
Entah bagaimana rasa itu hadir. Rasa yang begitu indah memenuhi jiwa dengan kemelut kabut asa. Membuai hati, hingga perlahan meruntuhkan semua pondasi yang tersusun rapi.
Satu sisi, hati Aini memang hancur. Melihat sikap dan mendengar setiap perkataan Ardi padanya. Padahal, mereka sudah saling berjanji untuk saling terbuka satu sama lain, apapun masalahnya. Tapi ini tidak.
Dan di sisi lain, Aini juga masih percaya, bahwa Ardi pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan itu semua padanya. Meski itu masih menjadi misteri baginya. Dan ia memilih, mengikuti semua permainan Ardi.
Bagaimana dengan Umar? Anak laki-laki yang berusia delapan tahun itu, hanya memahami, bahwa Ardi tak bisa menjadi ayahnya. Ya, Umar sangat berharap Ardi bisa menjadi ayah sambungnya. Sebagaimana Kenzo yang berharap Aini bisa menjadi ibu sambungnya.
Umar hanya percaya pada ibunya, bahwa semua akan baik-baik saja. Meski, mereka kini tak lagi dekat dengan keluarga Kenzo.
Sesaat setelah Aini pergi, Sri segera masuk rumah dan berniat menemui Ardi. Ia ingin menanyakan tentang sikap Ardi pada Aini. Tapi ternyata, Ardi berdiam diri di kamarnya. Ardi bahkan membiarkan Mila bosan di ruang keluarga sendirian.
Setengah jam berselang, Rama kembali bersama Niken dan Kenzo. Sri yang menyadari kepulangan sang empunya rumah, segera berlari dan berniat untuk memberitahukan apa yang terjadi saat mereka tidak ada.
"Hai, Tante!" Sapa Mila antusias.
"Mila?" Ucap Niken tak percaya.
"Yups, Auntie! It's me. The one and only, Hanifa Kamila Putri." Jawab Mila bangga.
"Kamu memang Mila-ku." Sahut Niken bahagia.
Niken segera merengkuh tubuh ramping Mila. Mereka saling berpelukan dengan begitu hangat. Tapi tak lupa, Mila juga segera menyapa Rama.
"Hey, Boy!" Sapa Mila, seraya mengangkat satu tangannya untuk mengajak Kenzo tos.
"Hey, Auntie!" Sahut Kenzo bahagia.
"Gimana kabarmu, Jagoan? Tante dengar dari papamu, kamu baru saja dioperasi?" Tanya Mila perhatian.
"Iya, Tante. Kenzo sudah dioperasi kemarin. Sebentar ya, Tante!"
Kenzo segera berlari meninggalkan Mila begitu saja. Ia berlari menuju lantai atas dengan antusias. Mila pun hanya bisa mengikuti arah kemana Kenzo berlari.
"Kenapa nggak bilang kalau mau dateng?" Tanya Niken segera.
"Surprise dong Tante." Jawab Mila manja.
"Kamu sama siapa? Sendirian? Mama sama papa kamu nggak ikut?" Timpal Rama.
"Enggak, Om. Mama sama papa baru ke Batam." Jujur Mila.
"Bagaimana kabar mereka?" Tanya Rama lagi.
"Mama sama papa baik kok, Om. Mereka baru nyiapin sesuatu buat Mila."
"Nyiapin apa? Jodoh?" Cibir Rama santai.
"Itu udah ada, Om. Rencananya, bulan depan Mila mau tunangan, Om."
"Kasihan banget calon suami kamu. Dapet perawan tua." Ejek Niken.
"Tante!" Rajuk Mila
Rama dan Niken akhirnya tertawa lepas setelah menggoda Mila, yang tak lain adalah keponakan mereka. Mereka selalu saja tak pernah lelah menggoda Mila dengan ejekan satu itu.
Iya, Mila adalah keponakan Rama dan Niken. Dia anak ketiga dari seorang pengusaha pusat perbelanjaan di Singapura dan Batam. Ibu Mila adalah kakak kandung Rama, Arimbi.
Kakak kedua Mila, seumuran dengan Ardi. Saat masih kecil, kakak kedua Mila dulu sering bermain dengan Ardi. Kadang, Ardi yang berkunjung ke Singapura. Dan kadang sebaliknya.
Dan sejak saat itu, Mila pun terbiasa dengan Ardi. Mereka sangat dekat satu sama lain.
"Biarin deh perawan tua. Dari pada jadi duda abadi." Sahut Mila bangga.
"Siapa yang kamu bilang duda abadi?" Sahut Niken tak terima.
"Ya jelas Ardi dong, Tante." Remeh Mila.
"Eits! Jangan salah! Ardi bahkan sudah punya calon istri sekarang." Jawab Niken tak kalah bangga dari Mila tadi.
"Oh, ya? Kenapa Ardi nggak bilang apa-apa sama aku dari kemarin, Tante?" Sangsi Mila.
"Mungkin, dia mau ngenalin ke kamu secara langsung." Terka Niken.
"Apa dia orang Surabaya?"
"Bukan. Dia orang Jogja. Tapi dia sudah tinggal di sini beberapa bulan ini."
"Oh ya? Dia tinggal dimana, Tante? Apa rumahnya dekat dari sini?" Tanya Mila antusias.
"Dia tinggal di rumah ini sekarang." Jawab Niken yakin.
"Di rumah ini?"
Tiba-tiba,,
"Bundaa! Bundaaa! Umar!"
Suara Kenzo menggema sempurna ke seluruh penjuru rumah saat ia menuruni tangga. Ia mencari teman rasa saudaranya yang tidak ia temukan di kamarnya tadi.
Mila segera menoleh pada Kenzo. "Bunda?"
"Iya. Kenzo bahkan sudah memanggilnya bunda." Sahut Niken yakin.
__ADS_1
Mila pun segera menoleh pada Niken. Kedua mata indahnya membulat sempurna mendengar ucapan Niken.
"Dimana dia, Tante?" Tanya Mila antusias.
"Kamu baru dateng?" Tanya Niken bingung.
"Enggak, Tante. Udah dari tadi malah. Aku juga dicuekin itu sama si duda abadi." Adu Mila.
"Berarti kamu seharusnya udah ketemu sama bundanya Kenzo, dong. Calon istrinya Ardi." Jawab Niken sambil sedikit celingukan.
Mila mengerutkan keningnya.
"Iya. Kan tadi Tante udah bilang, dia tinggal di rumah ini sekarang." Sahut Niken santai.
"Sebentar aku panggilkan!" Imbuh Niken.
Mila diam tak bereaksi. Dia cukup penasaran dengan sosok calon istri Ardi yang dibicarakan Niken. Karena sejak ia tiba, hanya Aini orang baru yang ia jumpai di rumah itu.
"Aini! Aini!" Panggil Niken lantang.
"Siapa, Tante?" Tanya Mila cepat.
"Aini. Namanya Aini. Kenzo memang sudah biasa memanggilnya bunda. Bahkan dari sebelum ia tinggal di rumah ini." Jawab Niken santai.
"Aini? Apa dia wanita mungil yang memakai jilbab tadi?" Tanya Mila ragu.
"Iya. Kamu sudah bertemu dengannya bukan? Gimana? Cantikkan calon istri Ardi?" Bangga Niken.
"Tante jangan bercanda!"
"Bercanda bagaimana? Dia memang calon istri Ardi. Kami hanya menunggu kepulangan Ardi dari Bandung untuk meminangnya."
"What?"
"Maaf, Pak, Bu'!" Sela Sri tiba-tiba.
Niken dan Rama pun menoleh pada Sri yang datang dengan wajah sedih.
"Ada apa, Mbok? Aini kemana, Mbok? Kenapa aku panggil dari tadi nggak dateng?" Sahut Niken santai.
"Iya, Mbok. Bunda sama Umar kemana? Kenapa Kenzo panggil nggak keluar?" Timpal Kenzo.
"Mbak Aini, pergi Bu."
"Pergi kemana, Mbok?" Tanya Niken lagi.
"Ah, ****!" Umpat Mila saat menyadari sesuatu.
Niken pun menoleh bingung pada Mila yang tiba-tiba mengumpat.
Semua yang ada di ruang tamu, sampai mengerutkan keningnya karena mendengar suara teriakan Mila yang begitu lantang.
"Nggak usah teriak-teriak! Aku belum tuli." Sahut Ardi santai, seraya menuruni tangga.
Semua segera menoleh ke arah Ardi.
Dan Mila, segera menghampiri Ardi dengan langkah yang penuh amarah. Ia mencoba menahan amarahnya yang tiba-tiba memuncak karena menyadari sesuatu setelah mendengar ucapan Niken tadi.
Tangan Mila segera terangkat tanpa beban. Kedua tangan lembutnya, segera menarik kerah kemeja yang Ardi kenakan. Ardi hanya pasrah dengan apa yang Mila lakukan padanya.
Niken dan Rama terkejut dengan apa yang Mila lakukan. Meski sebenarnya, mereka sudah terbiasa melihat Ardi dan Mila berkelahi saat bercanda. Karena memang, Mila juga pandai bela diri seperti Ardi.
"Tell me the truth! Who is Aini really? Why did Aunt Niken say that she is your future wife?" Ucap Mila sambil menahan amarah.
"Not anymore." Singkat Ardi.
BUG. Sebuah bogem dari tangan lembut nan indah itu, berhasil mendarat dengan sempurna di perut sang duda. Ardi pun hanya meringis menahan sakit di perutnya.
"Apa maksudmu, Di?" Tanya Niken bingung.
Ardi diam tak menjawab. Mila pun mendorong tubuh Ardi dengan kesal. Menghempaskan tubuh laki-laki tampan itu tanpa rasa bersalah. Ia lalu segera menghampiri Niken dan Rama dengan perasaan bersalah.
"I'm sorry, Auntie. Ardi lied to me. He asked me to play as his fiance in front of Aini. I don't know if Aini is Ardi's future wife." Aku Mila cepat.
"Apa?"
Niken tak percaya mendengar pengakuan Mila. Ia lalu mendekati Ardi dengan perasaan yang mulai kesal.
"Apa maksud ucapan Mila tadi? Dan kenapa tadi kamu bilang, Aini bukan calon istrimu lagi? Jawab Mama, Di!" Bentak Niken.
"Jangan teriak-teriak, Ma! Ada Kenzo." Sahut Ardi sekenanya.
Niken mendengus kesal.
"Aini kemana, Mbok?" Tanya Rama segera.
"Mbak Aini pergi, Pak. Dia menitipkan salam permintaan maaf untuk Ibu dan Bapak, karena tidak bisa berpamitan secara langsung." Jujur Sri sedih.
"Bunda pergi kemana, Mbok?" Tanya Kenzo polos.
"Mbok Sri nggak tau, Nak. Bunda bilang mau pulang."
"Bundaaaaa!" Teriak Kenzo sedih.
__ADS_1
Semua mata segera tertuju pada Kenzo. Anak laki-laki itu segera berlari untuk keluar rumah. Ia ingin menyusul bunda kesayangannya yang pergi tanpa sepengetahuannya. Ia sudah cukup paham, jika Aini pergi dari rumahnya untuk tidak lagi kembali.
Sri yang berdiri paling dekat dengan Kenzo, segera mencegah Kenzo untuk berlari pergi.
"Ada surat untukmu, Nak. Dari bunda." Ucap Sri, seraya menyerahkan selembar kertas yang ia pegang dari tadi.
"Bunda, Mbok. Bunda kenapa pergi, Mbok?" Adu Kenzo sambil menangis.
Sri tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Kenzo. Ia akhirnya hanya menggelengkan kepalanya dengan sedih.
Kenzo lalu menerima surat itu dan membacanya perlahan. Sri pun dengan sigap segera memeluk tubuh anak laki-laki itu dengan sedih. Ia bahkan bisa merasakan kesedihan yang cukup dalam, dari tangis Kenzo yang belum mereda.
Tiba-tiba, Angga masuk begitu saja dari pintu depan dengan tergesa-gesa. Ia bahkan sedikit berlari.
"Sudah ketemu, Pak." Ucap Angga tiba-tiba.
Semua mata akhirnya tertuju pada Angga.
"Dia saingan Anda, untuk tender hotel di Banyuwangi. Dia juga orang yang sama, yang pernah Anda laporkan ke pihak berwajib karena melakukan pencurian proposal tender rusun di Bandung, enam tahun lalu." Ucap Angga tanpa ragu.
Semua cukup kebingungan mendengar ucapan Angga. Tapi tidak untuk Ardi dan Mila. Dan saat itu juga, Mila kembali menyadari sesuatu. Ia segera berbalik lagi mendekati Ardi.
"Apa ini alasanmu yang sebenarnya memintaku untuk mengaku sebagai tunanganmu di depan Aini?" Terka Mila.
Ardi diam tak menjawab Mila. Ia masih fokus pada Angga.
"Minta Reno untuk mengurusnya!" Pinta Ardi singkat.
"Baik, Pak. Dan bu Aini,,"
"Kembalilah!" Pinta Ardi cepat.
"Baik, Pak. Maaf Pak, karena saya terlambat menemukannya."
"Tidak apa."
Angga pun segera berbalik badan dan kembali keluar rumah. Dalam hati kecilnya, ia sungguh merasa bersalah karena terlambat menemukan orang itu. Orang yang selama sebulan terakhir meneror kehidupan Ardi.
"Apa ini, Di? Ada apa sebenarnya?" Tanya Rama yang mulai memahami sesuatu.
"Kemarin, Ardi memintaku untuk berpura-pura menjadi tunangannya di depan seseorang, Om. Dia bilang, dia ingin membuat orang itu pergi dari rumahnya karena sikapnya kurang baik. Tapi sepertinya, alasan sebenarnya bukan itu. Benar begitu kan, Di?" Cecar Mila.
Ardi hanya diam tak menjawab. Pikirannya sudah melayang jauh, pada wanita yang berhasil menjadi penghuni di hatinya, yang kini telah pergi entah kemana.
"Kamu ingin melindunginya dari orang yang menterormu, bukan? Kamu salah besar, Di. Kamu salah, jika kamu membuatnya pergi seperti itu." Tuduh Mila tanpa ragu.
"Apa maksudmu, Mil?" Tanya Niken bingung.
"Kemarin saat di Bandung, mobil kami sempat diseruduk oleh mobil lain, Tante. Dan pelakunya melarikan diri begitu saja." Aku Mila.
"Bukan kecelakaan?"
"Bukan, Tante. Karena saat itu, jalanan sangat lengang. Dan sangat tidak mungkin, jika itu hanya kecelakaan yang tidak disengaja. Dan lagi, setelah kejadian itu, mobil yang menyeruduk kami, pergi dengan begitu kencangnya. Mobil itu juga menggunakan nomor kendaraan palsu, setelah anak buah Ardi mengeceknya." Jujur Mila, seraya mengingat apa yang ia alami dua hari lalu.
"Dan kamu merahasiakan itu dari kami, Di?" Tanya Niken tak percaya.
"Ardi bilang, ia sudah mendapat teror sejak sebulan terakhir. Tapi dia tidak mengatakan padaku, teror seperti apa yang ia terima. Dan setelah semua ini, sepertinya aku tahu, teror seperti apa itu."
"Dan itu pasti berhubungan dengan Aini. Benar bukan, Di?" Imbuh Mila yakin.
Niken dan Rama segera mengerti dengan apa maksud ucapan Mila.
PLAK. Telapak tangan kanan Niken, segera mendarat dengan sempurna di pipi Ardi. Ia tak menghiraukan Aedi yang masih menahan sakit karena pukulan Mila tadi.
"Kamu seharusnya tidak melakukan itu pada Aini. Kalian bisa membicarakannya berdua. Bukan malah membuat Aini pergi." Marah Niken.
"Tapi Aini baru saja mengalami hal buruk, Ma. Dan itu juga karena Ardi." Sahut Ardi dengan nada kecewa.
"Itu ujian untuk memperkuat hubungan kalian, Di. Kamu juga bisa membicarakan hal itu dengan Mama dan papa sebelum mengambil keputusan bodoh itu."
"Ardi hanya tidak ingin Aini terluka lagi, Ma."
"Apa kamu pikir, dengan kamu membuat Aini pergi dari hidupmu, dia akan aman? Kamu seharusnya memperbaiki penjagaanmu untuk Aini. Melindunginya lebih baik lagi, agar tidak terjadi hal buruk lagi padanya."
"Bodoh kamu, Di!" Umpat Mila.
"Setidaknya,,,"
"Setidaknya apa? Dia tidak lagi berhubungan denganmu? Jadi dia akan aman dari orang yang menterormu? Kenapa kamu jadi begitu bodoh, Di?" Salak Niken tak terima.
Ardi menatap ibunya dengan bingung.
"Orang-orang diluar sana, tidak akan tahu jika dia sudah tidak lagi berhubungan denganmu. Mereka pasti akan lebih mudah menyakiti Aini karena tanpa penjagaanmu. Itu yang kamu harapkan?" Marah Niken lagi.
Dan saat itu, Ardi baru menyadari, apa yang ia lakukan pada Aini adalah sebuah kesalahan besar.
"Dika! Segera temukan Aini!" Ucap Rama, yang segera mengubungi Dika, setelah mengetahui semua permasalahan itu.
"Baik, Pak." Jawab Dika di ujung telepon.
"Rena! Find someone for me! I'll send you his name and photo." Ucap Mila, yang juga segera menghubungi orang kepercayaannya.
"All right, Miss." Sahut orang di seberang telepon.
__ADS_1
Dan saat itu terjadi, tanpa ragu dan berpikir panjang, Ardi segera berlari keluar dan menyambar kunci mobilnya. Ia sungguh telah menyadari kesalahan besar yang telah ia perbuat.
"Maafkan aku, Sayang!" Batin Ardi penuh penyesalan.