Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Ditemukan Part 3


__ADS_3

WARNING‼️πŸ”₯


Dalam bab ini, terdapat beberapa kata kasar dan tindakan yang kurang pantas. Harap bijak dalam membaca πŸ™πŸΌπŸ˜Š


Terima kasih πŸ™πŸ˜Š


****************


"Ribut banget sih!" Gerutu Reni, saat berada di samping tubuh Aini yang mulai sedikit bergerak.


"Iya, Bos." Sahut salah satu rekannya, yang sedang sibuk dengan Aini.


"Kamu cek sana!" Pinta Reni kesal.


"Tanggung, Bos. Ini dikit lagi udah telanjang. Aku udah nggak tahan." Rengek rekan Reni, yang sedang mengoyak pakaian Aini.


"Gila kamu! Wanita udah lusuh dan bau kayak gitu, kamu masih doyan." Cibir Reni.


Laki-laki anak buah Reni itu hanya cengengesan. Ia masih sibuk mengoyak gamis Aini yang sudah dirobeknya dengan sangat kuat.


Aini menggeliat sadar. Ia tersadar karena merasa ada yang menggoyangkan tubuhnya. Netra sayunya terbuka perlahan. Dan segera melihat seorang laki-laki yang beberapa kali ia lihat beberapa hari ini.


Airmata Aini segera mengalir deras. Ia tahu, bahwa pakaiannya sedang dikoyak oleh laki-laki itu. Yang bisa berarti bahwa, ia mungkin akan diperk*sa oleh laki-laki itu.


Aini menggeleng pelan. Ia tak sanggup berucap karena tubuhnya yang lemah dan kesakitan. Mulutnya berusaha berucap dan bersuara, tapi tak bisa.


Sedang di luar, Ardi dan para pengawalnya sedang berusaha mengalahkan anak buah Reni. Ardi dan Reno berjalan masuk mencari keberadaan Aini. Pengawal Ardi jelas lebih unggul. Mereka menang jumlah dan kemampuan saat ini.


Ardi menyadari, rumah yang ia sambangi saat ini, adalah rumah yang sama dengan yang ada di mimpinya tadi. Hanya saja, jika dalam mimpinya, rumah itu begitu terawat. Sedang kenyataan yang di depan matanya, rumah itu sedikit terbengkalai.


Ardi teringat sesuatu tentang mimpinya tadi. "Ruangan itu. Mungkinkah?"


Ardi segera menuju pintu yang berada di bagian dalam rumah. Pintu yang sama, dimana Aini menghilang dalam mimpinya.


BRAK. Pintu itu ditendang begitu keras oleh Ardi. Nampak seorang wanita cantik, yang baru saja menghindari pintu yang dibuka paksa dari luar.


"Wanita itu!" Geram Reno, saat melihat Reni berdiri di dalam ruangan.


Reno sangat kesal pada Reni. Karena ulah Reni kemarin, ia harus menerima pukulan dari Ardi, yang sangat tidak ia harapkan.


Reni menatap pintu yang baru saja terbuka paksa di hadapannya. Dua bola matanya seketika membulat sempurna, setelah menoleh ke arah pintu, dan melihat Reno di sana.


Anak buah Reni yang masih sibuk dengan Aini pun segera mengalihkan perhatiannya. Dua bola matanya terkejut melihat dua orang asing di depan pintu. Ia pun refleks berdiri.


"Apa? Kita ketahuan." Ucap Reni sedikit panik.


Ardi segera masuk ke ruangan itu. Netranya segera mencari keberadaan Aini, yang ternyata, masih berada di bawah kaki anak buah Reni, dengan tubuh yang nyaris telanjang.


"Baj*ngan!" Umpat Ardi penuh kemarahan.


Ardi segera berlari ke arah anak buah Reni. Ia tak menghiraukan Reni yang berusaha melarikan diri. Karena jelas, Reni akan ditangani oleh Reno, yang sedari tadi bersamanya.


BUG. Ardi menendang dengan sangat keras perut anak buah Reni. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang disertai dengan amarah yang membuncah.


Dan tak cukup sampai di situ. Ardi segera menghampiri anak buah Reni, dan menghajarnya tanpa ampun. Pukulan demi pukulan Ardi berikan dengan amarah yang menyertainya.


"Beraninya kau menyentuh Aini-ku!" Marah Ardi, dengan tangan yang terus memukuli anak buah Reni yang sedang menahan kesakitan.


Ardi benar-benar meluapkan amarahnya pada anak buah Reni. Ia sedikit melupakan Aini karena sedang diliputi amarah.


"Hentikan, Pak! Segera tolong bu Aini! Mereka, biar kami yang urus." Sela Dika, yang baru saja masuk setelah menangani para pengawal Ardi dan anak buah Reni.


Ardi segera menghentikan aksinya. Ia segera melepaskan cengkeraman tangannya dari anak buah Reni dan langsung berlari menghampiri Aini.

__ADS_1


Anak buah Reni tadi sudah terkapar tak berdaya karena ulah Ardi. Sedang Reni, harus dikalahkan oleh Dika dan Reno bersamaan. Karena memang, Reni bisa berkelahi. Dan kemampuan bela dirinya cukup mumpuni.


"Aini! Ini aku, Ni." Ucap Ardi, dengan tangan yang berusaha menutupi tubuh Aini yang nyaris telanjang.


Hati Ardi begitu pedih melihat kondisi Aini. Wajahnya sangat pucat dan kurus. Bibirnya kering dan kedua matanya nampak sangat kosong. Belum lagi, tubuh Aini yang nyaris dipenuhi luka kemerahan karena cambukan.


Ardi memangku tubuh bagian atas Aini. Ia ingin memastikan, bahwa Aini-nya masih selamat. Beberapa kali Ardi memanggil Aini. Menggoyangkan tubuh lemah itu, agar ia yakin, bahwa Aini-nya masih hidup.


Perlahan, netra yang kosong itu terbuka. Mulutnya pun mulai terbuka dengan sangat pelan.


"Mas Ardi?" Ucap Aini, tanpa suara dan sangat pelan gerakannya.


"Iya, Sayang. Ini aku." Jawab Ardi sedih.


Ardi tak dapat menahan airmatanya. Ia menangis pedih melihat kondisi Aini. Tapi, ia cukup lega, karena itu berarti Aini masih hidup.


Ardi pun segera mendekap tubuh lemah Aini. Ia tak memikirkan bahwa tubuh Aini sekarang sangatlah kotor karena beberapa hari tak tersentuh air. Ia hanya ingin mendekap wanitanya dengan segera.


"Kamu sedang apa, Di? Cepat bawa Aini ke ambulan!" Bentak Gilang, yang masuk paling belakang.


Ardi segera tersadar. Ia terlalu sedih melihat kondisi Aini tadi. Hingga melupakan ambulan yang ia minta untuk datang menjemput Aini.


"Bertahanlah, Sayang!" Pinta Ardi setelah melepaskan dekapannya.


Ardi segera mengangkat tubuh Aini yang sudah ia tutupi dengan pakaiannya yang sudah terkoyak tadi. Ia segera berlari menuju ambulan yang baru saja tiba di lokasi. Gilang pun langsung mengekorinya.


"Kamu harus bertahan, Sayang!" Pinta Ardi lagi, saat ia masih membawa Aini menuju ambulan.


Tapi sayang, netra sayu itu, perlahan kembali tertutup rapat. Ardi pun seketika panik, karena Aini tak merespon apapun saat ini.


Dua petugas medis yang diminta Gilang pun segera memeriksa kondisi Aini di dalam ambulan. Gilang pun ikut andil dalam memeriksa kondisi Aini. Karena bagaimanapun, Aini masih tetap pasiennya.


Gilang pun ikut ambulan yang membawa Aini bersama Ardi. Ia juga membantu dua petugas medis menangani Aini sembari menunggu ambulan tiba di rumah sakit.


"Tenanglah, Di! Kami sedang berusaha." Jawab Gilang sekenanya.


Karena sejujurnya, Gilang merasa pesimis dengan kondisi Aini saat ini. Kondisi Aini sungguh sangat buruk.


"Lakukan visum! Aku harus membuat orang-orang itu menyesal seumur hidup!" Pinta Ardi lagi, karena teringat sesuatu.


"Harus. Kamu harus melakukan itu!" Sahut Gilang.


Ardi menatap pilu pada Aini yang sedang diperiksa oleh Gilang dan dua perawat. Ia tak tahu, harus bagaimana menghadapi Aini saat ini.


"Itu tadi, bukan pertemuan terakhir kita, Sayang. Bukan! Kamu tak boleh pergi begitu saja." Batin Ardi cemas.


Kalimat yang Aini ucapkan di mimpi Ardi, terngiang tanpa henti di kepala Ardi. Membuat laki-laki tampan nan gagah itu, diliputi rasa takut akan kehilangan wanita yang disayanginya.


Setelah hampir dua puluh menit sirine ambulan yang Ardi tumpangi membelah kegelapan malam, mereka sampai di rumah sakit, dimana rekan Gilang yang sesama dokter bekerja.


Aini segera disambut oleh para petugas medis yang berjaga di IGD. Dan ternyata, juga ada rekan Gilang yang memang meluangkan waktunya untuk Gilang malam ini.


Gilang akhirnya menyerahkan Aini pada rekannya. Tak lupa, ia sedikit memberikan riwayat rekam medis Aini pada rekannya, agar rekannya bisa memberikan pertolongan yang tepat dan terbaik untuk Aini.


Gilang duduk di kursi tunggu menemani Ardi. Ia tahu, sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Sahabatnya itu jelas mengkhawatirkan kondisi wanita yang sedang ditangani para petugas medis itu.


"Dia akan baik-baik saja kan, Lang?" Tanya Ardi putus asa.


Ardi teringat, bagaimana netra sayu Aini terbuka perlahan, lalu mulut keringnya memanggil namanya tanpa suara. Hingga akhirnya, netra itu kembali tertutup rapat. Dan sampai saat ini, belum kembali terbuka.


Gilang terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan Ardi. Karena ia sangat paham, jika kondisi Aini sangat buruk. Dan mungkin, Aini saat ini dalam fase sangat kritis. Hanya keajaiban Yang Maha Kuasa, yang akan bisa membuatnya kembali lada orang-orang yang menantinya.


"Jawab aku, Lang! Aini pasti akan baik-baik saja, bukan?" Ucap Ardi makin putus asa.

__ADS_1


"Jangan lelah berdo'a! Mintalah keajaiban Tuhan untuknya!" Jawab Gilang singkat.


Hati Ardi hancur mendengar jawaban Gilang. Ia yang tadinya ragu bahwa kondisi Aini sangat buruk, tapi karena jawaban Gilang, kerguan itu malah menjadi keyakinan, bahwa Aini sangat tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku, Ni! Aku tak bisa menjagamu." Batin Ardi penuh penyesalan.


Saat Ardi diliputi oleh penyesalan dan kesedihan, ponselnya tiba-tiba berdering. Tapi Ardi membiarkannya begitu saja. Gilang pun akhirnya meminta ponsel Ardi yang berdering di saku celananya.


"Assalamu'alaikum, Tante." Ucap Gilang, saat panggilan tersambung.


"Gilang? Ardi dimana?"


Suara Niken menggema sempurna di ujung telepon.


"Sedang duduk, Tante. Ada apa?"


"Bagaimana kondisi Aini?"


"Sedang ditangani petugas medis, Tante."


"Kenapa bukan kamu?"


"Kami di Pasuruan, Tante. Dan ini bukan rumah sakit dimana Gilang bekerja."


"Pasuruan?"


"Iya, Tante."


"Lalu, bagaimana Aini? Dia baik-baik saja, bukan?"


"Do'akan yang terbaik untuknya, Tante!"


Niken diam. Panggilan pun hening seketika. Gilang sendiri, tak bisa memastikan bagaimana kondisi Aini yang masih ditangani petugas medis. Jadi, ia tak mengatakan banyak hal tentang kondisi Aini.


Tiba-tiba, suara di seberang telepon berubah.


"Baiklah, Lang. Kabari kami lagi apapun yang terjadi!" Suara Rama, tiba-tiba terdengar di ujung telepon.


"Baik, Om."


"Terima kasih. Tolong temani Ardi dulu!"


"Tentu."


Panggilan segera berakhir. Gilang menoleh pada Ardi yang masih begitu terpukul dengan apa yang ia hadapi saat ini.


"Tenanglah! Kuatkan hatimu!" Ucap Gilang tulus.


Ardi diam tak merespon. Kepalanya tertunduk dalam mengingat wajah Aini tadi. Mengingat setiap detil kejadian yang baru saja dihadapinya.


Dan ternyata, ponsel Ardi kembali berdering. Tapi kini, Reno yang menghubungi.


"Ini dari Reno." Ucap Gilang, seraya menyerahkan kembali ponsel Ardi.


Ardi lalu menoleh dan meraihnya.


"Kami sudah mengamankan semuanya, Pak." Ucap Reno cepat, saat panggilan sudah tersambung.


"Bawa mereka ke rumah lama! Segera interogasi dan bawa pelaku sebenanya!" Sahut Ardi segera.


"Baik, Pak."


Panggilan segera berakhir. Ardi pun kembali berdo'a yang terbaik bagi Aini..

__ADS_1


__ADS_2