Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kebahagiaan Ardi


__ADS_3

Bahagia. Sebuah rasa yang Tuhan titipkan pada setiap hati para makhluk-Nya. Ia hadir sebagai pelengkap dan penyempurna berbagai hal dalam kehidupan.


Ardi melangkahkan kakinya di sepanjang perjalanan menuju ruangannya dengan senyum yang terukir indah di wajahnya. Ia bahkan terlihat lebih tampan dari biasanya, karena pancaran kebahagiaan di wajahnya pastinya.


Para karyawannya tak ada yang tau apa alasannya. Bahkan, Dika yang berjalan mengiringinya pun, tidak tahu menahu apa alasannya. Ia hanya tahu, atasannya itu sudah nampak sangat bahagia sejak ia bertemu dengannya di rumah sakit untuk menjemputnya. Tapi dia yakin, itu pasti ada kaitannya dengan Aini.


Flashback On


"Selamat Pagi, Pak." Sapa Dika, setelah ia masuk ke ruang rawat Aini.


"Iya. Pagi, Dik." Jawab Ardi sumringah.


"Selamat pagi, Bu Aini." Sapa Dika.


"Selamat pagi, Pak Dika." Jawab Aini ramah.


Dika lalu menyapa Imron dan Ratna yang juga sudah berada di sana sejak beberapa waktu yang lalu.


"Aku ke kantor dulu ya, Sayang." Pamit Ardi segera.


Aini mengangguk manja pada Ardi.


Dika jelas tersenyum bahagia melihat hal itu. Meski hanya hal sederhana, tapi sungguh, itu membuatnya begitu bahagia. Mengingat, bagaimana kemarin Ardi begitu kebingungan mencari keberadaan Aini.


"Semoga ini menjadi awal yang baik bagi anda, Pak." Batin Dika haru.


Ardi sudah mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan bekal semangat dari Aini pagi ini. Apalagi kalau bukan kecupan di wajah Aini. Tapi segera ia urungkan. Ia tak enak hati dengan Imron dan Ratna.


"Maaf Pak, ini pesanan Anda kemarin." Sela Dika, sambil menyerahkan sebuah paper bag yang ia bawa.


"Oh, iya. Terima kasih." Jawab Ardi paham.


Ardi pun menerimanya dan malah kembali duduk santai di tepi ranjang Aini.


"Ini untukmu." Ucap Ardi sambil menyerahkan paper bag tadi.


"Apa ini, Mas?" Tanya Aini, sambil menerimanya dengan ragu.


"Ponsel. Ponselmu hilang bukan? Ini ponsel baru untukmu." Jawab Ardi perhatian.


Aini segera merogoh isi tas kecil itu. Ia pun mengeluarkan isinya. Dan benar. Sebuah kotak dengan gambar ponsel layar sentuh terpampang jelas di depan matanya.


"Tapi Mas,,"


"Nggak ada tapi, Sayang! Ini hanya hadiah kecil untukmu. Atau, ini kurang bagus?" Tanya Ardi cemas.


"Bukan begitu, Mas. Hanya saja,,"


"Baiklah! Berikan itu padaku! Aku akan membelikanmu yang lain jika kamu tidak menyukainya." Pinta Ardi.


"Bukan begitu, Mas. Tapi, kenapa Mas membelikanku ponsel?"


"Agar aku bisa menghubungimu kapanpun aku mau, Sayang." Jujur Ardi.


Aini menatap Ardi dengan bingung.


"Semenjak kamu kembali, aku kesulitan menghubungimu. Karena ponsel lamamu hilang, bukan? Jadi, aku membelikan ponsel baru untukmu, agar aku lebih mudah menghubungimu." Jelas Ardi santai.


"Tapi,,"


Ardi tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Aini. Ia mendekatkan wajahnya ke sisi kiri telinga Aini.


"Karena aku, pasti akan lebih sering menghubungimu setelah ini." Bisik Ardi.


"Kenapa?" Tanya Aini polos.


"Kamu tahu jawabannya, Sayang."


Aini mengerutkan keningnya. Ia masih belum paham maksud ucapan Ardi.


"Oke. Aku harus segera ke kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku pasti akan segera kembali untuk menemanimu lagi nanti." Pamit Ardi lagi.


"Jawab dulu, Mas!" Rengek Aini.


"Apanya?" Polos Ardi.


"Pertanyaanku tadi."


"Kan sudah aku jawab, Sayang."


"Tapi aku tidak mengerti maksudmu, Mas."


"Pikirkan sedikit lagi, Sayang!" Pinta Ardi lembut.

__ADS_1


"Kenapa nggak dijawab langsung aja sih, Mas?" Rajuk Aini.


Ardi tersenyum geli melihat tingkah Aini. "Aku makin tak sabar, untuk segera menjadikanmu milikku seutuhnya, Sayang."


"Eh, sebentar! Berikan ponselnya padaku!" Pinta Ardi segera.


Aini pun memberikan kotak ponsel yang masih dipegangnya sejak tadi. Ardi pun segera membuka dan menyalakannya. Ia lalu mengutak-atik ponsel itu sejenak.


"Sudah. Nomorku sudah kusimpan di ponselmu. Nomor barumu juga sudah masuk ke ponselku. Jadi, jangan lupa untuk menghubungiku nanti. Oke?" Jelas Ardi, sambil menyerahkan ponsel berwarna hitam yang baru saja keluar dari tempatnya itu.


"Nggak mau." Rajuk Aini lagi.


"Kenapa?"


"Kalau Mas nggak mau jawab pertanyaanku tadi, aku nggak mau hubungin Mas nanti." Jawab Aini manja.


"Yakin?" Bisik Ardi di telinga kiri Aini.


Aini mengedipkan kelopak matanya beberapa kali. Ia menjadi gugup hanya karena pertanyaan singkat Ardi tadi.


"Yakin." Jawab Aini semeyakinkan mungkin sambil mengangguk sombong.


Ardi jelas kembali tertawa geli melihat ekspresi Aini yang sangat sulit untuk berbohong. Ia tahu, Aini berusaha sangat keras untuk mengatakan satu kata tadi.


"Aku pergi dulu, ya?" Pamit Ardi lagi.


"Hati-hati, Mas." Jawab Aini pelan.


"Tentu. Kalau ada apa-apa, kabari aku!" Pinta Ardi tegas.


Aini hanya mengangguk patuh. Ardi pun tersenyum lega dan segera berbalik badan untuk pergi ke kantor bersama Dika. Tak lupa, ia berpamitan terlebih dahulu pada Imron dan Ratna.


"Maaf, Pak Ardi. Mungkin, siang ini saya akan kembali ke Semarang." Ucap Imron saat Ardi berpamitan padanya.


"Kenapa terburu-buru, Pak? Apa ada masalah?"


"Tidak. Saya hanya tidak enak hati jika terlalu lama menitipkan kedua anak saya pada paman dan bibinya." Jujur Imron.


"Dengan bu Ratna juga?"


"Tidak. Ratna akan tetap di sini sampai Aini membaik dan diijinkan pulang."


"Begitu rupanya. Baiklah, Pak Imron. Semoga perjalanan Anda nanti lancar sampai tujuan. Dan tenang saja, saya akan berusaha menjaga bu Ratna dan Aini dengan baik."


"Aamiin. Terima kasih, Pan Ardi. Maaf, karena saya merepotkan Anda selama beberapa hari."


"Tidak perlu, Pak Ardi. Saya akan ke terminal dengan kendaraan umum saja."


"Jangan sungkan, Pak Imron! Maaf karena saya tidak bisa mengantar Anda nanti. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan hari ini."


"Tidak apa-apa, Pak Ardi. Terima kasih untuk semuanya, Pak."


"Tentu, Pak Imron."


Dua laki-laki yang berusia tak jauh berbeda itu, lantas berjabat tangan. Ardi pun lantas pergi meninggalkan ruang rawat itu bersama Dika.


"Minta salah satu pengawal untuk mengantar pak Imron ke terminal nanti!" Pinta Ardi saat ia dan Dika menyusuri lorong rumah sakit.


"Baik, Pak. Dan, apakah hari ini Anda jadi ke rumah lama lagi?"


Ardi terdiam. "Tidak. Aku akan melakukan panggilan video saja nanti. Aku tidak ingin hari ini rusak, hanya karena berhadapan dengan orang-orang tidak tahu diri itu."


"Baik, Pak."


Ardi dan Dika lantas pergi ke kantor seperti biasa. Hanya saja, Ardi terlihat lebih bahagia dan bersemangat dari biasanya. Dan Dika, tidak berani menanyakan alasan untuk hal itu. Tapi ia ikut bahagia dengan apa yang Ardi rasakan.


Flashback Off


Ardi segera masuk ke ruangannya dan bersiap dengan beberapa pekerjaan yang kemarin sempat ia tinggal. Dika pun juga segera ke mejanya untuk melanjutkan tugasnya. Tapi tak lama, ia segera ke ruangan Ard, karena Ardi memanggilnya.


"Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Ardi, setelah Dika berada di hadapannya.


Dika lantas menjabarkan jadwal Ardi hari ini. Yang ternyata, begitu padat.


"Sebanyak itu, Dik?" Tanya Ardi tak percaya.


"Iya, Pak. Dua rapat pagi ini, sudah Anda tunda karena hilangnya bu Aini kemarin. Jadi, saya menjadwalkan ulang hari ini."


"Aku tak bisa pulang terlambat hari ini." Batin Ardi cemas.


"Re-schedule dua rapat terakhirku!" Tegas Ardi.


"Baik, Pak. Dan, kapan Anda ingin menghubungi rumah lama?"

__ADS_1


"Apa mereka sudah siap?"


"Sudah, Pak. Hanya tinggal menunggu telepon atau kedatangan Anda saja."


"Nanti saja, setelah kita rapat. Siapkan berkas-berkas untuk rapat!"


"Baik, Pak."


Dika lalu kembali keluar dari ruangan Ardi. Ardi memutar kursi kerjanya menghadap jendela. Dipandanginya langit cerah pagi ini. Yang ternyata, juga secerah suasana hatinya.


Senyuman bahagia kembali terukir di wajah Ardi.


"Aku tidak bermimpi kan, tadi?" Gumamnya, sambil mengingat kejadian kecil yang membuatnya begitu bahagia pagi ini.


Flashback On


"Mas Ardi,,"


"Iya, Sayang." Jawab Ardi penuh perhatian.


"Aku, aku mencintaimu Mas." Ucap Aini pelan dan malu.


Sungguh, Aini sebenarnya malu mengakui bahwa ia memang sudah jatuh hati pada Ardi. Tapi, hatinya benar-benar tak bisa menahannya. Rasa itu begitu menggebu di dalam hatinya. Memaksa dan meronta untuk diungkapkan kepadanya yang berhasil menjadi penghuni tempat itu.


Aini akhirnya memutuskan untuk menerima dan menyambut perasaan Ardi yang pernah diungkapkan padanya beberapa waktu yang lalu. Setelah obrolannya dengan Ratna dan Imron kemarin, Aini meyakinkan dirinya, bahwa ia memang juga telah jatuh hati pada Ardi. Dan siap menerima segala konsekuensi yang mungkin terjadi kedepannya.


Ekspresi wajah Ardi mendadak berubah. Ia menatap Aini dengan bingung seketika. Tapi, sejurus kemudian, wajahnya berbinar begitu ceria. Bahkan, senyum tampannya pun segera menghiasi wajahnya.


"Apa, Sayang? Katakan lagi!" Pinta Ardi antusias.


"Apa? Nggak ada pengulangan, Mas!" Jawab Aini malu.


"Ayolah, Sayang! Ucapkan lagi! Aku tidak begitu jelas mendengarnya tadi." Kilah Ardi.


"Enggak!" Jawab Aini tegas, sambil membuang muka dari Ardi karena malu.


"Sekali lagi saja, Sayang! Ucapkan dengan lebih jelas!" Rengek Ardi bahagia.


"Enggak, Mas!" Tolak Aini lagi, tanpa menoleh pada Ardi, dan segera menyandarkan tubuhnya ke ranjangnya.


Dan sedetik kemudian, Ardi pun menggeser tubuhnya ke depan, dan mengungkung tubuh bagian atas Aini dengan kedua tangannya. Memaksa sang wanita yang dikungkungnya, menoleh padanya.


"Mas mau apa?" Tanya Aini panik.


"Kamu, maunya diapain, Sayang?" Goda Ardi dengan senyum nakalnya.


"Ap,, apa maksudmu, Mas?" Gugup Aini.


CUP. Ardi mengecup lembut bibir Aini saking gemasnya. Ia benar-benar tak bisa menahan diri jika melihat tingkah Aini yang mudah sekali merasa malu jika digodanya.


"Aku juga mencintaimu, Sayang. Terima kasih karena telah membalasnya." Ucap Ardi lembut.


Aini kebingungan menyikapi Ardi saat ini. Ia hanya menganggukkan kepalanya begitu saja.


Hati Aini sebenarnya sangat bahagia, mendengar kalimat itu terucap dari bibir Ardi. Tapi, masih ada sedikit rasa takut, akan masa lalu yang mungkin akan terulang kembali. Karena dulu, Adit juga memperlakukannya dengan sangat lembut saat awal peenikahan mereka.


"Tapi Mas,,"


"Kenapa?" Tanya Ardi, sambil menegakkan tubuhnya kembali.


"Apa pak Rama dan bu Niken tidak masalah dengan hubungan kita?" Tanya Aini ragu.


Ardi tersenyum lega. "Tenanglah, Sayang! Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu memulihkan kondisimu secepatnya. Oke?"


Aini diam tak menjawab. Wajahnya berubah cemas dan ragu.


"Jangan cemas, Sayang!" Rayu Ardi perlahan.


Aini berusaha keras meyakinkan hatinya dan percaya dengan Ardi. Ia pun perlahan menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Ardi.


Ada beberapa hal yang memang harus kita ungkapkan. Tapi terkadang, beberapa mungkin lebih baik kita simpan sendiri demi kebaikan orang lain.


Flashback Off


"Cepatlah pulih, Sayang! Aku sudah sangat tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya." Gumam Ardi bahagia.


Tok, tok, tok. Ketukan di pintu ruangan Ardi, mengalihkan lamunannya. Ia pun memutar kembali kursinya yang kini sedang membelakangi pintu.


"Masuk!" Singkat Ardi.


"Rapat akan segera dimulai, Pak." Ucap Dika setelah membuka pintu.


"Oke."

__ADS_1


Ardi lalu berdiri dari kursinya dan meraih ponsel yang tadi ia letakkan di meja. Ia lalu keluar dari ruangannya dan menuju ruang rapat bersama Dika.


Tuhan menciptakan banyak rasa dalam hidup. Semua hadir dalam porsi dan takaran yang sesuai. Dan semua, hadir di saat yang tepat. Sebagai pelengkap dalam setiap langkah yang kita jalani.


__ADS_2