
"Ikuti Aini! Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat!"
Kalimat itu, terdengar lirih di sepanjang lorong kelas sekolah. Tapi, kalimat itu juga menelusup dengan cukup pasti di telinga Mala.
Mala sedang berjalan beriringan dengan Ardi untuk kembali ke aula, setelah kepulangan Aini. Mala segera menoleh pada Ardi yang sedang menelepon seseorang sembari terus berjalan dengan kaki jenjangnya. Perasaan Mala seketika menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan Ardi.
Sedang di sisi lain, Aini sedang merasakan sedih hatinya. Hati mana yang tak sedih, ketika orang yang terkasih, diperlakukan dengan kasar oleh seseorang yang seharusnya bertindak lebih lembut padanya?
Hati Aini tidak tenang sepanjang perjalanan pulangnya, mengingat perlakuan Adit pada Umar tadi. Sembari menahan sakit di kakinya karena terkilir, ia mengendarai motornya dengan linangan airmata yang tak dapat dibendungnya. Ia sangat merasa bersalah.
Dan karena pikirannya yang sedang kalut, Aini tak menyadari, ada seseorang yang sedang mengikutinya sejak tadi. Dia Dika, asisten pribadi Ardi.
"Bu Aini, sampai di rumah dengan selamat, Pak." Ucap Dika ketika sambungan teleponnya sudah tersambung, dengan mata yang tak lepas dari Aini yang sedang memasukkan motornya ke halaman rumah sang majikan.
Dika pun segera meninggalkan rumah yang merangkap jadi tempat usaha kecil-kecilan milik Dewi itu. Ia kembali ke sekolah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saat sampai di rumah Dewi, ia disambut dengan rentetan pertanyaan dari sang majikan, yang langsung mengkhawatirkan kondisi Aini. Meski Aini belumlah lama menjadi asisten rumah tangga Dewi, tapi ia sudah menganggap Aini seperti keluarganya. Ia akan sangat khawatir jika terjadi hal buruk pada Aini.
Aini pun menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi. Reaksi Dewi sungguh diluar dugaan Aini. Ia meluapkan kekesalannya pada Adit karena memperlakukan Umar dengan kasar. Ia bahkan sangat gemas pada Aini karena tak bisa membawa Umar pulang dengannya saja.
Memang, tak semua hal berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Tak semua yang kita harapkan akan segera terkabulkan. Tapi, pasti ada waktu dimana itu semua akan terwujudkan.
...****************...
Suara rintik hujan, menemani sang mentari memulai tugasnya. Menghalangi kehangatan pagi, yang dinanti oleh para pemilik jiwa. Membuat rasa, terasa lebih dingin dari biasanya.
Kenzo bangun dengan semangat yang tinggi pagi ini. Meski mentari tak secerah suasana hatinya, tak membuatnya memendungkan raut wajahnya yang tampan.
"Bahagia banget kayaknya pagi ini?" Sapa Niken yang sangat paham ekspresi cucu semata wayangnga.
"Iya dong, Oma. Kan hari ini hari Rabu, bunda nanti datang ke sekolah. Tapi, kemarin Kenzo belum pesan sesuatu untuk dibuatin bunda kalau ke sekolah." Jawab Kenzo antusias.
Niken segera menoleh pada Ardi, yang sedang mengambil sarapan paginya. Ardi yang juga mendengar jelas ucapan putranya, segera menoleh pada Kenzo, yang sedang meminum sedikit susu hangatnya.
"Bunda? Bunda siapa, Kenzo?" Tanya Ardi datar.
"Tante Aini, Pa. Papa lupa? Kemarin kan Kenzo udah cerita. Kenzo sekarang manggil tante Aini, bunda. Kayak Umar." Jawab Kenzo sedikit kecewa.
Ardi mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang diucapkan Umar. Ia sebenarnya sangat ingat tentang itu. Hanya saja, ada sesuatu yang terasa aneh ketika Kenzo mengatakan itu tadi.
Ardi sebenarnya sangat memeperhatikan putranya. Ia selalu memantau perkembangan putranya dari ibunya. Niken pun selalu memberi tahu Ardi dengan gamblang apa-apa saja yang selalu Kenzo ceritakan dan lakukan.
Kenzo sebenarnya sudah sering menceritakan tentang Aini pada nenek, kakek dan ayahnya. Tapi, mereka tidak mengira, jika kedekatan Kenzo dan Aini sudah sangat jauh.
"Oh iya, Papa lupa." Bohong Ardi sambil sedikit tertawa untuk menghibur putranya.
"Papa gimana sih?" Gerutu Kenzo.
"Maafin Papa ya, Sayang!" Ucap Ardi, sambil mengusap lembut kepala Kenzo, yang sedang menikmati roti lapisnya.
"Tapi Pa, kenapa ayahnya Umar jahat sama bunda kemarin?" Tanya Kenzo polos.
"Jahat gimana maksud Kenzo?" Sela Niken.
"Waktu ada acara kemarin, Oma. Kan Oma juga lihat, ayahnya Umar jahat sama Umar sama bunda." Jelas Kenzo polos.
Semua terdiam.
"Mereka hanya pura-pura, Sayang. Lagi main sinetron mungkin. Kayak sinetron yang sering Oma tonton itu lhoo. Kan kadang juga ada yang jahat gitu." Jawab Niken tiba-tiba.
"Oh, gitu. Jadi, kemarin ayahnya Umar cuma pura-pura?"
"Iya dong. Masak ayahnya Umar, jahat sama Umar?"
Kenzo pun akhirnya menganggukkan kepala. Ia cukup paham dengan apa yang dikatakan oleh neneknya.
Ardi dan Rama menatap bergantian pasangan nenek dan cucunya yang sedang berbincang itu. Pikiran Ardi pun melayang pada kejadian minggu lalu. Bagaimana seorang ibu diperlakukan tidak adil oleh ayah dari putranya.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan pak Adit waktu itu? Umar dijual oleh ibunya? Bagaimana bisa? Sedangkan dari cerita bu Mala, Aini hak asuhnya direbut oleh pak Adit. Mana yang benar?" Batin Ardi di sela makannya.
Ardi masih ingat, ucapan Adit kala ia sedang berdebat dengan Aini. Awalnya Ardi tidak menghiraukan ucapan Adit, tapi ia baru merasa janggal pagi ini, setelah Kenzo menanyakan tentang sikap buruk Adit pada Umar dan Aini.
Setelah selesai sarapan, Kenzo pun berangkat sekolah seperti biasa. Diantar oleh sopir yang berpura-pura sebagai ayahnya.
Saat bel tanda masuk sekolah berbunyi, Kenzo mencari-cari keberadaan Umar. Dan ternyata, ia tidak masuk hari ini. Dengan alasan sedang sakit. Itu yang wali kelas Kenzo katakan.
Dan lagi. Saat jam istirahat tiba, Kenzo harus kembali kesepian. Karena Aini pun, ternyata juga tidak datang ke sekolah hari ini. Kenzo pun mendadak murung. Ia bahkan meminta ijin untuk pulang lebih awal karena tiba-tiba merasa malas bersekolah hari ini.
Pihak sekolah pun akhirnya menghubungi Niken untuk memberi tahu, bahwa Kenzo ingin pulang lebih awal. Niken pun segera meminta sopir untuk menjemputnya seperti biasa.
Dan saat sampai di rumah, Kenzo segera menceritakan alasannya ingin pulang lebih cepat hari ini. Niken pun segera memberi tahu Ardi tentang itu.
"Cari tahu semua informasi tentang Aini! Terlebih, masa lalunya dan bagaimana bisa hak asuh putranya pindah ke tangan ayahnya." Pinta Ardi pada Dika, yang sedang berdiri tegap di depan meja kerjanya.
"Baik, Pak." Sahut Dika patuh.
Bukan hal sulit bagi Ardi untuk mengetahui semua itu. Nama besar keluarganya, sudah dikenal oleh banyak orang. Terlebih, semenjak ia berhasil mengelola semua usaha ayahnya dengan sangat baik.
Sedang di sisi lain, Aini sedang sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Ia sedikit terisak, karena tak bisa menemui dua putranya hari ini. Airmatanya pun menemaninya dengan setia sejak tadi.
"Kamu nggak ke sekolah Umar, Ni?" Tanya Dewi penasaran.
"Tidak Bu." Jawab Aini singkat.
"Kenapa? Kamu nggak enak badan? Kakimu masih sakit?" Tanya Dewi perhatian.
"Alhamdulillah, saya sehat. Kaki saya juga sudah tidak sakit, setelah di urut sama pak Galih kemarin." Jujur Aini.
"Terus?"
"Saya takut, Umar akan dimarahi lagi oleh ayahnya jika ketahuan bertemu lagi dengan saya nanti."
"Ya kamu belain dong, Ni!"
Dewi pun menghela nafasnya. Ia yakin, ucapan Aini benar adanya. Mengingat, Aini adalah mantan istri Adit, jadi ia lebih tahu bagaimana sifat Adit.
"Ya sudah, sabar!" Ucap Dewi sambil mengusap punggung Aini.
Aini hanya mengangguk.
Dewi paham bagaimana perasaan Aini saat ini. Ia tahu, bagaimana beratnya hidup Aini sampai saat ini, hanya karena sikap Adit yang sangat keras.
Lalu, kenapa Umar juga tidak ke sekolah hari ini?
Umar sebenarnya sama seperti Kenzo pagi ini. Ia selalu bahagia menyambut hari Rabu tiba. Apalagi kalau bukan karena ia akan bertemu ibu kandungnya di sekolah nanti.
Tapi, itu semua lenyap tak bersisa pagi ini, setelah ia menyelesaikan sarapannya.
"Kamu tidak boleh ke sekolah hari ini! Ayah sudah mengirimkan surat ijin ke sekolah tadi." Ucap Adit setelah ia juga selesai dengan sarapannya.
"Kenapa, Yah?" Tanya Umar bingung.
"Ayah bilang nggak boleh, ya nggak boleh!" Tegas Adit sedikit keras.
"Tapi Umar tetap mau berangkat ke sekolah." Sahut Umar berkeras.
"Kamu berani membantah Ayah sekarang?" Ancam Adit cepat.
Hati Umar mendelik ketakutan. Ia teringat, bagaimana perlakuan ayahnya jika ia sedang marah. Umar pun segera berlari ke kamarnya dan menangis.
Hadi mencoba menegur putranya, agar tidak terlalu keras pada Umar. Karena bagaimanapun, Umar adalah putranya yang harus ia jaga dan rawat dengan baik.
Tapi itu semua, tak dihiraukan oleh Adit. Ia masih diliputi oleh kekesalannya karena merasa kecolongan dengan ulah Aini yang menemui Umar di sekolah. Ia juga sangat kecewa pada Ratri, karena mengijinkan Aini ke sekolah Umar, tanpa sepengetahuannya.
Keesokan paginya, Ardi sudah menerima semua informasi tentang Aini yang berhasil didapat oleh Dika. Ia bahkan mengetahui, alasan kenapa hak asuh Umar bisa jatuh ke tangan Adit.
__ADS_1
"Keluarkan pengacara ini dari firma hukum kita! Buat dia, tak bisa bekerja lagi di firma hukum manapun atau bahkan mendirikan biro konsultasi hukumnya sendiri!" Pinta Ardi tegas.
"Baik, Pak." Jawab Dika patuh.
Dika yang memang sudah sejak lama menjadi asisten pribadi Ardi, sudah mempersiapkan hal itu sejak kemarin. Ia sangat paham, atasannya itu sangat tidak bisa melihat kecurangan dan ketidakadilan di firma hukumnya. Itulah Ardi.
Laki-laki dengan usia kepala empat itu, segera mengubungi bawahannya untuk segera melaksanakan permintaan sang pemilik firma hukum. Ia pun dengan cepat memproses segala yang berasangkutan dengan pemberhentian hubungan kerja dengan salah satu pengacaranya yang berada di Jogja itu.
Saat sang surya telah tergelincir ke barat, Ardi baru saja menyelesaikan semua agenda kerjanya hari ini.
"Kita ke rumah Aini!" Pinta Ardi dari kursi belakang.
"Baik, Pak."
Dika segera melajukan mobilnya menuju alamat rumah dimana Aini bekerja.
Saat sampai, Ardi sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya. Tapi, ada sesuatu yang kuat, mendorongnya melangkahkan kakinya menuju sebuah konter pulsa yang berada di pojokan halaman rumah.
"Mari, Pak! Cari apa?" Tanya seorang wanita yang sedang duduk dibalik etalase, Dewi.
"Apa benar, ini rumah Aini?" Tanya Ardi sungkan.
"Iya?" Ucap Dewi tak percaya.
Kenapa? Karena selama ini, belum pernah ada, laki-laki yang mencari Aini. Apalagi, laki-laki di hadapannya terlihat sangat tampan. Dengan setelan kerjanya yang masih rapi, badan yang tinggi nan tegap, membuat Dewi cukup terkejut dengan pertanyaannya.
"Maaf, apa Aini bekerja di sini?" Ulang Ardi.
"Oh, iya. Tapi, sebentar! Saya sepertinya pernah melihat Anda. Apa kita pernah bertemu?" Jujur Dewi, sambil mengingat wajah laki-laki di hadapannya.
"Saya rasa, belum."
"Ya sudah. Anda siapa?"
"Saya Ardi."
"Ah iya. Anda Pak Ardiansyah El Baraja, kan? Pemilik MK Construction." Terka Dewi segera.
Ardi hanya tersenyum. Dewi segera menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.
"Apa Aini ada?" Tanya Ardi, membuyarkan keterkejutan Dewi.
"Oh, iya, ada, ada. Sebentar saya panggilkan." Sahut Dewi gugup.
Dewi segera berlari ke dalam rumah. Ia bahkan berteriak untuk memanggil Aini. Sedang Ardi, menunggu di depan konternya.
"Ni, kamu dicariin Ardiansyah El Baraja." Ucap Dewi antusias.
"Siapa itu, Bu? Tapi kok sepertinya tidak asing?" Tanya Aini bingung.
"Pemilik yayasan sekolahnya Umar." Jawab Dewi girang.
"Apa? Kenapa Pak Ardi mencari saya?" Tanya Aini panik. Ia takut, kalau Adit melaporkannya dan pihak sekolah mengambil tindakan.
"Aku nggak tahu, Ni. Kamu temuin aja dulu!" Saran Dewi.
"Saya takut, Bu."
"Takut kenapa? Orangnya ganteng gitu kok." Celetuk Dewi santai.
"Gimana kalau mas Adit ngelaporin ke pihak sekolah tentang yang kemarin, Bu? Terus, pihak sekolah ambil tindakan." Ucap Aini makin panik.
"Iya juga ya."
Dewi yang tadi kegirangan karena bertemu dengan orang sehebat Ardi, mendadak panik dan cemas karena penuturan Aini. Ia juga takut, jika nanti terjadi sesuatu dengan Aini.
"Gimana, Bu?" Tanya Aini makin panik.
__ADS_1