Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Perdebatan


__ADS_3

Pagi yang cerah mengawali hari. Merangkai setiap asa yang telah teruntai perlahan, bersama mimpi yang mulai tercipta dalam benak dan jiwa para pemiliknya. Memberi kejutan-kejutan yang tak pernah terbayangkan dan mungkin tak akan terlupakan.


Di sebuah rumah berlantai dua, seorang wanita cantik sedang asik menemani putranya bermain seperti biasa. Hingga sebuah motor terdengar berhenti di depan rumahnya. Dan tak lama, terdengar sapaan dari depan rumah, yang memanggil sang pemilik hunian.


"Siapa Rat?" Tanya wanita paruh baya, yang baru saja keluar dari kamarnya, setelah mendengar suara dari depan rumahnya.


"Nggak tahu, Bu." Jujur wanita tadi, yang tak lain adalah Ratri.


Ratri pun segera berdiri dan menuju pintu depan. Meninggalkan putranya bersama ibu mertuanya yang baru saja selesai membantu ayah mertuanya makan.


Tak lama, Ratri pun kembali ke dalam. Dengan sebuah amplop di tangannya. Ia membaca nama penerimanya. Yang tak lain adalah nama suaminya, Adit. Ia pun segera membukanya.


"Apa itu, Rat?" Tanya Suharti penasaran.


"Belum tahu, Bu. Buat mas Adit." Sahut Ratri dengan tangan yang sibuk membolak-balikkan amplop di tangannya.


Ratri akhirnya membuka amplop itu. Ia pun segera membaca isinya. Wajahnya yang tadi terlihat kebingungan, seketika berubah menjadi penuh keterkejutan. Ia bahkan menutupkan satu tangannya, untuk menutupi mulutnya yang menganga karena terkejut tak percaya.


"Kenapa Rat? Dari siapa?" Tanya Suharti makin penasaran.


"Dari pengadilan, Bu. Aini menggugat hak asuh Umar." Jawab Ratri dengan tatapan tak percaya pada Suharti.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Ratri juga tidak tahu, Bu."


"Cepat, kabari Adit!" Pinta Suharti segera.


Ratri pun mengangguk cepat. Ia segera mengambil ponselnya dan mengabari sang suami tentang surat yang baru saja tiba di rumah mereka.


"Kamu jangan bercanda, Sayang!" Ucap Adit tak percaya di ujung telepon.


"Aku kirimkan fotonya ke Mas."


"Iya."


Panggilan pun berakhir. Ratri segera mengambil foto, surat yang baru saja tiba di rumahnya. Sebuah surat yang datang dari pengadilan negeri Kota Surabaya.


"Kamu keterlaluan, Ni." Umpat Ratri setelah mengirimkan foto pada sang suami.


Di kantor Adit, darah Adit seketika mendidih setelah melihat foto yang Ratri kirimkan. Ia tak menyangka, Aini bisa mengajukan gugatan atas hak asuh Umar padanya. Dan lagi, ia bahkan menggunakan jasa pengacara untuk menangani kasusnya.


"Awas kau, wanita sialan!" Umpat Adit kesal.


Adit melirik pada arloji miliknya. Layar kecil di arlojinya menunjukkan jam sebelas siang. Ia bergegas keluar dari ruangannya. Ia bahkan membanting pintu ruangannya dengan cukup keras. Dan membuat para karyawannya sedikit cemas.


Adit segera melajukan mobilnya keluar dari rumah makannya. Membelah hiruk pikuk Kota Surabaya. Dengan amarah yang sudah tersulut dalam dadanya, membuat Adit sedikit ugal-ugalan mengendarai mobilnya.


Hingga, Adit tiba di depan sebuah konter pulsa yang berada di tepi jalan. Tak begitu besar, tapi cukup lengkap dan beragam barang yang dijualnya.


"Silahkan, Pak. Mau cari apa?" Tanya sang penjaga konter ramah.


"Maaf, apa benar, Aini tinggal di sini?" Tanya Adit segera.


Sang penjaga konter sedikit mengerutkan keningnya.


"Aku sepertinya pernah melihatnya. Tapi dimana?" Batin sang penjaga.


"Maaf, Bu." Sapa Adit lagi.


"Oh, iya. Maaf. Bagaimana, Pak?" Jawab penjaga itu gelagapan.


"Apa Aini tinggal dan bekerja di sini?" Tanya Adit lagi.


"Anda siapa?"

__ADS_1


"Saya Adit, mantan suaminya."


"Ah, iya. Dia mantan suami Aini." Batin penjaga itu lagi. Yang tak lain adalah Dewi.


"Untuk apa Anda mencari Aini?" Tanya Dewi tanpa ragu.


"Saya ada urusan pribadi dengannya."


Dewi terdiam. Pikirannya mulai berkelana tak karuan, hanya karena jawaban Adit. Ia langsung merasa cemas dan khawatir pada Aini. Mengingat, Aini sedang memiliki masalah cukup rumit dengan laki-laki di hadapannya itu.


"Tolong, panggilkan dia!" Pinta Adit tanpa ragu.


"Tunggu sebentar!" Jawab Dewi datar.


Dewi segera masuk ke rumahnya untuk memanggil Aini. Aini kebetulan baru saja selesai menidurkan anak kedua Dewi.


"Ni, dicari Adit." Ucap Dewi sedikit berbisik.


"Adit siapa, Bu?"


"Mantan suamimu."


"Mas Adit?"


Hati Aini tiba-tiba bergetar. Ia merasa cemas karena kedatangan Adit ke rumah Dewi. Perasaannya mendadak tak baik.


"Kenapa dia kesini? Dan bagaimana dia tahu rumah Ibu?" Imbuh Aini bingung.


"Dia bilang, ada urusan pribadi denganmu. Mungkin ada hubungannya dengan gugatan hak asuh Umar." Jawab Dewi yang sedari tadi sudah memikirkannya.


Aini terdiam. Ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya karena sependapat dengan ucapan Dewi barusan.


"Hadapi, Ni! Kamu sudah maju sejauh ini. Jangan takut hanya karena gertakannya atau apapun itu nanti!" Saran Dewi penuh keyakinan.


"Aku bantuin kamu nanti." Imbuh Dewi tulus.


"Iya, Bu. Terima kasih." Jawab Aini singkat.


"Yasmin sudah tidur?" Tanya Dewi segera.


"Sudah Bu."


"Ya sudah, ayo temui mantan suamimu!"


Aini pun mengangguk. Dua wanita itu bersama melangkahkan kaki mereka menuju konter depan. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Ada apa, Mas mencariku?" Tanya Aini segera, saat ia sampai di konter dan bertemu pandang dengan Adit.


"Apa maksudmu mengajukan gugatan hak asuh Umar?" Sahut Adit geram.


Aini berjalan mendekati Adit yang berada di depan etalase.


"Memang, apa salahnya Mas? Aku juga ingin bersama dengan Umar. Bukankah dulu kamu yang merebutnya dariku?" Sahut Aini santai.


"Merebut katamu? Bukankah kamu menjualnya, demi biaya pengobatan ibumu?"


"Jaga bicaramu, Mas! Aku tak pernah menjual Umar pada siapapun."


"Lalu, apa namanya jika bukan menjual? Kamu menukar Umar dengan uang dari ibu untuk biaya rumah sakit ibumu, kan?"


"Tanyakan itu pada ibu, Mas! Tanyakan padanya, berapa yang harus kubayar untuk mengganti biaya pengobatan ibuku saat itu!"


"Apa maksud ucapanmu?"


Aini tertawa mengejek.

__ADS_1


"Aku yakin, kamu tak tahu apapun Mas. Tanyakan saja pada ibu dan mbak Ratri jika Mas ingin tahu."


Adit mengerutkan keningnya penuh kebingungan.


"Dasar! Wanita murahan!" Umpat Adit.


"Jaga bicaramu, Mas!" Sahut Aini tegas, dengan mata penuh kemarahan.


"Apa yang salah dari ucapanku?" Sindir Adit sambil tertawa.


Aini berusaha tak menjawab Adit, agar ia tak lepas kendali dari amarahnya yang mulai tersulut.


"Kenapa diam? Apa kamu sekarang baru sadar, jika kamu wanita murahan?" Remeh Adit.


"Jaga bicaramu, Mas! Aku hanya tak ingin membuat keributan di sini." Jawab Aini, dengan telunjuk yang menunjuk tepat ke wajah Ardi.


"Huh! Alasan!"


Aini menarik tangannya dengan amarah yang makin memuncak di dadanya. Ia membuang muka dari laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Kamu hanya tak ingin orang lain tahu, jika kamu sudah menjual tubuhmu untuk bisa membayar dua pengacara handal itu bukan? Agar kamu bisa mengambil kembali hak asuh Umar. Benar begitu bukan?"


"Cukup, Mas!"


"Dan kau pikir, pengadilan akan memberikan kembali hak asuh Umar padamu dengan kelakuanmu itu?"


"Kamu tak perlu memikirkan hal itu, Mas! Kamu hanya perlu bersiap untuk berpisah dari Umar."


"Jangan harap kamu bisa mengambil Umar dariku!"


"Kita lihat saja nanti!" Sahut Aini remeh.


"Lagi pula, apa hakmu mengurusi urusan pribadiku, Mas? Memangnya kenapa jika aku menjual tubuhku? Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku. Kamu tak lebih dari ayah biologis dari Umar." Imbuh Aini geram.


"Aku tak akan membiarkan Umar, hidup dengan pelac*r sepertimu!" Jawab Adit cepat.


PLAK.


Tangan kanan Aini segera mendarat di pipi kiri Adit. Bekas tangan itu bahkan langsung bisa terlihat dengan begitu jelasnya.


Dewi membulatkan matanya segera, saat Aini melakukan hal yang pernah terpikirkan itu. Ia bahkan langsung menutup mulutnya yang seketika itu juga segera terbuka dengan lebar.


Adit menatap tajam Aini yang baru saja menamparnya.


"Kau!" Geram Adit.


"Apa? Aku tak pernah takut denganmu, Mas!" Jawab Aini yakin.


Adit bersiap memukul Aini. Tangannya sudah terangkat cukup tinggi.


"Cukup Pak Adit!" Sela Dewi tiba-tiba.


Adit dan Aini menoleh pada Dewi.


"Anda sedang berada di rumah saya. Jika Anda membuat keributan, saya tidak segan untuk memanggil polisi untuk mengamankan Anda." Ancam Dewi tanpa ragu.


Adit menurunkan tangannya dengan kesal. Ia menoleh lagi pada Aini dengan penuh amarah.


"Tunggu pembalasanku!" Ucap Adit kesal.


Adit segera pergi meninggalkan Aini dan Dewi. Ia pun melajukan mobilnya dengan penuh amarah di dadanya.


Sedang Aini, tubuhnya langsung merosot terduduk lemas. Ia tak menyangka, ia bisa menjawab Adit dengan begitu kerasnya. Membantah ucapan seorang laki-laki yang begitu membencinya dengan penuh ketegasan.


Dewi pun segera menghampiri Aini yang terduduk. Ia menenangkan Aini yang tubuhnya sedikit gemetar.

__ADS_1


"Hebat! Aku memang tak salah menilaimu." Gumam seseorang dari seberang jalan, yang sedari tadi diam-diam memperhatikan perdebatan Aini dan Adit.


__ADS_2