Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Interogasi Part 1


__ADS_3

Hujan kembali menyapa. Tetes demi tetes butiran bening itu, jatuh membasahi bumi yang hening. Mengumpul dan mengalir kemanapun mereka mau. Menjadi penyejuk dan penenang, bagi setiap yang mereka sentuh.


Ardi berkendara kembali ke rumah sakit. Ia tak peduli, entah pukul berapa sekarang. Kabar yang ia terima dari imron tadi, jelas membuatnya begitu bahagia. Bahkan, senyuman indah di wajah tampannya, tak hilang selama ia berkendara.


"Tunggu aku, Sayang! Aku segera sampai." Gumam Ardi bahagia.


Entah bagaimana lagi menggambarkan perasaan bahagia Ardi saat ini. Dalam benaknya, hanya tersirat mata teduh Aini yang menatapnya begitu lembut. Senyuman Aini yang selama berhari-hari ia rindukan, seolah menari indah bersama bayangan mata teduhnya.


Saat sampai di rumah sakit, Ardi segera berlari menuju ruang rawat Aini. Ia sedikit lupa, bahwa ia sedang berada di rumah sakit, yang seharusnya ia bersikap lebih tenang. Ia membuka pintu ruang rawat Aini dengan tergesa-gesa, hingga membuat Imron dan Ratna sangat terkejut.


"Pak Ardi?" Ucap Ratna tak percaya, saat melihat laki-laki tampan itu, masuk begitu saja.


"Aini. Apa dia masih sadar?" Tanya Ardi cepat, sambil berjalan menuju ranjang Aini.


Ardi segera melihat wajah Aini dengan seksama. Tapi sayang, mata Aini ternyata terpejam. Ada rasa kecewa yang tiba-tiba menggelayuti hati Ardi. Ia pun memejamkan matanya, sambil menghela nafas panjang. Tiba-tiba,,


"Maaasss,,"


Suara lirih nan lembut itu, menelusup begitu jelas ke dalam indera pendengaran Ardi. Ardi pun segera membuka kelopak matanya dan menoleh ke sumber suara.


"Iya, Sayang. Aku di sini." Jawab Ardi dengan senyuman indah di wajahnya.


Aini tersenyum kecil.


"Apa aku membangunkanmu?" Sesal Ardi.


Aini hanya tersenyum kembali.


"Maaf! Aku terlalu bahagia mendapat kabar dari pak Imron dan bu Ratna tadi. Kamu butuh sesuatu?"


Aini menggeleng perlahan.


"Maaf, aku meninggalkanmu tadi. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk sebuah urusan bersama Dika dan Reno." Jujur Ardi pelan.


Aini mengangguk paham.


Adegan sederhana itu, jelas menjadi pusat perhatian Imron dan Ratna. Mereka mendengar dengan jelas, apa yang Ardi katakan pada Aini tadi. Dan itu menambah kecurigaan mereka, dengan hubungan yang terjalin antara Ardi dan Aini.


Aini tadi memang sempat kembali sadar. Ia tersadar cukup lama. Tapi karena kondisinya yang memang belum pulih, ia kembali tertidur setelah beberapa saat berbincang sedikit dengan Imron dan Ratna.


Seperti Ardi, hati Aini juga begitu lega dan bahagia bisa melihat Ardi dihadapannya. Melihat laki-laki yang beberapa hari jelas ia rindukan. Laki-laki, yang sempat ia nantikan kehadirannya untuk menolongnya kemarin. Laki-laki, yang benar-benar telah berhasil menghuni salah satu bagian hatinya.


Tangan Aini sedikit terangkat. Ia ingin mengusap wajah tampan Ardi, yang sempat hadir dalam bayangan matanya kemarin. Ia ingin memastikan, bahwa yang ada dihadapannya, adalah Ardiansyah El Baraja.


Ardi menyadari gerak tangan Aini. Ia segera meraih tangan itu, lalu menggenggamnya dengan sangat lembut. Ardi refleks mencondongkan tubuhnya ke arah Aini. Dan mengecup lembut punggung tangan Aini.


"Kamu butuh sesuatu, Sayang?" Tanya Ardi perhatian.


"Apa,, ini, benar kamu,, Mas?" Sahut Aini ragu.


"Iya, Sayang. Ini aku, satu-satunya papanya Kenzo." Jawab Ardi sambil tersenyum.


"Aku tidak sedang bermimpi, bukan?"


"Tidak, Sayang. Kamu tidak sedang bermimpi saat ini."


Tangan Ardi yang lain, perlahan menyentuh kepala Aini. Ia ingin membelainya dengan penuh kehangatan. Tapi,,


"Eemmhh,,"


Aini segera memejamkan matanya begitu dalam. Ia menahan sakit di kepalanya. Karena tanpa sengaja, bekas luka akibat siksaan dari Oliv kemarin, tersentuh oleh tangan Ardi.


"Ada apa, Sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Ardi cemas.


Ratna yang sedari tadi hanya menyaksikan adegan sepasang duda dan janda itu pun segera berlari menghampiri sang adik. Ia pun ikut panik dan cemas karena Aini tiba-tiba meringis menahan sakit.


Aini mengangguk pelan. Perlahan, ia membuka matanya dan menatap dua orang yang ada di samping ranjangnya.


"Mana yang sakit, Ni?" Tanya Ratna cemas.


Aini tak menjawab. Ia masih menikmati dan berusaha meredam rasa sakit yang masih tersisa.


"Anda apakan Aini, Pak Ardi?" Kesal Ratna.


"Saya tidak melakukan apa-apa padanya." Jawab Ardi bingung.


"Mbaakk,," Panggil Aini lirih.


"Ada apa, Ni? Bagian mana yang sakit?" Tanya Ratna lagi.


Aini menggeleng.

__ADS_1


"Apa aku menyentuh salah satu lukamu?" Terka Ardi.


Aini mengangguk lemah.


"Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu." Sesal Ardi.


Aini mengangguk paham.


Ratna jelas menatap Ardi dan Aini penuh kebingungan. Keterkejutannya karena adegan kecil antara Ardi dan Aini tadi saja, belum hilang dan terurai. Dan kini, Ardi malah dengan santai dan terang-terangan memanggil Aini dengan panggilan sayangnya.


"Aku harus menginterogasi pak Ardi nanti." Batin Ratna.


"Kamu nggak papa, Ni?" Tanya Ratna meyakinkan.


"Iya, Mbak." Jawab Aini sambil mengangguk.


"Mbak, duduk sana lagi ya, sama mas Imron." Ucap Ratna, karena tak ingin mengganggu Ardi dan Aini.


Aini mengangguk lagi. Ratna pun kembali ke sofa dan tiduran bersama Imron di sofa yang ada di ruangan itu.


Dan saat Ratna kembali ke sofa, Ardi baru menyadari, bahwa ia tadi terang-terangan memanggil Aini dengan panggilan sayang di hadapan Ratna. Yang ia yakini, bahwa Aini pasti belum mengatakan tentang hubungan antara mereka.


Ardi sedikit melirik ke arah Imron dan Ratna, yang nampak sedang melepas lelahnya. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.


"Aku bisa bertanya pada pak Imron dan bu Ratna nanti." Batin Ardi yakin.


"Maass,," Panggil Aini pelan.


Ardi yang pikirannya sedang melanglang buana ke tempat lain, sedikit terkejut dengan panggilan Aini. Ia pun segera menoleh kembali pada Aini.


"Iya, Sayang. Kamu butuh sesuatu?" Jawab Ardi perhatian.


"Umar dan Kenzo?"


"Mereka di rumah. Tadi siang mereka kemari dan menemanimu sebentar. Mereka tak bisa berlama-lama di sini, karena peraruran dari rumah sakit."


"Kenzo,,"


"Kondisinya sudah membaik pasca operasi kemarin."


"Alhamdulillah,,"


"Sekarang, kamu tak perlu memikirkan hal macam-macam. Kamu hanya harus fokus pada pemulihanmu. Oke?" Bujuk Ardi perlahan.


Aini mengangguk paham.


"Tidurlah lagi! Aku akan menemanimu di sini. Besok siang, kita akan pindah ke Surabaya. Dika dan Gilang sudah mempersiapkan segalanya." Imbuh Ardi bahagia.


"Kita dimana, Mas?"


"Kita di Pasuruan saat ini." Jujur Ardi sambil menahan geram, karena tiba-tiba teringat oleh kejadian yang menimpa Aini.


"Pasuruan?" Ulang Aini tak percaya.


Ardi mengangguk kecil. "Sudah! Jangan memikirkan hal yang tak penting! Kamu hanya harus istirahat saat ini."


Aini mengangguk sekali. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Ardi. Karena Aini sudah ingat, bahwa ia diselamatkan oleh Ardi kemarin. Memorinya ketika ia berada digendongan Ardi kemarin, terekam jelas dan membuatnya memiliki banyak pertanyaan untuk Ardi.


Tapi, dengan kondisi tubuhnya saat ini, Aini belum bisa bertanya banyak hal pada Ardi. Jadi, ia memilih untuk bertanya nanti saja.


"Istirahatlah!" Pinta Ardi perhatian.


Aini pun mengangguk lagi. Ia kembali menutup kedua kelopak matanya dan bersiap untuk kembali tidur. Kondisi tubuhnya benar-benar masih terasa lemah. Jadi, ia pun masih butuh banyak istirahat.


Ardi segera duduk di kursi yang ada di samping ranjang Aini. Ia mengusap lembut tangan yang kini begitu kurus itu. Ada satu goresan luka di pergelangan tangannya. Dan Ardi menatapnya dengan menahan geram.


"Aku akan membalaskan setiap lukamu, Sayang." Batin Ardi yakin.


Aini pun kembali terlelap. Dan Ardi masih setia memegangi tangan Aini sembari mengusapnya dengan lembut. Ardi pun masih setia menatap wajah Aini yang nampak makin kurus dan dihiasi beberapa luka.


Suasana ruang rawat begitu hening. Semua membiarkan Aini kembali beristirahat. Imron dan Ratna pun merebahkan tubuh mereka di atas sofa untuk melepas lelah.


"Maaf, Pak Ardi! Bisa kami bicara dengan Anda?" Tanya Imron pelan, setelah memastikan Aini sudah kembali terlelap.


Ardi yang masih tetap fokus pada Aini, sedikit terkejut dengan sapaan Imron. Ia pun segera menoleh pada Imron, yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Iya, Pak Imron. Tentu." Jawab Ardi yakin.


Ardi pun berdiri dan mengikuti langkah Imron. Mereka lalu duduk di sofa bersama dengan Ratna yang ternyata juga sudah menunggu.


"Ada apa, Pak Imron? Apa ada masalah dengan Aini selama saya pergi tadi?" Tanya Ardi khawatir.

__ADS_1


"Tidak. Tidak ada masalah dengan Aini, Pak Ardi. Tapi,,"


"Katakan saja, Pak!" Pinta Ardi paham.


Imron sejenak menoleh pada Ratna. Ratna pun akhirnya menganggukkan kepalanya pada Imron.


"Maafkan kami, Pak Ardi! Sebenarnya, apa hubungan Anda dengan Aini? Kenapa sedari tadi, Anda memanggil Aini dengan panggilan sayang?" Tanya Imron yakin.


Deg. Hati Ardi membeku seketika. Ia benar-benar lupa, jika mungkin, hubungannya dengan Aini yang belum begitu jelas namanya itu, belum diketahui oleh Imron dan Ratna. Dan ia jelas terbiasa memanggil Aini dengan panggilan sayang seperti biasa.


"Ituu,," Ardi kebingungan menjawab pertanyaan Imron.


Ardi melirik sejenak ke arah Aini. Ia sebenarnya tak enak hati, jika harus mengatakan itu pada Imron dan Ratna. Karena menurutnya, itu adalah hak Aini untuk mengatakannya pada keluarganya.


"Apa itu ada hubungannya, dengan keterkaitan mantan istri Anda dengan penculikan Aini kemarin?" Sela Ratna.


Ardi teringat ucapannya tadi, yang terjeda karena Aini tersadar untuk pertama kali.


"Dan lagi, kenapa Umar tadi memanggil Anda dengan sebutan papa? Sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan? Karena selama ini, Aini belum pernah mengatakan apapun tentang hal itu." Imbuh Ratna tak sabar.


Ardi berusaha keras meyakinkan hatinya untuk jujur pada Imron dna Ratna. Karena sungguh, ia tak enak hati pada Aini, karena lancang mengatakan hal itu pada mereka.


"Saya, mencintai Aini, Pak Imron, Bu Ratna." Jawab Ardi yakin.


Imron dan Ratna menghela nafas panjang. Mereka sebenarnya sudah menduga hal itu sejak tadi. Dari sikap dan ucapan Ardi, yang jelas tak biasa pada Aini, yang mereka ketahui, hanya berstatus asisten rumah tangga di keluarga Ardi.


"Jadi, kalian berpacaran?" Tanya Ratna memastikan.


"Saya, tidak tahu, apakah kami berpacaran atau tidak. Karena selama ini, Aini tidak pernah mengatakan hal sama pada saya." Jujur Ardi.


"Tapi, sikap Aini pada Anda tadi?"


"Iya. Tapi Aini belum pernah mengakui, bagaimana perasaannya pada saya."


Imron dan Ratna saling pandang. Mereka paham apa yang Ardi katakan.


"Lalu, Umar?" Imbuh Imron.


"Umar sudah saya anggap seperti putra saya, semenjak ia tinggal di rumah saya." Jawab Ardi lebih santai.


"Maksud, Anda?"


"Umar sudah tinggal di rumah saya, sejak Aini mengajukan gugatan untuk hak asuh Umar. Ia hampir dibawa kabur oleh ayahnya karena tak ingin memberikan Umar pada Aini. Dan kebetulan, Umar adalah teman sekelas Kenzo. Jadi, saya membawa Umar ke rumah untuk melindunginya."


Imron dan Ratna berusaha memahami ucapan Ardi. Mereka sedikit mengingat ucapan Aini, tentang gugatan itu. Tapi, hal tentang Umar itu, Aini juga tak pernah mengatakannya.


"Aini hanya wanita biasa, Pak Ardi." Ucap Imron cemas.


"Iya, Pak Imron. Dia wanita biasa. Tapi karena hal itu, dia menjadi wanita yang luar biasa bagi saya." Jawab Ardi yakin.


Imron cukup kebingungan menanggapi Ardi. Ia cukup paham, jika Ardi serius dengan apa yang dikatakannya tadi.


Dan saat itu terjadi, Ardi teringat sesuatu. Ia sedikit ragu untuk menanyakan hal itu pada Imron dan Ratna. Tapi, rasa ingin tahunya, menggelitiknya begitu kuat.


"Maaf, Pak Imron, Bu Ratna. Apa saya bisa bertanya beberapa hal, tentang Aini?" Ucap Ardi ragu.


"Tentu, Pak Ardi. Silahkan!" Jawab Ratna yakin.


"Sebenarnya, apa penyebab Aini berpisah dengan suaminya dulu?" Tanya Ardi perlahan.


"Apa Aini tidak menceritakannya pada Anda?" Tanya Ratna.


"Belum. Aini belum meceritakan hal itu pada saya."


"Kalau begitu,,"


"Saya hanya ingin tahu, kenapa mantan suaminya, bisa tega melakukan hal itu pada Aini kemarin. Pasti itu berhubungan dengan masa lalu mereka, bukan?"


"Iya, saya rasa begitu."


"Apa Aini memiliki masalah yang begitu besar dengan mantan suaminya?"


Imron dan Ratna saling pandang. Mereka sedikit ragu dengan apa yang ingin mereka katakan.


"Aini sebenarnya difitnah oleh mantan madu dan mertuanya dulu. Hingga akhirnya, ia berpisah dengan Adit." Jawab Ratna ragu.


"Difitnah?" Ulang Ardi tak percaya.


"Iya."


Waktu bergulir dengan pasti. Imron dan Ratna akhirnya menceritakan beberapa hal tentang masa lalu Aini pada Ardi. Bukan maksud mereka menceritakan aib dalam masa lalu Aini. Hanya saja, keterikatan Aini dengan Ardi, dan apa yang ia alami kemarin, cukup membuat mereka yakin, Ardi harus mengetahui beberapa hal tentang Aini. Terlebih, ada mantan istri Ardi juga yang ikut andil.

__ADS_1


__ADS_2