Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Hamil


__ADS_3

Hidup dan mati adalah misteri. Tak ada seorang pun yang akan mengetahui kapan ia datang. Begitu juga dengan rezeki. Semua berada mutlak di tangan Yang Maha Kuasa.


"Pak Hadi terkena stroke." Ucap seorang dokter perempuan paruh baya, yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan keseluruhan pada Hadi pagi ini.


Hadi harus menjalani rawat inap untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut pada dokter spesialis saraf. Karena memang, sejak ia siuman semalam, ia kesulitan diajak berkomunikasi. Dokter jaga IGD yang menanganinya, mendiagnosa bahwa Hadi mendapat serangan jantung dan mengalami gejala stroke. Jadi ia menyarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis saraf.


"Stroke, Dokter?" Ucap Adit tak percaya.


"Iya."


"Tapi ayah saya selalu menjalani hidup sehat Dokter. Memang, akhir-akhir ini tekanan darahnya sering tinggi, tapi beliau selalu menerapkan pola hidup sehat." Jelas Adit bingung.


"Beliau mendapat serangan jantung semalam sepertinya. Ada sesuatu yang mengejutkannya, sehingga tekanan darahnya naik drastis. Dan itu mungkin menjadi salah satu penyebabnya." Jelas dokter itu.


Adit terdiam. Ia mengingat apa yang semalam sedang mereka perdebatkan sebelum sang ayah jatuh tak sadarkan diri sambil memegangi dada bagian kirinya.


"Pak Hadi kesulitan untuk berbicara saat ini. Dan sepertinya, tubuh bagian kirinya juga sedikit sulit untuk digerakkan." Jelas dokter itu lagi.


"Langsung seburuk itu Dokter?" Tanya Adit tak percaya.


"Ini masih bisa diterapi perlahan Pak. Memang akan butuh waktu dan tidak akan sembuh sempurna, tapi bisa diterapi untuk membantunya berkomunikasi dan melakukan aktivitasnya kembali."


Adit tak bisa banyak berkata. Ia tak menyangka, kondisi ayahnya akan seburuk itu hanya dalam sekejap mata.


Cukup lama Adit berkonsultasi dengan dokter. Dokter pun dengan sabar menjawab dan menjelaskan banyak hal pada Adit untuk membantu agar kondisi Hadi bisa membaik lebih cepat.


Di ruang rawat, Hadi ditemani sang istri. Ia tak banyak berkomunikasi dengan istrinya, karena Suharti tidak memahami sama sekali apa yang Hadi utarakan hanya dengan gerakan tangan kanannya.


Sedangkan dua menantu Hadi, sedang sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Ratri menemani Umar di rumah. Sedang Aini, harus berangkat bekerja hari ini. Karena memang, ada banyak pekerjaan yang harus ia tangani sendiri hari ini, karena sang manager sedang ijin tidak masuk bekerja.


Adit berusaha bersikap setenang mungkin dihadapan Hadi dan Suharti. Ia tak ingin, Hadi tahu jika kondisinya cukup buruk.


"Bapak butuh sesuatu?" Tanya Adit setelah menghampiri Hadi yang tiduran dengan lemah di ranjangnya.


Hadi mengangguk dan menunjuk pada Adit. Ia menunjukkan jari telunjuknya pada Adit.


Adit berusaha keras memahami maksud ayahnya yang sedang tak bisa berbicara itu. Ia berusaha mencerna setiap gerakan tangan sang ayah yang menginginkan sesuatu.


"Adit? Satu?" Ucap Adit bingung.


Hadi menggeleng. Ia lalu menarik tangan Adit dan menyentuh cincin pernikahan Adit yang ada di tangan kanannya. Cincin pernikahannya dengan Aini.


"Bapak mencari Aini?" Tanya Adit lagi.


Hadi mengangguk pelan.


"Ngapain Bapak cari menantu nggak tahu diri itu? Dia yang udah bikin Bapak kayak gini." Sela Suharti kesal.


Adit menghela nafas beratnya.


"Aini berangkat kerja Pak. Managernya tidak berangkat hari ini, jadi dia harus mengurusi rumah makan hari ini." Jelas Adit perlahan.


"Haalllaahh, alasan. Palingan juga mau ketemu sama selingkuhannya yang kemarin." Sahut Suharti lagi.


"Cukup Bu'! Aini sudah menjelaskannya bukan semalam? Dia tidak selingkuh Bu'." Bela Adit tak terima.


"Semua pasti menjawab begitu jika sudah terpojok. Mana ada yang mau mengakui kalau mereka selingkuh di belakang pasangan sahnya?" Cibir Suharti yakin.


Adit berusaha keras menahan emosinya. Ia sudah dinasehati oleh dokter tadi, untuk membantu menjaga emosi sang ayah agar kondisinya tidak semakin buruk.


Siang harinya, Aini menyempatkan diri mengunjungi Hadi ke rumah sakit saat makan siang. Aini mendapati Adit sedang tertidur di sofa ruang rawat Hadi seorang diri. Ia kelelahan karena semalaman menemani Hadi di rumah sakit seorang diri. Sedang Suharti, memilih pulang karena kesal dengan sang suami yang terus menanyakan Aini.


Aini membantu Hadi untuk makan siang. Ia pun mengobrol sedikit dengan mertuanya itu.

__ADS_1


Perasaan Hadi cukup lega melihat Aini baik-baik saja. Ia benar-benar khawatir, jika sampai Suharti melakukan sesuatu pada Aini karena foto yang ia dapat kemarin. Hadi sangat yakin, Aini tidak melakukan apa yang dituduhkan Suharti kemarin.


Ketika hendak kembali ke tempatnya bekerja, Aini menyempatkan untuk membangunkan Adit agar melaksanakan kewajibannya. Adit sangat terkejut melihat Aini ada di rumah sakit.


"Aku berangkat kerja lagi Mas!" Pamit Aini setelah Adit selesai sholat.


"Iya, hati-hati! Kamu sudah makan?" Tanya Adit perhatian.


"Belum Mas, Aini belum lapar. Mas makanlah dulu! Aini tadi beli makan siang untuk Mas."


"Kita makan bersama ya?"


"Jam istirahatku sudah habis Mas. Aini harus kembali ke rumah makan."


Adit bersikeras menahan Aini agar makan siang terlebih dahulu. Tapi Aini tetap menolaknya karena tak ingin membolos. Adit pun akhirnya membiarkan Aini kembali ke tempat kerjanya dengan perasaan kurang baik.


Satu minggu berselang.


Hadi sudah diijinkan pulang sejak kemarin. Semua lega karena kondisi Hadi perlahan membaik. Meski tak banyak, tapi sudah ada sedikit kemajuan.


Adit meminta Hadi untuk tinggal di rumahnya setelah pulang dari rumah sakit, agar ada yang membantu Suharti merawatnya. Tapi Hadi menolak. Dengan alasan, ia tak ingin mengusik rumah tangga putra semata wayangnya itu.


Tuduhan pada Aini pun perlahan mengabur. Teralihkan oleh kondisi Hadi yang mendadak terkena stroke dan harus menjalani terapi demi memulihkan kondisinya.


"Mas Adit!" Teriak Ratri girang dari dalam kamarnya pagi ini.


Adit yang sedang menemani Umar karena ditinggal Aini menyiapkan sarapan, seketika menoleh pada Ratri yang berlari ke arahnya dengan wajah yang berbinar.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Adit santai.


"Aku hamil Mas." Ucap Ratri bahagia, sambil menyerahkan benda putih pipih dengan dua garis merah yang tersurat di satu sisinya.


Adit segera menerima benda itu dengan hati yang penuh dengan perasaan yang sulit dijabarkan.


Adit melihat dengan seksama, gambar dua garis merah yang cukup lama ia nantikan. Ia segera merengkuh tubuh Ratri dan memeluknya erat.


Aini yang sedang berada di dapur, jelas mendengar percakapan itu. Ia ikut bahagia mendengar kabar itu. Ia sejenak menghampiri suami dan madunya itu.


"Selamat Mbak Ratri. Rumah ini pasti makin rame nanti." Ucap Aini tulus.


Adit dan Ratri segera melepaskan pelukannya.


"Iya Ai. Umar bakalan ada temennya main." Sahut Ratri gembira.


Ratri pun segera memeluk Aini. Sedang Adit, segera menelepon ibunya untuk mengabarkan berita itu. Tak lupa, Ratri juga segera mengabari kedua orang tuanya yang sedang berada di Jakarta.


Kabar bahagia. Bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Menjadi harapan baru ketika semua asa mulai lepas dari genggaman yang lembut namun penuh keyakinan.


Semua jelas bahagia dengan kabar kehamilan Ratri. Adit pun memberikan perhatian lebih pada Ratri karena kehamilannya. Dan ternyata, usia kehamilan Ratri baru menginjak minggu ke empat. Masih sangat rentan.


Jadi, Adit sangat mencurahkan perhatiannya pada Ratri. Ia bahkan bisa tidak berangkat ke kantor hanya karena Ratri yang mulai sangat manja karena hormon kehamilannya.


Dan diam-diam, Ratri dan Suharti mulai menjalankan rencana mereka. Dan rencana mereka semakin mudah karena dibantu dengan kehamilan Ratri.


Lalu, bagaimana dengan Aini?


Aini jelas tersisih secara perlahan. Adit semakin tak adil pada Aini sedikit demi sedikit. Perhatiannya pada Aini pun mulai hilang. Aini sampai harus bersusah payah meminta Adit untuk bersikap adil padanya meski kini Ratri tengah hamil.


"Mengertilah Ni! Ratri sedang hamil sekarang." Pinta Adit tanpa ragu.


"Aku juga istrimu Mas. Kamu seharusnya adil pada kami, meskipun Mbak Ratri sedang hamil." Sanggah Aini cepat.


"Bukankah kita sudah pernah membicarakannya tentang nafkah bulanannya? Kamu juga setuju bukan saat itu." Jawab Adit santai.

__ADS_1


"Ini bukan hanya tentang nafkah lahir Mas. Bagaimana dengan nafkah batinku? Aku juga butuh kasih sayang darimu Mas." Perasaan Aini mulai diliputi emosi.


"Kamu selalu mengutamakan Mbak Ratri karena ia sedang hamil. Kamu bahkan tak pernah lagi menemani Umar dan aku tidur malam Mas. Kamu selalu menemani Mbak Ratri setiap hari."


"Kapan terakhir kali Mas memberikan nafkah batin untukku? Apa Mas ingat?" Tantang Aini setelah ia berusaha menahan emosinya yang mulai tak terkendali.


Adit terdiam. Ia berusaha mengingat, kapan terkahir kali ia melakukan hal itu dengan istri pertamanya itu.


"Kenapa Mas? Mas lupa? Jika memang Mas lupa, Aini bantu ingatkan. Mas terakhir kali memberikan nafkah batin padaku adalah tepat satu malam sebelum Bapak masuk ke rumah sakit. Dan itu artinya sudah hampir tiga bulan yang lalu. Dan terakhir kali Mas menemani aku dan Umar tidur, adalah sehari setelah kepulangan Bapak dari rumah sakit. Apa Mas sekarang sudah ingat?" Cecar Aini kesal.


Adit menghela nafas panjangnya.


"Ternyata sangat sulit untuk bisa adil pada mereka." Batin Adit pasrah.


"Apa Mas tahu, betapa aku merindukanmu Mas? Aku juga butuh belaian kasih sayangmu Mas. Aku masih istrimu. Apa kamu mau, aku meminta belaian kasih sayang dari laki-laki lain?" Ucap Aini getir.


"Kamu ini bicara apa?" Bentak Adit tak terima.


"Jika memang kamu tak menginginkan hal itu, berlakulah adil padaku dan Mbak Ratri. Bukankah itu janjimu dulu, saat Mas akan menikah dengan Mbak Ratri?"


Adit paham apa maksud Aini. Ia juga sadar, ia sudah sangat tidak adil pada Aini karena kehamilan Ratri.


Adit menoleh pada wajah polos Umar yang tengah terlelap di ranjangnya.


"Maafkan Ayah ya Nak!" Batin Adit getir.


"Baiklah. Aku akan menemani kalian malam ini. Aku juga rindu tidur dengan Umar." Jawab Adit lembut.


Aini pun tersenyum lega. Usahanya untuk berbicara langsung pada sang suami agar bisa berlaku adil padanya, ternyata membuahkan hasil. Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Aku akan berusaha lebih adil pada kalian berdua." Imbuh Adit seraya mengusap lembut pipi Aini.


Aini pun mengangguk.


"Aku akan melihat Ratri terlebih dahulu." Pamit Adit.


Aini kembali mengangguk.


Tanpa Adit dan Aini ketahui, Ratri mendengar percakapan mereka tadi. Ratri memang sengaja mencuri dengar percakapan suami dan madunya itu, agar ia tahu sejauh mana lawannya itu bisa beraksi.


Setelah mendengar adit berpamitan, Ratri segera kembali ke kamarnya. Ia berpura-pura tertidur di balik selimutnya saat Adit datang ke kamarnya.


"Aku akan tidur dengan Umar malam ini. Istirahatlah!" Ucap Adit setelah duduk di tepi ranjang Ratri.


Adit pun mengecup kening Ratri yang matanya terpejam. Ia lalu berdiri dan keluar kamar sembari menutup pintunya perlahan. Ia lalu kembali ke kamar Aini sesuai janjinya.


Ratri yang memang belum terlelap, kesal bukan main karena ulah protes Aini tadi. Ia benar-benar tak ingin, Adit berdekatan dengan Aini. Entah karena hormon kehamilan atau karena keegoisannya yang mulai mempengaruhi hati Ratri saat ini. Tapi yang pasti, Ratri sungguh tak ingin berbagi suami dengan madunya itu.


Sedang di kamar Aini, Aini sudah menantikan saat ini selama beberapa hari belakangan. Ia pun segera mempersiapkan dirinya untuk menyambut sang suami. Sedikit berdandan dan menggunakan parfum pastinya. Tujuannya, agar hubungannya dengan Adit kembali lebih hangat seperti sedia kala.


"Kita ngobrol sebentar Mas!" Ajak Aini lembut setelah Adit menutup pintu kamarnya.


Adit pun mengangguk setuju. Mereka lantas duduk di sofa kecil yang ada di seberang ranjang. Mereka mengobrol banyak hal dengan hati yang cukup lega.


"Mas,," Panggil Aini mesra, sambil bergelayut manja di bahu Adit.


"Iya,,"


Adit pun menoleh pada Aini. Aini segera mendongakkan wajahnya agar bisa memandang wajah sang suami yang ia cintai. Tanpa aba-aba dan permisi, Aini mencium bibir Adit dengan begitu lembut.


Pasangan suami istri itu pun larut dalam keromantisan yang lama tak mereka teguk bersama. Mengarungi indahnya anak-anak tangga menuju puncak surga dunia yang indah bagi pasangan sahnya masing-masing.


Komunikasi, menjadi hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Tanpa adanya komunikasi yang baik, sebuah hubungan akan mudah diguncang oleh terpaan angin yang bertiup tanpa arah dan tujuan yang pasti.

__ADS_1


__ADS_2