
Pagi yang cerah menyapa kembali. Setelah sang surya sempat tertutup awan hitam selama dua hari belakangan, pagi ini ia kembali bersinar cerah. Mencerahkan setiap hati yang mungkin sedang dilanda rindu tak tentu arah.
"Pesawat kita jam berapa, Dik?" Tanya Ardi, setelah ia selesai dengan ibadah paginya, dan turun ke lantai bawah.
"Jam setengah tujuh, Pak." Jawab Dika singkat.
"Oke."
Ardi melirik ke arah jam digital yang terpampang di ruang keluarga. Ia pun lantas memainkan ponselnya sebentar.
Hati sang duda satu ini, sedang dilanda perasaan yang sulit dijabarkan. Ada begitu banyak rasa yang memenuhi hatinya saat ini. Rasa yang kata sebagian orang, begitu indah.
Ardi menyadari beberapa hal sejak dua hari yang lalu. Kepergiannya ke Bandung kali ini, sungguh terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya sejak hari keberangkatannya. Seperti perasaan, meninggalkan sesuatu yang cukup penting, tapi ia tak tahu apa.
Hingga, Ardi menyadarinya karena ucapan Dika, dua hari yang lalu.
Flashback On
Malam mulai larut, di Kota Kembang, Bandung. Hujan rintik-rintik sudah turun sejak pagi tadi. Sang surya benar-benar sedang bersembunyi di balik gumpalan awan-awan hitam yang berarak dengan rapinya.
"Bapak belum beristirahat?" Tanya Dika, saat mendapati sang atasan sedang menikmati malam di tepi kolam renang belakang rumah.
"Oh, belum Dik. Kamu juga belum tidur?" Sahut Ardi sambil menoleh pada Dika yang berjalan menghampirinya.
"Belum, Pak. Resti baru saja menelepon, Reza sedang demam katanya." Jujur Dika.
"Apa sudah diperiksakan?" Tanya Ardi perhatian.
"Sudah, Pak."
"Kamu yakin? Kalau belum, biar Joko yang mengantar. Atau minta anak buah kita mengantar putramu untuk periksa ke klinik atau rumah sakit."
"Sudah, tadi sore Pak." Jujur Dika.
Seperti itulah Ardi. Dia sangat menyayangi asistennya itu. Dia tidak segan untuk membantu apapun yang keluarga kecil Dika perlukan. Karena ia sadar, Dika sangatlah berarti baginya.
"Maaf! Aku sering membuatmu jauh dari keluargamu." Ucap Ardi pelan.
"Sudah menjadi tugas saya, membantu pekerjaan Bapak."
Ardi terdiam. Ia sungguh tak enak hati dengan Dika. Karena ia yang sering pergi ke luar kota, mau tak mau, Dika pun harus ikut bersamanya.
"Pak,,"
"Iya?" Jawab Ardi perhatian.
"Apa Bapak tidak ingin membina keluarga kembali?" Tanya Dika perlahan.
"Entahlah, Dik. Kamu tahu posisiku. Bahkan sampai sekarang, Kenzo harus kusembunyikan dari dunia luar demi keselamatannya. Aku hanya tak ingin menyakiti orang yang kusayangi nantinya." Jawab Ardi pedih.
"Posisi Anda sudah jauh lebih baik sekarang, Pak. Bukan hal yang mustahil bagi Anda untuk melindungi orang-orang yang Anda sayangi nantinya."
"Yang kamu katakan ada benarnya. Tapi,,"
"Bagaimana dengan bu Aini?"
Ardi yang tadi bersandar santai pada kursinya sambil melihat jutaan tetesan air gerimis, segera menoleh pada Dika dengan tatapan penuh tanya. Hatinya mendadak gelisah karena nama Aini disebut oleh Dika.
"Apa maksudmu? Memang, ada apa dengan Aini?"
"Apa Anda tidak menyadarinya, Pak?" Tanya Dika santai.
"Menyadari apa?" Tanya Ardi makin bingung.
"Bukankah Anda mulai jatuh hati pada bu Aini?" Tanya Dika sambil menoleh pada Ardi.
Ardi mengerutkan keningnya. Otaknya mendadak kosong karena ucapan Dika. Ia tak bisa memahami pertanyaan sederhana yang Dika ajukan.
__ADS_1
"Perubahan sikap Anda pada bu Aini begitu terlihat, Pak. Bukankah Anda merindukan bu Aini Pak, sejak tadi?" Dika menjeda kalimatnya.
"Saya rasa, Anda memang belum menyadarinya."
Ardi diam tak berkomentar. Ia memikirkan apa yang Dika katakan. Ia mencoba mencari jawaban dari apa yang Dika utarakan tadi.
Memang benar, sejak beberapa hari terakhir, Ardi sering memikirkan Aini. Ia bahkan dengan polosnya, sering menelepon Aini hanya untuk mendengar suara dan kabarnya. Yang tanpa ia sadari, bisa sedikit menenangkan perasaannya.
Ardi pun mulai menyadari, hatinya bergetar kala mendengar nama Aini disebut oleh Dika atau orang-orang di sekitarnya. Ia bisa begitu antusias, ketika seseorang membicarakan tentang Aini.
"Apa aku mulai jatuh hati padanya?" Batin Ardi bingung.
"Bapak lebih mengerti, diri Bapak sendiri. Dan Bapak juga perlahan akan menyadari, perasaan Bapak pada bu Aini."
Ardi yang sempat mengalihkan pandangannya dari Dika, kembali menoleh pada asistennya yang selalu ada untuknya itu.
"Jangan ragu untuk memperjuangkan bu Aini, Pak. Beliau memang pantas untuk Anda perjuangkan." Imbuh Dika santai.
Usia Dika dan Ardi yang tidak terpaut begitu jauh, membuat mereka bisa mengobrol santai seperti saat ini. Mereka tak pernah sungkan untuk saling mengingatkan satu sama lain.
"Aku, mencintai Aini?" Gumam Ardi lirih.
Otak Ardi masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang baru saja menyeruak. Hatinya bergetar, kala ia mengingat setiap hal yang sempat ia lalui bersama Aini. Kala ia membuka memori tentang Aini yang tanpa sengaja mereka lalui bersama.
"Temukan jawabannya dalam hati Anda, Pak."
Ardi hanya diam. Dia tidak menanggapi ucapan Dika. Ia sedang berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya tadi.
Semalaman Ardi memikirkan apa yang ia obrolkan dengan Dika tadi. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Ada beberapa foto Aini di sana. Foto tatkala Aini sedang bermain bersama Kenzo dan Umar.
Dan saat itu, Ardi menyadari. Bahwa hatinya memang telah kembali memiliki penghuni. Penghuni yang datang tanpa ia pinta. Penghuni yang membawa kembali, rasa yang sempat layu dan nyaris hilang karena kekecewaan.
Perlahan tapi pasti, rasa itu tumbuh dengan caranya sendiri di hati sang duda. Merasuk dan meresap dengan sempurna ke dalam hati yang lama dilanda kesepian.
Flashback Off
Ardi begitu bersemangat pagi ini. Ia bahkan meminta Dika untuk berangkat ke bandara lebih pagi, agar tidak ketinggalan pesawat. Padahal, sang surya saja masih belum sempurna menampakkan kehangatannya. Tapi Dika memahami hal itu.
"Kita langsung ke kantor, Pak?" Tanya Dika saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kita pulang dulu!" Pinta Ardi cepat.
Dika tersenyum kecil mendengar jawaban atasannya itu.
"Baik, Pak."
Dengan kecepatan yang stabil, Dika membelah hiruk pikuk keramaian Kota Surabaya pagi ini. Barisan roda-roda kendaraan, berjajar tak beraturan di sepanjang perjalanan. Saling mengisi dan mendahului, agar segera sampai tujuan.
"Mama sudah mau berangkat?" Sapa Ardi saat ia keluar dari mobil, bertepatan dengan Niken dan Rama yang akan berangkat ke Malang.
"Sudah. Biar nggak begitu terburu-buru nanti kalau jalanan macet." Sahut Niken ramah.
"Hati-hati ya, Ma, Pa!" Pesan Ardi.
Niken pun mengangguk paham.
"Kamu nggak ke kantor?" Tanya Rama penasaran.
"Dika mau pulang dulu, Pa. Reza sakit dari kemarin." Jawab Ardi asal.
Dika yang merasa namanya disebut, segera menoleh penuh tanya pada Ardi. Niken dan Rama segera menoleh pada Dika karena khawatir.
"Bener, Dik?" Tanya Niken perhatian.
"Eh, iya Bu." Jawab Dika gelagapan karena terkejut.
Rama dan Niken melihat gelagat aneh Dika. Mereka kembali menoleh pada Ardi yang ternyata sudah melenggang meninggalkan mereka menuju pintu rumah tanpa pemberitahuan. Rama dan Niken akhirnya tertawa kecil.
__ADS_1
"Pulanglah dulu, Dik! Ardi biar melepas rindunya." Ucap Niken sambil terkekeh.
"Baik, Bu." Jawab Dika sambil tersenyum geli, karena paham maksud ucapan Niken.
Tiga orang itu pun bersiap untuk masuk ke mobil. Sedang diambang pintu, Ardi mendengar suara seorang wanita yang berhasil mengusik hatinya selama beberapa hari.
"Bu, ponselnyaaa,,"
BRUK. Ardi menabrak seseorang tepat di tengah pintu. Tangannya reflek meraih tubuh yang ia tabrak hingga sedikit terpental.
"Astaghfirullah." Gumam orang yang bertabrakan dengan Ardi.
"Pak Ardi?" Ucap orang itu penuh keterkejutan.
"Wanitaku." Batin Ardi.
Ardi memandangi wajah orang yang sedang berada dipelukannya. Ia bahkan langsung tersenyum begitu hangat saat berhasil menemukan sosok yang ia nanti sejak kemarin. Dia Aini tentunya.
Karena posisi tubuh yang saling menempel, Ardi bisa merasakan detak jantung Aini yang mendadak bertalu begitu kerasnya. Begitupun Aini, ia bisa mendengar degup jantung, laki-laki yang sedang memeluknya itu.
"Iya?" Sahut Ardi dengan tatapan lembutnya.
"Kamu kenapa lari sambil berteriak? Apa kamu mau menyambutku?" Imbuh Ardi penuh percaya diri.
Aini yang tadi sempat tertegun karena kehadiran Ardi dihadapannya secara tiba-tiba, segera tersadar. Ia mengerutkan keningnya. Ia kebingungan dengan ucapan Ardi. Tapi, ia segera teringat dengan ponsel yang sedang berada di tangannya.
"Ini Pak, ponsel bu Niken tertinggal." Jawab Aini sambil menunjukkan ponsel di tangan kanannya.
Ardi segera mengalihkan perhatiannya ke arah tangan kanan Aini. Ia pun segera melepaskan pelukannya. Dan dengan segera, berbalik badan dan bersiul dengan keras ke arah dua mobil yang siap meninggalkan rumah.
Prapto yang baru saja akan masuk ke mobil sebagai sopir Rama, segera mengurungkan niatnya. Ia menoleh pada Ardi dan Aini yang berada di pintu.
"Terima kasih, Pak." Ucap Aini bahagia.
Ardi hanya tersenyum. Aini pun segera berlari menghampiri mobil yang ditumpangi Niken. Ia langsung menyerahkan ponsel Niken.
"Makasih ya, Ni." Tulus Niken.
"Sama-sama, Bu."
"Titip Ardi sama Kenzo, ya!" Pinta Niken sambil menahan tawa.
"Pak Ardi?" Ucap Aini bingung.
"Iya. Kamu jaga Kenzo, sekalian jaga Ardi juga, ya!"
Aini diam. Ia tak paham maksud ucapan Niken.
"Kami berangkat dulu ya, Ni." Pamit Niken.
"Oh, iya Bu. Hati-hati!" Pesan Aini singkat.
Dua mobil yang tadi siap meninggalkan rumah pun, segera melaju menuju ke arah tujuan masing-masing. Dika masih membawa mobil Ardi. Ia benar-benar pulang terlebih dahulu untuk melihat kondisi putranya.
Aini berjalan ke rumah dengan penuh tanya di benaknya.
"Kenapa pak Ardi dititipin ke aku? Apa nggak kebalik?" Gumam Aini.
Saat sampai di pintu, Aini kembali menabrak Ardi. Ia tak melihat Ardi yang sedari tadi masih berdiri di sana. Ia sibuk memikirkan ucapan Niken.
"Astaghfirullah. Maaf Pak, maaf!" Ucap Aini panik.
Ardi malah tersenyum kecil melihat tingkah Aini.
"Kamu sedang mikirin apa? Sampai orang sebesar ini kamu tabrak gitu aja. Hm?" Ucap Ardi sambil menatap Aini gemas.
"Ah, tidak ada Pak. Maaf." Jawab Aini gelagapan.
__ADS_1
Ardi sedikit menundukkan tubuhnya. Ia sejajarkan wajahnya dengan wajah Aini. Aini pun refleks memundurkan kepalanya agar tak bersentuhan dengan wajah Ardi.
"Apa kamu sedang memikirkanku?" Tanya Ardi santai.