
"Aini!"
Suara Niken menggema begitu nyaring di pagi yang masih cukup tenang. Ketenangan di kediaman Ardi di Surabaya pun, mendadak hilang karena suara Niken.
Sang empunya nama baru saja selesai membereskan meja makan bersama Tika. Ia baru saja mengganti pakaiannya yang sedikit basah setelah mencuci piring tadi.
"Iya, Bu." Sahut Aini sambil berlari keluar kamar.
"Ikut saya sebentar!" Pinta Niken tanpa basa-basi.
"Baik, Bu."
Aini pun mengikuti langkah Niken. Ia sedikit penasaran dengan apa yang akan Niken lakukan padanya. Karena sungguh, nenek Kenzo ini, sangat sulit ditebak kelakuannya.
Aini terus mengikuti langkah Niken menuju halaman belakang rumah. Disana ternyata ada Rama yang juga sedang menikmati pagi akhir pekan ini.
"Duduklah!" Pinta Niken halus.
Niken pun segera duduk di kursi yang ada di sebelah Rama. Sedang Aini, duduk di kursi di seberang mereka.
"Tadi Ardi mengirim pesan. Dia bilang, ada yang ingin dikatakan pada kami tentang Kenzo. Dan dia juga ingin bicara denganmu, karena hal yang ingin dia katakan, membutuhkan bantuanmu." Jelas Niken segera.
"Saya?" Ucap Aini tak percaya.
"Iya." Jawab Niken yakin.
Dan segera, ponsel Niken pun berdering. Ternyata, sang putra semata wayang yang menelepon. Dan dia melakukan panggilan video pada nomor sang ibu. Aini berusaha tidak menguping. Tapi ternyata, Niken memasang volume maksimal pada panggilannya.
"Assalamu'alaikum. Gimana, Di? Ini Aini juga sudah disini." Ucap Niken saat panggilan tersambung.
"Wa'alaikumussalam, Ma. Gini Ma, ini tentang Oliv."
"Kenapa lagi dia?" Jawab Niken ketus.
"Oliv semalam sudah menghubungi Ardi. Dia bilang, ingin bertemu lagi dengan Kenzo. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Kenzo."
"Terus, kamu kasih ijin? Dan apa hubungannya sama Aini?"
"Iya, Ma. Tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Iya, Ma. Ardi akan mengajukan syarat pada Oliv. Dan itu butuh bantuan Aini."
Niken melirik pada Aini. Ide jahilnya pun muncul. Niken dengan wajah polosnya, mengubah posisi kamera depan yang sedang dalam mode panggilan video, ke kamera belakang. Dan jelas, yang muncul di layar ponsel kini adalah wajah Aini yang tepat berada di depan Niken dan Rama. Dan pastinya, Aini tak tahu tentang hal itu.
Rama yang menyadari ulah istrinya, berusaha menahan tertawanya. Karena sungguh, wajah Ardi nampak sangat terkejut saat wajah Aini muncul secara tiba-tiba. Niken pun juga berusaha berekspresi sepolos mungkin di depan Aini.
"Bantuan gimana maksud kamu?" Tanya Niken sambil mengamati ekspresi Ardi dan Aini di layar ponselnya.
Ardi terdiam. Ia terpaku dengan wajah wanita yang kini sedang memenuhi layar ponselnya.
"Di!" Panggil Niken sedikit keras.
Rama yang melihat hal itu, akhirnya terkekeh sendiri. Ia tak bisa menahan tawanya karena ekspresi sang putra yang sedang berada jauh darinya kini.
__ADS_1
"Oh, iya Ma. Ardi akan memberikan syarat pada Oliv, Ma."
"Iya. Syaratnya apa? Dan kenapa butuh bantuan Aini?"
Aini yang sama sekali tak menyadari ulah Niken, benar-benar santai menikmati pagi di halaman belakang yang penuh dengan tanaman indah. Sembari mendengarkan suara ibu dan anak yang sedang asik bertelepon.
Sebenarnya, hati Aini sedikit bergetar saat suara Ardi menggema di indera pendengarannya sejak tadi. Ia merasakan sesuatu yang lama tak ia rasakan. Sebuah rasa yang mungkin, terdengar aneh di usianya kini. Ia pun berusaha menampik rasa itu dan menetralkan perasaannya, dengan mengamati tanaman-tanaman yang terawat dengan begitu baik di sekitarnya.
"Ardi akan mengijinkan Oliv bertemu atau pergi dengan Kenzo, dengan Aini harus ikut bersamanya."
Aini segera menoleh ke arah Niken. Ia kebingungan dengan maksud ucapan Ardi.
"Maksud kamu?"
"Jadi, kalau Oliv ingin bertemu atau pergi dengan Kenzo, Aini harus ikut dengannya, kemana pun itu. Aini harus menjaga Kenzo, saat Kenzo pergi dengan ibunya."
"Tapi, Pak. Kenapa saya harus ikut? Bukankah baik, jika Kenzo menghabiskan waktu bersama ibunya?" Sela Aini tiba-tiba.
"Kamu jangan tertipu dengan Oliv, Ni." Saran Niken halus.
Aini mengerutkan keningnya. Ia tak paham dengan ucapan Niken.
"Mama setuju denganmu, Di."
"Bisa Ardi bicara dengan Aini, Ma?"
"Tentu. Sebentar!"
Niken segera mengganti kembali posisi kamera belakang ke kamera depan. Ia pun memberikan ponselnya pada Aini. Aini segera menerimanya dengan sungkan.
"Gimana, Ni? Kamu mau kan menjaga Kenzo?"
"Kamu perawatnya, bukan?"
"Iya. Tapii,,"
"Pokoknya, kemanapun dan kapanpun Kenzo pergi dengan Oliv, kamu harus ikut! Kamu tidak boleh meninggalkan atau membiarkan Kenzo hanya berdua dengan Oliv. Dan aku, mengijinkanmu membawa Umar juga."
"Tapi Pak,,"
"Mama yang akan menjelaskan yang lainnya padamu nanti."
Aini melirik pada Niken. Niken pun mengangguk paham pada Aini.
"Baik, Pak." Jawab Aini ragu.
Aini lantas mengembalikan ponsel Niken.
"Gimana? Apa ada yang lain?" Tanya Niken ramah.
"Itu saja, Ma. Dika baru mencari informasi tentang Oliv."
"Ya sudah. Nanti Mama akan kasih tahu Aini."
"Iya, Ma. Ya sudah Ma, Ardi ke kantor dulu. Ardi harus secepatnya menyelesaikan urusan di sini."
__ADS_1
"Ya sudah. Hati-hati! Serahkan urusan di sini sama Mama dan papa."
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Niken segera meletakkan ponselnya setelah panggilan berakhir. Ia pun langsung menoleh pada Aini. Aini ternyata masih setia menatap wanita paruh baya di depannya itu dengan tatapan penuh tanya sejak tadi.
"Kenapa saya harus ikut, Bu?" Tanya Aini segera.
"Karena Oliv bukan wanita sembarangan. Ia bisa melakukan apapun demi keinginannya. Termasuk meninggalkan putranya yang masih sangat kecil dan sangat membutuhkannya, hanya demi karirnya yang sedang mulai mencapai puncaknya." Tutur Niken tanpa ragu.
Aini tertegun mendengar ucapan Niken. Ia teringat ucapan Mala saat menceritakan Kenzo beberapa waktu yang lalu. Ia pun akhirnya menyadari, bahwa Oliv yang meninggalkan Kenzo, saat Kenzo masih bayi dulu.
"Apa mungkin, bu Oliv sudah menyadari kekhilafannya dulu, dan kini ingin memperbaiki semuanya?" Sahut Aini lugu.
"Itu yang ingin Ardi cari tahu. Makanya, dia ingin meminta bantuanmu untuk mengamati sikap Oliv pada Kenzo saat mereka bersama." Jelas Niken yang mengerti jalan pikiran putranya.
Aini terdiam. Ia sebenarnya sangat mengerti maksud Niken. Tapi, ia pasti sangat tak enak hati dengan Oliv nantinya.
"Lalu, bagaimana saya akan menjelaskan hal itu pada bu Oliv nanti?" Tanya Aini bingung.
"Itu biar Ardi yang mengurusnya."
Aini mengangguk ragu. Ia sebenarnya bahagia karena Kenzo akhirnya bisa dekat kembali dengan ibunya. Karena ia tahu, Kenzo sangat merindukan kasih sayang seorang ibu selama ini. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan begitu saja apa yang Ardi dan Niken katakan tadi.
Aini akhirnya kembali ke dalam rumah, setelah Niken memintanya. Ia segera ke kamar Umar, karena Kenzo pun sedang berada di sana. Mereka sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang cukup banyak akhir pekan ini.
Sedang di tempat lain, Oliv sedang sangat kesal. Ia baru saja menerima telepon dari Ardi. Tapi, ia langsung meluapkan kekesalannya dengan mengobrak-abrik isi kamarnya. Kamarnya yang tadi sudah sangat rapi, mendadak sangat berantakan, seperti baru saja diterjang badai hebat.
"Kamu kenapa sih? Kamar udah dirapiin juga, malah diberantakin lagi!" Gerutu Desi.
"Dasar Ardi sialan!" Umpat Oliv penuh kekesalan.
"Kenapa lagi? Dia nggak ngijinin kamu ketemu Kenzo?" Tanya Desi lebih halus.
"Dia kasih syarat yang nggak masuk akal."
"Apa?"
"Masak iya, aku kalau mau ketemu Kenzo, harus ditemenin sama perawatnya yang kecentilan itu. Apa maksudnya coba?" Ucap Oliv makin kesal.
Desi terdiam sejenak.
"Dia mungkin curiga sama kamu. Jadi, dia main cara halus." Jawab Desi yakin.
"Maksudmu?"
"Makanya, jangan suka lihat satu sisi aja! Lihat dari banyak sisi. Jangan cuma bisa marah mulu!" Kesal Desi.
"Udah, nggak usah ceramah! Cepet jelasin maksud kamu gimana!"
"Mungkin, Ardi curiga sama kedatanganmu yang tiba-tiba. Jadi, dia minta perawatnya Kenzo buat mengamati dan mencari tahu tujuanmu kembali yang sebenarnya." Jelas Desi, sambil memunguti barang-barang Oliv yang berserakan.
Oliv terdiam. Ia memikirkan dengan seksama ucapan Desi. Ia pun paham dan setuju dengan pemikiran Desi.
__ADS_1
"Oke! Kita lihat saja! Siapa yang lebih cerdik, aku atau kamu dan perawat sialanmu itu, Ardiansyah El Baraja?" Ucap Oliv penuh keangkuhan.
Ada hitam dan ada putih. Dan pasti, selalu ada kebaikan dimana ada keburukan. Mereka selalu hadir berdampingan. Saling melengkapi setiap jalan kehidupan yang ada. Sebagai pengingat, bagi mereka yang menyadarinya.