Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Cemburu Buta


__ADS_3

Bahagia. Sebuah rasa yang terkadang terlihat begitu kecil dan jauh saat kita dilanda kepedihan. Meski sebenarnya, ia sangatlah dekat. Karena bahagia itu kita yang ciptakan.


Seperti saat ini. Kenzo benar-benar menikmati waktunya dengan Umar dan Aini. Ia menciptakan kebahagiaannya sendiri dengan kehadiran mereka berdua, meski hanya di rumah saja.


Aini tadi hampir saja digondol oleh Ardi ke kantor, setelah dipergoki oleh Rama. Tapi sayangnya, Kenzo dan Umar bergerak lebih cepat. Mereka segera mencegah Ardi membawa Aini ke kantornya hari ini. Dan itu jelas memberikan ide untuk Ardi di kepala Rama.


Sedang di kantor,,


"Ardi! Jangan main curang kamu!"


Kalimat itu menggema di telinga Ardi selama seharian. Membuatnya kesal dan mengganggu fokus kerjanya selama di kantor. Apalagi, Aini tadi belum menjawab pertanyaan yang Ardi ajukan.


"Pokoknya, aku nggak akan mau ngalah sama papa." Gumam Ardi yakin sambil menyandarkan punggung dan memejamkan matanya.


Saking fokusnya Ardi dengan sikap Rama yang ingin merebut Aini darinya, ia sampai melupakan hal sederhana tapi cukup romantis pagi ini. Yang padahal, itu benar-benar membuat Aini sangat gugup.


"Argh! Kenapa kerjaan juga pas banyak banget sih?" Kesal Ardi.


Pekerjaan Ardi memang sedang cukup banyak akhir-akhir ini. Apalagi kemarin, ia harus menangani masalah di Banyuwangi yang membuat pekerjaannya banyak yang tertunda. Meski, ada hal baik juga dari itu semua.


Ardi benar-benar disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk seharian ini. Ia bahkan harus lembur bersama Dika untuk menyelesaikan beberapa laporan yang sudah sangat tertunda. Padahal, ia ingin sekali menghabiskan waktu dengan Aini.


Pukul sembilan malam, Ardi baru menginjakkan kakinya lagi di rumah. Ia benar-benar lelah hari ini. Tapi tiba-tiba,,


"Mas sudah pulang?" Sambut Aini dengan senyum hangatnya.


Rasa lelah yang menyapa hati dan tubuh Ardi seharian, mendadak lenyap begitu saja saat melihat Aini berjalan menghampirinya dengan senyum yang begitu hangat.


Ardi tersenyum bahagia melihat Aini. "Apakah benar dia calon istriku?"


"Mas sudah makan malam? Kalau belum, aku akan siapkan. Tadi mama berpesan, Mas kalau lembur, biasanya lupa makan." Jujur Aini.


"Mama." Lirih Ardi haru.


Ardi tak menyangka, ibunya yang sering jahil padanya itu, sangat memperhatikan dirinya yang sering membuat kesal dan marah.


"Mama sudah masuk kamar sejak tadi, Mas." Sahut Aini.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Ardi lembut.


Aini tak berucap apapun. Ia hanya tersenyum kecil.


"Aku hangatkan sebentar Mas, makanannya. Mas mandi dulu saja!" Pinta Aini perhatian.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah tadi, Mas."


Ardi pun mengangguk paham. Aini lalu segera pergi ke dapur untuk menghangatkan makan malam untuk Ardi. Ardi juga segera bergegas ke kamarnya untuk mandi.


Ardi dan Aini sadar, mereka sudah seperti suami istri. Aini dengan sabar menunggu Ardi pulang dan menyiapkan makan malam untuknya. Karena ia tahu, Ardi pasti belum makan malam, seperti apa yang dikatakan Niken.


Selepas mandi dan berganti pakaian, Ardi segera turun untuk makan malam. Ia tak sabar ingin menikmati waktunya dengan Aini.


Tapi sayang, saat ia sampai di meja makan, ia mendapati tubuh Aini bersandar ke meja dengan berbantal kedua tangannya. Aini tertidur.


"Apa dia kelelahan? Apa yang dia lakukan seharian tadi?" Gumam Ardi seraya memandangi wajah Aini yang sedang terlelap.


Aini memang kelelahan hari ini. Semalam, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena diapit oleh dua putranya. Dan seharian, dua putra Aini itu juga tidak melepaskan dirinya dari pandangan mereka. Mereka melakukan banyak hal hingga Aini kelelahan. Dan berujung ketiduran saat menunggu Ardi untuk menikmati makan malamnya.


Ardi akhirnya menikmati makan malam sembari memandangi wajah Aini yang terlelap. Saat Ardi selesai, ia berniat membopong tubuh Aini ke kamarnya agar bisa lebih nyaman beristirahat. Tapi,,


"Eh, Mas?" Ucap Aini terkejut saat tangan Ardi menyentuh tubuhnya.


"Maaf, membangunkanmu! Aku ingin memindahkanmu ke kamar, tapi malah kamu bangun lebih dulu." Jujur Ardi.


"Maaf Mas, aku ketiduran." Sesal Aini.


"Tak apa."


"Mas sudah makan?"


"Sudah. Sekarang, istirahatlah di kamar! Maaf, membuatmu menungguku!" Tulus Ardi.


"Tidak apa, Mas. Aku akan membereskan meja dulu."


Ardi pun mengangguk. Ia akhirnya juga membantu Aini membereskan meja makan. Mereka lalu masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Pagi harinya, Ardi bangun dengan keadaan yang sangat baik. Ia sudah memiliki rencana untuk mendapatkan Aini lagi, yang ia pikirkan semalam sebelum tidur.

__ADS_1


"Ni, kamu ikut aku ke kantor, ya!" Pinta Ardi sebelum sarapan.


"Oh, tidak bisa, Di. Aini sudah ada janji dengan Papa hari ini." Sahut Rama sombong.


Ardi melirik kesal pada ayahnya. Lalu kembali fokus pada Aini demi mendapatkan jawaban.


"Maaf Mas, aku tidak bisa. Aku sudah berjanji akan pergi dengan papa hari ini." Jujur Aini.


"Yasudah." Ketus Ardi.


Aini, Rama dan Niken jelas merasa geli dengan sikap Ardi. Jelas terlihat, Ardi langsung merasa cemburu dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Oma, kita jadi kan jalan-jalan?" Tanya Kenzo antusias.


"Jadi, dong. Nanti kita jalan-jalan bertiga dulu, ya? Bunda sama opa ada acara lebih dulu, baru setelah itu, mereka akan menyusul kita. Oke?" Jawab Niken yakin.


"Oke, Oma." Sahut Kenzo dan Umar bersamaan.


Perasaan Ardi makin terbakar cemburu mendengar penuturan ibunya barusan. Rama dan Aini akan pergi berdua.


Tanpa berucap dan menghabiskan sarapannya, Ardi segera berdiri dan meninggalkan meja makan. Ia kesal bukan main, karena Rama malah semakin gencar mendekati Aini.


"Kok nggak dihabisin, Di? Ini masakan Aini, lho." Goda Niken.


Ardi tak menjawab apapun. Ia segera menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas yang tadi pagi sempat ia periksa. Dan ia, berpapasan dengan salah satu anak buahnya yang baru saja masuk ke rumahnya, Angga.


"Ada apa?" Datar Ardi.


"Saya diminta mas Reno untuk menemani pak Rama dan bu Aini hari ini." Jujur Angga.


Ardi lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Sedang Angga, segera menuju ruang makan untuk memberitahu Rama tentang tugas yang diberikan padanya hari ini.


"Mas Angga?" Sapa Aini tiba-tiba.


"Iya, Bu." Jawab Angga sungkan, sambil tersenyum.


"Kamu kenal Angga, Ni?" Tanya Niken penasaran.


"Iya, Ma." Santai Aini.


Angga hanya tersenyum malu.


"Mas Angga kapan libur lagi?" Tanya Aini tanpa ragu.


"Minggu depan, Bu." Jujur Angga.


"Alhamdulillah kalau minggu depan. Saya juga pasti sudah pulang kalau minggu depan."


"Iya, Bu."


"Apa maksudnya ini, Ni? Kalian,,?" Tanya Niken makin penasaran.


"Mas Angga ini, beberapa bulan terakhir, setiap libur kerja, dia selalu datang ke Banyuwangi, Ma. Ke warung Aini." Jujur Aini.


Ardi yang berniat untuk segera berangkat kerja, akhirnya mengurungkan niatnya terlebih dahulu, setelah mendengar jawaban Aini. Hatinya makin bergemuruh tak terkira.


"Kalian ada hubungan apa?" Sela Ardi tiba-tiba.


Angga terkejut bukan main, saat Ardi tiba-tiba menarik dan memutar tubuhnya tanpa permisi. Aini pun segera berdiri dari kursinya saat melihat itu. Ardi terlihat begitu marah.


"Maksud Bapak, apa?" Gugup Angga.


"Kenapa kamu sering mengunjungi Aini tanpa sepengetahuanku?" Marah Ardi.


"Tapi, saya tidak mengunjungi bu Aini, Pak." Jawab Angga makin cemas.


"Lalu, apa maksud ucapan Aini tadi? Aku juga mendengarnya."


"Mas, tenang dulu!" Bujuk Aini cepat.


Bukannya tenang, Ardi malah mencengkeram kerah kaos yang Angga kenakan. Wajahnya pun terlihat makin marah.


"Mas, lepaskan mas Angga! Dengarkan penjelasanku dulu!" Ucap Aini panik.


Aini berusaha keras menahan Ardi agar tak lepas kendali. Ia berusaha melepaskan tangan Ardi dari dada Angga.


"Ardi! Lepaskan Angga! Ada Kenzo dan Umar." Bentak Rama.


"Mas Angga tidak mengunjungiku, Mas. Dia mengunjungi Erna." Jelas Aini cepat.

__ADS_1


"Apa?" Ucap Ardi tak percaya.


"Iya, Mas. Mas Angga ke Banyuwangi menemui Erna."


Ardi menatap Angga dengan penuh kecurigaan. Angga pun segera menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan penuturan Aini.


"Tiga atau empat bulan setelah aku membuka warung, mereka mulai berpacaran, Mas. Mas Angga setiap bulan menyempatkan diri mengunjungi Erna ke Banyuwangi." Jelas Aini lagi, sambil terus menarik lengan Ardi, agar melepaskan Angga.


Angga pun terus menganggukkan kepala untuk mengiyakan ucapan Aini. Agar ia juga segera lepas dari Ardi. Karena ia tahu betul, Ardi akan sangat mengerikan jika sampai marah dan lepas kendali.


Ardi akhirnya menghempaskan Angga begitu saja. Ia lalu pergi keluar rumah begitu saja.


"Mas Ardi! Mas!" Panggil Aini sedikit berteriak.


Aini menoleh sejenak ke arah dua putranya yang masih duduk di ruang makan. Mereka terlihat cukup takut dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Pergilah! Tenangkan Ardi!" Pinta Niken, sambil memeluk Umar dan Kenzo.


"Iya, Ma."


"Maaf, Mas Angga!" Sesal Aini, sebelum ia pergi menyusul Ardi.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa." Sungkan Angga.


Aini lalu sedikit berlari menyusul Ardi. Ia tidak menyangka, Ardi akan salah paham dengan sapaannya pada Angga.


"Mas, berhenti! Kita bicara dulu!" Pinta Aini sambil terus berlari kecil.


Ardi menghentikan langkahnya, tepat sebelum ia masuk mobilnya, dimana Reno sudah menunggunya di dalam. Ia merasa tidak enak hati, karena sempat salah paham pada Angga. Ia pun menghela nafasnya sebelum akhirnya membuka pintu mobilnya.


"Mas,,"


"Maaf, aku harus segera ke kantor!" Pamit Ardi tanpa basa-basi.


"Mas!"


Ardi diam tak menjawab. Ia lalu masuk ke mobilnya begitu saja dan segera berangkat. Aini pun menatap mobil Ardi yang melaju keluar dari halaman depan dengan senyum kecilnya. Karena ia tahu, Ardi pasti tadi merasa cemburu pada Angga.


Sedang di dalam rumah, Angga pun diinterogasi oleh Rama dan Niken. Dan Umar, jelas membantu Angga menjawab pertanyaan mereka. Angga pun mengakui semuanya pada Rama dan Niken. Kalau ia dan Erna tengah menjalin hubungan istimewa saat ini.


Pukul setengah sepuluh pagi, Rama dan Aini jadi pergi berdua. Bersamaan dengan itu, Niken beserta Kenzo dan Umar, juga pergi bersama Reno yang sudah kembali setelah mengantar Ardi. Niken membawa Kenzo dan Umar mengunjungi panti asuhan yang biasa dikunjungi Niken. Sedang Rama, mengajak Aini ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu.


"Papa, kenapa tidak mengajak mama kalau mau belanja?" Tanya Aini saat mereka tiba di salah satu mall yang ada di Bandung.


"Dia sudah ada janji hari ini dengan pengurus panti, jadi aku mengajakmu. Lagi pula, aku ingin memberikan hadiah untuknya. Masak iya aku mengajaknya?" Santai Rama.


"Hadiah? Mama mau ulang tahun?"


"Enggak. Tapi aku ingin memberikannya sesuatu. Jadi, tolong bantu aku memilihnya nanti! Ya?"


"Aku tidak begitu paham bagaimana selera mama, Pa."


"Yang menurutmu bagus saja. Kalian sama-sama wanita. Setidaknya, kalian tahu bagaimana selera kalian sendiri." Bujuk Rama.


Rama mengajak Aini ke sebuah toko perhiasan. Rama pun segera meminta Aini untuk membantu memilih sesuai pilihan hatinya.


Hingga, pilihan Aini jatuh pada sebuah cincin dan kalung berlian sederhana, namun tampak elegan dengan beberapa detail ukiran di liontin dan tepian permatanya.


"Kamu, pilihlah juga! Hadiah dariku." Pinta Rama.


"Tidak perlu, Pa." Tolak Aini cepat.


"Tak apa, Ni. Atau, biar mereka bantu pilihkan untukmu?"


"Tidak, Pa. Tidak usah."


Rama terus saja membujuk Aini untuk memilih. Dan begitu juga dengan Aini yang terus saja menolak. Hingga akhirnya, Rama pun mengalah pada Aini.


"Kita ke kantor Ardi sebentar, ya? Papa ingin bicara sesuatu dengan Dika." Ajak Rama setelah mereka keluar dari mall.


"Terserah Papa saja." Jawab Aini sambil tersenyum.


Mereka pun menuju kantor Ardi. Dan Aini jelas bahagia. Karena ia akan bertemu kembali dengan Ardi.


Dalam hati kecil Aini, Aini sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Ardi. Karena sungguh, hati sang janda mungil itu, menantikan pertemuan itu sejak lama.


Saat sampai di kantor Ardi, sang empunya kantor sedang rapat dengan kliennya. Rama pun meminta Aini menunggu di ruangan Ardi. Sedang Rama, segera mencari keberadaan Dika yang sedang menemani Ardi. Rama mengirim pesan dan meminta Dika untuk menemuinya sejenak di luar ruang rapat.


Sedang di ruangan Ardi, Aini berjalan-jalan melihat ruang kantor Ardi yang cukup berbeda dengan yang dulu pernah ia kunjungi. Interior dan suasananya pun begitu terasa berbeda.

__ADS_1


Hingga, Aini menemukan sebuah foto yang terpajang di meja kerja Ardi. Ia mengerutkan keningnya begitu dalam melihat foto itu. Ia bahkan sangat terkejut melihat foto itu.


"Ini?" Gumam Aini tak percaya.


__ADS_2