Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Rival


__ADS_3

"Yang dimaksud om Rama itu ya kamu. Calon menantunya. Calon istrinya Ardi." Jawab Gilang sambil tersenyum geli.


Aini hanya diam tak merespon. Ia malah teringat kejadian saat di warungnya kemarin. Saat Ardi membantunya dari gangguan Anton, dengan mengatakan bahwa ia adalah calon suaminya.


"Bagaimana kabarmu, Ni?" Tanya Rama setelah mendekati Aini.


"Baik dong, Om. Kan sudah dikunjungi sama anak Om." Sela Gilang tanpa ijin.


"Bener juga kamu, Lang." Jawab Rama santai.


Aini hanya menatap dua laki-laki berbeda generasi yang ada di dekatnya itu. Ia tak tahu harus bagaimana mengelak atau membantah percakapan mereka, yang sebenarnya ada benarnya juga.


Rama lalu berniat memeluk Aini untuk menggoda Ardi. Ia sudah merentangkan kedua tangannya pada Aini, seperti hendak memeluk putrinya sendiri.


"Paaa!" Tegur Niken tiba-tiba.


"Iya, Ma." Jawab Rama sambil menghentikan aksinya.


"Inget umur!" Sindir Ardi.


"Inget umur gimana? Papa masih kuat kok kalau mau nambah satu lagi." Sombong Rama.


"Tuh, Ma! Papa mau nikah lagi." Adu Ardi.


"Biarin! Kalau papamu aja masih sanggup, Mama sih nggak papa. Apalagi kalau sama Aini? Mama sih, oke. Aini kan wanita baik." Jawab Niken santai.


"Nah kan, Di! Kalah cepet kamu sama om Rama." Cibir Gilang.


Rama dengan wajah sombongnya, menatap remeh pada anak semata wayangnya. Ia yang memang hanya berniat menggoda Ardi, ternyata malah dapat bantuan dukungan dari dua orang.


"Gimana, Ni?" Tawar Rama segera.


Aini yang makin kebingungan, hanya menatap bergantian pada Rama dan Niken yang terlihat sangat santai. Niken bahkan tidak terlihat cemburu sama sekali. Tapi malah Ardi yang terlihat sangat cemburu.


"Udah, Om! Kasihan Aini. Dia juga baru dateng. Nanti lagi di rumah kalau mau godain." Saran Gilang.


"Boleh juga saran kamu." Sahut Rama.


Gilang hanya mengangguk dan tersenyum nakal. Ia berusaha keras agar tidak lepas kendali akan tawanya karena melihat ekspresi wajah Ardi yang jelas tak terima jika Aini direbut oleh ayahnya sendiri.


Rama juga akhirnya mengikuti saran Gilang. Ia menyudahi keusilannya pada Aini dan menyambut Aini dengan ramah dan sewajarnya.


"Gimana, Dik? Sudah?" Tanya Gilang, saat melihat Dika masuk ke ruang rawat.


"Sudah, Dokter." Ramah Dika.


"Oke. Terima kasih."


"Sama-sama, Dokter."


Dika lalu kembali keluar. Ardi dan Aini jelas bingung mendengar percakapan singkat antara Dika dan Gilang tadi.


"Oke, Ken. Kamu sudah boleh pulang sekarang. Obatmu sudah datang, bukan?" Ucap Gilang, sambil duduk di tepi ranjang.


"Oke, Om. Terima kasih ya, Om."


"Sama-sama. Jangan lupa, bilang makasih juga sama papa!"


"Siap, Om."

__ADS_1


"Yasudah, Om pulang dulu ya?" Pamit Gilang.


"Iya, Om."


Gilang pun berpamitam pada semua. Tak terkecuali pada Ardi. Ia menatap tajam pada sahabatnya itu.


"Biasa aja lihatnya, Pak Duda!" Sindir Gilang.


"Awas kamu, Lang!" Batin Ardi geram, yang mulai menyadari sesuatu.


Niken pun segera mengemasi barang-barang Kenzo. Aini pun akhirnya membantu Niken, meski dengan beberapa pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Ada yang ingin kamu tanyakan, Ni?"


"Apa, Bu? Ah, itu. Sebenarnya, Kenzo sakit apa, Bu? Kenapa semalam harus dibawa ke rumah sakit?"


"Semalam Kenzo demam. Dan Gilang sedang dalam perjalanan kembali dari Bogor. Jadi, kami membawanya ke rumah sakit agar mendapat pertolongan." Jujur Niken.


"Lalu sekarang?"


"Dia sudah membaik. Seperti yang dikatakan Gilang tadi, obat Kenzo sudah datang, jadi dia sudah bisa pulang."


"Obat?"


"Dia sangat merindukanmu, Ni. Dia akhir-akhir ini sering memimpikanmu."


Awalnya, Niken ingin membohongi Ardi dengan mengatakan bahwa Kenzo sakit, agar bisa membujuk Aini untuk pergi ke Bandung dan menemui Kenzo. Tapi malah diluar dugaan, Kenzo benar-benar demam saat malam tiba. Dan itu menguatkan Niken untuk meminta bantuan Dika agar bisa membuat keadaan dimana Aini yang menerima telepon Niken kemarin. Dan berhasil membuat Aini terbang ke Bandung menemui Kenzo.


Kenzo sebenarnya tak perlu rawat inap. Tapi karena ingin menguatkan alasan agar bisa membuat Aini terbang ke Bandung, Niken meminta Gilang yang baru pulang dari Bogor untuk sedikit mengurusnya pada pihak rumah sakit.


Aini menoleh pada Kenzo yang tak melepaskan pandangannya dari sang bunda. Ia benar-benar tak mau kehilangan bundanya lagi sekarang.


Setelah selesai, semua akhirnya pulang ke rumah. Aini dan Umar juga jelas ikut ke rumah Ardi.


Aini sedikit terkejut dengan kediaman Ardi di Bandung. Benar-benar berbeda dengan kediaman Ardi yang di Surabaya. Jika yang di Surabaya desainnya lebih modern, tapi yang di Bandung, desainnya sangat klasik. Bahkan ada joglo kecil di halaman depannnya. Yang sama hanyalah halaman rumahnya yang begitu luas. Karena Niken suka berkebun.


"Ke ruang kerjaku!" Datar Ardi pada Dika, sebelum Dika berpamitan.


"Baik, Pak."


Ardi dan Dika segera menuju ruang kerja Ardi. Ardi segera menginterogasi Dika tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dika pun menjelaskan semuanya.


"Jadi, ini rencana mama?" Gumam Ardi.


"Awalnya seperti itu. Tapi ternyata, putra Anda memang benar-benar demam semalam. Dan dokter Gilang masih dalam perjalanan kembali dari Bogor."


"Baiklah. Pulanglah! Terima kasih."


"Tentu, Pak."


Ardi sudah paham semuanya saat ini. Dika lalu berpamitan pada Rama dan Niken dan pulang ke rumahnya.


Sedang Aini dan Umar, langsung diboyong oleh Kenzo ke kamarnya. Mereka bahkan langsung diminta oleh Kenzo untuk tidur di kamar itu nanti malam.


Aini dan Umar hanya menurut pada Kenzo. Karena Rama dan Niken pun tidak melarangnya. Mereka membiarkan Kenzo untuk melepas rindunya pada dua orang itu.


****************


Pagi telah menyapa. Menyapa para penduduk Nusantara dengan kehangatannya yang begitu menenangkan. Dan pagi ini, Aini sudah berada di dapur rumah Ardi dengan celemek yang terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


Ardi yang memang terbiasa bangun pagi, terkejut melihat Aini sudah sibuk di dapur. Ide jahilnya muncul karena teringat kejadian saat di pesawat kemarin.


"Sayang!" Panggil Ardi santai.


"Iya." Jawab Aini spontan sambil menoleh pada Ardi.


"Eh? Maaf, Mas." Imbuh Aini malu.


Ardi tersenyum mendengar jawaban Aini yang spontan. Aksi jahilnya ternyata berhasil. Aini masih ingat panggilan sayangnya dulu.


"Kamu tamu di sini. Kenapa malah memasak?" Tanya Ardi sambil mendekati Aini.


"Oh, ini Mas. Semalam Kenzo minta sarapan nasi goreng yang biasa aku buatkan untuknya. Jadi aku memasak untuknya." Jujur Aini.


"Aku? Tidak dibuatkan juga?"


"Mas juga mau? Aku buat lebih kok, Mas. Tenang saja!"


"Calon istri idaman." Puji Ardi sambil bersandar di meja dapur.


"Apa?" Aini segera menoleh pada Ardi.


"Kamu calon istri idaman." Jawab Ardi santai.


Wajah Aini segera merona karena malu. Ia jelas langsung merasa gugup karena pujian dari Ardi. Jantungnya segera berdegup lebih cepat dan membuatnya sedikit kegerahan.


"Kalian ngapain?" Tegur Niken tiba-tiba.


Ardi dan Aini segera menoleh ke sumber suara. Ternyata, ada Rama dan Niken di ruang makan yang letaknya tak jauh dari dapur.


"Pacaran, Ma. Boleh kan, Ma?" Jawab Ardi santai.


Aini langsung menoleh dengan penuh keterkejutan. "Enggak, Bu. Saya sedang membuatkan nasi goreng untuk Kenzo. Tapi mas Ardi tiba-tiba datang ke sini."


"Aku nggak dibuatin, Ni?" Goda Rama.


"Iya, Pak?" Bingung Aini.


"Dibuatin dong, Pa. Aini kan calon menantu idaman. Iya kan, Ma?" Sahut Ardi.


"Bukan calon menantu, tapi calon istri." Ralat Rama.


"Papa!" Kesal Ardi.


"Kenapa? Mamamu aja ngijinin kok kalau Papa nikah sama Aini, kenapa kamu protes?" Santai Rama.


Ardi mengerutkan keningnya dengan wajah yang kesal dan sedikit marah. Tak disangka, ayahnya sepertinya serius dengan ucapannya kemarin. Apalagi, ibunya pun tidak terlihat cemburu atau bahkan marah sedikit pun dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.


"Kamu sih, kelamaan. Sekarang gini aja, tanya sama Aini langsung aja. Dia mau milih Papa apa kamu?" Sombong Rama.


"Papa mau jadi rival Ardi?" Sahut Ardi tak kalah sombong.


"Kenapa enggak? Pilihan tetap ada di tangan Aini. Iya kan, Ma?"


Niken pun mengangguk untuk mengiyakan. Wajahnya pun begitu santai.


Aini yang baru saja menyelesaikan sesi memasaknya sambil mendengarkan obrolan sepasang ayah dan anak itu, akhirnya menatap bingung pada dua laki-laki yang terlihat sama seriusnya.


"Jadi Ni, kamu mau jadi istriku atau istri Ardi?" Tanya Rama tanpa ragu.

__ADS_1


__ADS_2