Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Persiapan Acara


__ADS_3

"Kita jadi ke tempat bunda kan Pa, hari ini?" Tanya Umar antusias, saat Ardi keluar dari kamarnya.


Ardi tersenyum, melihat dua putranya yang berdiri di depan kamarnya, sudah berpakaian rapi dan terlihat sangat tidak sabar untuk menemui Aini. Padahal, ini masih pukul setengah enam pagi.


"Jadi, dong. Kalian sudah mandi?" Jawab Ardi.


"Sudah dong, Pa." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.


"Ya sudah, Papa mandi sebentar. Setelah itu, kita berangkat ke bandara."


"Oke, Pa."


Ardi lalu kembali masuk ke kamarnya dengan diikuti oleh Umar dan Kenzo. Ia pun segera mandi dan bersiap.


Ah iya, setelah acara lamaran empat hari yang lalu, Umar langsung ikut kembali ke Bandung bersama Ardi, Kenzo serta Rama dan Niken. Sedang Aini, memilih untuk kembali ke Banyuwangi terlebih dahulu untuk mengecek kondisi warungnya.


Dan hari ini, Ardi dan dua putranya akan terbang ke Surabaya untuk menjemput Aini. Mereka akan menjemput Aini, untuk ke Bandung mengurus beberapa hal untuk acara pernikahan Ardi dan Aini.


Aneh sebenarnya. Tapi itulah yang terjadi.


Aini sebenarnya ingin pergi ke Bandung dengan ditemani oleh Erna saja. Tapi, Ardi melarangnya. Ardi tidak ingin Aini melakukan perjalanan dari ujung timur pulau Jawa, ke bagian barat pulau Jawa hanya dengan Erna saja. Jadi, ia memilih untuk menjemput Aini ke Banyuwangi.


Tapi karena Aini juga tak ingin Ardi kelelahan dengan perjalanannya, mereka sepakat untuk bertemu di Surabaya saja. Dan Aini pergi ke Surabaya, jelas ditemani oleh Erna.


Saat acara lamaran kemarin, sudah diputuskan, jika akad nikah akan diadakan tiga minggu lagi, pagi hari. Dan resepsinya, akan diadakan siang harinya.


Akad dan resepsi akan diadakan sekaligus di Bandung. Mengingat, Aini sebenarnya adalah orang Jogja, tapi ia sudah lama tidak tinggal di Jogja. Jadi, diputuskan bersama, bahwa acara akad nikah dan resepsi diadakan di Bandung, dimana Ardi lahir, besar dan tinggal.


Meski acaranya mendadak, Ardi tidak ingin acaranya biasa saja. Jadi, ia jelas segera memepersiapkan segalanya dengan cepat. Mulai dari tempat acara, undangan, MUA, gaun pengantin, konsep acara dan hal lainnya.


Semua Ardi siapkan dengan cepat tapi tetap hati-hati. Ia mempercayakan beberapa hal itu padaWedding Organizer milik salah satu teman lamanya. Dan berita penikahan Ardi itu, jelas langsung tersebar ke teman-teman lamanya dengan cepat.


Pukul sembilan pagi, Ardi beserta Umar dan Kenzo, sudah tiba di Surabaya. Mereka menunggu Aini yang masih dalam perjalanan menggunakan kereta api dari Banyuwangi.


Sembari menunggu, Ardi mengajak Umar dan Kenzo ke kantor lebih dulu, untuk mengecek beberapa hal yang bersangkutan dengan pekerjaannya. Karena jelas, dalam beberapa pekan ke depan, ia akan sangat disibukkan dengan persiapan pernikahannya.


Dan selepas dzuhur, Ardi sudah berada di stasiun untuk menjemput Aini. Ia harus menunggu sekitar lima belas menit, hingga kereta yang Aini tumpangi sampai.


"Kalian ikut, Sayang?" Ucap Aini tak percaya, saat melihat Umar dan Kenzo.


"Iya, Bunda. Aku udah kangen sama Bunda." Jujur Umar yang langsung menghambur ke pelukan Aini.


"Bunda juga rindu kalian." Jawab Aini haru.


"Aku? Nggak rindu?" Tantang Ardi, sambil berjalan menghampiri Aini di belakang Umar dan Kenzo.


Aini tersenyum sangat manis pada Ardi. "Apa harus aku jawab, Mas?"


Ardi pun ikut tersenyum mendengar jawaban Aini. Ia lalu menoleh pada Erna yang sudah berdiri di samping Aini.


"Terima kasih, Na. Aku akan mengantarmu ke panti sekalian." Tulus Ardi.


"Tidak perlu, Pak." Jawab Erna sungkan.

__ADS_1


"Tak apa. Aku sekalian ingin jalan-jalan."


"Jangan, Mas! Erna sudah di jemput sama mas Angga. Itu." Jawab Aini, sambil menunjuk ke arah belakang Ardi.


Ardi pun segera menoleh. Ia terkejut, karena mendapati anak buahnya yang tidak ia ajak ternyata berada di belakangnya.


"Kamu sejak kapan di sini?" Tanya Ardi.


"Dari sebelum Bapak tiba." Jujur Angga sedikit malu, setelah berada di dekat Ardi.


"Tolong sampaikan salamku untuk bu Yanti. Maaf, aku tidak bisa mampir kali ini." Pesan Aini pada Erna.


"Iya, Mbak. Nanti aku sampaikan." Yakin Erna.


"Kami duluan." Pamit Ardi.


"Baik, Pak." Jawab Angga dan Erna bersamaan.


"Duluan, ya." Pamit Aini.


"Iya, Mbak."


"Iya, Bu."


Ardi, Aini dan dua putra mereka segera berjalan menuju keluar stasiun. Angga dan Erna pun juga mengikuti mereka sedikit di belakang.


Dan seperti apa yang Ardi katakan tadi, mereka segera menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan ke salah satu lokasi wisata. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang begitu lengkap dan bahagia.


"Mama?" Tegur Ardi penuh keterkejutan, saat melihat Niken duduk santai di ruang keluarga bersama Rama.


"Nggak perlu terkejut seperti itu." Santai Niken.


"Mama kenapa bisa di sini?"


"Ya sama kayak kamu sama Kenzo dan Umar tadi. Terbang."


"Tapi,,"


"Kamu kira, Mama akan diem aja gitu kamu nemuin Aini sendirian di rumah ini. Jangan kira Mama nggak tahu isi kepalamu, ya!"


"Apa?"


Ardi benar-benar tak mengira, ibu dan ayahnya akan menyusulnya ke Surabaya. Padahal, ia sudah merencanakan malam yang romantis dan indah dengan Aini malam ini, meski ada Kenzo dan Umar.


Tapi, jika kedua orang tuanya datang, sungguh, rencananya akan batal semuanya. Dan Ardi jelas menjadi kesal karena hal itu. Aini pun akhirnya tersenyum geli.


...****************...


Waktu terus saja berjalan. Berjalan terasa begitu cepat. Apalagi, jika diiringi dengan perasaan yang bahagia. Ia seolah berlari tanpa permisi.


Tak terasa, hari ini tiba waktunya bagi Ardi, untuk kedua kalinya berhadapan dengan seorang penghulu. Sungguh, tak pernah terbersit di benaknya, jika ia akan mengalami hal ini dua kali dalam hidupnya.


Tapi Ardi bersyukur, wanitanya saat ini, begitu istimewa. Bahkan, lebih istimewa dari wanitanya yang terdahulu. Mengingat, perjuangannya untuk bisa sampai hari ini tidaklah mudah. Dan harus menanti hingga waktu yang tak pasti.

__ADS_1


Di sebuah lokasi yang menyatu dengan alam, tatanan bunga-bunga nan indah sudah terlihat begitu romantis. Ada beberapa kursi yang juga sudah tertata rapi, yang akan menjadi tempat duduk beberapa tamu undangan, yang juga akan menjadi saksi, seorang laki-laki nan gagah dan tampan, mengucapkan janji sucinya untuk sang wanita.


Ardi mengadakan acara akad nikah secara tertutup. Hanya kerabat dan teman dekatnya saja yang ia undang. Tapi, ia mengundang banyak teman dan kolega bisnisnya untuk acara resepsinya. Sampai-sampai, akan ada dua sesi acara resepsi agar tempat acara bisa menampung dengan maksimal para tamu kedua mempelai.


Ardi sudah duduk di hadapan seorang penghulu yang menjadi wali Aini. Karena memang, ayah Aini tidak memiliki saudara laki-laki. Jadi, Aini memakai wali hukim.


Para tamu undangan pun sudah menempati kursi-kursi yang tersedia. Mereka takjub melihat Ardi yang nampak begitu gagah dengan balutan beskap berwarna putih yang ia kenakan.


"Itu putra kita, Pa." Haru Niken, dengan netra yang belum lepas dari putranya.


"Iya, Ma. Dia Ardi kita. Semoga ini jadi yang terakhir bagi Ardi, Ma." Jawab Rama tak kalah haru.


"Harus dong, Pa. Mama nggak mau menantu yang lain lagi."


"Iya, iya, Ma. Dia akan jadi menantu terbaik kita. Dunia dan akhirat."


"Aamiin."


Sebait do'a sederhana dari sepasang orangtua mempelai laki-laki itu, menjadi pengiring dimulainya acara akad nikah pagi ini. Semua terlihat bahagia menyambut acara pagi ini. Tak terkecuali dua putra dari mempelai yang sedang duduk menemani mempelai wanita, yang berada di sisi lain lokasi akad nikah diadakan.


"Kenzo saaaayang Bunda." Ucap Kenzo sambil memegangi satu tangan Aini.


"Umar juga sayang Bunda." Timpal Umar.


"Bunda juga sayang kalian." Tulus Aini.


Aini tersenyum bahagia, menatap dua putranya bergantian. Dengan balutan kebaya modern yang berwarna senada dengan beskap yang Ardi kenakan, ia nampak lebih cantik dan menawan.


Tapi Ardi belum bertemu dengan Aini sampai saat ini. Karena memang, itu permintaan Aini. Mereka akan bertemu, saat Ardi sudah menyelesaikan janji sucinya di hadapan Yang Maha Kuasa dan para saksi.


Setelah beberapa rangkaian acara kecil, akhirnya tiba waktunya bagi Ardi melakukan bagiannya. Ia sudah bersiap selama beberapa hari untuk itu. Meski ini bukan yang pertama bagi Ardi, tetap saja, ia merasa gugup dan sedikit gemetar. Membuat ujung-ujung jari tangannya sedikit dingin.


"Tak perlu gugup, Pak Ardi!" Saran penghulu.


"Iya, Pak. Terima kasih." Jawab Ardi seramah mungkin.


Penghulu yang menjadi wali hakin Aini, segera menggenggam erat dan pasti tangan Ardi. Ia pun dengan lantang, mengucapkan ijab yang akan dijawab oleh Ardi. Hingga akhirnya,,


"Saya terima, nikah dan kawinnya, Khadijah Isnaini binti Sumadi, dengan maskawin tersebut, tunai." Ucap Ardi dengan satu tak kalah lantang.


"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.


"Sah, Pak." Jawab dua saksi bersamaan.


"Saahhh." Sambut para tamu undangan.


"Alhamdulillah." Ucap para hadirin bersamaan.


Penghulu lalu membacakan do'a untuk mempelai. Yang diiringi, oleh air mata yang telah membasahi wajah cantik mempelai wanita yang masih duduk sedikit jauh dari para tamu.


Aini tak dapat membendung air matanya untuk mengalir. Perasan di hatinya bercampur baur tanpa bisa di tahan. Bahagia dan haru memenuhi ruang hatinya.


Babak baru kehidupan Ardi dan Aini baru saja dimulai. Cerita-cerita baru dalam lembaran hidup mereka, akan mulai tertulis. Cerita seperti apa yang akan tertulis nantinya? Apakah bahagia? Sedih? Atau bahkan kembali menguras air mata?

__ADS_1


__ADS_2