
Bahagia. Terkadang menjadi sebuah tujuan dari jalan kehidupan. Meski terkadang rasa itu tak abadi, tapi tetap menjadi hal yang sangat dinanti.
Pagi ini, kediaman Ardi sudah sangat ramai. Meski mentari belum muncul sepenuhnya, tapi rumah Ardi sudah begitu riuh, tak seperti biasanya. Sebenarnya, hanya karena alasan sederhana. Ardi akan liburan hari ini.
Tapi yang meramaikan suasana rumah, bukan kesibukan keluarga Ardi yang untuk bersiap liburan. Melainkan karena tamu yang datang pagi ini.
Ya, Ardi tidak pergi liburan hanya dengan keluarganya saja. Jelas, Gilang dan keluarga kecilnya juga ikut seperti ucapannya tempo hari. Dan, Ardi juga akhirnya mengajak keluarga kecil Dika, Joko, dan jelas Prapto dan Sri juga ikut serta.
Semua berkumpul dengan para kumpulannya masing-masing. Para suami jelas dengan kumpulannya masing-masing. Dan para istri, jelas dengan kumpulannya sendiri. Tak ketinggalan, bocil-bocil pun, sudah ikut sibuk dengan keriuhan mereka sendiri.
"Semuanya mau ikut liburan, Di?" Tanya Gilang tak percaya.
"Iya." Jawab Ardi santai.
"Kamu mau gathering?" Cibir Gilang.
"Gitu juga boleh." Jawab Ardi tanpa menoleh pada Gilang.
Ardi malah sibuk menikmati pemandangan yang begitu indah baginya. Pemandangan sederhana, namun begitu menggoda netra tajamnya. Siapa lagi kalau bukan Aini.
Aini baru saja keluar kamar setelah menyelesaikan tugas paginya. Menyiapkan bekal untuk semua bersama Sri, dan pastinya membantu dua putranya menyiapkan baju-bajunya. Karena mereka berencana liburan hingga akhir pekan.
Dan itu semua, hanya karena Aini.
Aini nampak begitu ceria pagi ini. Dengan setelan rok panjang dan tunik berwarna ungu, ia tersenyum ramah saat menghampiri para tamu Ardi. Ardi nyaris tak berkedip saat melihat Aini saat ini.
"Oh, itu ya Tante, calon istrinya Ardi?" Celetuk seorang wanita cantik yang duduk bersebelahan dengan Niken, saat melihat Aini begitu dekat dengan Kenzo. Dia Maya, istri Gilang.
"Iya, Ya." Jawab Niken senang.
Niken pun segera memanggil Aini. Aini yang tadinya sedang diajak Kenzo untuk berkenalan dengan teman-temannya, segera menoleh dan menghampiri Niken.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Aini ramah.
"Sini Mbak, duduk! Aku pengen kenalan sama, Mbak." Ajak Maya ramah.
Aini kebingungan dengan ucapan Maya. Maya segera mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Aini. Aini pun segera menyambutnya.
"Aku Maya, istrinya mas Gilang. Kamu calon istrinya Ardi, kan?" Tanya Maya antusias.
"Eh, bukan Mbak. Saya hanya perawat Kenzo." Jawab Aini tanpa ragu.
Dalam hati Aini, ada debaran tak biasa saat ia disebut sebagai calon istri Ardi. Tak dapat ia pungkiri, harapan itu mulai muncul, seiring berjalannya waktu yang membawanya pada perasaan yang berusaha ia hapuskan. Ia benar-benar kesulitan menghapus rasa itu, meski ia sudah berusaha cukup keras.
Maya segera menoleh pada Niken penuh tanya. Ia cukup kebingungan dengan reaksi Aini. Niken hanya tersenyum, sambil menepuk paha Maya. Maya akhirnya sedikit memahami maksud Niken. Meski begitu, Maya tetap antusias mengajak Aini mengobrol.
Setelah semua siap, mereka pun berangkat. Semua orang saling menyesuaikan mobilnya masing-masing. Mobil Gilang, bertambah penumpang Joko dan istrinya. Sedang mobil Dika, bertambah penumpang, dua anak Joko, yang memang sudah terbiasa dengan keluarga Dika. Sedang mobil Rama, jelas berisi Prapto dan Sri, Niken dan Rama.
"Kenzo sama Umar mau ikut mobil Oma aja, Pa." Pinta Kenzo manja.
"Oke." Jawab Ardi perhatian.
Ardi tak tahu, itu adalah ulah mamanya. Niken tadi sudah merayu Kenzo dan Umar, agar ikut mobilnya saja saat perjalanan.
Dan saat semua sudah masuk mobil, tersisa Ardi dan Aini saja yang belum masuk ke mobil. Ardi menoleh kesana kemari mencari orang lain, yang mungkin tertinggal dan belum dapat tumpangan.
"Ayo cepet, Di!" Teriak Niken dari dalam mobil.
"Udah semua, Ma?" Tanya Ardi bingung.
"Udah. Tinggal kamu sama Aini." Jawab Niken, sambil berusaha keras menahan tawanya.
Sedang di mobil lain, Dika dan Gilang sudah tertawa melihat ekspresi Ardi yang bingung dan terkejut. Mereka tahu, bahwa itu ulah Niken. Tapi Ardi, dia tak tahu sama sekali jika mamanya sangat jahil padanya hari ini.
"Ayo, Ni!" Ajak Ardi sambil berjalan menuju mobilnya.
Aini pun tak kalah kebingungan dengan Ardi. Ia tak mengira, ia yang tadi sempat berusaha mengalah untuk belakangan memilih tumpangan, malah bisa berdua saja dengan Ardi dalam satu mobil.
__ADS_1
Ingin rasanya Aini meminta Kenzo dan Umar menemaninya, tapi mereka sudah meminta sendiri untuk ikut di mobil Rama. Karena pasti, akan terasa cukup aneh selama diperjalanan nanti, jika ia hanya berdua dengan Ardi. Apalagi, perjalanannya tidaklah sebentar. Karena mereka akan berlibur ke Madura.
Dengan jantung yang berdegup kencang, dua insan yang saling gugup itu memasuki sebuah mobil sedan berwarna putih yang biasa Ardi gunakan untuk ke kantor. Mereka berusaha menenangkan detak jangung mereka masing-masing, dengan caranya sendiri-sendiri.
Setelah semua siap, empat mobil itu akhirnya berangkat bersama. Menapaki jengkal demi jengkal jalanan kota yang akan membawa mereka pada tujuan yang tak bisa dibilang dekat pastinya.
"Aini nggak papa itu Mas, cuma sama Ardi?" Tanya Maya pada Gilang, saat mobil mereka keluar dari gerbang perumahan Ardi.
"Biar mereka lebih dekat, Yang." Jawab Gilang santai.
Ardi berusaha keras menenangkan kegugupannya. Ia berusaha setenang mungkin saat ini. Meski ia berharap bisa segera memiliki Aini, tapi ia tak menyangka akan bisa hanya berdua saja dengan Aini sekarang.
Begitupun Aini. Ia berusaha menenangkan perasaannya sendiri tanpa diketahui oleh Ardi. Aini akhirnya memilih mengalihkan perhatiannya keluar mobil.
"Ni?" Panggil Ardi pelan.
Aini yang sedang fokus dengan pemandangan Kota Surabaya sembari menetralkan perasaannya, terkejut dengan panggilan Ardi. Ia bahkan sedikit berjingkat karena terkejut. Ia pun segera menoleh pada Ardi.
"Iya, Mas?"
"Apa aku mengejutkanmu?" Tanya Ardi perhatian.
"Sedikit. Saya yang sedang melamun tadi." Jujur Aini.
"Maaf." Sesal Ardi.
"Tidak apa-apa, Mas. Ada apa?"
"Bagaimana kondisimu?"
"Baik, Mas. Maaf, karena saya, operasi Kenzo sedikit tertunda." Sesal Aini.
"Bukan karena dirimu, tenanglah!"
Tangan Ardi refleks mengulur dan meraih tangan janda di sampingnya itu. Mengusapnya dengan begitu lembut untuk menenangkannya. Ia pun menoleh dan menatap Aini yang tertunduk.
Ardi tersenyum hangat pada Aini, saat tanpa sengaja, pandangan mereka saling bertemu. Aini masih diam tak berekspresi. Ia masih kebingungan dengan perasaaannya sendiri.
Ardi akhirnya menyalakan musik untuk mengurai suasana. Dan akhirnya, sepasang duda dan janda itu mulai terhanyut dalam obrolan santai, diiringi oleh musik yang menggema merdu di dalam mobil.
Menjelang dzuhur, mereka tiba di tempat pertama. Di sebuah penginapan, atau lebih tepatnya vila, milik rekan bisnis Ardi. Vila dengan dua lantai yang pastinya cukup untuk dihuni romobongan dari Surabaya ini. Ardi menyewanya untuk menjadi tempat singgah selama ia berlibur.
Dan setelah beritirahat dan makan siang, mereka akhirnya menuju tempat wisata. Sebuah pantai yang terbentang indah di sisi timur Pulau Madura. Pantai dengan sejuta keindahannya, yang pesonanya sudah cukup menggema di telinga para wisatawan.
Anak-anak langsung menghambur dan menyerbu hamparan pasir pantai yang terbentang luas. Mereka langsung terhanyut dalam riuhnya suasana pantai, ditemani semilir angin dan deburan ombak yang tak begitu besar.
Para orang dewasa, memilih duduk santai di gazebo yang tersedia, sambil mengawasi para anak-anak yang sedang asik bermain. Meski, ada Aini yang sudah ditarik oleh Kenzo dan Umar untuk ikut bergabung bermain pasir pantai.
"Kamu nggak mau ikutan?" Sindir Gilang, saat melihat Ardi, begitu seksama menatap Aini.
"Nanti aja, berdua." Jawab Ardi polos, karena sedang melamun.
"Apa?" Tanya Gilang bingung dan sedikit keras.
Ardi sedikit tersentak. Ia sadar, ia menjawab Gilang tadi sambil sedikit melamun.
"Diem ah!" Ketus Ardi.
"Sejak dari Surabaya udah berdua di mobil, masih kurang juga? Nanti malem aja sekalian, dikelonin di kamar." Celetuk Gilang santai.
"Boleh juga idemu." Sahut Ardi dengan wajah nakalnya.
"Edan!" Umpat Gilang sekenanya.
Ardi malah tersenyum mendengar umpatan Gilang.
Ardi dan Gilang sebenarnya lahir dan besar di Bandung. Tapi, karena Ardi memiliki darah Surabaya dari ibunya, ia pun jadi cukup paham bahasa Jawa yang biasa digunakan oleh orang Surabaya. Sedangkan Gilang, Maya adalah orang Malang. Ia pun perlahan mempelajari bahasa Jawa dari Maya.
__ADS_1
Gilang lantas turun dari Gazebo yang ia tempati bersama Ardi. Ia berjalan melewati gazebo dimana Niken dan yang lain sedang asik bercengkrama.
"Tante! Ardi mau ngelonin Aini nanti malam." Teriak Gilang, saat melewati gazebo Niken. Ia bahkan berteriak cukup keras, agar Aini mendengar
Ardi yang mendengar itu, segera berdiri dan berlari mengejar Gilang. "Sialan!"
Ardi benar-benar serius mengejar Gilang. Gilang pun berlari sekencangnya agar tak tertangkap oleh sahabatnya itu. Dan itu, malah menjadi tontonan bagi para pengunjung lain.
Niken dan Rama yang sudah sangat hafal dengan tingkah dua sahabat itu, mereka hanya menggelengkan kepalanya melihat adegan kejar-kejaran dua laki-laki tampan itu. Sedang yang lain, terlihat cukup terkejut drngan ulah dua laki-laki dewasa itu.
Menjelang senja, suasana pantai lebih menenangkan. Para pengunjung pun sudah tak sebanyak saat siang tadi. Rombongan Ardi pun sudah bersiap untuk kembali ke vila. Mereka membersihkan diri sebelum kembali ke mobil.
"Ardi mana?" Tanya Niken sambil cekingukan, saat semua sudah selesai membersihkan diri.
"Mas Ardi mungkin masih di pantai, Bu. Tadi saya sempat melihatnya masih duduk santai di sana." Jawab Aini tiba-tiba.
"Tolong kamu panggil ya, Ni. Kita pulang sekarang aja, istirahat di vila." Pinta Niken cepat.
"Baik, Bu."
Aini pun segera kembali ke area pantai untuk memenuhi permintaan Niken. (Polos sekali kamu, Ni. 😁)
"Tante pinter, ya?" Sindir Maya santai.
"Harus donk. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lagian, kan mereka semobil nanti." Jawab Niken ringan.
Para orang dewasa tertawa kecil mendengar jawaban Niken. Semua memang mengetahui niat hati Niken untuk menjadikan Aini menantunya. Jadi, mereka bisa memahami setiap ulah Niken.
"Maaf, Mas Ardi." Panggil Aini halus, saat ia sampai di samping Ardi yang masih menikmati suasana senja.
Ardi segera menoleh.
"Ditunggu Bu Niken dan yang lain."
"Oh, mereka sudah selesai?" Tanya Ardi sambil berdiri.
"Sudah, Mas."
"Ya sudah, ayo!"
Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan pantai. Ditemani angin yang masih berhembus lembut, mengantarkan sang mentari kembali ke peraduannya.
Tak banyak percakapan diantara mereka. Keduanya saling mengatur perasaan mereka masing-masing. Mencoba menguasai diri agar tak lepas kendali.
"Ni,,"
"Iya, Mas?"
Ardi berusaha keras meyakinkan hatinya. Menguatkan perasaan yang menggebu hingga nyaris tak terkendali, yang menggelitik dan menelusup sempurna dalam setiap aliran darahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah pendonoran dan Kenzo pulih nanti?"
"Saya belum tahu, Mas. Mungkin, pindah ke Semarang atau kembali ke Jogja dengan Umar." Jawab Aini sekenanya.
"Apa kamu tak ingin menikah lagi?" Tanya Ardi perlahan.
"Entah, Mas. Saya hanya wanita biasa yang tak memiliki banyak kelebihan. Dan lagi, saya seorang janda dengan seorang putra yang sudah bukan anak kecil lagi. Mereka pasti akan mempertimbangkan hal itu untuk kedepannya." Jujur Aini tanpa ragu.
"Apa tak ada laki-laki yang mendekati dan jatuh hati padamu selama ini?"
"Saya tidak tahu, Mas."
"Bagaimana jika aku yang jatuh hati padamu?" Ucap Ardi dengan penuh keyakinan hatinya.
****************
Hayooo,, gimana reaksi Aini nantii??? 😁😁
__ADS_1
Ada yang bisa nebak?? 🤭🤭