Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Perlakuan Buruk


__ADS_3

WARNING‼️


Dalam bab ini, ada beberapa kalimat dan tindakan yang kasar. Harap bijak dalam membaca ya Readers 🙏🏼


Terima kasih semuanya 😊


...****************...


Kejutan. Bisa hadir dari siapapun. Dan bahkan di waktu yang tak pernah terbayangkan. Ia hadir tanpa permisi dan peringatan apapun.


"Apa mereka yang memerintahkan orang-orang itu membawaku kemari?" Batin Aini tak percaya.


Tubuh lemas Aini, membuatnya enggan berbicara. Meski, mulutnya kini tidak ditutup dengan lakban lagi. Airmatanya pun seketika menetes pilu.


"Takdir apa lagi ini, Ya Allah?" Batin Aini pedih.


Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa bagi Aini. Dengan kondisinya saat ini, ia malah mendapatkan kejutan luar biasa dari orang yang luar biasa.


"Ada apa? Tak usah terkejut seperti itu. Jangan sok polos di depanku!" Cibir Adit.


Aini diam tak menjawab. Ia melirik pada Ratri yang ia berdiri di sebelah Adit.


Ratri sebenarnya iba melihat kondisi Aini saat ini. Tapi semua sudah terjadi. Aini kini berada di hadapannya dengan kondisi yang jauh dari kata baik karena penculikan itu. Dan ia ikut andil dalam hal itu.


"Itulah akibatnya, jika kamu tak mau mendengarkanku. Dan malah makin dekat dengan Ardi." Imbuh Oliv kesal.


Adit dan Ratri jelas segera menoleh pada Oliv. Aini pun akhirnya juga menggerakkan bola matanya ke arah Oliv.


Nampak sangat jelas, raut wajah Oliv yang kesal namun penuh kepuasan atas kemenangannya saat ini. Karena saat ini, jelas ia akan bisa kembali melanjutkan rencananya untuk kembali pada Ardi, yang akan menjadi ATM berjalannya, setelah kepopulerannya meredup karena skandal.


"Mas Ardi." Batin Aini sedih.


"Tapi sepertinya, pak Ardi-lah yang sudah jatuh hati pada Aini. Bukan sebaliknya." Sahut Ratri tiba-tiba.


"Iya. Karena wanita sialan ini,,"


DUG. Oliv mengayunkan kakinya tepat di dada Aini. Aini pun segera meringis kesakitan, dengan linangan air mata yang segera mengalir makin deras.


Ratri refleks ingin menghampiri Aini. Tapi, tubuhnya dihalangi oleh Adit, yang masih berdiri di sampingnya. Adit tahu, Ratri masih memiliki rasa sayang pada Aini. Karena mereka sudah menghabiskan banyak waktu dengan begitu banyak cerita bersama-sama dahulu.


",, berani menggoda mas Ardi-ku. Kalau dia nggak kegatelan, nggak akan mas Ardi itu tergoda pada wanita rendahan dan biasa seperti dia." Ucap Oliv penuh kesal.


Kalimat itu, jelas menelusup sempurna ke telinga Aini. Ingin ia membantahnya, tapi apa daya, kondisinya kini benar-benar tak bisa untuk membantah.


"Dan ini, balasan untuk apa yang telah kamu lakukan pada bapak. Kalau saja kamu tidak merebut Umar dariku, bapak pasti tidak akan pergi secepat itu." Timpal Adit tak kalah kesal.


Aini menggeleng lemah, sambil menahan dadanya yang masih sakit.


"Aku sudah memberikan harta gono-gini yang cukup banyak untukmu, bukan? Tapi, kamu juga masih serakah merebut Umar dariku. Dan karena hal itu, kondisi bapak memburuk, hingga ia pun pergi lebih cepat. Dasar, wanita tak tahu diri!"


"Apa kamu lupa, bagaimana bapak selalu membela dan menyayangimu? Dia selalu membelamu saat ibu selalu meremehkanmu dulu."


"Seharusnya, aku mendengarkan ibu sejak dulu, untuk tidak menikah denganmu dan harusnya menikah dengan orang yang selevel denganku. Tapi kamu sangat pandai menggodaku, hingga membuatku jatuh dalam perangkapmu." Ucap Adit penuh penyesalan.


Aini masih tak menjawab apapun. Ia benar-benar tak bisa membantah apa yang Adit tuduhkan padanya.


"Tidak. Aku tidak seperti itu, Mas." Batin Aini pedih.


Ratri menatap Adit dengan tatapan tak percaya. Hal itu ternyata masih melekat sempurna di hati dan kepala Adit sampai saat ini, hingga membuat Adit melakukan hal gila itu pada Aini.


Ratri sejak kemarin hanya mengira, bahwa Adit menculik Aini karena telah merebut Umar darinya hingga membuat Hadi kondisinya memburuk dan meninggal. Ternyata kisah masa lalu dalam rumah tangganya dengan Aini juga menjadi salah satu pemicunya.


"Beruntung, aku bertemu Ratri saat itu. Hingga aku bisa lepas darimu. Ya meski, aku harus kehilangan rumah dan beberapa tabunganku untuk memberimu harta gono-gini." Imbuh Adit kejam.


Aini masih terus menggelengkan kepalanya.


Ratri yang mendengar dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, merasa malu dan tak enak hati pada Aini seketika. Rasa bersalah itu, tiba-tiba menghantamnya dengan begitu keras. Karena ternyata, apa yang Aini alami saat ini, adalah buntut dari fitnah yang ia dan ibu mertuanya lakukan.

__ADS_1


Tapi, Ratri juga tak lupa. Ia sudah berjanji pada ibu mertuanya, untuk menutup rapat mulutnya sampai kapanpun, agar Adit tidak mengetahui kebenarannya.


Ratri lalu berbalik dan pergi keluar ruangan. Ia tak tahan lagi melihat dan mendengar apa yang akan Adit dan Oliv lakukan pada Aini.


"Dasar lemah!" Cibir Oliv, saat melihat Ratri pergi.


"Kamu lihat! Bahkan sahabat lamamu saja tidak mau membantumu." Ejek Adit puas.


Oliv dan Adit jelas tersenyum puas. Mereka sempat ragu dengan Ratri yang ikut datang hari ini. Karena mereka tak yakin, Ratri benar-benar bisa menahan diri untuk tidak membantu Aini sama sekali.


Tapi dengan sikapnya barusan, Adit dan Oliv berpikir, bahwa Ratri juga telah membenci Aini dan tidak mau membantu Aini sama sekali.


Aini hanya menatap langkah Ratri yang pergi keluar ruangan. Ia tak menghiraukan ucapan Oliv dan Adit.


"Makanya, jadi wanita itu jangan kegatelan! Sadar diri, dimana posisimu seharusnya!" Timpal Oliv penuh kemenangan.


"Kita apakan dia?" Imbuh Oliv segera.


"Biarkan saja dia seperti itu! Dia harus merasakan, bagaimana bapak kesepian disaat-saat terakhirnya waktu itu, karena Umar tak lagi di sisinya." Jawab Adit yakin.


"Sampai kapan? Apakah polisi tidak akan menemukannya?"


"Tidak. Asal kita tutup mulut."


"Ardi?"


"Dia bisa apa? Sampai sekarang saja dia belum menemukannya bukan?" Jawab Adit santai.


"Tapi, bagaimana jika dia berhasil menemukannya?"


"Dia akan menemukan wanita sialan ini, saat wanita ini sudah tak bernyawa." Jawab Adit yakin.


Adit lalu berjalan keluar ruangan. Meninggalkan tiga orang wanita itu tanpa berkata apapun lagi. Oliv dan Reni pun akhirnya mengikuti Adit untuk keluar ruangan.


Dan saat tiba di ambang pintu, Adit bertemu dengan Ratri yang membawa segelas air putih di tangannya.


"Berhenti! Mau apa kamu dengan itu?" Tanya Adit cepat.


"Apa itu?"


"Hanya segelas air." Jawab Ratri singkat, sambil menghempaskan tangan Adit yang menghalanginya.


Adit sedikit tertegun dengan sikap Ratri. Ia tak mengira, Ratri akan memberikan Aini air minum. Oliv dan Reni pun menatap Ratri penuh tanya.


"Kamu yakin dengan istrimu?" Tanya Oliv saat ia sampai di belakang Adit.


"Dia tak mungkin membocorkannya." Jawab Adit yakin, sambil terus menatap Ratri yang menghampiri Aini.


Ya, Adit sangat yakin, Ratri tidak akan menghianatinya dalam hal ini. Karena jika sampai Ratri menghianatinya, dia pun akan terseret karena ikut andil dalam penculikan Aini.


Ratri segera berjongkok dan membantu Aini untuk bangun. Aini hanya pasrah, karena tubuhnya tak mampu lagi melawan atau menolak.


"Maaf, Ni! Minumlah! Ini air putih." Pinta Ratri lembut.


Ratri menyuapkan gelas berisi air putih yang ia bawa pada Aini. Aini pun menenggaknya perlahan. Tapi, hanya sedikit yang ia minum.


"Aku letakkan di sini. Minumlah lagi nanti!" Pinta Ratri setelah kembali membantu Aini tiduran di lantai.


"Terima kasih." Ucap Aini tanpa bersuara.


Ratri mengangguk paham. Ia lalu berdiri dan pergi meninggalkan Aini. Aini pun menatapnya pilu.


Ingin hati Ratri membantu Aini agar bisa terbebas. Tapi, ia tak mungkin menghianati Adit. Dan lagi, terlalu banyak rahasia yang Aini ketahui tentang Ratri, dan jika Adit sampai mengetahuinya, ia yakin, Adit pasti akan sangat marah dan kecewa padanya. Dan ia tak menginginkan hal itu.


Oliv, Adit dan Ratri lalu berbincang sebentar di ruangan depan. Mereka lalu meninggalkan tempat itu, agar tak mengundang kecurigaan. Dengan Aini yang masih disekap di dalam rumah itu.


...****************...

__ADS_1


Pagi kembali tiba. Suara-suara alam, begitu setia menyapa para penikmatnya. Memberikan semangat baru bagi setiap rasa dan asa yang selalu ada.


Pagi ini, enam hari sudah Aini diculik. Ardi dan pihak kepolisian masih berusaha melakukan pencarian. Karena semua menemui kebuntuan.


Oliv, yang menjadi orang paling dicurigai pun, tidak melakukan hal-hal yang mengundang kecurigaan. Semua yang dilakukannya, terlihat normal dan biasa.


Ya, sore itu, pengawal Ardi kecolongan. Mereka tak tahu, jika Oliv pergi keluar rumah bersama Desi. Mereka menyadarinya, saat Oliv kembali ke rumah saat malam telah larut.


Reno jelas marah-marah untuk hal itu. Tapi, ia menyembunyikan hal itu dari Ardi, agar anak buahnya tidak kembali mendapatkan hukuman dari Ardi, yang jelas bukan hukuman yang ringan. Reno hanya meminta untuk lebih waspada agar tak kecolongan lagi.


Selama Aini masih belum ditemukan, Oliv begitu giat mengunjungi Kenzo dan Ardi. Ia berusaha sangat keras untuk kembali mendapatkan simpati mantan suami dan putranya itu.


Tapi sayang, keduanya sama sekali tidak begitu antusias menyambutnya. Ardi jelas tidak mau lagi kembali dan berurusan dengan Oliv. Sedang Kenzo, setiap hari malah menceritakan tentang kebersamaannya dengan Aini tanpa lelah dan bosan.


Sampai saat ini, Kenzo masih belum tahu jika Aini diculik. Ardi, Rama dan Niken berhasil menutupinya dari Kenzo. Dengan alasan, Aini dan Umar sedang sakit, hingga belum bisa mengunjunginya ke rumah sakit.


Dan karena hal itu, semangat Kenzo untuk segera pulih malah semakin besar. Ia ingin segera pulang dan merawat Aini dan Umar.


Lalu, bagaimana dengan Umar? Ia demam selama tiga hari, sejak Aini diculik. Hari kedua, ia langsung dibawa ke rumah sakit oleh Ardi. Ia dirawat di kamar Aini kemarin dirawat. Dan itu juga dirahasiakan dari Kenzo.


Dan hari ini, Umar sudah diijinkan pulang oleh dokternya. Ia masih harus memulihkan kondisinya. Dan dengan kondisi psikisnya yang sangat terpukul saat ini, dokter sedikit pesimis kalau Umar akan segera pulih.


Ardi, Rama dan Niken cukup kewalahan merawat dua anak laki-laki itu. Apalagi, Aini masih belum bisa ditemukan. Ardi nyaris putus asa karenanya.


"Benar kata Adit. Diatas langit masih ada langit. Dan ternyata, kemampuan Ardi tak sehebat kelihatannya." Remeh Oliv bermonolog.


Oliv sedang menikmati sorenya setelah tadi seharian menemani Kenzo di rumah sakit lagi. Ia pun mendadak kesal, saat teringat pada Kenzo yang masih terus antusias menceritakan Aini padanya.


"Wanita itu berhasil mencuci otak Kenzo. Aku harus memberinya pelajaran!" Geram Oliv.


Kekesalan Oliv pada Aini semakin menjadi dalam tiga hari terakhir. Ia menjadi benar-benar ingin menghabisi Aini seperti Adit. Oliv pun lalu mandi dan segera bersiap.


"Mau kemana, Liv?" Tanya Desi, saat melihat Oliv berpakaian rapi.


"Ketemu teman lama lagi. Aku akan pulang telat nanti." Jawab Oliv, sambil berjalan menuju pintu depan.


"Oke. Hati-hati nyetirnya!" Sahut Desi singkat.


"Oke."


Oliv pun keluar rumah dengan perasaan yang sangat kesal. Ia ingin segera menemui Aini dan meluapkan kekesalannya.


Jalanan yang cukup padat, memaksa Oliv harus bersabar untuk segera tiba di tempat tujuannya. Ia pun makin kesal karena itu.


Pukul tujuh malam, Oliv tiba di tempat yang ia inginkan. Ia disambut oleh Reni dan beberapa rekannya. Mereka sedang menikmati makan malam dengan ditemani beberapa botol alkohol.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah mati?" Tanya Oliv cepat.


"Belum."


"Kenapa belum mati sih?" Geram Oliv.


Oliv lalu masuk ke ruangan dimana Aini berada. Ia tetap ditemani Reni.


"Bangun, wanita sialan!" Teriak Oliv.


Aini yang tubuhnya makin lemah, tertidur dengan lelap dan tak terusik dengan teriakan Oliv sedikit pun. Oliv pun kembali berteriak tak karuan untuk membangunkan Aini. Tapi tetap tidak berhasil.


Hingga, Oliv yang makin kesal, menarik ikat pinggang yang ia kenakan. Dan,, cetarrr. Suara cambukan itu menggema begitu keras. Aini pun seketika terbangun dan mengerang tanpa suara. Karena cambukan ikat pinggang itu, mendarat tepat di tubuhnya.


Oliv tersenyum puas melihat itu. Ia kembali mendaratkan ikat pinggangnya di tubuh Aini. Aini pun menggeliat kesakitan, dengan air mata yang langsung mengalir deras.


"Tolong, hentikan!" Ucap Aini tanpa suara.


Oliv yang melihat itu, bukannya berhenti tapi malah semakin menggila. Ia melakukan hal gila itu lagi pada Aini. Dan Aini hanya bisa mengerang kesakitan.


Sedang di luar, tak jauh dari rumah dimana Aini disekap, dua orang yang sedari tadi mengikuti Oliv sedang mengamati rumah itu dengan seksama.

__ADS_1


"Apa bu Aini berada di rumah itu?" Ucap salah seorang diantara mereka.


"Kita harus segera memastikannya!" Sahut satu yang lain.


__ADS_2