Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Keputusan Ratna


__ADS_3

Malam telah tiba. Menjadikan waktu bagi sang rembulan dan para bintang untuk menunjukkan keindahan dan eksistensinya pada sebagian penduduk bumi. Memberikan keindahan pada gelapnya hari yang baru saja ditinggalkan oleh matahari.


Penghuni rumah Imron baru saja selesai sholat isya. Karena fisik yang lelah, dua putra Imron dan juga dua putra Aini, sudah menghuni kamar mereka demi melepas lelah. Semua sudah menjelajah ke alam mimpinya masing-masing. Menyisakan empat orang dewasa yang masih ingin sejenak mengobrol.


"Bu!" Panggil Imron setelah menyeruput kopi buatan Ratna tadi.


"Kenapa, Pak?" Singkat Ratna, dengan netra yang fokus pada sinetron kesayangannya.


"Mau sampai kapan kamu seperti itu sama Aini? Kamu nggak kasihan sama adik semata wayangmu itu?" Tembak Imron tanpa ragu.


Ratna langsung paham maksud ucapan Imron dan arah pembicaraannya. Ia pun menoleh pada Imron yang duduk di atas tikar, bersebrangan dengannya.


"Maksudnya gimana, Pak?" Polos Ratna.


"Nggak usah sok polos, Bu! Kasihan mereka seperti itu terus."


"Aku cuma nggak mau Aini disakiti lagi, Pak."


"Kita tidak boleh berburuk sangka pada orang, Bu."


"Aku tidak berburuk sangka, Pak."


"Terus, apa namanya kalau bukan buruk sangka? Ibu berpikir kalau nanti Ardi akan nyakitin Aini lagi, kan?"


Ratna terdiam.


"Kita tak pernah tahu Bu, apa yang terbaik bagi orang lain atau bahkan bagi kita sendiri. Mungkin, ini memang jalan takdir yang Allah berikan pada Aini agar ia bisa bahagia." Nasehat Imron.


"Aku nggak mau lihat Aini sedih lagi, Pak."


"Serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa, Bu! Kita juga tetap akan menjaga Aini nanti. Dia tetap Aini kita."


Ratna kembali diam.


"Ikatan perasaan mereka kuat, Bu. Bahkan aku rasa, perasaan Aini ke Ardi, lebih kuat daripada perasaannya ke Adit dulu."


"Tapi Pak,,"


"Kamu nggak kasihan juga sama Umar, sama Kenzo?"


Ratna menghela nafasnya begitu saja.


"Mereka sudah saling menyayangi dan terbiasa dengan Ardi dan Aini, satu sama lain. Biarkan mereka merasakan keluarga yang utuh, Bu!"


Ratna diam kembali. Ia teringat, bagaimana Umar bisa begitu manja pada Ardi, dan Ardi pun terlihat begitu tulus memperlakukan Umar dengan baik.


"Apa lagi yang kamu takutkan? Orang tuanya Ardi? Bukankah mereka sudah meminta Aini memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa seperti Ardi? Kamu juga sudah pernah melihatnya sendiri, bagaimana pak Rama dan bu Niken begitu perhatian pada Aini waktu di Surabaya." Imbuh Imron.


"Tak baik menunda atau menghalangi hal baik, Bu. Atau, kamu mau Aini menikah lagi dengan alasan yang sama seperti dulu?"


"Kalau bicara jangan sembarangan, Pak!" Kesal Ratna.


"Lalu, apalagi yang kamu cemaskan?"


Ratna tak menjawab.


"Aku tahu, Ardi bisa saja melakukan hal itu pada Aini, agar ia bisa mendapat restumu. Tapi apa kenyataannya sekarang? Dia rela tinggal di rumah kita yang jelas jauh berbeda dengan rumah dan kehidupannya. Ia bahkan terlihat begitu tulus tanpa mengeluh dan menyesal sampai tinggal di rumah kita."


"Apa aku memang menghalangi Aini bahagia?" Batin Ratna.


"Jika memang nanti ada masalah dalam hubungan mereka, itu adalah penguat ikatan antara mereka, Bu. Karena semua pasti akan mengalami ujian dalam hidup ini."


"Kamu ingat, bagaimana dulu aku mengalami kecelakaan hingga kamu harus seorang diri menafkahi keluarga kita selama beberapa bulan? Itu bagian dari ujian hubungan kita, Bu. Dan nanti, hubungan Ardi dan Aini juga pasti akan diuji."


"Mereka sudah diuji, Pak."


"Itu kamu tahu. Tapi nyatanya apa? Perasaan mereka masih tetap bertahan setelah ujian itu, kan?"


"Masih kurang apalagi, Bu?" Tantang Imron.


Ratna menghembuskan nafasnya perlahan. Ia mulai menyadari, apa yang diucapkan Imron adalah benar adanya. Ia pun mengingat semua hal yang berkaitan dengan hubungan Ardi dan Aini.


Ratna memikirkan dengan baik keputusan yang akan dia buat untuk Aini. Karena itu jelas menyangkut masa depan Aini dan Umar.


Setelah beberapa saat berada di ujung persimpangan, Ratna akhirnya sudah memantapkan hatinya. Ia sudah memutuskan akan bagaimana menanggapi permintaan Ardi tempo hari. Ratna lalu berdiri.


"Mau kemana, Bu?" Tanya Imron cemas.


"Bicara sama Ardi, Pak." Yakin Ratna.


Imron hanya mengangguk paham. Ratna pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumahnya, untuk menemui Ardi yang sedang menghabiskan waktu dengan Aini di teras.


"Bisa kita bicara, Pak Ardi?" Tanya Ratna singkat, setelah muncul dari dalam rumah.


"Iya, Mbak." Jawab Ardi yakin.


Aini lalu melepaskan pelukannya pada Ardi. "Aku masuk dulu, Mas."


Ardi mengangguk paham. Aini pun meninggalkan Ardi dan Ratna di teras rumah. Sejenak, ia menoleh ke belakang dengan ragu.


"Semoga, semua akan baik-baik saja." Batin Aini cemas.

__ADS_1


Aini lalu kembali melangkah ke dalan rumah dan menghampiri Imron.


"Mas, mbak Ratna mau bicara apa sama mas Ardi?" Tanya Aini tegang.


"Aku nggak tahu, Ni. Tadi Ratna cuma bilang mau bicara sama Ardi." Jujur Imron.


"Mas nggak tanya dulu sama mbak Ratna tadi?"


"Enggak."


Aini duduk dengan lemas mendengar jawaban Imron dan memikirkan apa yang akan dikatakan Ratna pada Ardi. Hatinya benar-benar gelisah dengan apa yang akan Ratna katakan.


"Tenanglah! Semua pasti akan baik-baik saja. Dan apa yang akan terjadi nanti, itu yang terbaik untuk kalian." Nasehat Imron.


Aini memejamkan matanya dengan cemas. "Semoga."


Sedang di teras, Ratna segera duduk di tempat Aini duduk tadi. Ia mengambil nafas panjang demi memantapkan hatinya lagi.


"Pak Ardi,," Singkat Ratna, sambil menatap halaman rumahnya.


"Jangan panggil pak, Mbak! Panggil Ardi saja, seperti mas Imron! Usia kita juga tidak terpaut jauh, Mbak." Sahut Ardi sedikit gugup.


Ratna menghela nafas pelan. "Baiklah."


"Sebenarnya, kenapa Anda ingin menikah dengan Aini? Dia wanita biasa yang kehidupannya juga jauh berbeda dengan Anda."


"Bagiku, Aini bukan wanita biasa, Mbak. Dia istimewa. Dan aku tidak memandang bagaimana kehidupannya yang sedikit berbeda denganku."


"Bagiku, Aini wanita hebat yang pantas untuk diperjuangkan dan dinanti. Tak banyak wanita yang sepertinya saat ini."


"Aku tahu, aku pernah sangat mengecewakannya. Tapi, dia masih mau memaafkanku. Dan itu bukan hal mudah. Tapi dia melakukan itu. Maka dari itu, aku masih menanti dan memperjuangkannya sampai saat ini. Semua karena hati Aini yang begitu istimewa."


"Dia seorang janda dan pernah terluka dalam." Datar Ratna.


"Aku juga seorang duda, Mbak. Kami sama-sama pernah terluka di masa lalu. Itu bisa menjadi pelajaran bagi kami untuk menjalani masa depan dengan lebih baik."


"Apa Anda yakin, bisa menjaga Aini?"


"Seperti yang aku katakan kemarin, Mbak. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan dan kehidupan tanpa ujian pada Aini. Tapi, aku akan berusaha menjaga dan selalu ada di sampingnya setiap saat." Yakin Ardi.


Ratna menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Berusaha lebih meyakinkan lagi hatinya, agar tidak salah mengambil keputusan.


"Bahagiakan mereka, Di! Tolong hadirkan senyum dan kebahagiaan yang pernah hilang dari mereka!" Ucap Ratna lega.


Ardi yang tadi menatap lurus ke halaman rumah Ratna, akhirnya menoleh dengan cepat kepada wanita yang duduk di sampingnya.


"Aku akan berusaha memberikan kebahagiaan dan apapun yang terbaik bagi mereka, Mbak." Yakin Ardi dengan senyum di wajahnya.


"Tidak apa-apa, Mbak. Aku mengerti kenapa Mbak Ratna melakukan itu."


"Jika nanti kamu membuat Aini sedih, kecewa, hingga ia meneteskan air matanya lagi, aku tidak segan untuk mengambilnya darimu. Meski aku tahu, kamu bisa mengambilnya kembali dariku dengan segala yang kamu miliki."


"Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha selalu menghadirkan senyum di wajah mereka."


"Terima kasih." Haru Ratna.


"Terima kasih juga Mbak, karena Mbak Ratna merestui kami." Haru Ardi.


"Aku hanya ingin Aini dan Umar bahagia."


"Aku akan berusaha untuk itu, Mbak."


Ratna akhirnya mengangguk dan tersenyum.


"Ya sudah, aku masuk lagi. Beritahu Aini tentang hal ini."


"Iya, Mbak. Aku juga akan mengabari papa dan mama di Bandung."


Ratna mengangguk lagi. Ia lalu berdiri dan kembali masuk ke dalam rumah. Sedang Ardi, segera menghubungi Rama untuk mengabari keputusan Ratna.


Di dalam rumah, Ratna segera disambut oleh Aini. "Mbak ngobrol apa sama mas Ardi?"


"Memangnya kenapa?" Datar Ratna.


"Ya aku mau tahu, Mbak." Rengek Aini.


"Bukan apa-apa."


"Mbaaakkk,," Rengek Aini.


"Nggak usah rewel! Nanti malah bikin anak-anak bangun. Kasihan."


Aini mendengus kesal karena Ratna tak mau memberitahunya. Hatinya makin gelisah karena tak mendapat jawaban dari Ratna. Ia pun segera berdiri dan berjalan meninggalkan Imron dan Ratna.


Di teras,


"Iya, Pa. Nanti Ardi sampaikan."


"Ya."


"Makasih, Pa, Ma."

__ADS_1


"Ya sudah, Papa tutup dulu."


"Iya, Pa."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aini yang baru saja keluar, segera menghentikan langkahnya dengan perasaan makin cemas. Ia jelas mendengar, jika Ardi baru saja melakukan panggilan telepon dengan Rama. Tapi, ia disambut dengan senyuman hangat oleh Ardi.


"Apa ada masalah di Bandung, Mas?" Tanya Aini ragu.


"Tidak, Sayang." Lembut Ardi, seraya menggiring Aini untuk duduk di kursi dengannya lagi.


"Mas yakin? Apa Mas akan segera pulang ke Bandung?" Tanya Aini dengan tatapan makin cemas.


"Iya, besok. Dengan papa dan mama."


Kening Aini segera berkerut dalam. "Maksud, Mas?"


"Besok, papa dan mama akan kemari, Sayang."


"Kemari? Untuk apa? Apa mereka akan membujuk mbak Ratna?"


Ardi tersenyum lagi, lalu segera menarik tubuh Aini ke dalam pelukannya.


"Tidak, Sayang. Besok mereka akan kemari untuk melamarmu pada mas Imron dan mbak Ratna."


"Mela,, apa? Maksud, Mas?" Tanya Aini, setelah mendongakkan wajahnya tak percaya.


"Mbak Ratna sudah memberikan restunya, Sayang."


"Mas yakin?"


Ardi pun mengangguk yakin. "Iya. Ia mengatakannya padaku tadi."


"Alhamdulillah, Ya Allah." Ucap Aini yang langsung memeluk Ardi dengan sangat erat.


"Iya, Sayang. Alhamdulillah."


Tapi sejurus kemudian, Aini segera melepaskan pelukannya. Ia pun berdiri dan berlari ke dalam rumah. Ardi pun akhirnya mengikuti Aini ke dalam.


"Mbak! Mbak!" Panggil Aini sedikit berteriak.


"Kamu ini! Anak-anak sudah pada tidur. Kalau mereka kebangun, kan kasihan." Kesal Ratna.


Tapi Aini tidak menghiraukan itu. Ia langsung menghambur ke tubuh Ratna yang sedang duduk bersama Imron di depan tv.


"Terima kasih, Mbak. Terima kasih." Haru Aini, dengan air mata yang sudah mulai mengalir.


Ratna menghela nafas pasrah. "Kamu ini! Kayak anak kecil aja."


"Biar! Yang penting, aku mau berterima kasih sama Mbak." Manja Aini sedikit sesenggukan.


"Sudah, ah! Mbak mau lihat sinetron itu." Jawab Ratna, demi menutupi haru hatinya.


"Makasih, Mbak."


Ratna akhirnya mengalah. Karena Aini belum mau melepaskan pelukannya.


"Iya. Tapi ingat, ini adalah pilihanmu. Jadi, kamu harus bahagia." Pesan Ratna.


Aini mengangguk berkali-kali.


"Makasih juga sama mas Imron itu." Alih Ratna.


"Oh, iya." Aini sedikit terkekeh.


Aini pun segera melepaskan pelukannya dan menghampiri Imron. Ia segera meraih tangan kanan Imron, lalu menjabat dan mencium punggung tangannya.


"Makasih ya, Mas." Tulus Aini.


"Iya."


"Maaf, Mas Imron, Mbak Ratna." Sela Ardi tiba-tiba.


"Ada apa?" Tanya Imron.


"Besok, papa dan mama akan kemari untuk melamar Aini pada Anda berdua." Jelas Ardi.


"Mendadak sekali? Kalian, enggaaaak,,,??" Sahut Ratna sedikit terkejut.


"Mbak Ratna!" Tegur Aini.


"Papa dan mama hanya tidak ingin menunda terlalu lama."


"Baiklah. Kami akan menyambut mereka besok." Jawab Imron yakin.


Semua diliputi perasaan bahagia. Terlebih, Ardi dan Aini. Mereka benar-benar bahagia, karena akhirnya Ratna mau merestui hubungan mereka.


Setiap do'a dan usaha yang kita lakukan, pasti akan diberikan jawaban oleh Allah. Hanya saja, kita tak pernah tahu, jawaban itu apakah akan kita terima secara langsung ataukah sedikit tertunda. Tapi yakinlah, Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

__ADS_1


__ADS_2