
"Mas, tadi di warung, ada yang pesen nasi kotak. Lima ratus kotak." Cerita Aini.
"Lima ratus?" Ulang Ardi terkejut.
Aini mengangguk manja di dada Ardi. Karena sekarang, Aini sedang menggelayut manja di pelukan tangan kanan Ardi, di atas ranjang.
"Kamu terima?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
"Awalnya aku juga ragu, Mas. Karena dari cerita mbak Dian dan para karyawannya, selama ini, mereka maksimal melayani pesanan tiga ratusan."
"Terus?"
"Aku berencana tutup warung besok. Dan fokus ke pesanan nasi kotak itu."
"Istriku memang pintar." Puji Ardi, seraya mengeratkan pelukannya.
Aini pun makin menggelayut manja pada Ardi. "Besok aku akan bilang ke mbak Dian tentang ini."
"Iya. Kabari dia! Agar tidak ada salah paham."
"Iya, Mas. Dan, apa Mas bisa tolong carikan mobil box atau pick up, untuk mengantar pesanan nasi kotaknya?"
"Tenang saja! Akan aku kirimkan mobilnya besok."
"Mas, yakin?"
"Tentu saja."
"Terima kasih, Mas."
"Iya, Sayang. Tapi, kamu jangan kelelahan, ya! Aku tidak mau kamu sampai sakit karena mengurusi hal itu."
"Iya, Mas."
Aini pun memeluk dengan erat sang suami. Ia merasa sangat bahagia, karena Ardi jelas mau membantu dan mendukung apa yang ia lakukan.
Sebenarnya, Ardi sudah tahu tentang pesanan itu dari Reno. Karena tadi, Reno juga sudah meminta pada Dika untuk membantu mencarikan sewaan mobil untuk mengantar pesanan nasi kotak itu.
Dan hal itu, jelas sampai ke telinga Ardi, karena menyangkut Aini. Tapi Ardi tetap mau menunggu Aini bercerita sendiri padanya. Agar komunikasi dan keterbukaan diantara mereka tetap berjalan baik.
Keesokan paginya, Aini mengunjungi Dian untuk memberitahukan niatnya untuk menutup warung selama satu hari. Agar bisa fokus pada pesanan nasi kotak Agung kemarin. Dan Dian, menyambut baik apa yang Aini lakukan.
"Maaf, aku kemarin mengambil keputusan itu dengan Ira tanpa berunding denganmu dulu, Mbak." Jujur Aini.
"Tidak apa, Ni. Aku memang menyerahkan pengelolaan warung sepenuhnya padamu, selama aku fokus dengan si kembar. Jadi, kamu tidak perlu ijinku untuk hal-hal seperti itu." Jawab Dian perhatian.
Aini merasa lega, karena Dian tidak mempermasalahkan hal itu. Dan bahkan, ia mendukung apa yang Aini lakukan.
Semua hal baik, akan terasa begitu indah, jika kita memang bisa terbuka dan saling pengertian. Tanpa harus berpikir dan berprasangka buruk satu sama lain.
****************
Matahari belum menampakkan sinarnya pagi ini. Tapi, Aini sudah keluar rumah diantar oleh Reno seperti biasa. Aini harus ke warung lebih pagi, untuk menyelesaikan pesanan Agung minggu lalu.
Aini sudah berpamitan pada Ardi dan kedua putranya. Bahwa hari ini, ia akan ke warung lebih pagi. Jadi, urusan Umar dan Kenzo bersiap ke sekolah, pagi ini, menjadi tugas Ardi. Meski, hanya memastikan keperluan mereka siap. Karena Aini juga sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya seperti biasa.
Hari ini, Aini sudah meminta Reno dan tiga rekannya untuk membantu menyelesaikan pesanan nasi kotak. Ardi pun sudah memberikan lampu hijau untuk permintaan Aini itu.
Aini segera berkutat dengan bahan masakan dan segala hal yang diperlukan. Ia jelas langsung ikut turun tangan mengolah masakan yang akan menjadi isi dari pesanan nasi kotak.
Beberapa masakan dan bahan masakan sudah dicicil sejak kemarin. Jadi pagi ini tinggal proses akhir memasak dan pengemasan saja.
Reno dan tiga temannya pun juga langsung ikut andil. Mereka mengerjakan apapun yang diminta Aini dan para karyawan warung agar lebih cepat selesai.
Pukul setengah dua siang, sebuah mobil box tiba di warung. Itu adalah mobil yang sudah Ardi siapkan sesuai permintaan Aini kemarin.
Dan bertepatan dengan itu, semua pesanan juga sudah siap untuk diantar. Akhirnya, semua pun ikut memasukkan ke mobil untuk diantar.
"Alhamdulillah. Selesai." Ucap Aini lelah, sambil menatap mobil box pergi bersama Reno.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah selesai tepat waktu." Sahut Ira.
Aini mengangguk lelah. Sungguh, hari ini terasa sangat melelahkan baginya.
Aini dan Ira pun masuk kembali ke warung untuk membereskan beberapa peralatan warung agar esok bisa kembali dipakai. Tak lupa, setelah itu mereka juga harus menyiapkan bahan masakan untuk esok berjualan.
Karena kelelahan, Aini bersantai di joglo kecil yang ada di belakang warung terlebih dahulu. Joglo kecil yang memang dibuat oleh Dian belum lama ini. Itu adalah tempat favoritnya untuk bersantai sejenak, saat lelah mengurus warungnya.
Aini bersandar di tiang joglo sambil menikmati hembusan angin yang berhembus lembut. Mata teduhnya tertutup begitu saja, karena terbawa suasana. Sembari melepas rasa lelah yang terasa begitu kentara.
"Sayang." Panggil seseorang lirih.
Aini segera membuka matanya. Karena ia jelas mendengar suara yang familiar baginga.
"Mas? Mas kok bisa si sini?" Tanya Aini tak percaya, karena ini belum jam pulang kantor.
"Memangnya kalau aku di sini, kenapa? Apa tidak boleh?" Sahut orang tadi, yang memang adalah Ardi.
"Boleh dong, Mas." Jawab
"Kenapa? Lelah, ya?" Tanya Ardi perhatian.
Ardi memandangi wajah Aini yang jelas nampak sangat lelah. Aini pun mengangguk lemas.
"Ayo pulang! Istirahatlah di rumah!" Ajak Ardi.
"Tapi, aku belum beres-beres warung, Mas." Tolak Aini halus, karena memang seperti itu adanya.
Aini tidak enak hati, jika langsung pulang begitu saja tanpa membantu beres-beres warung.
"Kan ada Reno dan yang lain."
"Tapi Mas,,"
__ADS_1
"Aku sudah bilang padamu kemarin, kamu tidak boleh kalelahan karena hal ini. Kamu tidak lupa, bukan?"
"Aku tidak enak hati dengan yang lain, Mas."
"Kamu bukan karyawan serabutan di sini. Kamu hanya membantu Dian mengelola warungnya, selama dia fokus pada bayi kembarnya beberapa bulan ini."
Aini tersenyum kecil. Ia benar-benar kesulitan jika harus berdebat dengan suaminya ini. Ia pun lalu mengangguk paham.
Ardi lalu membantu Aini berdiri. Aini pun segera berpamitan pada karyawan warung, karena akan pulang lebih dulu.
Ardi tahu dari Reno bahwa Aini kelelahan hari ini. Karena Reno sempat ditelepon Ardi untuk menanyakan keadaan Aini tadi. Jadi, ia langsung keluar kantor menjemput Aini, agar Aini bisa segera beristirahat.
Ardi memiliki firasat tentang Aini. Jadi, ia tidak ingin Aini kelelahan dan berakibat buruk pada kondisinya.
"Kalau sudah selesai, bantu karyawan warung untuk beres-beres. Aini pulang denganku." Ucap Ardi saat menelepon seseorang.
"Baik, Pak." Sahut seseorang di seberang telepon.
"Mas telepon siapa?" Tanya Aini lelah.
"Reno. Aku memintanya untuk membantu membereskan warung, jika sudah selesai mengantar pesanan." Jelas Ardi, sambil menyimpan ponselnya.
"Makasih, Mas." Jawab Aini sambil tersenyum.
Ardi pun tersenyum hangat. Ia lalu merangkul Aini tanpa ragu. Padahal, ia masih di dalam warung, dan para karyawan warung serta pengawalnya juga di sana.
Aini yang sudah berpamitan, langsung bersandar manja di bahu Ardi. Tubuhnya sangat kelelahan hari ini. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Padahal, ia sudah sering mengerjakan pesanan dan juga hal lain dalam satu hari penuh. Tapi belum pernah selelah ini.
Dalam hati kecil Aini, ia sangat bersyukur. Ardi sangat perhatian dan pengertian padanya. Ia diperlakukan dengan sangat lembut oleh Ardi. Padahal ia juga tahu, Ardi pasti juga sangat lelah karena sedang mengerjakan kasus berat di pengadilan.
Baru beberapa menit Aini dan Ardi meninggalkan warung. Tapi Aini, sudah langsung terlelap di kursinya. Ardi menoleh dan mengusap kepala Aini dengan lembut.
"Semoga tidak terjadi hal buruk padamu, Sayang. Istirahatlah!" Lirih Ardi.
Aini hanya menggeliat kecil untuk menyamankan posisinya. Ardi pun segera membawa Aini pulang, agar bisa beristirahat lebih nyaman di rumah.
****************
Hari berikutnya, Aini ingin kembali ke warung kemarin. Ia ingin memastikan, warung berjalan lancar seperti biasa. Tapi, ia tidak lagi berangkat pagi-pagi. Ia pergi ke warung setelah Ardi ke kantor, seperti biasanya.
"Kamu nggak usah ke warung hari ini! Wajahmu agak pucat, Sayang." Pinta Ardi sebelum berangkat ke kantor.
"Aku hanya mengecek warung saja, Mas. Setelah itu, aku langsung pulang. Boleh ya, Mas?" Rayu Aini.
"Wajahmu agak pucat, Sayang. Kamu pasti kelelahan kemarin."
"Iya, Mas. Badanku masih lelah sekarang."
"Makanya, kamu nggak usah ke warung dulu. Istirahat di rumah! Kamu juga belum sarapan tadi."
"Hanya sebentar, Mas. Warung jadi tanggung jawabku sementara ini. Jadi aku harus memastikan semuanya berjalan baik." Rengek Aini.
Ardi berusaha meredam amarahnya yang mulai tersulut, karena Aini tidak mau menurut. Ia tidak ingin, sampai lepas kendali hanya karena hal sederhana. Ia akhirnya menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Ya sudah. Tapi, kamu boleh pergi setelah sarapan." Ucap Ardi mengalah.
"Tapi janji, setelah makan, kamu harus pulang! Istirahat di rumah. Atau biar Reno aja yang mengecek warung dan membelikan urap untukmu?"
"Aku yang bertanggung jawab, Mas."
Ardi paham maksud Aini. Dalam hati kecilnya, ia merasa bangga pada istrinya itu. Karena dalam kondisinya yang nampak jelas, kelelahan, ia masih mau memastikan warung berjalan lancar.
"Ya sudah. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada rapat pagi."
"Iya, Mas. Nggak papa. Makasih ya, Mas."
Aini langsung memeluk Ardi. Ardi pun membalas pelukan Aini dengan hangat. Tak lupa, Ardi juga memberikan kecupan hangat di puncaj kepala Aini.
"Ingat ya, harus segera pulang dan istirahat!" Pesan Ardi lagi.
Aini mengangguk manja di pelukan Ardi. Setelah itu, Ardi berpamitan untuk berangkat ke kantor. Aini pun juga bersiap ke warung dengan Reno.
"Semoga firasatku benar, dan tidak terjadi hal buruk padamu, Sayang." Batin Ardi.
Reno langsung diminta oleh Ardi, bahwa Aini tidak boleh berlama-lama di warung. Dan ia, harus menjaga Aini lebih fokus hari ini.
Sesampainya di warung, Aini langsung memeriksa semua kondisi warung. Yang ternyata, sudah berjalan seperti biasa. Ia juga segera menghampiri Ira yang sedang melayani pembeli.
"Kamu nggak buat urap, Ra?" Tanya Aini.
"Udah habis, Buk. Tadi ada yang ngeborong." Jujur Ira.
"Yaaaahh,,"
"Ibuk mau? Saya belikan sayurannya dulu kalau mau." Tawar Ira.
"Jangan, Ra! Warung lagi rame gini. Besok aja, nggak papa."
"Yakin, Buk?"
"Iya."
Aini lalu sedikit membantu para karyawan. Karena warung sangat ramai.
"Maaf, Buk. Pak Ardi tadi berpesan, Ibu tidak bisa lama-lama di warung." Sela Reno tiba-tiba.
"Iya, Mas Reno. Bentar, ya!" Ramah Aini, dengan tangan yang sibuk melayani pembeli.
Reno masih setia berdiri menunggu Aini. Lalu,,
"Selamat pagi." Sapa seorang laki-laki yang baru saja tiba.
Semua pun mengalihkan perhatiannya. Tidak terkecuali Aini.
"Pak Agung. Selamat pagi, Pak." Sambut Aini ramah.
Agung tersenyum hangat. Reno sedikit menatap Agung dengan tatapan kurang suka. Karena ia yakin, Agung punya maksud lain pada Aini.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Pak?" Tanya Aini segera.
"Ada, Bu. Saya ingin memesan nasi kotak lagi." Jujur Agung.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar!"
Aini segera menyelesaikan pekerjaannya melayani seorang pembeli. Ia lalu mengajak Agung duduk di salah satu kursi kosong. Dan Reno, jelas langsung mengawasi, tak jauh dari mereka duduk.
"Bagaimana, Pak Agung?" Tanya Aini ramah.
"Pesanan kemarin, saya sangat puas. Masakannya enak dan pelayanannya juga bagus. Pesanan datang sesuai waktu yang dijanjikan." Puji Agung.
"Terima kasih, Pak. Kami berusaha yang terbaik untuk para pelanggan kami."
"Saya ingin memesan lagi. Tapi kali ini, tujuh ratus kotak. Dan lokasinya juga agak jauh dari sini."
"Tujuh ratus?" Ulang Aini tak percaya.
"Iya, tujuh ratus."
Mendadak kepala Aini menjadi pusing dan berdenyut saat mendengar pesanan Agung. Ia sedikit mengerutkan keningnya untuk menahan denyutan di kepalanya.
"Dimana Pak, lokasinya?"
"Di dekat taman kota."
"Taman kota?"
"Iya."
"Itu dekat dengan rumahnya mbak Dian." Batin Aini.
"Ra! Ira! Sebentar, Ra!" Pinta Aini.
Ira yang juga baru selesai melayani pembeli, segera menghampiri Aini dan Agung. Aini lalu sedikit menjelaskan tentang pesanan Agung yang baru.
"Jauh Buk, kalau dari sini." Keluh Ira.
"Bagaimana kalau begini saja. Pesanan Anda, biar dikerjakan di warung kami yang tidak jauh dari lokasi. Karena jumlahnya melebihi yang kemarin, akan saya bagi dua dengan warung yang satunya lagi. Agar bisa diantar tepat waktu." Usul Aini.
"Warung ini ada berapa cabang?" Tanya Agung penasaran.
"Ada tiga cabang."
"Anda hebat sekali, Bu. Bisa mengembangkan usaha hingga seperti ini."
"Bukan saya yang hebat, Pak. Pemilik tempat ini yang hebat."
"Anda bukan pemiliknya?" Tanya Agung tak percaya.
"Bukan. Ini milik teman saya. Saya hanya membantunya mengelola, selama ia fokus dengan bayi kembarnya beberapa bulan ini."
"Saya mengira, Anda adalah pemilik tempat ini."
"Bukan, Pak."
Agung tersenyum bahagia mendengar kejujuran Aini, yang tidak sombong dengan tanggung jawab yang ia emban. Karena tak sedikit di luar sana, banyak orang yang sombong dengan tanggung jawab yang mereka emban, hingga kadang bertindak sesuka hati pada orang lain.
"Kalau begitu, saya percayakan pesanan saya pada Anda kembali. Saya akan menerima bagaimana Anda mengaturnya. Yang penting, saya ingin pelayanan yang sama seperti kemarin. Tepat waktu dan sangat enak masakannya." Sahut Agung.
"Baik, Pak. Kami akan berusaha yang terbaik untuk Anda. Terima kasih atas kepercayaan Anda." Jawab Aini lega.
"Tentu."
"Kalau begitu,, Ra, tolong catat pesanan pak Agung! Dan segera hubungi warung satu dan tiga, untuk menyiapkan pesanan pak Agung besok! Katakan pada mereka, kalau butuh tambahan orang, bilang ke saya!" Pinta Aini.
"Baik, Buk."
"Maaf, saya permisi ke belakang sebentar!" Pamit Aini.
"Silahkan!" Jawab Agung sedikit cemas.
Aini lalu berdiri dan berjalan menuju halaman belakang. Ia ingin bersantai sebentar di joglo belakang untuk sejenak meredam denyutan di kepalanya.
Tapi, baru saja Aini menghilang di balik pintu,,
"Kenapa kepalaku makin pusing?" Lirih Aini.
Aini segera berpegangan pada tembok. Ia menahan tubuhnya dengan satu tangan ke tembok. Tapi sedetik kemudian, tubuhnya langsung jatuh tergeletak tidak sadarkan diri.
Tak lama, karyawan warung yang lain, hendak mengambil sesuatu di belakang. Yang kebetulan, searah dengan pintu ke arah joglo.
"Astaga! Ibuk!" Panik karyawan tadi, saat melihat Aini pingsan.
"Mas Reno! Mas! Mas Reno! Ibuk pingsan, Mas." Teriaknya lantang.
Reno yang merasa dipanggil dan dengan jelas mendengar ucapan karyawan itu, segera berlari ke arah sumber suara. Tak terkecuali, Ira dan Agung yang masih berbincang.
"Astaga! Bu Aini! Buk!" Panggil Reno, sambil sedikit mengangkat kepala Aini.
Reno segera mengangkat tubuh Aini dan berniat membawa Aini ke rumah sakit.
"Mau dibawa kemana?" Cegah Agung.
"Rumah sakit."
"Jangan! Bawa dia ke tempat yang lebih lega! Saya bantu menyadarkannya." Saran Agung cepat.
Reno menatap Agung dengan curiga.
"Saya dokter. Anda bisa memastikannya ke rumah sakit Graha Medica."
"Bawa ke joglo, Mas!" Usul Ira.
Reno akhirnya menuruti permintaan Agung dan Ira. Ia membawa Aini ke joglo. Dan karena hal itu, suasana warung pun jadi sedikit gaduh.
"Kabari pak Ardi!" Pinta Reno pada salah satu rekannya.
__ADS_1