Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Lamaran


__ADS_3

Pagi yang cerah di Kota Bandung. Mengantarkan setiap warganya pada setiap asa yang telah terangkai indah dalam setiap jiwa. Memberikan semangat yang tak terabaikan oleh setiap hati yang dipenuhi oleh rasa.


"Ayo cepet, Pa! Nanti kita ketinggalan pesawat." Ajak Niken tak sabar.


"Pesawat kita masih dua jam lagi, Ma." Sahut Rama sedikit kesal.


"Kita kan harus jemput Gilang sama Maya juga."


"Rumah mereka kan searah Ma kalau ke bandara."


"Kalau jalannya macet, kita bisa terlambat, Pa."


"Sebenernya yang mau nikah itu mama atau Ardi sih?" Kesal Rama.


"Ya Ardi dong, Pa. Emang Papa ngijinin kalau Mama nikah lagi?" Sahut Niken sekenanya.


"Terus kenapa Mama yang nggak sabaran?"


"Mama nggak mau kalau Aini diambil orang, Pa.


"Astaghfirullah, Ma."


Rama menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang istri. Ia tak menyangka, istrinya bisa berpikiran seperti itu setelah semalam ia mendapat kabar dari Ardi, jika Ratna sudah memberikan restunya.


"Mama lupa, ya? Gimana Ardi sama Aini akhirnya sekarang bisa bersama lagi?" Remeh Rama.


"Udah ah, Pa! Ayo cepetan ke rumah Gilang. Dika juga udah nungguin di depan."


Rama hanya menampilkan wajah remeh dan kesalnya. Ia malas menjawab istrinya, yang sudah sangat ia hafal sifatnya.


Rama dan Niken akhirnya berangkat ke rumah Gilang, yang juga akan ikut ke Semarang untuk melamar Aini. Ardi jelas tak ketinggalan mengabari sahabat dekatnya itu. Dan Gilang, langsung menyanggupi bahwa ia dan keluarga kecilnya akan ikut ke Semarang.


Dan akhirnya, pukul setengah sebelas siang, pesawat yang ditumpangi Rama dan lainnya mendarat di Kota Semarang. Mereka disambut oleh Ardi yang memang sengaja menjemput ke bandara.


Sebelum menuju rumah Imron, Ardi dan yang lain lebih dulu mampir ke salah satu toko hantaran untuk mengambil pesanan yang semalam sempat dihubungi oleh Niken. Pemilik toko itu adalah teman lama Niken saat di Surabaya.


Dan selepas dzuhur, barulah Ardi dan rombongannya tiba di rumah Imron. Mereka disambut oleh Imron dan Ratna dengan hangat. Ada juga Yuli dan keluarga kecilnya di sana.


Karena acaranya cukup mendadak, Imron dan Ratna tidak mengundang banyak keluarganya. Mereka hanya meminta Yuli dan keluarganya untuk datang ke rumah, untuk menyambut keluarga Ardi. Karena memang, keluarga Yuli yang rumahnya paling dekat dengan rumah Imron.


"Kamu harus bahagia, Ni!" Pinta Yuli haru, saat melihat Ardi dan rombongannya tiba.


"Do'akan aku, Mbak! Ini akan jadi yang terakhir dan hingga ke surga." Jawab Aini tak kalah haru.


"Tentu, Ni. Aamiin."


Aini segera memeluk tubuh gempal Yuli. Yuli pun membalasnya dengan senang hati.


"Assalamu'alaikum. Maaf ya, agak lama! Mampir ke masjid dulu tadi." Ucap Niken segera.


"Wa'alaikumussalam. Tidak apa-apa, Bu Niken." Jawab Ratna ramah.


Ratna segera menghampiri Niken dan menyalaminya. Semua pun akhirnya saling bersalaman satu sama lain. Empat anak laki-laki yang ada di rumah Imron pun tak mau kalah. Mereka juga menyambut tamu yang baru saja tiba itu.


"Oma mau jemput Kenzo?" Polos Kenzo.


"Iya. Sama Umar juga." Jawab Niken bahagia.


"Sama Umar juga, Oma?" Tanya Umar yang berdiri di sebelah Kenzo.


"Iya, dong. Mulai besok, Umar akan tinggal di Bandung sama Oma, opa dan Kenzo juga."

__ADS_1


"Bunda?"


"Bunda akan menyusul secepatnya, Sayang."


Kenzo dan Umar saling pandang. Mereka berusaha memahami ucapan Niken, tapi tetap tidak mereka mengerti.


"Ayo masuk dulu! Nanti Oma jelasin." Ajak Niken paham.


Umar dan Kenzo pun mengikuti Niken masuk ke rumah bersama yang lain. Mereka memang belum tahu jika ada acara lamaran hari ini. Mereka hanya tahu, jika Rama dan Niken akan datang.


Karena rumah Imron yang tak begitu besar, dan acara juga mendadak, para tamu duduk bersama di atas tikar yang digelar memenuhi ruang tamu Imron. Tapi para tamu Imron tak mempermasalahkan hal itu. Mereka malah terlihat santai dan sangat nyaman.


"Pantesan Ardi nungguin kamu. Kamunya makin cantik gini sih, Ni." Puji Maya yang duduk di dekat Aini.


"Mbak Maya bisa aja." Malu Aini, sambil melirik ke arah Ardi.


Wanita yang saat ini mengenakan gamis berwarna putih itu, perasaannya kini benar-benar sulit untuk dijelaskan. Kebahagiaan di hatinya sungguh tak terbendung saat ini. Padahal, ini baru acara lamaran.


Setelah saling memperkenalkan diri dan sedikit mengobrol, Rama akhirnya mengutarakan tujuannya datang ke rumah Imron.


"Kami ingin melamar Aini untuk Ardi." Yakin Rama.


"Ya untuk Ardi dong, Om. Masak buat, Om?" Sela Gilang santai.


"Eh, jangan salah, Lang! Kan gara-gara papanya Ardi juga, Ardi jadi bergerak cepat." Sahut Niken.


"Oh iya, ya, Tante." Kekeh Gilang, saat teringat perbuatan Rama dan Niken.


Beberapa orang tersenyum geli mendengar celetukan Gilang dan Niken. Mereka bisa menebak, jika Ardi sempat dipanas-panasi oleh ayahnya agar segera melamar Aini.


Tak terkecuali Aini. Ia bahkan tersenyum geli karena mengingat Ardi yang cemburu buta karena Rama dan Niken berhasil memanas-manasinya dengan mengatakan bahwa Rama ingin menikahi Aini.


Ardi yang baru menyadari hal itu, mendadak merasa sangat bodoh karena dibohongi oleh kedua orang tuanya. Tapi ia bersyukur, semua itu dilakukan oleh kedua orangtuanya demi kebaikannya juga.


Semua yang hadir pun lega mendengar jawaban Imron. Dan hal itu jelas membuat jantung Aini berdetak makin kencang. Hatinya dihinggapi oleh perasaan bahagia yang sedari tadi seolah tak ingin pergi.


"Ayo, ikut Mama!" Singkat Niken, seraya bangun dari duduknya.


"Kemana, Ma?" Bingung Ardi, seraya mengikuti Niken setengah berdiri.


Niken berjalan dengan setengah berdiri menghampiri Aini. Ardi pun mengekorinya di belakang.


"Sini, di samping Mama!" Pinta Niken setelah Ardi berhenti di belakangnya.


Ardi pun mematuhi Niken dan berpindah ke samping Niken, yang membuatnya berada tepat di depan Aini.


Niken mengambil sesuatu di tasnya. Sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah yang sangat familiar bagi Ardi.


"Berikan ini pada Aini!" Pinta Niken lebih lembut, seraya membuka kotak perhiasan itu.


"Ini kan cincin pernikahan Mama." Bingung Ardi.


"Mama berikan pada menantu Mama. Mama harap, pernikahan kalian juga akan langgeng sama seperti Mama dan papa."


"Tapi, papa,,"


"Papamu sudah mengijinkannya."


Ardi sejenak menoleh pada papanya. Rama pun tersenyum dan mengangguk pada putra kesayangannya itu.


"Terima kasih, Ma." Ucap Ardi sambil merengkuh tubuh Niken ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Iya. Udah! Cepet pakaikan ke jari Aini!" Sahut Niken segera, demi menutupi perasaan harunya.


"Iya, Ma."


Ardi pun melepaskan pelukannya. Ia lalu menerima cincin itu dan mulai memutar tubuhnya ke arah Aini.


"Maaf Sayang, jika tidak terlalu bagus! Sudah lama Mama ingin memberikan cincin itu pada menantu Mama. Tapi Allah berkehendak lain. Ternyata baru sekarang Mama bisa memberikannya pada menantu Mama." Jujur Niken.


Aini segera menatap Niken dengan bingung. Ia pun ingat, jika dulu Niken tidak menyukai Oliv dan sempat tidak merestui hubungan Ardi dan Oliv.


"Mungkin karena hal itu." Terka Aini.


Aini lalu menoleh pada benda berbentuk lingkaran yang salah satunya sudah berada di tangan Ardi. Sebuah cincin berbahan emas putih dengan hiasan sebuah buah permata safir berwarna biru di salah satu sisinya.


"Cantik sekali, Ma." Puji Aini tanpa ragu.


"Itu pilihan neneknya Ardi." Jujur Niken.


Ardi segera mengulurkan tangan kirinya, untuk meminta tangan kiri Aini agar menyambutnya. Aini pun langsung menyambutnya. Ardi sedikit gemetar kala tangannya bertemu dengan tangan Aini. Hingga tangannya terasa sedikit dingin.


Gejolak hati Aini pun makin tak terkendali. Gemuruh detak jantungnya makin kencang tak beraturan, kala tangan kekar Ardi menyentuh tangannya. Meski mereka sudah biasa bergandengan tangan atau bahkan berpelukan, tapi ini sungguh terasa berbeda bagi Aini.


"Boleh aku memakaikannya, Sayang?" Tanya Ardi.


Aini hanya mengangguk.


"Semoga pas!" Lirih Niken sambil melihat tangan putranya yang mulai memasangkan benda berwarna perak itu.


Ardi yang mendengar gumaman Niken, pun ikut cemas. Karena takut, cincin itu tidaklah muat di jari Aini. Tapi ternyata,,


"Alhamdulillah, pas." Gumam Niken bahagia.


Dan hal itu, disambut dengan gumaman para tamu yang juga ikut bahagia. Pipi Aini sudah sangat merona saat ini. Ia tak menyangka, Niken bahkan memberikan cincin pernikahannya dengan Rama dulu padanya.


"Ayo, Ni! Gantian pasangkan ini untuk Ardi." Pinta Niken, seraya menyerahkan satu lagi cincin yang ia bawa.


Cincin berbahan paladium itu, juga bertahtakan batu permata safir. Hanya saja berwarna hitam. Niken kini tak segugup tadi. Karena ia yakin, ukuran jari Ardi tidak jauh berbeda dengan ayahnya.


Aini pun mengambil cincin itu dengan hati-hati. Perasaannya makin bertambah gugup hingga membuat jari-jemarinya sedikit gemetar. Dan itu jelas disadari oleh Ardi.


"Kamu gugup, Sayang?" Goda Ardi.


Aini diam tak menjawab. Ia memilih fokus pada benda yang ada di tangannya. Ia lalu mulai memasangkan cincin yang ia pegang, karena Ardi sudah mengulurkan tangannya.


Dan hal itu, jelas disambut dengan ucapan syukur semua yang hadir. Karena mulai sekarang, babak baru hubungan Ardi dan Aini akan dimulai.


Ardi memang tak tahu jika Niken akan memberikan cincin pernikahannya untuk Aini. Karena memang, Niken pun tidak mengatakannya. Ia hanya mengatakan pada Ardi, jika ia sudah menyiapkan cincin pertunangan untuk Ardi.


"Papa sama bunda ngapain sih, Opa?" Polos Kenzo, yang duduk di sebelah kanan Rama.


"Papa sama bunda, baru tukar cincin, Ken. Mereka akan segera menikah setelah ini." Jelas Rama perlahan.


"Menikah? Papa sama bunda akan menikah, Opa?" Sahut Umar tak percaya.


"Iya. Mereka akan menjadi orang tua kalian yang seutuhnya tidak lama lagi. Mereka akan menemani kalian setiap hari nantinya.


Kenzo dan Umar yang mendengarkan Rama dengan seksama, sejurus kemudian saling pandang. Mereka tersenyum begitu lebar karena ucapan Rama. Dan tanpa permisi atau aba-aba, dua bocah laki-laki itu segera berdiri dan menghampiri Ardi dan Aini yang masih saling berhadapan. Kenzo menghambur pada Aini, dan Umar segera menghambur ke Ardi.


Ardi dan Aini sedikit terkejut karena kedatangan Umar dan Kenzo. Mereka bahkan sedikit berjingkat saking terkejutnya.


"Papa sama Bunda kapan menikah?" Tanya dua bocah itu, setelah duduk di pangkuan Ardi dan Aini.

__ADS_1


Ardi dan Aini yang tadi spontan menatap anak laki-laki yang ada di pangkuan masing-masing, segera saling pandang.


"Papa sama bunda akan menikah,,,,"


__ADS_2