
"Aini mana, Di?" Tanya Rama yang sudah siap di meja makan bersama Niken.
"Iya, Di. Mama nggak lihat Aini sejak tadi." Timpal Niken, seraya mengambilkan sarapan untuk sang suami.
"Mungkin di kamar Umar lagi, Ma. Mama, sih!" Jawab Ardi sedikit kesal.
"Kok Mama?" Sahut Niken bingung.
"Kan Mama yang semalam pake acara interogasi Aini sama Ardi pas pulang." Jawab Ardi datar.
"Kan Mama cuma tanya dikit." Kilah Niken.
"Kayak gitu dikit, Ma? Yang banyak kayak gimana, Ma?" Ketus Ardi.
Flashback On
"Mas, ini udah malem banget. Tokonya pasti mau tutup." Rengek Aini, untuk kesekian kalinya.
"Kamu ini! Mereka aja masih santai nungguin kita, kok." Sahut Ardi santai.
Ardi pun kembali berusaha mengalihkan perhatian Aini. Ia mengajak Aini membeli beberapa barang. Tak hanya untuk Aini saja tentunya, tapi juga untuk kedua putra mereka dan serta untuk Niken dan Rama.
Aini berusaha terus menolak ketika Ardi mencoba merayunya untuk membeli barang yang ia inginkan, tapi bukan Ardi jika tak bisa membuat Aini menuruti kemauannya. Hingga akhirnya, Ardi dan Aini membawa beberapa tas besar berisi barang belanjaan mereka keluar toko.
"Kamu tunggu sebentar, ya!" Pinta Ardi, setelah Aini masuk ke mobil.
"Mas mau kemana?" Tanya Aini cemas.
Ardi tersenyum kecil mendengar nada bicara Aini.
"Tenanglah! Aku tak akan lama. Aku hanya ingin berbicara dengan seseorang di toko ini." Jujur Ardi bahagia.
Aini pun mengangguk patuh. Ardi lalu berjalan kembali ke arah toko. Ada seorang wanita cantik dengan dandanan rapi yang tadi juga melayani mereka dengan sangat ramah saat di dalam toko, terlihat menanti Ardi dengan senyum ramah.
"Terima kasih untuk malam ini." Ucap Ardi tulus.
"Tentu, Pak." Jawab wanita itu sopan.
"Jangan lupa, berikan bonus untuk mereka semua, untuk malam ini!" Pesan Ardi serius.
"Sudah, Pak. Sesuai instruksi pak Dika tadi pagi. Saya memberikannya sesaat setelah jam operasional toko berakhir tadi." Jawab wanita itu tegas.
"Baiklah. Aku pergi dulu!"
"Silahkan, Pak!"
Wanita cantik yang tak lain adalah manager toko itu, segera mengangguk hormat pada Ardi. Ardi pun lalu kembali ke mobilnya. Ia bahkan tersenyum melihat Aini yang sedang menatapnya dari dalam mobil.
Ardi memang tadi siang sempat meminta Dika untuk memesan jam tambahan operasional pada manager toko untuk malam ini. Ia ingin berbelanja hanya berdua dengan Aini malam Aini.
Jadi, Ardi meminta pada manager toko, untuk memberi bonus pada para karyawannya. Dan itu diberikan di awal jam tambahan. Agar membuat mereka lebih bersemangat menyambut pemilik toko.
Dan itu sangat berhasil. Bonus yang diberikan di awal jam tambahan, membuat para karyawan toko melakukan banyak hal sebelum Ardi tiba. Mereka mengganti semua baju yang ada di manekin. Mengisi penuh stok barang yang berkurang karena pembeli lain sebelumnya. Hingga membuat Ardi dan Aini bisa berbelanja dengan puas.
"Maaf ya, lama." Ucap Ardi, saat ia sudah masuk mobil.
Aini menggelengkan kepalanya. "Apa dia temanmu, Mas?"
Ardi yang bersiap untuk menyalakan mobil, segera menoleh pada Aini. Ia menatap wajah Aini yang nampak polos bertanya padanya.
"Apa kamu cemburu?" Goda Ardi.
"Apa? Tidak, Mas. Bukan begitu maksudku." Jawab Aini gelagapan.
"Lalu?"
"Mas tadi bilang, ada janji dengan seseorang. Apa dia yang memiliki janji denganmu?" Tanya Aini perlahan, agar Ardi tak salah paham.
"Iya. Dia manager toko ini."
Aini pun mengangguk sambil ber-oh ria.
"Tenang! Aku bukan lelaki yang akan menduakan hati wanita yang aku cintai." Jawab Ardi lembut.
Aini tersenyum mendengar jawaban Ardi. Ardi pun membalas senyuman itu.
Setan dalam hati Ardi mulai menggelitik pertahanannya. Mereka berbisik pelan, membuat keyakinan sang duda mulai goyah.
Suasana malam yang mulai larut, situasi yang kini hanya berdua dan mulai saling memahami satu sama lain, membuat hati Ardi kembali tergoda untuk menerkam janda yang berada di mobilnya.
Ardi mulai menatap lekat wajah Aini. Wajah yang sedari tadi, tiada bosan-bosannya ia pandangi. Bayangan indah ciuman pertama mereka beberapa waktu yang lalu, mulai bermain indah di benak Ardi. Momen-momen sederhana tapi berkesan bagi keduanya, mulai menari tanpa permisi di kepala sang duda.
Tapi seketika, ucapan Aini saat di bioskop tadi pun terngiang di kepalanya tanpa permisi.
",, Ada waktunya nanti!"
Ardi pun mencoba menahan gejolak dalam dirinya yang selalu menggodanya tanpa ijin. Ia segera mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Dan segera melanjutkan apa yang tadi ia lakukan.
"Ayo pulang!" Ajak Ardi senatural mungkin.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Aini pun kembali membenarkan posisi duduknya. Sedang Ardi, lantas menghidupkan mesin mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.
Tak butuh waktu lama bagi Ardi untuk sampai ke rumah. Kondisi lalu lintas yang mulai lengang, membuatnya bisa memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dan saat sampai di rumah,,
"Kalian kemana aja sih? Jam segini baru pulang." Sambut Niken sedikit kesal.
Ardi pun mendengus kesal karena ulah Niken. Dan Aini, pastilah menunduk dalam karena merasa bersalah telah pulang larut malam. Apalagi, tadi Umar bersama Kenzo pergi dengan Niken dan Rama.
"Berapa film yang kalian tonton, sampai pulang selarut ini?" Imbuh Niken lagi.
"Belanja bentar, Ma." Sahut Ardi selembut mungkin, demi meredam kekesalan ibunya.
"Belanja kemana? Mana ada toko yang masih buka jam segini? Bikin alasan itu yang wajar."
"Beneran, Ma. Kami tadi belanja dulu di ANN Fashion." Jujur Ardi.
"Mereka tutup jam setengah sepuluh. Dan sekarang jam berapa?" Bantah Niken.
"Kalau Mama nggak percaya, tanya aja sama managernya. Kami tadi baru saja dari sana."
ANN Fashion, sebenarnya adalah milik Niken. Lebih tepatnya, itu adalah bisnis yang dirintis Niken sejak ia masih muda. Dan kini dikelola juga oleh Ardi
Berawal dari sebuah toko kecil yang Niken buka di sebuah ruko di pinggiran kota, perlahan berkembang semakin besar. Hingga saat ia menikah dengan Rama, ruko kecil itu sudah berubah menjadi sebuah toko yang kini masih berdiri dengan dua lantai. Yang merupakan salah satu dari lima toko yang Niken miliki.
Di tangan Niken dan Rama, ANN Fashion berkembang menjadi lima toko. Dua toko di Surabaya, dua toko di Bandung, dan satu toko lain di Jakarta.
"Kalau kalian memang belanja, mana belanjaannya?"
"Masih di mobil, Ma."
"Maaf, Bu." Ucap Aini sambil tertunduk.
Ardi dan Niken yang sedang sedikit berdebat, segera menoleh pada Aini.
"Masuklah ke kamar! Besok baru kita ambil belanjaannya!" Pinta Ardi penuh perhatian.
"Tapi,,"
"Pergilah ke kamar! Aku ingin mengobrol dengan mama sebentar." Jelas Ardi.
"Oh, iya Mas."
Aini pun segera berpamitan pada sepasang ibu dan anak itu. Ia lalu pergi ke kamarnya.
"Mama kenapa sih? Suka banget bikin Aini kayak gitu?" Tanya Ardi kesal.
"Mama kan cuma kepo." Jawab Niken santai.
"Kalau mau kepo, lihat waktu dong, Ma!"
"Kamu kalau kencan, juga lihat waktu, dong! Ini udah jam berapa?"
"Baru jam sebelas, Ma." Jawab Ardi, tanpa rasa bersalah.
"Baru jam sebelas? Besok lagi, pulang subuh aja sekalian." Kesal Niken.
"Oke, Ma." Sahut Ardi penuh kesanggupan.
Ardi segera berlari meninggalkan ibunya. Niken yang sedang menahan kekesalannya karena ucapan terakhir Ardi, segera membolakan kedua matanya. Ia akhirnya melepaskan putranya yang sedang kasmaran itu. Ia pun akhirnya juga kembali ke kamar untuk beristirahat kembali.
Flashback Off
"Panggil Aini, Di! Ajak sarapan bersama!" Pinta Rama perhatian.
"Iya, sana! Ada yang ingin Mama katakan juga padanya." Imbuh Niken.
"Oke, Ma, Pa."
Ardi segera berdiri dari kursinya. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju lantai dua rumahnya. Ia sudah tak sabar, ingin melihat wajah kekasihnya yang semalam tanpa permisi hadir di mimpinya.
"Sayang!" Panggil Ardi sambil membuka pintu kamar Umar.
"Kok nggak ada?" Monolog Ardi.
Ardi pun mencari Aini ke kamar mandi di kamar Umar. Tapi ternyata tidak ada. Ia lalu berpindah ke kamar Kenzo. Dan ternyata, Aini juga tidak ada di sana. Ardi segera berlari ke lantai bawah kembali.
"Mana Aini?" Tanya Niken, saat Ardi sampai kembali di meja makan.
"Nggak ada Ma, di kamar Kenzo sama Umar." Jujur Ardi mulai panik.
"Terus?"
"Mbok Sri! Mbok!"
Ardi pun berjalan menuju ke arah garasi. Ia sempat melihat Sri sedang menyapu di sana tadi.
__ADS_1
"Mbok Sri! Mbok lihat Aini nggak?" Tanya Ardi cepat.
"Tidak, Mas. Mbak Aini kayaknya pergi. Motornya nggak ada." Jawab Sri sambil menunjukkan dimana biasanya motor Aini terparkir di garasi.
Ardi segera merogoh ponselnya yang ada di saku. Ia segera mencoba menghubungi Aini.
"Kamu dimana, Sayang?" Ucap Ardi penuh kepanikan, saat panggilannya sudah tersambung.
Sri tersenyum kecil mendengar kalimat yang diucapkan Ardi. Ia begitu santainya memanggil Aini dengan panggilan sayang dihadapan orang lain. Padahal, setahu Sri, meski Ardi dan Aini memang terlihat sangat dekat belakangan ini, ia belum pernah mendengar Ardi memanggil Aini dengan panggilan itu di rumah.
"Aku di depan komplek, Mas. Ada apa?"
"Di depan komplek? Ngapain?" Tanya Ardi tak percaya.
"Semalam kan aku udah minta ijin ke kamu, Mas. Aku akan mengunjungi pusara bapak pagi ini. Ini juga udah mau sampai rumah. Ada apa?"
"Kenapa aku bisa lupa?" Batin Ardi.
"Oh, tidak apa-apa, Sayang. Hati-hati, ya! Aku tunggu di rumah." Sahut Ardi sekenanya.
"Iya, Mas."
Ardi lantas mengakhiri panggilan teleponnya. "Makasih ya, Mbok!"
"Iya, Mas."
Ardi lalu kembali ke rumah. Ia segera menghampiri kedua orang tuanya.
"Gimana? Aini kemana? Mbok Sri tahu nggak? Udah tanya pak Prapto sekalian belum?" Cecar Niken panik.
"Udah, Ma."
"Terus? Aini kemana?"
"Maaf, Ma, Pa. Ardi lupa. Aini udah pamitan ke Ardi semalam. Ia akan mengunjungi pusara pak Hadi pagi ini." Jelas Ardi cengengesan.
"Kamu ini! Bikin panik orang pagi-pagi!" Kesal Niken sambil memukul lengan Ardi.
"Maaf, Ma. Ardi beneran lupa." Jawab Ardi sambil mengusap lengannya.
"Eh, tapi, Umar nggak ikut?"
"Aini bilang, Umar takut jika sampai bertemu dengan ayahnya. Jadi dia memilih tidak ikut Aini berziarah pagi ini." Jujur Ardi.
Iya, bayangan sikap Adit yang sering berlaku sedikit kasar pada Umar, cukup menghantui anak berusia delapan tahun itu. Jadi, Umar memilih untuk menolak ajakan ibunya kemarin, saat ia diajak untuk berziarah ke makam kakeknya pagi ini.
Bukan Aini tak takut jika sampai bertemu dengan Adit atau mantan ibu mertuanya. Tapi, rasa hatinya ingin berziarah ke makam mantan ayah mertuanya, lebih besar dari pada rasa takut itu. Jadi, ia bisa cukup nekat untuk pergi ke makam Hadi pagi ini seorang diri.
Ardi sebenarnya semalam sudah mencoba merayu Aini agar mau diantarnya untuk berziarah, tapi ditolak secara halus oleh Aini. Aini tak ingin merepotkan Ardi dan menyeretnya ke dalam permasalahan antara dirinya dan keluarga Adit. Meski, secara tidak langsung, Ardi sudah ikut terseret ke arah sana.
Tak berapa lama, Aini sudah tiba di rumah. Ia pun segera memarkirkan lagi motornya di garasi seperti semula. Dan saat itu terjadi, ia segera dihampiri oleh Ardi. Ardi bahkan langsung memeluk Aini tanpa permisi.
"Kamu nggak papa, kan? Nggak ketemu sama Adit atau ibunya, kan?" Tanya Ardi cemas.
"Aku nggak papa, Mas. Aku nggak ketemu siapapun tadi." Jujur Aini santai.
Ardi lalu melepaskan pelukannya. Ia segera mengamati Aini dengan seksama, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia benar-benar ingin memastikan, bahwa Aini tidak terluka sedikit pun. Aini sampai tersenyum melihat tingkah Ardi.
"Aku nggak papa, Mas. Tenanglah!" Imbuh Aini berusaha meyakinkan Ardi.
Ardi pun menghela nafas lega. Ia akhirnya yakin, bahwa Aini baik-baik saja. Ardi lalu segera mengajak Aini masuk ke rumah.
"Mas tadi ada apa meneleponku?" Tanya Aini saat berjalan bersama Ardi.
"Oh, itu. Tadi aku lupa jika kamu pagi ini pergi berziarah ke makam pak Hadi. Papa dan mama mencarimu." Jujur Ardi sedikit cengengesan.
"Pak Rama dan bu Niken mencariku?" Ulang Aini tak percaya.
"Iya. Mama bilang, ada yang ingin ia katakan padamu."
Nyali Aini menciut tiba-tiba. Ia masih ingat kejadian semalam saat ia dan Ardi pulang setelah berkencan.
Apalagi, ia tadi tidak berpamitan pada Rama dan Niken saat hendak pergi. Karena memang, ia keluar rumah ketika Rama dan Niken belum kekuar kamar. Ia takut akan mengganggu mereka, jika tadi ia berpamitan. Dan lagi, ia juga sudah berpamitan pada Ardi semalam. Ia pikir, itu sudah lebih dari cukup.
"Kamu dari mana, Ni?" Tanya Niken datar, setelah bertemu dengan Aini di dalam.
Aini terkejut saat ia bertemu dengan Niken dan Rama yang sedang menunggunya.
"Maaf Pak, Bu. Saya dari berziarah ke makam mantan mertua saya tadi." Jawab Aini sedikit ketakutan.
"Oh,,"
"Maaf, Bu Niken. Maaf karena saya tidak berpamitan pada Anda tadi sebelum pergi. Saya takut mengganggu Anda tadi, karena masih sangat pagi." Jujur Aini lirih.
"Tidak apa. Ardi juga tadi pake acara lupa segala, jadi membuat kami sedikit cemas. Syukurlah jika kamu tidak apa-apa." Jawab Niken ramah.
"Iya, Bu. Terima kasih."
Rama dan Niken lantas meninggalkan Ardi dan Aini di meja makan. Karena memang, mereka sudah selesai sarapan. Sedang Ardi, segera mengajak Aini untuk sarapan bersamanya.
__ADS_1
Rasa sayang yang cukup besar, membuat kita terkadang melupakan hal kecil. Membuat kita sedikit posesif dan protektif pada mereka yang kita sayangi. Hal itu baik, selama masih dalam porsi yang semestinya.