
Pagi yang cerah menyapa. Suara-suara alam, saling bersahutan satu sama lain. Memberikan nada-nada penuh asa bagi para pendengarnya. Memberikan rasa yang begitu memabukkan pada setiap jiwa yang terjaga.
Di sebuah rumah, di salah satu sudut Kota Surabaya, dua orang wanita tengah menikmati sarapan mereka. Tiba-tiba, bel pintu rumah mereka berbunyi. Sang ART pun segera berlari untuk membukakan pintu.
"Siapa, Mbak?" Sapa seorang wanita yang berpenampilan tomboy dari arah meja makan.
Wanita yang bekerja sebagai ART di rumah itu segera kembali masuk ke dalam rumah. Ia nampak sedikit kebingungan.
"Saya nggak tahu, Bu. Beliau bilang, ingin bertemu Ibu berdua." Jawabnya jujur.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya wanita yang satunya.
"Laki-laki, Bu. Dua orang."
"Laki-laki?" Ucap dua wanita itu bersamaan.
"Iya, Bu."
Dan tiba-tiba,,
"Pagi, Liv!" Sapa sang tamu yang tadi sempat dipersilahkan masuk oleh sang ART.
"Mas Ardi?" Ucap pemilik rumah penuh keterkejutan.
Sang tamu hanya tersenyum kecil.
Ah ya, ini adalah rumah Oliv. Rumah dengan satu lantai yang cukup jauh dari kesan mewah. Jika mengingat, ia adalah seorang model profesional.
Dan tamu Oliv adalah Ardi dan Dika.
Oliv segera beranjak dari kursinya. Begitu juga Desi, yang juga segera menghampiri dua tamunya itu. Oliv begitu antusias melihat kedatangan Ardi ke rumahnya. Raut wajahnya begitu bahagia.
"Ayo Mas, duduk dulu! Eh, Mas udah sarapan?" Tanya Oliv sumringah.
"Udah tadi." Jawab Ardi datar.
"Mbak, tolong buatin minum ya!" Pinta Oliv sedikit berteriak.
"Ya, Bu'." Jawab sang ART dari dapur.
"Pagi, Di. Pagi Pak Dika." Sapa Desi.
"Selamat pagi, Bu Desi." Jawab Dika sopan.
Ardi hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk membalas sapaan Desi. Desi sudah terbiasa dengan Ardi dan Dika. Jadi, ia pun santai menghadapi dua tamunya pagi ini.
Oliv segera menarik tangan Ardi menuju kursi tamu yang ada di rumahnya. Ia lalu duduk tepat di samping Ardi. Hatinya begitu bahagia melihat Ardi berada di rumahnya. Seolah-olah, dewi fortuna sedang datang ke rumahnya.
"Mas tahu alamat rumah baruku dari mana?" Tanya Oliv penasaran.
__ADS_1
"Dika. Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukan rumahmu." Jawab Ardi lebih ramah.
Oliv pun tersenyum bahagia. Ia tak menyangka, Ardi diam-diam memperhatikannya. Sampai-sampai, ia mencari informasi pribadi tentang dirinya. Sejenak ia lupa, nasehat Desi beberapa hari yang lalu.
"Ada apa pagi-pagi kemari? Pasti ada hal penting yang membawa seorang Ardiansyah El Baraja, pagi-pagi datang kemari. Iya bukan?" Tanya Desi tanpa ragu.
"Iya. Aku ingin bertemu dengan kalian." Jujur Ardi.
Hati Oliv mendadak berdebar-debar. Ia tak mengira, Ardi rela jauh-jauh menyambangi rumahnya demi ingin menemuinya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Oliv antusias.
"Aku dengar, Desi baru saja jatuh di kamar mandi. Aku ingin menjenguknya. Tapi kurasa, kondisinya sudah sangat baik." Sindir Ardi santai.
"Aku jatuh di kamar mandi? Kapan?" Tanya Desi bingung.
"Dua hari yang lalu. Saat Oliv mengantar Aini pulang."
Deg. Oliv seketika mematung. Ia teringat maksud ucapan Ardi. Ia tak menyangka, Ardi mengetahui hal itu. Ia pun mendadak panik karena takut akan ketahuan Ardi bahwa ia membohongi Aini kemarin.
"Aku nggak habis jatuh kok." Jawab Desi santai.
"Benarkah?" Remeh Ardi.
Desi mulai teringat sesuatu. Ia segera menatap Oliv penuh kecurigaan. Dahinya berkerut sangat dalam.
"Lalu, kenapa Aini mengatakan, kalau ia diturunkan Oliv di tepi jalan, karena Oliv ingin pulang setelah mendapat kabar bahwa kamu jatuh di kamar mandi kemarin?" Imbuh Ardi dengan raut wajah kebingungan.
"Mana ada?" Sahut Oliv cepat.
"Tapi, Aini mengatakan itu kemarin."
"Aini bilang gitu, Mas?" Sahut Oliv tiba-tiba.
"Iya. Dia mengatakan itu padaku kemarin." Jujur Ardi.
"Itu nggak bener, Mas. Waktu itu, Aini bilang ke aku, kalau dia mau ke rumah majikan lamanya, yang rumahnya di sekitar sana. Aku udah coba buat nasehatin dia, kalau itu udah malem, mending besok aja. Tapi, dianya yang ngotot tetep mau mampir dulu." Tutur Oliv santai.
"Benarkah?"
Ardi segera menatap Oliv penuh tatapan keraguan. Oliv segera mengangguk pasti untuk meyakinkan Ardi.
"Jangan coba-coba untuk membohongiku, Indah Olivia!" Ancam Ardi, tepat di depan wajah Oliv.
Oliv tertegun. Ia yang sudah bersusah payah menstabilkan nada bicaranya agar terdengar begitu meyakinkan untuk Ardi, ternyata tak tepat sasaran. Ia sudah sangat gugup sejak tadi sebenarnya, saat Ardi mengatakan tentang Desi yang jatuh di kamar mandi.
"Jangan pernah berani macam-macam lagi pada Aini! Atau aku, akan membuatmu menyesal seumur hidup." Ancam Ardi penuh penekanan.
Ardi mengatakan itu, tepat di depan wajah Oliv, dengan raut wajah penuh keseriusan. Hingga membuat Oliv menelan salivanya dengan kepayahan.
__ADS_1
Oliv pun mendadak kesal dan marah pada Ardi. Ia tak terima, jika Ardi lebih mempercayai dan membela Aini, yang bukanlah orang hebat sepertinya.
"Memangnya kenapa kalau aku macam-macam dengannya, Mas? Siapa dia? Dia hanya perawat Kenzo, bukan? Berani-beraninya dia kecentilan sama kamu, Mas." Kesal Oliv meledak-ledak.
"Dia bukan hanya perawat Kenzo." Jawab Ardi dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Lalu? Apa dia, calon istrimu? Hhaha, jangan mengada-ada Mas! Dia saja tidak mengakuinya saat aku bertanya padanya saat itu."
"Kamu tak perlu tahu!"
"Aku rasa, memang kamu mengada-ada Mas." Sindir Oliv.
Ardi segera berdiri.
"Aku katakan sekali lagi. Jangan pernah kamu macam-macam pada Aini! Atau kamu pasti akan menyesal." Sahut Ardi, tanpa menoleh pada Oliv.
"Kalau aku tak mau?" Jawab Oliv dengan nada mengejek.
Ardi menoleh pada Oliv, dengan tatapan tajam. Sepasang bola mata hitam itu, seolah menemukan mangsa yang ingin diterkamnya dengan penuh kemarahan.
"Aku akan membuatmu menyesal." Jawab Ardi penuh ketegasan.
"Apa hebatnya dia, Mas? Siapa dia? Sampai-sampai, kamu begitu membelanya." Geram Oliv setelah mensejajari Ardi.
Ardi hanya diam. Ia berusaha meredam amarahnya yang sudah tersulut sejak dari rumah, karena mengingat perlakuan Oliv pada Aini.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Aini, dan itu karena ulahmu, aku tak akan membiarkanmu hidup!" Ancam Ardi lagi.
Oliv terkejut mendengar ucapan Ardi. Ia bisa melihat dengan jelas, raut wajah keseriusan Ardi. Ardi tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke wajah Oliv.
"Karena perbuatanmu pada Aini kemarin, operasi Kenzo sedikit tertunda. Kamu tak tahu itu, kan? Dan jika karena hal itu kondisi Kenzo semakin memburuk, aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri." Ucap Ardi lirih, tapi penuh kemarahan pada Oliv.
Oliv semakin kebingungan mendengar ucapan Ardi.
"Apa hubungan Aini dengan operasi Kenzo?" Tanya Oliv polos.
"Karena Aini adalah pendonor untuk Kenzo. Dan karena ulahmu kemarin, Aini terjebak hujan hingga malam. Kondisi kesehatannya memburuk, hingga operasinya harus ditunda. Ingat, jangan pernah macam-macam lagi pada Aini!"
Ardi benar-benar meluapkan amarahnya saat ini. Tangannya menunjuk ke wajah Oliv dengan penuh ketegasan.
Oliv tertegun kembali. Ia tak pernah menyangka, jika Aini adalah pendonor untuk putranya. Jantungnya berdetak cepat secara tiba-tiba. Tenggorokannya tercekat. Semua hal yang ingin ia ucapkan untuk membela diri dan membantah Ardi, tiba-tiba hilang entah kemana.
"Karena hal itu, dia istimewa bagiku. Kamu, akan langsung berhadapan denganku, jika sampai berulah lagi dengan Aini." Imbuh Ardi.
Ardi segera memutar badannya untuk pergi dari rumah itu. Belum sempat ia melangkahkan kakinya, ia kembali berbalik ke arah Oliv.
"Dan satu hal lagi. Aini istimewa bagiku bukan hanya karena ia pendonor bagi Kenzo. Tapi karena aku juga sudah jatuh hati padanya. Jadi, jangan pernah berharap untuk kembali padaku atau Kenzo." Ucap Ardi santai.
"Jangan kira aku tak tahu niatanmu mendekati Kenzo akhir-akhir ini. Kamu ingin kembali padaku dan Kenzo, demi mencari sensasi dan mendapatkan simpati publik bukan? Karena karir modelmu hancur saat skandal perselingkuhanmu dengan seorang produser kenamaan terbongkar. Brand yang mengontrakmu akhirnya memutuskan kontraknya, hingga kamu harus membayar penalti untuk itu. Dan aku yakin, itu bukan jumlah yang sedikit." Remeh Ardi.
__ADS_1
Oliv makin membeku di tempatnya berdiri.
"Dan aku, masih memiliki sisi gelapku yang dulu. Yang kamu sendiri juga tahu, seperti apa itu." Akhir Ardi.