Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Tuduhan Part 1


__ADS_3

Apa yang terlihat secara kasat mata, terkadang tidak seperti yang semestinya. Dan terkadang, apa yang terlihat oleh mata, itulah yang kita percayai begitu saja. Tanpa mau mencari kebenaran di balik semua itu


"Apa maksudnya ini Ni? Kamu berselingkuh?" Bentak Adit cepat.


"Apa maksudmu Mas? Aku tak pernah berselingkuh darimu." Jujur Aini.


"Lalu, kenapa kamu bisa berpelukan dengan laki-laki lain?" Cecar Adit sambil menyodorkan ponsel Suharti pada Aini.


Aini segera menerimanya sembari menggendong Umar.


"Ini kan tadi siang." Batin Aini.


"Dasar wanita jal*ng! Tak tahu diri!" Maki Suharti keras.


"Ini kecelakaan Mas. Aku tak sengaja ditabrak dari belakang oleh seseorang, dan Fajar menangkapku agar tak terjatuh." Jelas Aini dengan air mata yang mulai menggenang.


"Alasan! Mana ada penjahat mau ngaku. Kalau para penjahat mengakui kesalahannya, penjara bakalan penuh." Sahut Suharti geram.


"Tapi benar Bu', itu kecelakaan." Bela Aini lagi.


"Siapa laki-laki itu? Jawab!" Bentak Adit mulai marah.


"Ada Umar Mas, jangan berteriak!" Sahut Aini selembut mungkin.


Aini mengusap punggung Umar dengan lembut. Ia bisa merasakan, Umar sedang ketakutan saat ini. Karena Umar memeluk ibunya dengan sangat erat.


"Jawab!" Bentak Adit lebih keras.


"Astaghfirullah!" Batin Aini terkejut.


Aini terkejut saat Adit membentaknya dengan keras. Itu adalah bentakan Adit yang pertama bagi Aini. Selama ini, Adit selalu bersikap lembut pada Aini. Jangankan marah dan membentak, berbicara dengan nada sedikit tinggi saja tak pernah.


"Dia Fajar, temanku saat kursus dulu. Dia datang bersama istrinya tadi siang ke rumah makan. Kami tak sengaja bertemu di sana." Jelas Aini jujur.


"Halllaahh! Kalau memang dia sama istrinya, kenapa kamu pelukan sama dia?" Cecar Suharti.


"Aini ditabrak dari belakang oleh pembeli yang sedang berlari keluar karena terburu-buru Bu'. Dan nggak sengaja jatuh ke arah Fajar. Fajar hanya berniat menolong Aini tadi." Jelas Aini lagi.


"Kamu yakin nggak main perasaan sama teman lamamu itu?" Sela Ratri tiba-tiba.


Aini menoleh tak percaya pada Ratri. Bagaimana bisa, Ratri berkata seperti itu saat ini. Aini pun mulai tersulut amarahnya karena terus dipojokkan.


"Kenapa memangnya Mbak? Apa Mbak Ratri bahagia jika aku main perasaan dengan Fajar? Sehingga Mbak Ratri bisa dengan mudah merebut Mas Adit dariku sepenuhnya?" Sahut Aini tanpa ragu.


Semua tercengang mendengar jawaban Aini.


"Jadi, kamu memang berselingkuh dariku?" Tanya Adit yang makin tinggi emosinya.


"Jika aku mengatakan tidak, apa Mas akan percaya padaku?" Tantang Aini yakin.


Suara Adit tertahan. Logikanya mulai bergelut dengan hatinya. Hatinya berkata, ingin mempercayai ucapan sang istri. Tapi, foto itu tak bisa begitu saja diabaikan.


"Kenapa Mas? Mas sudah tak percaya lagi padaku?" Imbuh Aini.

__ADS_1


"Akuu,,"


Adit kesulitan menjawab pertanyaan sederhana Aini. Dan itu cukup menjadi jawaban bagi semua orang dewasa yang ada di rumah itu sekarang.


"Jika kalian tidak percaya dengan ucapanku, kalian bisa melihat rekaman CCTV yang ada di rumah makan." Sahut Aini yakin.


"Palingan, udah kamu rekayasa." Tuduh Suharti.


"Cukup Bu'! Saya sudah cukup bersabar dengan semua yang Ibu lakukan pada saya selama ini. Saya juga sudah menuruti permintaan Ibu untuk kembali bekerja dan membiarkan Umar diasuh oleh Mbak Ratri dan membantu promilnya. Tapi kenapa Ibu dan Mbak Ratri terus menjauhkan saya dari Mas Adit?" Jawab Aini mulai putus asa.


Adit dan Hadi terkejut mendengar penuturan Aini. Sedang Suharti dan Ratri, mulai gelagapan karena Aini mengatakan rahasianya di depan Adit dan Hadi.


Suharti dan Ratri memang sudah mulai bekerja sama untuk menjauhkan Aini dari Adit dan Umar. Mereka perlahan-lahan menghasut Adit secara halus agar menjauh dari Aini. Dan Aini mengetahui itu, karena tak sengaja mendengar percakapan mereka saat Ratri sedang bertelepon dengan Suharti.


"Bapak!"


Aini memekik dan sontak maju mendekati Hadi, saat melihat Hadi yang berdiri di belakang Suharti, memegangi dadanya sambil meringis kesakitan dan mulai tumbang. Semua lantas menoleh pada Hadi yang langsung tergeletak pingsan.


"Pak! Pak! Bangun Pak! Bapak!"


Adit meraih tubuh ayahnya dan mengguncangkannya. Ia berusaha menyadarkan ayahnya tapi tak berhasil. Hadi benar-benar pingsan.


Adit dibantu oleh Ratri segera mengangkat tubuh Hadi dan membawanya ke mobil. Mereka semua segera membawa Hadi ke rumah sakit.


Hadi sebenarnya tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Tubuhnya cukup sehat diusianya yang sudah berada di kepala lima. Ia rutin berolahraga dan menjaga kehidupan sehatnya.


Tapi, saat istrinya meminta untuk mengantarnya ke rumah Adit tadi, ia sudah merasa ada sesuatu yang tak baik. Apalagi, ekspresi sang istri sudah terlihat sangat marah. Ia sudah berusaha menanyakan pada istrinya kenapa ia seperti itu, tapi tak dijawab. Ia pun menjadi kesal sekaligus khawatir.


"Kenapa ini Pak?" Tanya seorang perawat laki-laki yang membantu Adit membawa Hadi memasuki IGD rumah sakit terdekat dari rumahnya.


Hadi pun segera mendapat pertolongan dari pihak medis. Adit, Ratri dan Suharti duduk dengan cemas. Sedang Aini, berusaha menidurkan Umar yang sudah mulai mengantuk sembari mondar-mandir di depan tiga orang itu.


Setelah cukup lama, salah seorang dokter menghampiri keempat orang yang sedang dilanda kecemasan itu.


"Bagaimana keadaan bapak saya Dokter?" Tanya Adit cepat.


"Untuk sekarang, kondisinya sudah stabil. Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah beliau siuman." Jawab sang dokter yang tadi menangani Hadi.


"Suami saya kenapa Dokter? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?" Tanya Suharti penasaran.


"Beliau mendapat serangan jantung."


"Serangan jantung? Tapi bapak saya tidak pernah mengalami itu sebelumnya. Bahkan kondisi kesehatannya selalu baik selama ini ketika beliau melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin." Ucap Adit tak percaya.


"Mungkin ada sesuatu yang membuat beliau sangat terkejut hingga mendapat serangan jantung. Serangan jantung bisa dialami oleh siapa saja. Meskipun orang dengan kondisi kesehatan yang cukup baik." Jelas dokter itu singkat.


Semua terdiam.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Bapak tolong didaftarkan untuk rawat inap, agar bisa kita melakukan evaluasi kondisi keseluruhan saat beliau sudah siuman." Pinta dokter itu ramah.


"Baik Dokter. Terima kasih." Sahut Adit cepat.


Dokter itu pun segera pergi meninggalkan keluarga kecil Hadi yang sedang berusaha memahami penjelasan singkat dokter tadi.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara kamu, dasar wanita sialan!" Bentak Suharti tiba-tiba, seraya berdiri dan mengarahkan telunjuknya ke arah Aini.


Orang-orang yang ada di sekitar ruang IGD pun menoleh pada Suharti. Tak terkecuali Aini yang sudah berhasil menidurkan Umar dalam gendongannya.


"Kalau saja kamu tidak berselingkuh, Bapak tak mungkin sampai pingsan dan masuk rumah sakit." Imbuh Suharti tanpa ragu.


"Tapi Aini tidak berselingkuh Bu'." Jujur Aini.


"Dasar wanita jal*ng!" Umpat Suharti keras.


Aini menatap nanar pada ibu mertuanya. Ia memeluk erat putranya agar ia tidak mendengar dan terbangun karena suara Suharti yang begitu keras.


"Saya bukan wanita seperti itu Bu'!" Bela Aini tertahan, agar Umar tetap terlelap.


"Cih!" Sahut Suharti tak terima.


"Cukup! Ini di rumah sakit Bu'." Sela Adit cepat.


Suharti segera mendelik kesal. Sedang Aini segera menghampiri Hadi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Pak, bangunlah Pak! Maaf jika Aini yang membuat Bapak seperti ini. Tapi Aini tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan Ibu." Ucap Aini pelan setelah berada di samping ranjang Hadi.


Aini sangat menyayangi Hadi dengan tulus. Ia bisa merasakan kasih sayang Hadi padanya pun tulus sejak awal. Jadi, ia sangat sedih ketika melihat Hadi dalam keadaan seperti saat ini.


Adit segera menuju bagian pendaftaran untuk mengurus ruang rawat inap ayahnya. Ia meninggalkan ibu dan dua istrinya di IGD tanpa sepatah kata pun.


"Kita harus memanfaatkan ini!" Bisik Suharti cepat pada Ratri yang masih terpaku melihat Adit pergi begitu saja.


"Maksud Ibu?" Tanya Ratri bingung.


"Kita harus memanfaatkan situasi ini untuk menjauhkan Aini dari Adit." Jelas Suharti cepat.


Ratri terdiam. Ia sebenarnya kasihan pada Aini yang tak salah apapun. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan keinginan hati kecilnya untuk bisa memiliki Adit seutuhnya. Apalagi, ia mendapat dukungan besar dari ibu mertuanya.


"Gimana sama Bapak, Bu'?" Tanya Ratri bingung.


"Jangan sampai Bapak tahu dong! Kita sudah sejauh ini sekarang. Dan alam sepertinya sedang berpihak pada kita. Kita harus semakin memojokkan Aini sekarang. Dan dengan foto itu, kita bisa menang banyak pastinya." Jelas Suharti lagi.


Ratri kembali terdiam.


"Kamu berhak memiliki Adit seutuhnya Nak! Dan ini salah satu caranya. Tak usah khawatir, Adit tak akan mengetahuinya!" Imbuh Suharti.


Ratri menatap Suharti dengan ragu. Tapi sedetik kemudian, ia menganggukkan kepalanya dengan yakin. Dan Aini melihat dan mendengar itu semua, karena hendak memanggil kedua wanita itu dan mengatakan bahwa Hadi telah sadar.


"Sejahat itukah kalian padaku? Apa salahku hingga kalian tega melakukan itu padaku?" Batin Aini pedih.


"Dari mana Ibu mendapatkan foto itu Bu'?" Tanya Ratri penasaran.


"Dari salah satu teman Ibu. Tadi siang, ia sedang makan di tempat Aini bekerja. Ia tak sengaja melihat Aini yang sedang menghampiri temannya." Jelas Suharti cepat.


"Jadi, Aini benar-benar tidak selingkuh Bu'?" Tanya Ratri cepat.


"Ibu tak tahu tentang itu. Tapi dia bilang, Aini mengobrol sangat santai dengan laki-laki itu." Jelas Suharti lagi.

__ADS_1


Dua orang wanita itu, segera teralihkan perhatiannya, saat melihat dokter yang tadi menangani Hadi menghampiri bilik perawatan Hadi karena sudah dipanggil oleh Aini. Aini memilih tak menghiraukan ibu mertua dan madunya demi sang ayah mertua agar lekas membaik kondisinya.


Tak ada yang tahu takdir seperti apa yang akan kita temui. Jalan apa yang kita lalui. Tapi semua itu, adalah proses yang harus kita lalui untuk menuju takdir kita selanjutnya.


__ADS_2