Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kebingungan


__ADS_3

Hangatnya mentari kembali menyapa. Menggantikan dinginnya malam yang tak terelakkan oleh apapun. Hingga membuat segala rasa kembali mendapatkan asa untuk menjadi lebih baik.


Desi bangun dengan segar pagi ini. Ia pun segera keluar kamar untuk melakukan kegiatan seperti biasa. Hingga,,


"Oliv nggak pulang semalaman?" Gumam Desi penasaran, saat tak mendapati sahabatnya itu di kamar sebelah.


Desi segera mengambil ponselnya, dan berusaha mencari tahu dimana Oliv, hingga semalaman tidak pulang. Karena seingatnya, ia pergi bersama Dika semalam.


"Kok nggak bisa dihubungi?" Gumam Desi bingung.


Beberapa kali Desi berusaha menghubungi nomor ponsel Oliv, tapi hasilnya sama saja. Nomor ponsel Oliv tetap tidak bisa dihubungi. Ia akhirnya berusaha menghubungi Dika.


"Apa Oliv bersama Anda, Pak?"


"Tidak. Bu Oliv pulang sendiri tadi malam. Saya ingin mengantarnya, tapi ditolak oleh beliau. Saya hanya membantunya mencari taksi."


Desi terdiam.


"Ada apa, Bu Desi?"


"Dia belum kembali sampai pagi ini."


"Maaf, saya tidak tahu untuk hal itu. Beliau semalam pergi dari restoran sekitar pukul tujuh malam. Setelah beliau masuk taksi, saya pergi untuk menjalankan tugas lain dari pak Ardi."


"Baik, Pak Dika. Terima kasih."


"Sama-sama, Bu Desi."


Desi pun kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Oliv. Tapi tetap sama saja hasilnya. Ia lalu mencoba menghubungi beberapa kenalannya, yang mungkin sedang bersama Oliv. Tapi, semua tidak ada yang tahu dimana Oliv berada.


"Lapor polisi? Ini belum dua puluh empat jam." Gumam Desi cemas.


"Tunggu nanti saja. Kalau masih tetap sama, aku akan lapor polisi." Monolog Desi lagi.


Desi pun melanjutkan kegiatan paginya seperti biasa. Sambil menunggu asisten rumah tangganya datang.


Sedang di rumah Adit, Suharti tak kalah kebingungan pagi ini. Semalaman Adit dan Ratri tidak pulang. Dan bahkan, ponsel mereka tidak bisa dihubungi.


Suharti bersama pengasuh cucu keduanya, berusaha menghubungi beberapa orang yang mereka kenali untuk menanyakan keberadaan putra dan menantunya. Tapi hasilnya nihil.


Suharti ingat, semalam asisten pribadi Ardi datang menjemput Adit dan Ratri. Ia ingin menghubunginya, tapi ia tidak memiliki nomor yang bisa ia hubungi.


"Apa aku lapor polisi saja?" Gumam Suharti putus asa.


"Iya, Bu. Mending lapor aja!" Sahut si pengasuh.


"Tapi ini belum dua puluh empat jam. Polisi mungkin belum bisa memprosesnya."


"Tapi kan bapak dan ibu tidak bisa dihubungi sama sekali. Mereka juga tidak jelas pergi kemana."


"Atau, aku coba hubungi bu Heni dan pak Arif? Aku dengar, mereka akan kemari minggu-minggu ini. Apa Adit menjemput mereka?"


"Tapi, pak Adit tidak membawa mobil, Bu."


"Benar juga."


Dua wanita berbeda generasi itu terdiam. Mereka masih kebingungan karena hilangnya kabar dari Adit dan Ratri sejak semalam.


"Aku harus mencari asisten pribadi itu." Gumam Suharti yakin.


...****************...


Ratna dan Imron baru saja sampai di Pasuruan pagi ini. Mereka tak jadi menggunakan motor, sesuai saran dari pamannya, yang mereka titipi dua putra mereka. Mereka akhirnya menggunakan bus untuk sampai ke kota dimana Aini berada sekarang.


Semua tampak asing bagi Ratna dan Imron. Karena memang, mereka belum pernah menginjakkan kaki di kota ini sebelumnya. Setelah bus yang mereka tumpangi sampai di terminal Kota Pasuruan, menaiki tranportasi umum untuk menuju rumah sakit dimana Aini dirawat, setelah bertanya pada seorang sopir angkutan.


Hari masih cukup pagi. Hingga jam besuk rumah sakit belum dimulai. Ratna dan Imron akhirnya terjebak di ruang tunggu rumah sakit. Dan kebetulan, Dika dan Reno melihat mereka saat akan mengunjungi Ardi.


"Maaf, Pak, Bu! Apakah Anda, Pak Imron dan Bu Ratna?" Tanya Dika tanpa ragu.


Ratna yang sedari tadi memang memperhatikan kedatangan dua orang kepercayaan Ardi itu, sedikit terkejut karena mereka menghampirinya. Dan bahkan, mengenalinya di kota yang asing ini.


"Anda, siapa?" Sahut Imron waspada.


"Perkenalkan, saya Dika. Dan ini rekan saya, Reno." Jawab Dika ramah.


Imron menanggapi Dika dengan datar.


"Apa Anda berdua sudah bertemu dengan bu Aini?" Tanya Dika lagi.


"Anda kenal dengan Aini?" Sahut Ratna antusias.


"Iya. Saya asisten pribadi, pak Ardi. Pak Ardi adalah,,"


Dika menggantung kalimatnya. Ia cukup kebingungan, bagaimana mengatakan status Ardi terhadap Aini. Karena menurutnya, mungkin saja, Aini belum menceritakan hubungannya dengan Ardi. Dan akan menjadi sebuah kesalahan, jika nanti dia yang mengatakan pada keluarga Aini.


"Pak Ardi yang kemarin menelepon, ya?" Sahut Ratna yakin.


"Iya, benar."


Ekspresi wajah Ratna langsung berbinar. Ia pun langsung merasa lega karena bertemu dengan seseorang yang mengenali Aini.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, saya akan menghubungi pak Ardi." Pinta Dika sopan.


Imron dan Ratna tak banyak bertanya. Mereka tak mau mengganggu privasi Ardi dan asistennya.


"Maaf, Pak! Di ruang tunggu, ada Pak Imron dan Bu Ratna." Ucap Dika, saat panggilannya tersambung.


"Baiklah. Aku akan ke depan."


"Baik, Pak."


Dika lalu kembali mengantongi ponselnya.


"Gimana?" Tanya Reno.


"Beliau akan kemari." Jawab Dika santai.


Sembari menunggu Ardi datang, Dika mengobrol bersama Reno, Imron dan Ratna. Imron dan Ratna berusaha menanyakan kenapa Aini bisa diculik. Tapi, Dika dan Reno benar-benar menutup mulutnya. Mereka tak ingin salah bicara dan membuat atasan mereka marah nantinya.


"Selamat pagi." Sapa Ardi, yang baru saja tiba.


Dika dan Reno segera berdiri dan menyambut Ardi. Mereka sedikit mengganggukkan kepala untuk meyambut Ardi.


Imron dan Ratna pun ikut berdiri dan menatap laki-laki tampan nan gagah yang baru saja tiba dan langsung menyapa mereka dengan begitu ramah. Bahkan, ada senyuman nan tulus, terkembang di wajah tampannya.


"Ini, pak Ardi." Ucap Dika, untuk memperkenalkan Ardi pada Imron dan Ratna.


Imron dan Ratna mengangguk paham. Ardi pun mengulurkan tangannya untuk memeperkenalkan diri. Dan segera disambut secara bergantian oleh Imron dan Ratna.


"Maaf, Pak Ardi. Maaf, jika Aini merepotkan Anda." Ucap Ratna sungkan.


"Tidak sama sekali, Bu Ratna. Aini tidak pernah merepotkan saya sama sekali." Jujur Ardi.


Ardi sedikit melirik arlojinya. Ia pun melihat dua buah tas berukuran sedang milik Imron dan Ratna. Ia lalu menoleh pada Dika dan Reno sejenak.


"Maaf, Pak Imron, Bu Ratna! Apa dua tas itu milik Anda?" Tanya Ardi ramah.


"Iya, Pak." Jawab Imron.


"Dika! Mintakan ijin pada pihak rumah sakit untuk bu Ratna dan pak Imron, agar bisa menemui Aini lebih awal! Dan Ren, bawakan barang milik bu Ratna dan pak Imron ke mobil!" Pinta Ardi tegas, pada dua orang kepercayaannya.


"Baik, Pak." Jawab Dika dan Reno paham.


"Tidak perlu, Pak!" Tolak Ratna dan Imron cepat.


"Tidak apa Pak Imron, Bu Ratna. Mobil saya di depan. Anda masih bisa mengambil barang Anda, kapanpun Anda memerlukannya." Paksa Ardi halus.


"Tapi Pak,,"


Imron dan Ratna saling pandang. Mereka sebenarnya tidak keberatan, hanya tidak nyaman saja, jika mereka diperlakukan seperti itu oleh majikan Aini. Itu pemikiran Imron dan Ratna.


Dan lagi, ucapan Reno yang terakhir, cukup membuat Imron dan Ratna bingung. Dan saat mereka masih kebingungan, Reno bersiap untuk membawa tas milik Imron dan Ratna.


"Tidak perlu, Pak! Biar kami membawanya saja." Tolak Imron, sambil menghalangi Reno.


Reno menoleh pada Ardi. Ia akhirnya mengalah pada Imron, setelah Ardi mengangguk padanya. Dan saat itu terjadi, Dika sedang meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk mengijinkan Imron dan Ratna untuk bisa masuk lebih awal. Karena memang, jam besuk rumah sakit tidak lama lagi akan dibuka.


"Sudah, Pak." Ucap Dika setelah kembali.


"Terima kasih." Jawab Ardi lega.


"Mari Pak Imron, Bu Ratna! Saya antar untuk melihat Aini." Imbuh Ardi.


"Tapi Pak, jam besuk belum dimulai." Sanggah Ratna.


"Dika sudah memintakan ijin untuk Anda berdua tadi."


Imron dan Ratna mengangguk paham. Mereka berlima lantas berjalan bersama menuju ruang tunggu ICU.


"Maaf, Pak Ardi! Umar dimana?" Tanya Ratna, saat diperjalanan.


"Umar di rumah. Dia akan kemari nanti, bersama mama, papa dan Kenzo. Karena dia masih dibawah umur, dia tidak diijinkan terlalu lama berada di rumah sakit. Jadi, dia kemarin hanya sebentar menunggui Aini." Jelas Ardi ramah.


"Apa Anda yang menunggui Aini sejak kemarin?" Tanya Ratna hati-hati.


"Iya." Singkat Ardi.


"Bagaimana aku bisa meninggalkannya, setelah apa yang ia alami hingga seperti itu saat ini." Batin Ardi.


Imron dan Ratna jelas terkejut. Mereka benar-benar tak mengira, majikan Aini yang menemaninya di rumah sakit sejak kemarin.


Sebenarnya, Imron dan Ratna sangat penasaran dengan kronologi Aini bisa diculik hingga kondisinya seperti itu saat ini. Tapi, mereka cukup kebingungan untuk menanyakan hal itu pada siapa.


"Itu, Aini." Ucap Ardi, sambil menunjuk pada salah seorang pasien yang sedang diperiksa kondisinya oleh dokter, di dalam ruang ICU.


"Aini!"


Batin Ratna jelas berteriak begitu keras. Ia sungguh tak tega, melihat kondisi adik semata wayangnya itu saat ini. Airmatanya langsung mengalir tanpa permisi, dan membasahi pipi tembamnya.


"Bagaimana kondisinya, Pak?" Tanya Imron.


"Dia masih belum sadar, meski sudah melewati masa kritis." Jawab Ardi pedih.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia sampai seperti itu, Pak? Apa Bapak tahu?"


Kalimat itu akhirnya meluncur begitu saja dari mulut Ratna. Hatinya sungguh tak sabar, ingin mengetahui alasan dan kronologi Aini bisa diculik hingga kondisinya seburuk itu.


"Maafkan saya untuk hal itu, Pak Imron, Bu Ratna. Saya yang menyebabkan Aini menjadi seperti itu." Jawab Ardi tertunduk.


"Apa maksud Anda, Pak?" Tanya Ratna sedikit tak terima.


"Itu jelas bukan kesalahan Anda, Pak. Itu kesalahan saya, yang tidak bisa mengawal dan menjaga bu Aini dengan baik saat itu." Sahut Reno segera.


"Apa maksud kalian? Kenapa kalian malah berbelit-belit? Sebenarnya, apa yang terjadi?"


Ratna tiba-tiba saja marah. Ia yang sudah tak sabar ingin mengetahui alasan dan cerita yang sebenarnya, mendadak kesal dengan jawaban yang ia terima.


"Sabarlah, Bu! Tenang! Dengarkan pak Ardi bicara dulu!" Ucap Imron segera, sambil mengusap lengan istrinya.


"Tapi Mas,,"


"Tenanglah! Kita dengarkan dulu mereka!" Saran Imron dengan nada yang lembut.


Ratna menarik nafas panjang. Ia pun berusaha meredam amarahnya yang sempat tersulut tadi.


"Tolong Pak Ardi, ceritakan pada kami, bagaimana Aini bisa sampai seperti itu!" Pinta Imron menengahi.


"Sebelumnya, saya sungguh minta maaf pada Anda berdua. Hingga membuat Aini seperti itu."


Semua masih diam. Ardi pun sejenak menjeda kalimatnya.


"Andai saja, saya bisa menahan mulut ini untuk tidak mengungkapkannya dimuka umum, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Imbuh Ardi penuh sesal.


"Apa maksud Anda, Pak?" Tanya Ratna makin tak sabar.


"Ada yang tidak suka dengan hubungan antara pak Ardi dan bu Aini." Sahut Dika tiba-tiba.


"Hubungan? Maksud, Anda?"


"Saya,,"


Ucapan Ardi terjeda, karena seorang perawat menghampiri mereka. Dia memberi tahu, bahwa kondisi Aini sudah cukup stabil dan akan dipindahkan ke ruang rawat, sesuai petunjuk dokter.


Dan karena hal itu, Ardi segera mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi sahabatnya.


"Kamu dimana?" Tanya Ardi, saat panggilannya tersambung.


"Udah sampai depan rumah sakit. Ada apa?"


"Dokter yang merawat Aini bilang, kondisinya sudah stabil. Segera pindahkan Aini ke Surabaya! Katakan pada Dika, apa saja yang kamu butuhkan untuk itu!"


"Aku akan merundingkannya nanti. Jika Aini akan dipindah ke ruang rawat, pindahkan dulu sementara! Aku yang akan mengurus hal itu nanti."


"Oke. Thank's."


"Iya."


Ardi tersenyum lega mendengar ucapan sahabatnya itu. Gilang memang selalu bisa memahami setiap hal yang ia inginkan.


"Maaf, Pak Ardi! Aini mau dipindah kemana?" Tanya Imron segera.


"Saya akan memindahkannya ke Surabaya. Rumah sakit di Surabaya lebih bagus, dan fasilitasnya pun lebih baik." Jelas Ardi.


Ratna dan Imron mendadak kebingungan. Pikiran mereka mendadak bercabang kemana-mana.


"Ya Allah, bagaimana kami menanggung biaya rumah sakit Aini? Dengan kondisinya saat ini, pasti tidaklah sedikit biaya yang dibutuhkan. Dan sekarang, pak Ardi ingin memindahkan Aini ke rumah sakit yang lebih bagus?" Batin Ratna panik.


"Bukankah di sini sudah cukup bagus dan lengkap, Pak?" Tanya Imron.


"Iya, Pak. Saya lihat, rumah sakitnya sudah cukup lengkap dan bagus fasilitasnya." Timpal Ratna, yang sepemikiran dengan Imron.


"Memang. Tapi, rumah sakit di Surabaya, dimana sahabat saya bekerja, lebih mumpuni fasilitasnya. Rumah sakit itu menjadi rumah sakit terbaik kedua yang ada di negeri ini." Jelas Ardi santai.


"Tapi Pak,,"


"Pak Imron dan Bu Ratna tenang saja! Saya yang akan menanggung semua biaya rumah sakit Aini." Sahut Ardi, yang memahami kondisi Imron dan Ratna.


Imron dan Ratna terkejut mendapat jawaban dari Ardi. Mereka tak menyangka, majikan Aini satu ini, begitu perhatian pada Aini.


Mereka pun teringat dengan ucapan Ardi yang belum selesai karena seorang perawat yang datang tadi. Mereka pun hendak bertanya. Tapi,,


"Papa!"


Suara dua anak laki-laki, menggema di telinga kelima orang itu. Dan salah satunya, jelas dikenali oleh Imron dan Ratna. Mereka semua jelas langsung menoleh.


Yang merasa dipanggil pun segera menoleh dan tersenyum lebar. Ia menyambut dua jagoannya itu dengan bahagia.


Dua anak laki-laki itu, segera menerobos begitu saja, lima orang yang ada di sana. Mereka tak memperhatikan siapa saja yang ada di tempat itu. Mereka langsung ingin melihat Aini.


"Bunda gimana, Pa? Udah bangun?" Tanya Umar, sambil terus menatap Aini di ruang ICU.


"Belum. Tapi kondisinya sudah stabil. Bunda akan dipindah ke ruang perawatan nanti." Jawab Ardi lega.


"Papa?" Batin Imron dan Ratna tak percaya. Mereka langsung saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2