Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Gagal


__ADS_3

Matahari begitu terik siang ini. Sinarnya menelusup dan menembus segala hal yang ia temui dengan begitu paripurna. Memberikan rasa yang berbeda-beda bagi setiap hal yang mungkin telah tercipta.


Lalu lintas Kota Surabaya cukup padat siang ini. Kendaraan-kendaraan, berjajar begitu panjang memenuhi jalanan kota. Mengantri dan menunggu giliran, agar segera sampai tujuan.


Termasuk sebuah mobil sedan berwarna hitam. Yang di dalamnya ada seorang pengemudi perempuan yang sedang sangat kesal. Ia bahkan mengemudi sambil mengumpat cukup keras.


"Aarrhh! Kenapa harus ketahuan sih!" Umpatnya kesal seorang diri.


Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia pun sedikit mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang berasal dari tas kecilnya. Ia lali meraih wireless earphone miliknya yang ia simpan di dekat kursi kemudi.


"Ya. Ada apa?" Ucapnya ketus karena menahan amarah.


"Kapan kamu akan melakukan bagianmu?" Ucap seseorang dari seberang telepon.


"Sudah."


"Kapan? Dan bagaimana hasilnya?"


"Barusan."


"Kamu gila? Ini masih siang."


"Aku nggak peduli. Aku cuma ingin, wanita itu segera pergi."


"Lalu, bagaimana hasilnya?"


"Kita lakukan rencana kedua."


"Dasar!"


"Terserah!"


Panggilan segera terputus. Wanita itu pun segera melepaskan wireless earphone yang ia kenakan. Ia pun kembali fokus mengemudi dengan perasaan yang masih sangat kesal.


...****************...


Kantor. Sebuah tempat yang jika siang tiba, akan sangat padat dan penuh dengan segala hiruk pikuk para pekerjanya. Tempat yang akan sangat sibuk dengan segala urusannya masing-masing.


Begitu juga dengan kantor Ardi. Selalu sibuk dengan berbagai hal. Tak terkecuali sang empunya kantor. Ia sudah cukup sibuk sejak pagi, karena beberapa pekerjaan yang sempat ia tunda karena ingin fokus dengan operasi Kenzo.


"Kamu? Ngapain pagi-pagi kesini? Kangen sama aku?" Tanya Ardi santai, pada tamunya yang baru saja masuk ke ruangan kantornya.


Ardi berjalan ke arah sofa di ruangannya. Sang tamu pun ikut berjalan ke arah yang sama dengan Ardi.


"Nih!" Ucap sang tamu, sambil melemparkan beberapa lembar kertas yang ia bendel jadi satu.


"Apa ini?" Tanya Ardi penasaran.


"Baca sendiri!" Sahut sang tamu santai, sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.


Ardi segera meraih lembaran kertas itu. membacanya dengan seksama. Membolak-balik kertas-kertas itu, untuk meyakinkan apa yang ia baca tidaklah salah.


"Maksudnya apa, Lang?" Tanya Ardi tak paham.


Sang tamu yang tak lain adalah Gilang, menggelengkan kepalanya keheranan.


"Masak nggak tahu itu apa?" Cibir Gilang kesal.


"Ya, aku tahu ini apa. Tapi, maksudnya apa kasih aku semua ini?"


"Itu adalah obat yang ada di dalam alat suntik yang ditemukan oleh pengawalmu, di bawah ranjang Aini." Jujur Gilang sembari menahan kekesalannya.


"Apa maksudmu?" Tanya Ardi geram.


"Ada yang berniat mencelakai Aini dengan obat itu."


"Siapa dia? Dan kenapa aku tak tahu tentang masalah ini?" Marah Ardi.


"Tenanglah! Aku yang meminta pengawalmu untuk merahasiakan ini darimu, sementara aku mencari tahu obat apa itu. Aku juga meminta mereka untuk memperketat penjagaan untuk Aini." Jelas Gilang, demi menenangkan sahabatnya itu.


"Kapan itu terjadi?"


"Kemarin siang."


"Kenapa Reno tak melapor padaku?" Geram Ardi.

__ADS_1


"Aku belum tahu obat apa itu, jadi aku meminta mereka merahasiakan kejadian kemarin terlebih dahulu. Dan setelah aku dapat hasilnya, aku langsung kemari tadi."


Ardi kembali membaca lembaran kertas itu. "Siapa pelakunya?"


"Dari pengakuan pengawalmu, Oliv." Jawab Gilang tegang.


Hati Ardi seketika bergemuruh tak terkendali. Sorot matanya langsung berubah begitu marah dan penuh dendam. Dia segera berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.


"Ke ruanganku sekarang! Panggil Reno!" Ucap Ardi singkat, setelah ia memencet salah satu tombol di telepon kantornya.


"Jangan gegabah, Di! Setelah kejadian kemarin, Oliv pasti sudah menyiapkan diri untuk menghadapimu. Atau mungkin, dia sudah memiliki rencana cadangan yang jelas, tidak kita ketahui." Nasehat Gilang perlahan.


"Itu bukan obat sembarangan, Lang." Sanggah Ardi sambil menahan amarahnya.


"Aku tahu. Kamu saja harus melalui pasar gelap agar bisa mendapatkan obat itu selama ini, bukan? Dan tidak sembarang orang bisa mendapatkannya." Jawab Gilang penuh penekanan.


"Siapa yang membantu Oliv?" Gumam Ardi penasaran.


"Itu yang harus segera kamu cari tahu! Dan apakah, orang itu juga ada hubungannya dengan Aini atau tidak. Karena itu sangat menentukan, bagaimana ini akan berlanjut. Karena aku yakin, ini tidak akan berhenti sampai di sini begitu saja."


Ardi kembali duduk di tempatnya tadi. Ia sependapat dengan apa yang Gilang utarakan. Ia pun mulai memikirkan banyak hal dan banyak kemungkinan.


Dan saat itu terjadi, Dika dan Reno datang ke ruangan Ardi bersamaan. Gilang segera meminta mereka ikut duduk dan merundingkan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Ardi.


"Maafkan kami, Pak! Kami kurang waspada." Ucap Reno bersalah.


"Tingkatkan kewaspadaan kalian! Jangan sampai terulang lagi!" Pesan Gilang tegas.


"Baik, Pak."


"Jadi, bagaimana kondisi Aini sekarang?" Tanya Ardi cemas.


"Apa kamu belum bertemu dengannya sejak kemarin pagi?" Sahut Gilang tak percaya.


"Apa maksudmu? Aku menemaninya hingga ia tertidur semalam." Jawab Ardi tanpa malu.


"Lalu, kenapa masih bertanya?"


"Dokternya kamu atau aku?" Ketus Ardi.


"Ya wajar dong kalau aku bertanya padamu? Apa iya, aku harus tanya sama cicak?" Geram Ardi.


Dua sahabat itu memang kadang bisa beradu mulut dengan alasan yang sepele dan bahkan terkesan tak jelas. Tapi di balik adu mulut tak jelas itu, ada rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Ada perhatian tulus dari hati mereka masing-masing.


Dan orang-orang di sekitar mereka, sudah sangat biasa dengan hal itu. Termasuk Dika dan Reno. Jika Ardi dan Gilang sudah beradu mulut seperti saat ini, mereka hanya bisa menikmati adegan yang terkadang lucu tapi sedikit dibumbui ketegangan itu.


"Obat itu belum sampai ke tubuh Aini." Jawab Gilang mengalah, setelah sekian banyak kata yang keluar.


"Lalu, ini?" Tanya Ardi, sembari menunjukkan salah satu halaman yang tadi di bawa Gilang.


"Itu kandungan obat bius yang ada di tubuh Aini. Oliv mencampur obat bius itu ke dalam minuman Aini. Dan sepertinya, Aini meminumnya cukup banyak."


"Apa itu akan berakibat buruk pada kondisinya sekarang?"


"Tidak. Semua masih dalam kondisi yang baik. Dan jika kondisi Aini stabil, esok ia sudah bisa pulang. Tapi aku masih harus tetap memantau kondisinya."


"Oke. Terima kasih."


"Maaf, Pak Dika, Reno! Bisa tinggalkan kami?" Pinta Gilang santai, tanpa menjawab Ardi.


"Tentu, Pak Gilang." Jawab Dika dan Reno bersamaan.


"Kami permisi, Pak." Pamit Dika.


"Iya." Jawab Ardi singkat.


Dika dan Reno pun keluar dari ruangan Ardi. Mereka lantas kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


"Kenapa?" Tanya Ardi cepat.


"Kamu serius nggak sih sama Aini?" Tanya Gilang tanpa ragu.


"Ya serius, dong."


"Terus, kapan kamu mau nikahin Aini? Dia bukan manekin, Di. Dia punya perasaan."

__ADS_1


"Setelah Kenzo stabil. Aku sudah membicarakannya dengan papa dan mama."


"Kamu yakin dengan Aini?"


"Maksudmu?"


"Aini pernah terluka, Di. Dia pasti akan sangat berhati-hati untuk hal satu itu. Karena ia pasti tak ingin kembali terluka."


Ardi terdiam. Ia sadar, Aini tak pernah mengatakan apapun tentang bagaimana perasaannya pada Ardi selama ini.


"Tapi, dia tak pernah menolak perlakuanku." Bela Ardi sedikit ragu.


"Kamu kan memang tipe pemaksa." Cibir Gilang.


"Mana ada hal seperti itu?"


"Yakin?"


"Iyalah."


"Terserahlah!"


Gilang akhirnya tak mau berdebat lagi dengan Ardi. Ia sudah sangat paham bagaimana sikap Ardi jika sedang berdebat. Benar-benar tak mau kalah. Jadi, ia memilih untuk mengiyakan apa yang Ardi katakan. Yang sebenarnya, ia juga tahu kebenarannya.


Ya, Aini sangat beruntung kali ini. Karena para pengawal Ardi yang segera menyadari keanehan perawat itu, nyawanya terselamatkan dari sebuah obat.


Sebuah obat yang sangat jarang diketahui oleh orang banyak. Obat, yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh orang kebanyakan, bahwa obat seperti itu ada. Obat yang jelas, dilarang peredarannya secara legal. Karena itu lebih mirip seperti racun daripada sebuah obat.


Ardiansyah El Baraja, bukanlah orang sembarangan. Meski pun, mungkin pekerjaannya hanya terlihat sebagai pengusaha biasa, tapi karena statusnya itulah, yang memaksanya mengenal banyak hal yang tak terduga.


Termasuk pasar gelap yang menjual barang-barang ilegal. Dan karena pemahamannya tentang hukum yang sangat tinggi, ia bisa sedikit mencari celah untuk bisa menutupi hal itu. Karena sesungguhnya, hal itu ia lakukan demi menjaga keluarganya, dari para rival-rival bisnisnya. Yang terkadang, bisa bertindak di luar batas kemanusiaan.


...****************...


Hari pun berganti. Seperti yang dikatakan Gilang kemarin saat di kantor Ardi, jika kondisi Aini stabil, Aini bisa pulang hari ini. Dan itu ternyata benar adanya.


Kondisi Aini cukup stabil. Jadi, Gilang pun mengijinkan Aini untuk pulang hari ini. Dan sampai saat ini, saat ia sudah berkemas dan bersiap untuk pulang, ia tidak tahu bahwa kemarin ia sempat dibius oleh Oliv dan hampir dicelakai oleh Oliv.


"Ayo, kita pulang!" Ajak Ardi semangat.


"Bolehkah aku menemui Kenzo sebentar?" Pinta Aini dengan ragu-ragu.


"Jika kamu menemui Kenzo sekarang, pasti tidak akan sebentar, Sayang. Kenzo pasti akan menahanmu di sana, dan kamu tidak akan bisa segera pulang." Jawab Ardi santai.


"Tapi aku rindu padanya, Mas." Rengek Aini manja, sambil menyandarkan tubuhnya ke ranjang.


Ardi yang sedang membantu Aini berkemas, segera menghentikan gerakannya. Ia menoleh pada Aini dengan tatapan sedikit terkejut dan tak percaya.


Ardi yang berada di dekat sofa, lalu berjalan mendekati Aini yang sedang sedikit merapikan ranjang yang kemarin menjadi tempat tidurnya selama tiga hari. Aini melirik ke arah Ardi yang berjalan mendekatinya.


"Kenapa, Mas?" Polos Aini.


Ardi diam tak menjawab. Ia terus berjalan mendekati Aini dan memaksa Aini memepetkan tubuhnya ke ranjang yang baru saja selesai ia rapikan.


"Ada,, apa,, Mas?" Tanya Aini gelagapan, karena Ardi terus mendekat padanya.


Dua tangan Ardi segera bertumpu pada ranjang. Dan dengan sangat sempurna mengurung Aini di samping ranjang. Aini pun refleks memundukan kepalanya, agar wajahnya tetap berjarak dengan wajah Ardi.


"Kenapa kamu menjadi begitu manja, Sayang?" Lirih Ardi, tepat di depan wajah Aini.


Aini menelan salivanya dengan keras. Dua bola matanya, segera membuang pandang dari dua bola mata yang sedang menatapnya dengan seksama.


"Mas,, Mas,, Ardi,, bicara apa?" Tanya Aini sekenanya.


Aini sebenarnya tahu, maksud ucapan Ardi. Ia menyadari, jika nada bicaranya tadi sedikit manja pada Ardi. Dan itu belum pernah terjadi sebelumnya.


Ardi tersenyum melihat reaksi Aini yang sedikit salah tingkah. Apalagi, posisi mereka kini, sungguh membuat Ardi bisa menang banyak.


"Sudah! Ayo pulang!" Ajak Ardi santai.


Ardi segera menegakkan tubuhnya dan membebaskan Aini dari kungkungannya. Ia pun segera meraih tangan Aini dan menggandengnya untuk pulang bersama.


Saat sampai di rumah, Aini jelas disambut oleh kehebohan Umar. Ia bahagia, ibunda tersayangnya sudah pulang ke rumah. Sri dan Prapto pun ikut bahagia menyambut Aini.


Kabar baik, tentu membuat hati bahagia. Dan kebahagiaan itu, bisa membawa energi positif bagi siapa saja. Yang tentu, juga akan membawa pikiran yang posistif, hingga membuat semua hal pun menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2