
Penyesalan selalu datang setelah semuanya terjadi. Ia datang sebagai pengingat bagi semua, agar lebih hati-hati dalam mengambil setiap keputusan akan banyaknya pilihan yang dihadapi.
Mobil Ardi sedikit terjebak kemacetan lalu lintas kota. Ia pun mendadak kesal dan makin putus asa dengan keadaan yang dihadapinya. Ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Erna.
"Menepi!" Pinta Ardi singkat.
"Baik, Pak."
Ardi lalu menepikan mobilnya setelah mendapatkan celah. Erna pun segera mengikuti arah mobil Ardi.
"Berikan motornya padaku! Kamu bawa mobilku!" Pinta Ardi tanpa basa-basi.
"Tapi, saya tidak bisa menyetir mobil, Pak." Jujur Erna.
"Minta seseorang menjemputmu kemari!"
"Baik, Pak."
Erna segera memberikan kunci motor dan helm yang ia kenakan pada Ardi. Ardi pun segera melajukan motornya menuju terminal dengan hati yang makin tidak tenang.
Sedang Erna, segera memenuhi permintaan Ardi tadi. Ia meminta pengawal lain untuk menjemputnya bersama mobil Ardi.
"Tunggu aku, Sayang! Kumohon!" Monolog Ardi sambil mengendarai motor.
Butuh waktu tiga puluh menit bagi Ardi untuk sampai ke terminal Kota Surabaya, setelah menembus lalu lintas kota yang padat. Lalu lintas cukup ramai siang ini. Mengingat, libur sekolah telah tiba.
Ardi segera memarkirkan motornya dan berlari masuk ke terminal. Ia lalu teringat sesuatu.
"Pak Galih."
Sambil terus berjalan dan melihat kesana-kemari, Ardi berusaha menghubungi Galih. Panggilan telepon pun segera tersambung dan segera dijawab.
"Iya. Siapa?" Suara seorang laki-laki, menggema sempurna di telinga Ardi.
"Maaf, Pak Galih. Ini saya, Ardi. Calon,, ah maaf,,"
Ardi kebingungan menjawab pertanyaan sederhana Galih.
"Iya, saya paham. Dewi tadi sudah mengabari saya, jika Anda meminta nomor ponsel saya padanya."
"Oh, iya Pak."
"Ada apa, Pak Ardi?"
__ADS_1
"Aini. Apa dia masih bersama Anda? Anda dimana sekarang?"
"Saya sudah keluar dari terminal, sejak sepuluh menit yang lalu. Aini juga sudah tidak bersama saya."
Ardi menghentikan langkahnya. Hatinya makin putus asa mendengar jawaban Galih.
"Aini naik bis jurusan mana, Pak? Apa Anda mengetahuinya?"
"Maaf, Pak Ardi. Saya benar-benar tidak tahu. Saya tadi mengantar Aini hanya sampai parkiran saja. Dia benar-benar tidak ingin, saya mengetahui tujuannya."
"Apa?" Ucap Ardi makin putus asa.
"Mungkin dia ke Semarang, Pak. Ke tempat kakak perempuannya. Karena saya dengar, rumahnya yang di Jogja, ia sewakan ke orang lain, agar tidak terbengkalai dan lebih terawat."
"Terima kasih, Pak Galih." Jawab Ardi sumringah.
Ada secercah harapan menghampiri hati Ardi. Hati yang tadi sempat nyaris tak memiliki harapan itu, kini mulai kembali berbinar.
"Sama-sama, Pak Ardi."
Sambungan telepon pun segera berakhir. Ardi lalu kembali berlari dan mencari dimana bis keberangkatan ke Semarang berada.
"Bis yang ke Semarang, dimana ya, Pak?" Tanya Ardi, pada salah seorang penjual makanan.
"Terima kasih, Pak." Jawab Ardi dengan penuh harap.
Ardi segera kembali berlari kemana arah penjual tadi menunjuk. Dan benar, ada beberapa bis dengan tujuan beberapa kota di Jawa Tengah terparkir rapi di sana.
Ardi pun langsung mencari Aini ke semua bis yang ada. Ia menaiki satu persatu bis itu, dengan harapan, bisa menemukan Aini di sana.
Tapi sayang, dari beberapa bis yang sedang terparkir dan siap berangkat itu, tak ada Aini dan Umar di sana. Ia bahkan bertanya pada sopir dan kenek bis, mungkin saja mereka melihat Aini dan Umar tadi. Tapi tetap, hasilnya nihil.
Dan di sebuah bis, yang mulai melaju, meninggalkan tempatnya terparkir rapi sejak beberapa waktu yang lalu, ada sepasang mata yang tanpa sengaja melihat Ardi yang kebingungan. Di netranya, jelas melihat laki-laki tampan nan gagah itu, sedang menoleh kesana-kemari mencari sesuatu atau bahkan mungkin seseorang lebih tepatnya.
"Mas Ardi?" Gumam sang pemilik netra, yang tak lain adalah Aini.
Aini segera memeluk Umar yang duduk tepat di sampingnya. Ia tak ingin, Umar sampai melihat Ardi, yang ia yakini, sedang mencari mereka berdua.
"Tidurlah, Nak! Perjalanan kita sedikit panjang. Nanti akan Bunda bangunkan jika sudah hampir sampai." Pinta Aini lembut.
Umar hanya mengangguk patuh. Ia lalu mulai menyamankan posisinya dalam pelukan Aini. Dan mulai memejamkan matanya.
Aini memang sudah membulatkan keputusannya. Bukan ia marah pada Ardi, lebih tepatnya, kecewa. Kecewa karena Ardi sendiri yang mengingkari ucapannya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Ardi pernah berjanji pada Aini, akan mengatakan apapun padanya. Begitu pun sebaliknya. Tapi hari ini, Ardi melanggar hal itu, dan bahkan meminta Aini untuk pergi. Aini tahu, Ardi punya alasan kuat untuk itu.
Aini bukanlah tipikal orang yang mudah marah pada orang lain. Pada Adit yang sudah memperlakukannya dengan begitu buruk saja, ia tidak marah. Apalagi pada Ardi yang selalu memperlakukannya dengan baik selama mereka saling mengenal. Terlebih, Aini menaruh perasaannya pada laki-laki itu.
"Maaf, Mas! Biarkan aku sendiri lebih dulu." Batin Aini, dengan netra yang belum lepas dari Ardi yang masih menoleh kesana-kemari.
Bis yang Aini tumpangi, segera keluar dari terminal. Dan Ardi, tidak berhasil menemukan dua orang yang dicarinya.
"Kamu dimana, Sayang?" Gumam Ardi, sambil terus berjalan ke setiap sudut terminal.
Ardi lalu mencoba menghubungi Angga. "Apa nomornya tidak terlacak?"
"Tidak, Pak. Nomor ponsel bu Aini dan Umar, terakhir kali aktif, di rumah Anda."
"Aarrgghh!" Geram Ardi begitu keras, setelah mengakhiri sambungan teleponny.
Laki-laki yang sedang kebingungan itu, akhirnya menjadi pusat perhatian karena suaranya. Tapi ia tidak menghiraukan tatapan puluhan pasang mata yang tertuju padanya.
Dan saat Ardi makin putus asa, ponselnya berdering. Ia pun segera melihat layar ponselnya.
"Mama?" Batin Ardi.
"Assalamu'alaikum, Ma. Belum ketemu, Ma. Ardi sedang mencarinya di terminal."
"Kenzo kejang dan pingsan. Cepat ke rumah sakit!"
"Apa? Iya, Ma."
Ardi segera berlari menuju tempat parkir motornya. Hatinya makin tidak tenang, setelah mendapat kabar dari ibundanya.
Iya. Kenzo menangisi kepergian Aini. Setelah Ardi pergi dengan tergesa-gesa tadi, Kenzo segera membaca surat dari bundanya. Dan setelah itu, tangisnya tidak berhenti dan malah makin menjadi. Semua orang di rumah, sudah berusaha membujuk Kenzo untuk berhenti menangis. Tapi tidak berhasil.
Dan karena hal itu, kondisinya mendadak menurun karena menangis terlalu lama. Ia tiba-tiba mengalami kejang dan setelah itu pingsan.
Rama dan Niken segera membawa Kenzo ke rumah sakit. Tak ketinggalan, Mila pun ikut mengantar Kenzo.
Mila benar-benar merasa bersalah karena menuruti permintaan Ardi. Ia benar-benar tidak tahu, jika Aini adalah calon istri Ardi. Dan kini, hal itu malah membuat Kenzo masuk rumah sakit.
Saat menunggui Kenzo di rumah sakit, Mila pun memantau pencarian Rena. Ia sangat berharap, Rena bisa segera menemukan Aini. Agar kondisi Kenzo pun lekas membaik.
Ardi juga masih terus menunggu kabar dari Angga dan Dika. Menunggu kabar ditemukannya Aini dari para anak buahnya.
Ardi jelas mengerahkan anak buahnya untuk mencari Aini. Dika dan Reno, segera meminta para anak buah mereka, untuk mencari ke Jogja dan Semarang. Karena kota itulah, yang langsung berkaitan dengan Aini.
__ADS_1
Terkadang, kita butuh sebuah peringatan atau teguran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, tak semua orang bisa menyadari hal itu. Butuh sebuah pemahaman dan keikhlasan yang nyata, agar bisa mengerti dan memahami teguran itu.