
"Aku koreksi kata-katamu. Yang di penjara itu adalah ayahnya Umar, Aditya Eka Subrata. Sedangkan aku, papanya Umar. Atau lebih tepatnya, calon papanya Umar dan sekaligus calon suami Aini." Jawab Ardi santai.
Aini jelas segera menatap Ardi dengan bingung. Tapi ia paham, Ardi berusaha menolongnya dari Anton yang sedari tadi memojokkannya. Aini lalu menatap datar pada Anton.
Teman Anton segera membisikkan sesuatu pada Anton.
"Dia pemilik perusahaan konstruksi tadi." Bisik teman Anton.
"Iya, aku tahu." Jawab Anton lirih, sambil melirik ke arah temannya.
"Bagaimana dia tahu tentang mantan suami Aini?"
"Itu pasti hanya kebetulan. Nama itu pasti hanya karangannya saja." Sahut Anton yakin.
Anton memang tidak tahu, siapa mantan suami Aini. Ia hanya tahu, Aini adalah seorang janda. Dan mantan suaminya, saat ini berada di penjara di Surabaya karena kasus penganiayaan. Itu pun ia ketahui dari Aini.
Ardi menanti reaksi Anton.
"Kamu pikir, aku akan percaya padamu begitu saja? Lucu sekali!" Ejek Anton.
Ardi tersenyum remeh. Ia lalu melirik ke arah Umar yang baru saja mulai menapaki tangga bersama Erna untuk naik ke lantai dua. Ardi sedikit mengambil ancang-ancang untuk menaikkan nada bicaranya agar terdengar oleh Umar.
"Bukankah, aku papamu, Umar?" Tanya Ardi santai.
Aini kembali menoleh pada Ardi dengan terkejut. Ia tak menyangka, Ardi akan membawa Umar dalam hal ini. Ia pun langsung menoleh ke arah tangga.
Yang merasa dipanggil pun, segera menghentikan langkahnya. Ia segera menatap pada Erna yang berdiri di sampingnya yang juga ikut menghentikan langkahnya. Erna pun menganggukkan kepalanya.
Umar pun seketika tersenyum lebar dan berbalik badan. Ia pun tersenyum pada Ardi yang ternyata sedang menoleh padanya.
"Iya, Pa." Jawab Umar bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Naiklah! Papa akan menjaga bunda di sini." Sahut Ardi bahagia.
"Oke, Pa." Jawab Umar sambil menunjukkan ibu jarinya.
Ardi pun membalasnya dengan hal yang sama. Umar dan Erna pun kembali melangkahkan kakinya menuju lantai dua ruko. Dan Aini,,
Aini membulatkan matanya mendengar jawaban Umar. Ia kembali terkejut karena jawaban dari putranya.
"Apa ini?" Batin Aini bingung, sambil bergantian menoleh pada Umar dan Ardi.
Dan ternyata, dua laki-laki yang ditoleh oleh Aini, malah tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia.
"Kamu tidak dengar jawaban Umar tadi?" Remeh Ardi.
"Aku tidak percaya. Kamu pasti sudah menghasut Umar." Tuduh Anton.
"Untuk apa aku menghasutnya?" Santai Ardi.
"Karena kamu juga menginginkan Aini, kan?"
"Aku tak perlu menghasut Umar untuk hal itu. Bukan begitu, Sayang?" Sahut Ardi seraya menoleh pada Aini, yang masih di peluknya dengan satu tangan.
"A,, apa? Ah, iya, tentu." Gagap Aini.
"Kamu kenapa? Tak perlu segugup itu." Goda Ardi.
Aini tersenyum kaku menghadapi Ardi. Ia masih krbingungan, mencerna dan memahami beberapa hal tadi.
"Jangan ngaku-ngaku kamu! Dan cepat lepaskan tanganmu dari pinggang Aini!" Bentak Anton tak terima.
Bukannya menuruti permintaan Anton, Ardi malah makin menarik tubub Aini, hingga makin menempel padanya.
"Eh?" Aini tersentak kaget kembali.
Beruntung, Aini tidak memiliki riwayat sakit jantung. Jadi ia masih tetap sadar saat ini, setelah terkejut berkali-kali tadi.
"Aku hanya ingin melindunginya dari orang-orang sepertimu." Jujur Ardi.
"Aku hanya menagih janjinya padaku." Bela Anton.
"Tapi aku tidak pernah membuat janji seperti itu denganmu, Mas Anton." Sahut Aini yakin.
"Kamu punya urusan apa dengannya, Sayang? Kenapa tidak mrnceritakannya padaku?" Tanya Ardi perhatian.
"A, apa? Oh, itu. Hanya masalah kecil, Mas. Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu yang sudah sangat banyak, Mas." Jawab Aini sekenanya, senatural mungkin, sambil menatap wajah Ardi.
__ADS_1
"Mana ada hal seperti itu, Sayang?" Sahut Ardi, sambil sedikit menggoda Aini dengan menjawil hidungnya.
Aini mengedipkan matanya beberapa kali. Jantungnya pun makin berdegup tak karuan. Ardi memang selalu bisa menggodanya dengan mudah.
Dan adegan sederhana itu, jelas memicu emosi Anton. Ia pun makin marah dan geram.
"Awas kau! Sekarang, kau pasti akan kalah telak!" Batin Anton yakin.
"Aini, apa kamu kenal dan tahu siapa dia?" Sombong Anton untuk memojokkan Ardi.
Ardi dan Aini yang sedang saling pandang, segera menoleh bersama ke arah Anton.
"Iya, aku tahu. Mana mungkin aku tak mengenalnya." Jawab Aini yakin.
"Siapa dia?" Remeh Anton.
"Dia,,"
Aini menoleh pada Ardi sejenak. Berusaha meminta ijin untuk mengungkapkan identitas Ardi di depan beberapa orang. Ardi pun mengangguk lembut, karena paham dengan maksud tatapan Aini.
"Apa? Dia calon suamimu? Itu saja? Apa kamu tahu, siapa namanya?" Remeh Anton lagi.
"Dia Ardiansyah El Baraja. Putra tunggal dari pak Rama Harjuno dan bu Niken Anita. Dia pemilik Maha Karya Construction dan Alanna Law Firm. Apa aku salah?" Jawab Aini yakin.
Anton jelas terkejut mendengar jawaban Aini selengkap itu. Ia benar-benar tak menyangka, Aini mengenal Ardi.
"Ada yang kurang, Sayang." Sahut Ardi pelan.
"Apa?"
"Aku calon suamimu dan calon papanya Umar."
Aini hanya tersenyum untuk menjawab Ardi. Karena ia tahu, Ardi hanya berusaha membantunya saat ini.
"Bagaimana kamu mengenalnya? Dan kamu tak pernah mengatakan apapun pada orang-orang tentang hubungan kalian." Ucap Anton tak terima.
"Kami tak suka mengumbar hal pribadi." Sahut Ardi yakin.
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Kamu hanya boleh menjadi istriku, bukan istri orang lain." Sahut Anton tak terima.
Anton lalu mengayunkan tangannya dan bersiap menarik tubuh Aini dari pelukan Ardi. Tapi sayang, gerakan Anton segera ditangkis oleh Ardi.
"Aku yang lebih dahulu mengenalnya dan berhak menjadi suaminya. Dia juga harus memenuhi janjinya." Jawab Anton yakin.
Wajah Ardi yang sedari tadi masih biasa dan berusaha ramah, seketika berubah menjadi marah dan geram. Ia lalu menoleh pada Aini dengan tatapan lembut.
"Sebentar, Sayang! Aku harus mengatakan sesuatu padanya." Pamit Ardi.
"Apa? Oh, iya Mas."
Ardi lalu melepaskan pelukannya di pinggang Aini. Ia lalu mulai berjalan mendekati Anton. Dan Aini hanya menatap Ardi begitu saja.
"Jangan kira aku tak tahu! Kamu adalah dalang dari perampokan di warung ini beberapa bulan lalu, bukan?" Bisik Ardi setelah ia berdiri di samping Anton.
Anton jelas terkejut mendengar ucapan Ardi.
"Jangan lupa, aku adalah pengacara dan memiliki firma hukum yang cukup besar! Jadi, sebelum aku menyeretmu dan mengusut perbuatanmu, pergilah dari hidup Aini secepatnya! Atau kau akan menyesal, seperti apa yang dirasakan oleh mantan suami Aini." Ancam Ardi tanpa ragu.
"Apa?"
Anton jelas tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Ardi. Matanya melotot dengan sempurna.
"Berapa sisa hutangmu padanya, Sayang?" Tanya Ardi, setelah kembali berbalik pada Aini.
"Iya, Mas? Oh, itu. Aku sudah memiliki uangnya, Mas. Hanya tinggal memberikan pada mbak Nia atau mas Anton saja." Jujur Aini.
Ardi tersenyum pada Aini. "Dika! Selesaikan itu!"
"Baik, Pak." Jawab Dika paham.
Dika segera menuliskan sesuatu pada selembar kertas yang tak lain adalah sebuah cek. Ia lalu memberikannya pada Anton.
Anton menatap Dika yang memberikan cek itu dengan remeh. Ia masih tak terima, jika Aini dimiliki oleh orang lain.
"Aini sudah tidak memiliki hutang lagi padamu. Jadi, jangan berharap untuk menjadi calon suaminya lagi." Sahut Ardi tegas.
"Jangan, Mas! Aku akan ambilkan uangnya sebentar." Cegah Aini, sambil memutar tubuhnya dan berniat mengambil uangnya.
__ADS_1
"Tak apa, Sayang." Sahut Ardi, sambil segera meraih tangan Aini.
"Tapi Mas,,"
"Tenanglah, Sayang!" Pinta Ardi penuh perhatian.
Aini akhirnya mengalah pada Ardi. Ia tak ingin berdebat pada orang yang sudah menolongnya barusan. Ia lalu mengangguk paham dan mengurungkan niatnya untuk mengambil uang.
Anton melihat itu makin geram. Ia lalu meraih kertas cek yang Dika sodorkan padanya dengan marah.
"Ayo pergi!" Ajak Anton cepat.
Anton dan temannya segera berjalan keluar dari warung Aini. Mereka keluar dan pergi dari tempat itu dengan kesal.
Ardi dan Aini pun lega setelah Anton pergi dari tempat itu. Ardi lalu melepaskan pengangan tangannya di tangan Aini. Aini sedikit melirik ke arah tangannya.
"Maaf karena memeluk dan memegang tanganmu tanpa ijin tadi!" Ucap Ardi segera.
"Tidak apa, Mas. Terima kasih telah menolongku." Tulus Aini.
"Tentu." Jawab Ardi sambil tersenyum.
Dua karyawan Aini yang sedari tadi ikut menonton adegan seperti dalam sinetron itu, terkejut saat mendengar Ardi meminta maaf pada Aini. Mereka ternyata juga tertipu dengan akting Ardi dan Aini tadi, yang nampak sangat natural.
Bagaimana dengan Dika? Dika jelas tersenyum bahagia melihat atasannya bisa bersama dengan wanita pujaan hatinya. Ia sangat bahagia, melihat Ardi dan Aini tadi, meski hanya sekedar berakting.
"Apa Mas Ardi terburu-buru? Jika tidak, duduklah dulu, Mas! Aku akan membuatkan minum untuk kalian." Tulus Aini.
"Terima kasih." Singkat Ardi.
Ardi lalu bersiap duduk di salah satu kursi yang ada di warung Aini. Ia pun tidak terlihat risih atau kaku saat duduk di sebuah bangku kayu panjang sederhana yang ada di warung Aini.
Aini pun tersenyum lega melihat Ardi mau sejenak duduk. Ia pun segera ke dalam dan menyiapkan minum untuk Ardi dan Dika, serta para pengawalnya.
"Icha! Warungnya tutup sekarang aja!" Pinta Aini, seraya membuatkan minuman.
"Iya, Mbak." Jawab salah satu karyawan Aini.
Karyawan Aini yang satunya, segera menghampiri Aini. Ia ingin membantu Aini menyiapkan minum untuk para tamu itu.
"Kamu tolong siapin cemilannya yang masih ada, ya Vi!" Pinta Aini pada karyawannya yang bernama Novi.
"Iya, Mbak."
Aini membuatkan beberapa gelas teh hangat untuk Ardi dan yang lain. Sementara dua karyawannya yang lain, segera menyelesaikan acara tutup tokonya.
Aini lalu duduk bersama Ardi dan Dika. Aini sedikit mengobrol dengan mereka.
Dan tanpa mereka ketahui, ada dua pasang mata yang sedang mengamati acara mereka mengobrol dari jarak yang tidak begitu jauh.
"Mar! Kamu bawa ponsel enggak?" Tanya Erna berbisik.
"Enggak, Mbak. Masih di kamar. Kenapa?" Sahut Umar ikut berbisik.
"Kamu punya nomor ponselnya bu Niken enggak? Eh, oma Niken maksudnya."
"Ada. Memangnya kenapa, Mbak?"
"Itu, difoto. Trus dikirim ke oma." Tunjuk Erna ke arah Ardi dan Aini yang sedang mengobrol.
Umar berpikir sejenak. Ia berusaha memahami maksud ucapan Erna.
"Ponsel Mbak emangnya dimana?"
"Di etalase depan."
"Yaudah. Umar ambil ponsel dulu di kamar."
Umar dan Erna akhirnya kembali ke lantai atas sebentar untuk mengambil ponsel. Lalu,,
Cekrek. Foto Ardi dan Aini yang sedang duduk berhadapan berhasil diambil oleh Erna. Dan foto itu segera meluncur ke nomor Niken, sesuai yang Erna harapkan.
Setelah selesai, Umar lalu menghampiri Ardi dan Aini. Ia jelas masih ingin mengobrol dengan Ardi. Ia dengan segera menarik tangan Ardi.
"Pa, ayo ke kemar Umar! Umar mau nunjukin sesuatu." Ajak Umar santai.
Aini yang mendengar lagi panggilan Umar pada Ardi, segera mengerutkan keningnya. Ia masih belum tahu, jika Umar memanggil Ardi dengan sebutan papa.
__ADS_1
"Umar! Bunda mau bicara denganmu sebentar." Pinta Aini tegas dan terlihat sedikit marah.