
"Aku ingin mengajak Kenzo dan Umar menemui mbak Oliv dan mas Adit. Apa Mas mengijinkan?" Tanya Aini hati-hati.
Ekspresi wajah Ardi mendadak datar, dan Aini jelas menyadari itu.
"Aku tidak akan pergi, jika Mas tidak mengijinkannya." Lanjut Aini.
Ardi masih diam. Ia mencoba menerka, alasan apa yang membuat Aini meminta hal itu padanya.
"Apa mereka yang meminta?" Datar Ardi.
"Tidak. Aku yang ingin mengajak mereka. Aku ingin, mereka tetap menjalin silaturahmi dan hubungan baik dengan orang tua kandung mereka, Mas. Aku tidak ingin, mereka lupa pada orang tuanya." Jelas Aini perlahan.
Perasaan Aini sebenarnya sangat gugup saat mengatakan itu pada Ardi. Karena ia sangat tahu, bagaimana Ardi membenci orang-orang yang telah berbuat buruk padanya dulu. Ia juga sudah mendengar dari Niken, jika Ardi adalah tipikal orang yang akan menjauhi dan tak menghiraukan siapapun yang tidak ia sukai. Meski orang itu sangat membutuhkan bantuannya.
"Apa yang dulu mereka lakukan padamu, tidaklah cukup untuk membuatmu menjauh dari mereka? Apa kamu tidak takut, jika mereka melakukan hal buruk pada Kenzo dan Umar?" Ucap Ardi dengan intonasi yang mulai meninggi.
Perasaan Aini makin tak karuan, saat mendengar nada bicara Ardi.
"Mereka sudah berubah, Mas. Mereka sudah mengakui kesalahan itu dan menyesalinya." Jawab Aini lembut.
"Orang-orang seperti mereka, tidak mengenal kata menyesal." Geram Ardi, sembari mengingat bagaimana kondisi Aini begitu buruk saat itu.
Ardi perlahan berjalan menjauh dari Aini. Emosinya mulai terpancing karena memori buruk saat menemukan Aini dengan kondisi yang begitu buruk karena ulah orang-orang yang ingin ditemui Aini.
Aini segera mengikuti langkah Ardi, yang kini telah membelakanginya. Ia segera memeluk Ardi dari belakang.
"Aku tidak akan pergi Mas, jika Mas tidak mengijinkannya." Ucap Aini lagi.
"Kemarin kamu bilang, hanya ingin menemui Ratri, kan?" Ucap Ardi sedatar mungkin, agar emosinya tidak memuncak.
"Iya, Mas. Aku selama ini juga sudah beberapa kali mengunjungi mbak Ratri. Dan setiap aku menemui mbak Ratri, aku juga menemui mas Adit, agar Umar juga bisa bertemu dengan ayahnya. Aku tidak ingin, Umar lupa pada ayahnya."
"Apa aku tidak bisa menggantikan Adit?" Geram Ardi.
Hati Ardi mulai diliputi amarah dan kecemburuan tak berdasar. Ia dengan paksa melepaskan tangan Aini yang melingkar di pinggangnya, dan segera berbalik badan menatap Aini.
Aini terkejut dengan sikap Ardi. Ia bisa melihat dengan jelas, Ardi mulai marah padanya. Tapi, ia tidak tahu pasti, alasan apa yang membuat Ardi marah.
Tanpa berpikir panjang, Aini segera mengalungkan kedua tangannya ke leher Ardi, dan mendaratkan bibirnya di bibir Ardi. Ia mencium Ardi dengan penuh kelembutan, meski sedikit memaksa. Ia berharap, hal itu bisa sedikit meredam amarah Ardi.
Ardi tak bereaksi apapun. Ia berusaha meredam amarahnya, agar tidak meledak dan melukai Aini. Dan perlahan, ciuman Aini pun membantu menurunkan amarah yang cukup memenuhi hatinya.
Ardi lalu menegakkan kepalanya. Membuat Aini melepaskan tanganny dari leher Ardi.
"Hentikan!"
Aini menatap dengan seksama wajah Ardi. Ia tahu, uasahanya tak berhasil dan Ardi masih marah padanya.
__ADS_1
"Maaf, Mas!" Sesal Aini dengan kepala yang tertunduk.
Ardi tak menjawab apapun. Ia malah langsung keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerjanya.
Hal itu jelas membuat Aini sedih. Ia akhirnya membiarkan Ardi untuk sendiri terlebih dahulu, dan memilih untuk menyiapkan makan malam bersama Sri.
Di ruang kerja Ardi, laki-laki itu masih berusaha meredam gejolak amarah yang memenuhi hatinya. Ia berusaha untuk menenangkan diri di ruangan itu sendirian, agar tidak melukai Aini.
"Kenapa aku bersikap seperti itu pada Aini?" Monolog Ardi penuh sesal.
"Niat hati Aini sangat baik. Kenapa aku malah marah padanya?"
Ardi mulai menyesali sikapnya pada Aini. Ia merutuki sikap cerobohnya yang langsung marah tanpa alasan yang jelas pada istrinya sendiri.
"Apa aku cemburu pada laki-laki bodoh itu?" Gumam Ardi.
"Ah, sial! Aku seharusnya tidak terpancing begitu saja tadi. Kalau memang Aini masih mengharapkan laki-laki itu, ia tidak mungkin menungguku selama ini bukan? Ia bisa saja kembali pada laki-laki itu sejak kemarin. Aahh, bodohnya aku!"
"Dan lagi, memangnya apa yang salah dengan Umar menemui laki-laki itu? Toh sekarang dia juga sangat menyayangiku, dan tak segan berbagi banyak cerita dan berbagai hal denganku. Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa Umar juga menerimaku?"
"Bodoh kamu, Di! Bodoh!" Rutuk Ardi.
Ardi menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia menyandarkan punggungnya dengan kepala yang menengadah ke atas dengan mata terpejam. Mengingat sikap Aini yang begitu menyesal tadi.
"Aini-ku tidak bersalah. Aku yang bersalah dalam hal ini. Ia sudah sangat baik ingin menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang bahkan sudah menyakitinya. Ia juga sudah benar, mengingatkan Kenzo dan Umar untuk tidak melupakan orang tua kandung mereka."
"Aku harus segera minta maaf padanya." Akhir Ardi yakin.
Ardi lalu segera keluar dari ruang kerjanya. Saat ia hendak kembali ke kamarnya, ia melihat Aini sedang di dapur bersama Niken. Ia pun segera menghampiri Aini.
"Kita bicara sebentar, Sayang!" Pinta Ardi, setelah berdiri di samping Aini.
Aini yang sedang memasak bersama Niken, segera menoleh.
"Aini baru masak, Di." Tegur Niken.
Tanpa menjawab apapun, Ardi menarik tangan Aini begitu saja. Ia membawa Aini ke ruang kerjanya. Dan hal itu, hanya disambut dengan gelengan kepala oleh Niken.
Perasaan Aini masih belum tenang, mengingat sikap Ardi tadi. Ia mulai diliputi kecemasan yang lebih dari pada tadi. Ia takut, jika Ardi akan marah dan melakukan hal yang tidak diharapkan.
Saat sampai di ruang kerja, Ardi segera menutup pintunya. Aini hanya menatap sang suami dengan perasaan yang tak karuan. Bahkan, wajah Ardi juga masih terlihat marah dan menahan sesuatu. Tapi,,
"Maafkan aku, Sayang! Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu tadi." Ucap Ardi, setelah menarik Aini ke dalam pelukannya.
Aini sejenak mematung karena terkejut. Tapi, dengan segera, ia membalas pelukan hangat sang suami dengan begitu erat. Ia bahkan bisa merasakan, ketulusan hati Ardi yang begitu menyesal karena sikapnya.
"Kamu hanya memiliki sebuah niat baik, tapi aku malah berburuk sangka padamu." Imbuh Ardi.
__ADS_1
Aini merasa lega, karena Ardi bisa memahami maksud hatinya. Meski sempat diwarnai dengan sedikit insiden tadi.
"Maafkan aku juga, Mas! Aku meminta sesuatu terlalu banyak padamu." Sahut Aini, masih dalam pelukan Ardi.
"Tidak, Sayang. Kamu harus tetap melakukan itu padaku! Kamu harus tetap meminta padaku, jangan pada orang lain! Oke?"
Aini mengerti maksud Ardi. Ia pun mengangguk dengan segera. Bahkan, ada senyuman yang indah, tercipta di wajah Aini. Ia benar-benar lega, Ardi tidak marah lagi padanya.
"Apa ini berarti, Mas sudah tidak marah padaku?" Tanya Aini meyakinkan.
"Iya, Sayang. Aku tidak bisa marah terlalu lama padamu. Kalau aku marah terlalu lama padamu, bisa-bisa, aku tidak dapat jatah malam ini." Goda Ardi.
"Mas, iihh!" Rajuk Aini manja.
Ardi mendaratkan kecupan hangat nan lembut di puncak kepala Aini. Ia pun merasa lega, karena sudah bisa berbaikan dengan Aini.
"Kapan kamu akan ke lapas?" Tanya Ardi memastikan.
"Apa Mas mengijinkannya?" Ragu Aini, seraya melepaskan pelukannya.
"Kamu punya niat yang baik, Sayang. Kenapa aku harus melarangnya?"
"Tapi,,"
"Aku tadi terbawa emosi sesaat, Sayang. Maafkan aku!"
Perasaan Aini begitu bahagia. Ia senang, Ardi mengerti dan memahami maksud hatinya.
"Apa besok siang boleh?"
"Boleh. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di kantor."
"Tidak apa, Mas. Apa Mas ingin ikut? Jika Mas ingin ikut, besok lusa saja kita ke sana bersama."
Ardi terdiam sejenak. "Besok, temui Ratri dan Oliv saja. Aku akan menemanimu menemui Adit lusa."
Aini mengangguk bahagia. Ia bahkan tersenyum begitu lebar karena mendapat ijin dari sang suami.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu saat kamu bertemu dengan laki-laki itu." Imbuh Ardi.
Bukan tanpa alasan Ardi mengatakan itu. Ia jelas masih belum bisa melupakan, kejadian buruk yang menimpa Aini satu tahun lalu, yang dengan sangat jelas didalangi oleh laki-laki yang menyandang status mantan suami Aini itu. Ia tidak ingin, hal buruk itu terjadi kembali. Meski kemungkinannya hampir tidak ada.
"Iya, Mas. Terima kasih."
Aini pun kembali memeluk Ardi dengan sangat erat. Ia lega, semuanya baik-baik saja. Ardi bahkan mau menemaninya menemui mantan suaminya itu.
Keterbukaan dan kejujuran, menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik tanpa ada saling curiga, hingga muncul konflik yang tidak diharapkan.
__ADS_1