
Rintik hujan tak mereda sejak semalam. Mereka masih setia menyapa bagian kecil dari bumi yang begitu besar. Memberikan kesejukan bagi setiap apa saja yang disentuhnya.
Setelah pulang dari Pasuruan semalam, Adit kesulitan menghubungi wanita yang sedikit ia cumbu semalam. Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali pagi ini.
"Mungkin, dia lupa mengisi baterainya." Gumam Adit, setelah beberapa kali gagal menghubungi wanita itu, yang tak lain adalah Reni.
Adit pun memilih untuk bersiap ke kantor dan mengesampingkan hal itu. Ia akan mencoba menghubungi wanita yang cukup mencuri perhatiannya itu nanti.
Adit memang sedikit tertarik dengan Reni sejak pertemuan pertama mereka. Tubuh Reni yang ideal, dan dengan ukuran buah dadanya yang memang lebih besar dari milik Ratri, jelas menggoda iman seorang Adit.
Dan hal itulah yang membuat Adit, langsung membuka kesempatan bagi Reni, untuk masuk dalam hidupnya. Meski mereka belum lama saling berkenalan.
Seharian Adit disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Ia sampai lupa untuk kembali menghubungi Reni hingga malam.
Dan malam hari, saat Adit baru saja pulang dari bekerja, ada tamu yang datang ke rumahnya. Ratri pun membukakan pintu untuk tamunya itu.
"Selamat malam, Bu Ratri." Sapa seorang laki-laki, yang berdiri di depan pintu.
"Iya. Anda?" Jawab Ratri bingung.
"Saya Dika, asisten pribadi Bapak Ardiansyah El Baraja." Jawab laki-laki itu ramah.
"Oh, iya. Maaf Pak, saya lupa. Kita baru bertemu satu atau dua kali. Jadi saya tidak begitu mengenali Anda." Jawab Ratri malu.
Laki-laki yang memang adalah orang kepercayaan Ardi itu, tersenyum ramah untuk menanggapi Aini.
"Apa, pak Adit ada?" Tanya Dika segera.
"Ada. Sebentar, saya panggilkan! Mari, silahkan masuk!" Sahut Ratri ramah.
"Terima kasih, Bu Ratri."
Dika lantas melangkahkan kakinya ke dalam rumah Adit. Ia sedikit melirik beberapa furnitur dan isi rumah Adit.
Ratri yang fokus dengan pertanyaan Dika tadi, lupa untuk mempersilahkan Dika duduk untuk menunggu Adit. Dika pun berdiri sambil memainkan ponselnya untuk menunggu sang tuan rumah.
"Siapa, Ma?" Tanya Adit, saat Ratri menghampirinya.
"Pak Dika." Jawab Ratri singkat.
"Dika siapa?"
"Asisten pribadinya pak Ardi. Dia nyari kamu, Mas."
Deg. Jantung Adit mendadak berdegup kencang. Ia segera teringat dengan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini, yang tak lain tentang penculikan Aini.
"Kenapa katanya?" Tanya Adit cemas.
"Aduh, aku lupa nggak nanyain, Mas."
"Kamu ini! Jangan-jangan, ini menyangkut Aini?"
Ratri pun terdiam. Pikirannya segera melayang pada sahabat lamanya yang kemarin ia tinggalkan dalam kondisi yang jauh dari kata baik. Ia menatap bingung pada Adit.
"Temuin aja dulu, Mas! Lagian, masalah itu kan diurus sama polisi." Sahut Ratri berusaha tenang.
__ADS_1
"Ada tamu, ya?" Tanya Suharti tiba-tiba, yang baru saja keluar kamar bersama cucunya.
"Iya, Bu. Nyari mas Adit." Jawab Ratri singkat.
Adit pun segera beranjak dari duduknya. Ia lalu berjalan menuju tuang tamu rumahnya.
"Sebentar ya, Bu!" Pamit Ratri, sambil melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya.
"Iya."
Ratri pun membuatkan minuman untuk Dika dan Adit. Ia yang penasaran dengan kedatangan Dika, akhirnya ikut duduk di samping Adit untuk mengetahui alasan kedatangan Dika ke rumahnya.
"Ada apa ya, Pak? Kenapa berkunjung malam-malam begini?" Tanya Adit sopan, setelah ia dan Dika duduk saling berhadapan.
"Saya datang kemari untuk menjemput Anda berdua." Jujur Dika.
"Menjemput kami? Untuk apa?"
"Pak Ardi ingin bertemu secara pribadi dengan Anda. Ada yang ingin beliau sampaikan."
Adit cukup kebingungan mendengar alasan Dika. Ia menoleh pada Ratri, yang ternyata jiga menoleh padanya.
"Maaf, mungkin ini sedikit mendadak. Tapi beliau ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu, saat ini. Beliau sudah menunggu Anda." Imbuh Dika.
"Untuk apa? Dan kenapa mendadak sekali?" Tanya Adit makin bingung.
"Jadwal pak Ardi akhir-akhir ini sangat padat. Beliau menyempatkan waktunya malam ini untuk menemui Anda berdua. Beliau ingin berterima kasih pada Anda." Jelas Dika panjang lebar.
"Berterima kasih? Untuk apa?"
"Aini?"
"Iya. Beliau hanya mengatakan sedikit pada saya. Bahwa beliau ingin berterima kasih pada Anda, karena telah menasehati beliau tentang bu Aini, beberapa waktu yang lalu."
Adit jelas mengerutkan keningnya. Ia cukup kebingungan memahami maksud ucapan Dika. Dan Dika jelas mengerti ekspresi wajah Adit.
"Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menemuinya dan menanyakan langsung pada beliau." Imbuh Dika.
"Apakah harus sekarang?" Tanya Adit penasaran.
"Iya, Pak. Karena besok, beliau harus keluar kota untuk beberapa hari kedepan."
Adit terdiam. Ia masih mencoba memahami maksud ucapan Dika tadi.
"Nggak papa, Mas. Pak Ardi sudah menyempatkan waktunya. Kenapa kita juga tidak menyempatkan waktu untuknya?" Sahut Ratri tiba-tiba.
Adit menoleh pada Ratri. "Bener juga."
"Baiklah. Dimana pak Ardi ingin bertemu?" Ucap Adit yakin.
"Kami akan mengantar Anda ke sana nanti. Saya datang kemari untuk menjemput Anda berdua, sesuai permintaan pak Ardi."
Adit sedikit cengar-cengir. Ia tak menyangka, Ardi memperlakukannya cukup spesial kali ini. Ardi bahkan mengirimkan orang kepercayaannya untuk menjemput dirinya dan istrinya, hanya untuk menemuinya malam ini.
"Tuh, Mas! Pak Ardi bahkan meminta asisten pribadinya untuk menjemput kita. Masak kita tolak?" Timpal Ratri bahagia.
__ADS_1
Wanita mana yang tak bahagia jika diperlakukan istimewa oleh orang lain. Apalagi, perlakuan itu cukup jarang diterimanya. Meski dari orang yang cukup asing baginya.
Jadi jelas, Ratri cukup bahagia saat ini.
"Baiklah. Kami akan bersiap sebentar!" Jawab Adit yakin.
Tanpa banyak berpikir lagi, Adit segera berdiri dan hendak untuk berganti pakaian. Ratri pun akhirnya mengekorinya. Tapi, sebelum Adit pergi, ia menoleh pada Dika lagi.
"Apakah akan lama? Kalau tidak, aku ingin mengajak putraku." Ucap Adit.
"Saya kurang tahu untuk hal itu. Tapi untuk lebih amannya, putra Anda, mungkin lebih baik di rumah saja. Ini juga sudah malam bukan? Kurang baik bagi seorang anak kecil yang masih balita, jika keluar malam-malam." Jawab Dika yakin.
Adit menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
Dika pun tersenyum ramah pada Adit. Hatinya cukup lega, karena berhasil mencegah Adit membawa putranya. Karena hal itu yang sejak tadi menjadi pikirannya.
Adit dan Ratri lantas berpamitan pada Suharti yang sedang bermain dengan cucunya, sembari ditemani oleh asisten rumah tangga sekaligus pengasuh putra kedua Adit. Mereka lalu berganti pakaian, agar tidak membuat Dika terlalu lama menunggu.
"Apa sudah siap?" Tanya Dika, saat Adit dan Ratri kembali menghampirinya.
"Sudah." Jawab Adit singkat.
"Baik, Pak. Mari!"
Dika segera berjalan keluar rumah dan diikuti oleh Adit dan Ratri. Mereka lalu menuju sebuah mobil MPV hitam, yang sedari tadi terparkir rapi di depan rumah Adit. Dika pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Silahkan masuk, Pak Adit, Bu Ratri!" Pinta Dika sopan.
Adit hanya mengangguk. Sedang Ratri, jelas bahagia karena diperlakukan seperti itu. Ia bahkan tak berhenti tersenyum sejak berganti pakaian tadi.
Setelah Adit dan Ratri masuk mobil, Dika pun akhirnya juga masuk mobil. Ia duduk di samping sopir yang dari semalam menjadi temannya berbuat banyak hal, Reno.
"Aku yakin, pak Ardi sudah menemukan sisi buruk Aini. Jadi, ia pun akhirnya mau berterima kasih padaku secara langsung." Batin Adit bangga, saat mobil yang ditumpanginya mulai melaju.
Sandiwara Dika berhasil. Adit dan Ratri tidak curiga sedikitpun dengan semua hal yang ia ungkapkan. Dika dan Reno yang duduk di kursi depan, sejenak saling lirik dan tersenyum licik.
...****************...
Kala malam makin larut, suara-suara alam pun makin membaur dengan segala hal. Meramaikan malam yang sepi, menjadi lebih hidup dan penuh warna.
Ketika Dika dan Reno sedang menjalankan tugasnya, Ardi masih setia menanti Aini membuka kelopak matanya. Ia tadi sejenak masuk ke ruang ICU dan mengetakan beberapa hal pada Aini.
"Kenapa kamu belum membuka matamu, Sayang? Apa kamu tak rindu padaku?" Ucap Ardi, sambil mengusap lembut tangan Aini.
"Dua putra kita sudah sangat menantimu. Mereka sangat rindu padamu."
"Maaf, aku gagal menjagamu. Bukan aku menjagamu dengan baik, tapi malah membuatmu seperti ini. Kumohon, maafkan aku! Bukalah matamu, Sayang! Aku sangat rindu dengan mata teduhmu dan senyuman indahmu."
Ardi menatap setiap jengkal wajah Aini yang masih pucat, dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang di sana.
"Kumohon, Sayang! Bagunlah! Kami merindukanmu."
Ardi sangat merasa bersalah dengan apa yang Aini alami. Dalam hatinya, ia akan melakukan hal terbaik untuk membalas setiap luka yang Aini alami.
"Aku akan membalaskannya untukmu, Sayang." Batin Ardi yakin.
__ADS_1