Kenzo meluknya dari sebelah kirinya bunda. Umar dari sebelah kanan. Kan bisa?" Usul Ardi.
"Oke, Pa."
"Umar sama bunda, agak ke tengah! Biar Kenzo nggak terlalu mepet tepian." Usul Ardi lagi.
Aini akhirnya paham dengan maksud Kenzo. Ia pun tersenyum lega melihat tingkah dua putranya yang berebut untuk bisa memeluk calon adik mereka.
Iya. Umar dan Kenzo akhirnya mau menerima kehadiran calon adik baru mereka, setelah obrolan kecil dengan Dian tempo hari. Mereka merubah keputusan awal, setelah memikirkan dengan seksama ucapan Dian kemarin.
Umar dan Kenzo menyadari, Ardi dan Aini masih tetap menyayangi mereka satu sama lain, meski setelah kehadiram satu sama lain. Dan mereka juga yakin, meski mereka nanti sudah memiliki adik baru, kasih sayang itu, tetap tidak akan berubah.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Aini haru, setelah Umar dan Kenzo memeluknya bersamaan.
Umar dan Kenzo mengangguk dalam pelukan kedua tangan Aini. Mereka pun bahagia, karena Ardi dan Aini tidak marah pada mereka.
"Adek dimana, Bunda?" Polos Kenzo, dengan tangan yang mulai meraba perut Aini yang masih datar.
"Adek masih sangat kecil. Dia, di sini." Jelas Aini, sembari mengarahkan tangan Kenzo ke perut bagian bawahnya.
"Halo, Dek! Ini Mas Kenzo." Sapa Kenzo begitu saja, dengan tangan yang mengusap perut Aini.
"Kalau ini, Mas Umar, Dek!" Timpal Umar, sambil mengikuti Kenzo.
Ardi mengusap kepala Umar dan Kenzo bergantian. Ia benar-benar lega, Umar dan Kenzo akhirnya mau menerima kehadiran calon adik baru mereka. Tak lupa, ia memandang Aini dengan senyuman kelegaan yang begitu hangat.
Aini pun tersenyum dan mengangguk pada Ardi. Perasaannya juga tak kalah lega seperti Ardi.
"Besok, kita tidur bareng adek lagi ya, Mar!" Ajak Kenzo antusias.
"Oke. Berarti, tiap hari kita tidur di kamar papa sama bunda, dong?" Sahut Umar.
"Iya." Yakin Kenzo.
"Oke."
PLOK. Umar dan Kenzo pun langsung tos dengan pasti.
Aini pun tersenyum bahagia melihat itu. Tapi tidak dengan Ardi. Ia mulai panik dengan usulan Kenzo tadi.
__ADS_1
"Terus, aku kapan jatahnya kalau mereka tidur di sini tiap hari?" Batin Ardi bingung.
Ardi jelas kelabakan jika Umar dan Kenzo setiap hari tidur bersama di kamarnya. Karena itu berarti, ia tidak bisa berolahraga malam dengan Aini. Yang jelas, sudah menjadi candu baginya.
"Kalau kalian tidur di sini terus, kamar kalian gimana? Siapa yang nempatin?" Celetuk Ardi segera.
Umar dan Kenzo sedikit saling lirik. Mereka sejenak memikirkan jawaban dari pertanyaan sederhana Ardi.
"Kan kalian udah besar. Udah punya kamar sendiri." Imbuh Ardi.
Aini tersenyum kecil mendengar ucapan Ardi. Ia yang sudah cukup paham dengan sikap dan sifat Ardi, bisa menerka arah pemikiran Ardi.
"Tapi kan aku pengen tidur sama bunda, sama adek, Pa." Jujur Kenzo.
"Papa nggak ngelarang. Tapi, kalau kalian tiap hari tidur di sini, kamar kalian gimana? Kan kalian udah punya kamar sendiri." Jelas Ardi santai.
"Iya juga, Ken. Masa iya, kita mau pindah kamar juga?" Sela Umar bingung.
"Kamar Papa nggak muat kalau kalian pindah kamar ke sini." Keluh Ardi mode polos.
Umar dan Kenzo sedikit mengamati kamar kedua orang tuanya. Mereka berusaha menerka-nerka, bisakah jika kamar mereka pindah ke kamar paling luas di rumah itu nantinya.
"Tapi Pa, aku sama Umar mau tidur bareng adek." Rayu Kenzo.
"Ya kan nggak harus tiap hari juga, Ken, Mar. Bisa seminggu dua kali atau tiga kali." Usul Ardi.
"Seminggu dua kali aja! Biar nanti jatah Papa nggak berkurang banyak." Batin Ardi cekikikan.
Aini memilih diam. Ia tidak mau memihak pada siapapun saat ini. Karena ia yang sedang diperebutkan.
"Gimana, Mar?" Tanya Kenzo.
"Gimana kalau, seminggu empat kali aja? Nanti dua hari kamu di tengah papa sama bunda. Yang dua hari, giliran aku yang di tengah papa sama bunda. Yang tiga hari, kita tidur di kamar masing-masing." Usul Umar santai.
"Boleh juga." Sahut Kenzo bahgia.
"Kenapa jatahku berkurang banyak banget?" Batin Ardi panik.
Ardi segera memutar otaknya. Memaksa si organ yang berada di paling atas tubuhnya itu, segera bekerja lebih keras untuk mendapatkan ide, agar bisa menolak dengan halus usulan Umar tadi.
"Gimana kalau tidur di sininya, setelah persetujuan bunda?" Usul Ardi.
"Maksud, Papa?"
"Kita tanya bunda dulu, kira-kira bunda kelelahan enggak seharian tadi. Kalau bunda kelelahan, kan biar bunda istirahatnya nyaman, bunda butuh tempat istirahat yang agak lega. Jadi, tidur di kamar Papa, ditunda dulu." Jelas Ardi.
Aini jelas menahan tawanya mendengar penjelasan Ardi. Ia sangat tahu, itu hanya akal-akalan Ardi agar bisa membuat Umar dan Kenzo tidak tidur di kamarnya terlalu sering.
Umar dan Kenzo yang masih berpikiran lugu, memikirkan hal itu dengan kepolosan mereka. Mereka jelas tidak ingin Aini kelelahan, hingga membuat kondisi Aini dan calon adik mereka sedikit kurang baik.
"Oke. Aku setuju." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.
"Anak pinter." Batin Ardi lega.
Aini menoleh pada Ardi sambil tersenyum geli. Ardi malah tersenyum sangat lebar pada Aini.
"Oke, Bunda. Berarti, besok sebelum tidur bareng lagi, kita tanya Bunda dulu." Pasti Kenzo.
"Terserah kalian saja!" Sahut Aini menurut.
"Oke."
"Udah! Ayo tidur, Bunda sudah mengantuk!" Ajak Aini yakin.
"Siap, Bunda." Jawab Umar dan Kenzo.
"Yok!" Sahut Ardi juga.
Keluarga kecil Ardi, akhirnya tidur dalam satu ranjang dengan perasaan yang lebih lega. Ardi dan Aini jelas lega, karena Umar dan Kenzo akhirnya mau menerima kehadiran calon adik baru mereka. Sedangkan Umar dan Kenzo juga lega, tetap bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, meski akan memiliki saudara baru.
Semua permasalahan pasti memiliki solusi. Kita hanya perlu bersabar dan lebih teliti dalam mencari solusi itu, tanpa perlu adanya kekerasan atau menyakiti, antara satu dengan yang lainnya.
__ADS_1