
"Jangan lihat adegannya! Atau kamu akan menginginkannya nanti." Bisik Ardi lirih.
Aini mengerutkan keningnya. Ia malah sangat penasaran dengan maksud ucapan Ardi. Ia pun langsung menoleh kembali ke arah layar besar di ruangan itu.
Dua bola mata teduh itu segera membulat. Kala menangkap gambar, sepasang laki-laki dan perempuan sedang asik berciuman dengan luapan emosi yang membuncah di setiap gerak tubuhnya.
Namanya juga manusia. Ada rasa penasaran yang harus ia lepaskan. Dan setelah terlepaskan, apa yang akan terjadi? Apalagi, suasanya cukup mendukung.
Bukannya Aini segera memalingkan wajahnya agar tak melihat adegan dewasa itu, ia malah nampak sangat menikmatinya. Ia malah terlihat sedang berusaha mempelajari sesuatu dari apa yang dilihatnya.
Bahkan, Ardi yang berusaha membuat Aini memalingkan wajahnya dari layar, tidaklah berhasil. Aini tak teralihkan sama sekali. Dan Ardi, malah tersenyum kecil melihat tingkah wanitanya itu
Setelah adegan mulai berpindah, Aini menoleh pada Ardi, yang ternyata masih menatapnya sejak tadi. Ia pun tersenyum lembut pada Ardi. Satu tangannya pun terangkat, mengusap lembut pipi Ardi.
"Sepertinya, kamu yang menginginkannya, Mas. Bukan begitu?" Ucap Aini sedikit menggoda.
"Aku laki-laki normal, Sayang." Jujur Ardi, sambil menahan sesuatu yang sudah sangat menggoda imannya.
Aini tersenyum. "Sabarlah, Mas! Ada waktunya nanti."
Ardi hanya mengangguk. Ia lantas mendaratkan kembali, bibirnya di kening Aini. Aini pun memejamkan matanya, saat benda lembut itu menyentuh keningnya. Ada hantaran perasaan indah yang menerpa hatinya.
Ardi lantas semakin erat memeluk Aini. Ia sungguh tak sabar ingin menjadikan Aini miliknya seutuhnya. Menjadikannya, satu-satunya wanita teristimewa dalam hidupnya, setelah sang mama pastinya.
Hampir dua jam, film yang Ardi dan Aini tonton di putar di layar berukuran besar. Setelah selesai, mereka pun segera keluar dari studio. Mereka mengobrol kecil tentang film yang baru saja mereka tonton. Tapi, bukan adegan dewasanya ya.
Hingga, netra tajam Ardi menangkap sepasang laki-laki dan perempuan yang juga baru saja keluar dari studio lain di bioskop yang sama. Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Ayo, kesana sebentar!" Ajak Ardi seraya menggandeng tangan Aini, yang tadi sempat lepas karena sedang memeriksa ponselnya.
"Kemana, Mas?" Tanya Aini bingung. Karena arah yang dituju Ardi, bukanlah pintu keluar bioskop.
Ardi diam tak menjawab. Ia menarik tangan Aini beberapa langkah, dan berhenti tepat di belakang dua orang yang sedang bediri santai menikmati suasana bioskop. Tangan Aini segera diletakkannya di salah satu lengannya. Aini pun reflek berpegangan pada lengan Ardi dengan posesif.
"Selamat malam, Pak Adit, Bu Ratri." Sapa Ardi ramah.
Jantung Aini seketika berdetak sangat cepat. Ia tak menyangka, malam ini akan bertemu dengan orang yang telah menorehkan luka di hatinya dengan sangat dalam. Ia tak mengira, Ardi mengajaknya menyapa pasangan suami istri yang pernah tinggal serumah dengannya.
Aini pun sedikit meremas lengan Ardi yang baru saja dipegangnya. Ia cukup panik, karena bertemu dengan Adit dan Ratri di tempat umum. Dan jelas, Ardi menyadari itu.
Sepasang laki-laki dan perempuan itu pun segera membalikkan badannya. Mereka berdua terkejut karena bertemu Ardi di tempat ini.
"Oh, Pak Ardi. Selamat ma,," Jawab sang laki-laki, yang memang adalah Adit.
Ucapan Adit terhenti, saat menyadari ada Aini bersama Ardi. Hatinya mendadak sangat kesal. Karena ia masih menyimpan dendam pada sang mantan istri.
"Ternyata benar yang dikatakan Ratri tempo hari. Anda masih berhubungan dengan wanita tak tahu diri ini. Istri saya bilang, dia bertemu Anda dengan wanita ini di mall." Ucap Adit sinis.
"Oh, waktu itu. Iya, kami sempat bertemu saat di pusat perbelanjaan di mall. Apa ada yang salah?" Jawab Ardi santai.
"Tidak. Hanya saja, saya tidak mengira, Anda masih belum lepas dari jeratan wanita sialan ini." Sahut Adit remeh.
"Kenapa saya harus lepas darinya? Iya kan, Sayang?"
Bukannya melepaskan Aini, Ardi malah memeluk Aini dengan satu lengannya. Ia bahkan terlihat sangat posesif pada Aini saat ini. Seolah, tak ingin wanitanya itu, tersakiti sedikit saja oleh orang yang ada di hadapannya.
Dua pasang mata yang ada dihadapan Ardi dan Aini, segera membulat penuh keterkejutan. Mereka tak mengira, Ardi serius dengan ucapannya beberapa waktu yang lalu. Bahkan, mulut sang duda yang sedang berada di puncak karirnya itu, dengan begitu mudahnya memanggil Aini dengan panggilan yang istimewa.
"Apa kalian juga sedang menikmati waktu berdua?" Tanya Ardi basa-basi.
"Iya, Pak Ardi. Kami baru saja keluar dari studio lima yang memutar film aksi 3D." Jawab Adit bangga.
"Seperti itu rupanya. Kami juga baru selesai menonton film. Hanya bedanya, kami menonton film premier." Sahut Ardi sambil menoleh sebentar pada Aini.
"Aku tak ingin, Aini merasa tak nyaman dengan kursi bioskop yang terkadang tak bersahabat. Atau bahkan, kesulitan untuk menyamankan posisi duduknya selama ia menonton film." Imbuh Ardi santai.
Aini jelas segera menoleh pada Ardi. Ia menatap Ardi dengan tatapan yang sangat kebingungan.
Sedang Ratri, segera mengerutkan keningnya. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Mulut pedas Adit, pun mendadak kelu. Ia benar-benar tak menyangka, Ardi sangat memperhatikan Aini sedetail itu. Ia pun juga tak tahu harus bagaimana lagi merubah pemikiran Ardi pada Aini. Dan sekarang, Ardi dan Aini malah terlihat makin dekat satu sama lain.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Pak Adit, Bu Ratri. Saya masih ada janji dengan beberapa orang di dekat sini." Pamit Ardi cepat.
Adit yang sedikit terpaku dengan ucapan Ardi tadi, pun segera tersadar.
"Oh, iya Pak Ardi. Silahkan!" Jawab Adit singkat.
"Ayo, Sayang!"
Ardi segera menoleh pada Aini yang masih dalam pelukannya. Aini pun ternyata masih menatapnya sejak tadi. Ia menatap Ardi dengan penuh perhatian saat Ardi berbincang dengan Adit dan Ratri sedari tadi.
Ardi segera menggiring tubuh Aini. Aini pun refleks ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Ardi. Mereka segera keluar dari bioskop.
Meninggalkan sepasang suami istri yang masih terkejut dengan apa yang baru saja mereka temui. Adit dan Ratri masih tak percaya, jika Aini benar-benar menjerat Ardi dengan sangat kuat. Hingga orang sehebat Ardi bisa bertekuk lutut pada seorang Aini.
"Itu tak akan bertahan lama." Batin Adit tak terima.
Adit dan Ratri pun akhirnya juga keluar dari bioskop.
__ADS_1
Sedang di tempat lain, Ardi mengendarai mobilnya dengan santai. Wajahnya nampak sangat berseri saat ini. Bisa menghabiskan waktu berdua dengan Aini, adalah mood booster dan pengobat lelahnya selama beberapa hari.
"Kamu kenapa?" Tanya Ardi perhatian, karena Aini begitu diam sejak tadi.
Aini yang tadi menatap kosong ke arah depan, segera menoleh pada Ardi.
"Tidak ada, Mas." Jawab Aini singkat. Ia lalu menunduk diam.
"Katakanlah! Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
Aini diam sejenak. Ia berusaha meyakinkan hatinya, untuk berkata jujur pada Ardi atau menutupinya saja. Aini menggeleng pelan.
Ardi menepikan mobilnya segera. Ia pun sedikit memutar tubuhnya agar menghadap Aini. Lalu dengan segera, meraih kedua tangan Aini yang sedang saling bertaut untuk meredam perasaannya. Tapi Aini
"Ada apa? Katakanlah! Aku yakin, ada sesuatu yang mengganggumu." Rayu Ardi perlahan.
"Entah, Mas. Aku juga tak tahu apa itu." Jawab Aini lirih.
"Kamu yakin?"
Aini menggeleng lagi. "Hanya sedikit firasat yang kurang baik sepertinya."
"Dengar!" Ardi meraih dagu Aini, lalu menariknya perlahan agar wajah yang tertunduk itu bisa dilihatnya dengan jelas.
"Tak ada yang harus dikhawatirkan. Ada aku di sini. Kita akan menghadapinya bersama. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, katakanlah padaku! Apapun itu." Imbuh Ardi penuh perhatian.
Sepasang bola mata berwarna hitam yang terlihat begitu sendu itu, segera berubah sedikit lebih baik. Ujung bibir di wajah janda yang sedang sedikit gelisah itu pun, sedikit tertarik ke atas. Menampilkan senyuman kecil yang begitu indah di mata lawan bicaranya.
Aini memang merasakan sesuatu yang tak baik semenjak ia dan Ardi keluar dari bioskop tadi. Tapi ia juga tak tahu, firasat apa itu. Ia pun jadi lebih diam karena itu.
"Mas Ardi masih ada janji dengan orang lain sekarang?" Tanya Aini penasaran.
"Iya. Tempatnya tak jauh dari sini." Jujur Ardi.
"Selarut ini? Dan, apa aku nanti tidak akan mengganggu urusanmu, Mas?"
"Tentu tidak, Sayang. Tenanglah! Oke?"
Aini pun mengangguk. Dan setelah Aini lebih baik, Ardi kembali melajukan mobilnya.
Tak jauh dari tempatnya berhenti tadi, Ardi kembali menepikan mobilnya. Tapi kini, terparkir rapi di depan sebuah toko fashion dan perlengkapannya.
"Jam segini, masih ada toko yang buka?" Ucap Aini tak percaya, saat melihat toko dihadapannya, lampunya masih menyala terang.
"Masih. Itu!" Jawab Ardi santai.
"Ayo turun!" Ajak Ardi antusias.
"Kalau lampunya masih menyala, berarti masih buka donk. Tuh lihat! Karyawannya aja masih ada."
Aini sedikit ragu dengan ajakan Ardi. Mengingat, ini sudah lebih dari pukul sepuluh malam.Ia masih berpikiran, bahwa toko itu akan segera tutup. Jadi, ia pun mencegaj Ardi untuk turun.
"Nggak usah, Mas! Eh, Mas janjian di sini?" Tolak Aini perlahan.
"Iya. Jadi, yuk turun!" Ajak Ardi lagi.
Aini kembali berpikir. Ia akhirnya juga ikut turun setelah meyakinkan hatinya sendiri. Apalagi, ia tak enak hati pada Ardi, yang sudah mengajaknya jalan-jalan malam ini.
Di pintu masuk, Ardi dan Aini disambut oleh dua karyawan dengan sangat ramah. Mereka terlihat begitu antusias dan bersemangat meski sudah sangat malam.
"Selamat malam, Pak, Bu. Selamat berbelanja!"
Ardi dan Aini pun membalasnya dengan menganggukkan kepala dan senyuman ringan. Mereka segera dihampiri oleh seorang wanita berpakaian rapi dan modis.
"Selamat malam, Pak Ardi." Ucap wanita itu sopan.
"Malam." Jawab Ardi singkat.
Aini sedikit kebingungan dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Oh, mungkin dia orangnya yang janjian sama mas Ardi." Batin Aini memahami.
"Silahkan, Pak! Jika Anda membutuhkan sesuatu, bisa katakan langsung pada kami!" Ucap wanita itu yakin.
"Iya. Terima kasih." Jawab Ardi datar.
"Iya, Pak."
Wanita itu mengangguk hormat pada Ardi. Dan kembali, adegan sederhana itu menjadi bahan kebingungan dalam otak Aini. Dan saat Aini masih dilanda kebingungan, Ardi pun membuyarkannya.
"Ayo, Sayang!" Ajak Ardi, seraya meraih tangan Aini.
"Kita, mau kemana, Mas?" Tanya Aini penuh kebingungan.
Ardi yang tadi mulai melangkahkan kakinya, segera menghentikannya lagi.
"Belanja."
"Belanja apa?" Ulang Aino tak percaya.
__ADS_1
"Apapun yang kamu inginkan."
Aini mengerutkan keningnya. "Maksud, Mas?"
"Pilihlah semua yang kamu suka di tempat ini! Aku akan membelikannya untukmu." Jawab Ardi tulus.
"Tapi, Mas Ardi bilang tadi, Mas ada janji dengan orang lain, kan? Tanya Aini meyakinkan.
"Iya. Aku janji dengan mereka semua."
Ardi menunjuk ke arah para karyawan yang sedang setia menemani dan menunggu waktu untuk pulang.
"Maksud, Mas?"
"Sudahlah! Ayo belanja sebentar! Aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Ardi segera menarik tangan Aini. Ia lalu menghampiri salah satu karyawan di toko itu.
"Dimana letak tasnya?" Tanya Ardi cepat.
"Di lantai dua, Pak." Jawab sang karyawan ramah, sambil menunjuk ke arah tangga.
"Oh, baiklah. Terima kasih." Jawab Ardi sambil mengikuti arah tangan karyawan itu.
"Sama-sama, Pak."
Ardi pun segera mengajak Aini menuju lantai dua. Aini yang masih kebingungan, memilih mengikuti Ardi begiti saja tanpa banyak berkomentar.
Ardi benar-benar memanjakan Aini malam ini. Ia membelikan beberapa barang yang untuk Aini.
Aini sempat menolak Ardi yang ingin membelikan beberapa barang untuknya. Tapi lagi-lagi, duda putra semata wayang Rama dan Niken itu, bisa merayu Aini dengan segala cara. Hingga Aini pun tak bisa menolaknya lagi.
Dan di jalanan Kota Surabaya, suasana sudah mulai lengang. Malam yang mulai larut, membuat suasana jalanan malam lebih tenang dan sepi.
Di salah satu mobil yang masih sibuk di jalanan kota, adalah mobil milik Adit. Adit dan Ratri juga sedang menikmati jalanan malam Kota Surabaya. Mereka berniat pulang ke rumah setelah tadi selesai menonton film di bioskop.
Saat Adit bertemu Ardi dan Aini tadi di bioskop, Adit sebenarnya ingin menunjukkan pada Ardi, bahwa ia salah pilih. Dan ia juga ingin menunjukkan pada Aini, bahwa ia sudah tepat menceraikannya dua tahun lalu. Dan bahkan, ia sudah menemukan cinta sejati dan istri terbaiknya. Dan kini, mereka hidup sangat bahagia.
Tapi ternyata itu tak berhasil sama sekali. Malah Adit lah yang tadi sedikit dipermalukan. Jelas karena, Adit yang ingin bersombong bahwa ia menonton film 3D, malah kalah telak dengan Ardi yang mengajak Aini menonton film premier.
"Mas, kita mampir ke sana dulu, ya!" Pinta Ratri tiba-tiba.
Adit pun menoleh ke arah Ratri, yang ternyata sedang menunjuk ke arah sebuah toko fashion yang di waktu yang sudah larut ini, masih buka.
"Aku ingin beli sesuatu, Mas. Kemarin aku belum sempat membelinya di cabang toko yang satunya." Rengek Ratri manja.
"Besok saja, Sayang! Ini udah malam. Mereka pasti udah mau tutup." Tolak Adit halus.
"Tapi aku,, Aini?" Ucap Ratri tak percaya.
Adit segera menepikan mobilnya saat Ratri mengucapkan nama itu.
"Itu Aini kan, Mas? Sama pak Ardi tadi." Tunjuk Ratri ka arah dalam toko.
Adit segera menajamkan netranya. Ia juga jelas mengenali siapa yang dimaksud oleh Ratri. Dan itu benar adanya. Ada Aini dan Ardi di toko itu. Terlihat jelas dari jendela kaca yang ada di toko itu.
"Aku juga ingin belanja kayak Aini, Mas!" Pinta Ratri tanpa ragu.
"Tentu, Sayang! Ayo, kita belanja!" Jawab Adit yakin.
Hati Ratri bahagia tak karuan. Ia tak menyangka, Adit akan mengabulkan permintaannya kali ini. Karena ia ingat betul, kemarin Ratri sudah belanja cukup banyak bersama ibunya. Dan biasanya, Adit akan segera menolak permintaan Ratri jika ingin kembali berbelanja.
"Lihat saja, Pak Ardi! Saya juga tak kalah hebat dari Anda. Saya juga akan menunjukkan, bagaimana memilih istri yang baik dan pantas mendampingi orang hebat seperti kita. Bukan wanita tak tahu diri seperti Aini." Batin Adit bangga.
Adit kembali melajukan mobilnya. Dan beberapa meter kemudian, ia pun memarkirkan mobilnya, tepat di samping satu-satunya mobil yang ada di depan toko itu. Dan jelas, itu mobil Ardi.
Adit dan Ratri segera turun dari mobil. Mereka sejenak melirik pada mobil sport yang ada di dekat mobil mereka.
"Bagus ya, Mas?" Puji Ratri santai.
"Aku bisa membelinya juga." Jawab Adit sedikit kesal.
"Beneran, Mas?"
"Iya."
"Oke,, besok beli sendiri, ya Mas?" Rengek Ratri.
"Iyaa."
Adit dan Ratri segera melangkah menuju pintu masuk toko. Tapi sayang, mereka dicegat.
"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah tutup." Ucap karyawan itu.
"Bukankah ada pengunjung lain di dalam?" Jawab Adit bingung.
"Iya."
"Lantas?"
__ADS_1
"Beliau pengecualian. Karena beliau pemilik tempat ini."