Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Keputusan Aini


__ADS_3

"Emm,, seperti yang Bapak katakan tempo hari. Saya menerima tawaran, Bapak." Sahut Aini lirih.


"Maksudmu?" Tanya Ardi tak percaya.


"Saya akan membayar dengan tubuh saya."


Aini tertunduk dalam, sembari menggigit bibir bawahnya. Menahan isakan dan buliran air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Hatinya terasa pedih dengan keputusan yang diambilnya.


Tapi, tak bisa Aini pungkiri. Keinginan hatinya untuk selalu bisa bersama dengan putra semata wayangnya begitu besar. Hingga ia rela menerima tawaran Ardi yang sungguh tidak ia harapkan.


Ardi terdiam mendengar jawaban Aini. Ia tak menyangka, Aini akan menerima tawaran yang sebenarnya hanya untuk menguji kesungguhan hatinya.


"Aku tak salah menilaimu." Batin Ardi.


"Lalu, kenapa kamu menunduk? Apa kamu tidak bersungguh-sungguh dengan keputusanmu?" Tanya Ardi memastikan.


Ardi masih setia menatap lembut pada wanita yang kini tengah duduk di ruangannya. Ia ingin mencoba, meyakinkan hati Aini, bahwa ia bersungguh-sungguh dengan keputusannya. Bukan karena paksaan dari seseorang yang mungkin mempengaruhinya.


Perlahan Aini mengangkat wajahnya. Sejenak ia menyembunyikan wajahnya dari Ardi, demi menghilangkan bekas air mata yang hampir tumpah.


Ardi menghela nafasnya. Ia menyadari, itu ternyata keputusan sulit bagi Aini. Tapi, ia yakin, keinginan Aini untuk bersama dengan Umar begitu besar. Hingga ia bisa menerima tawaran gila darinya.


"Maaf, Pak. Saya hanya tidak menyangka, Allah memberikan jalan pada saya untuk bisa kembali bersama Umar." Bohong Aini.


"Baiklah. Kapan kamu bisa menjalani pengambilan sample? Besok?" Tanya Ardi segera, untuk mengalihkan perhatian Aini.


Aini terdiam.


"Maaf, Pak. Kalau besok saya tidak bisa. Bu Dewi ada acara setiap hari Selasa, saya tidak bisa pergi kemanapun. Bagaimana jika hari Rabu? Setelah saya pulang dari sekolah Umar." Jujur Aini.


"Baiklah. Tunggu sebentar!"


Ardi segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju meja kerjanya dengan hati cukup bahagia. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di sebelah papan nama di mejanya. Ia segera memainkan ponselnya sambil berdiri di depan meja kerjanya.


"Siapkan pengambilan sample untuk tes kecocokan, hari Rabu!" Ucapnya tegas, saat panggilan yang Ardi lakukan tersambung.


"Sudah ada pendonornya?"


Suara seorang laki-laki dari seberang telepon terdengar cukup jelas, meski Ardi tidak mengaktifkan pengeras suara di ponselnya. Ardi melirik ke arah Aini.


"Ada."


"Oke."


Panggilan pun segera diakhiri oleh Ardi. Ia lalu mengambil sesuatu di dompetnya dan kembali berjalan menuju kursi di dekat Aini.


Aini yang sedari tadi memperhatikan Ardi, sedikit kikuk karena ketahuan sedang memperhatikan satu-satunya orang yang sedari tadi berada satu ruangan dengannya. Ia segera menundukkan kepalanya karena malu.


"Oke. Aku sudah buatkan janji temu dengan dokter pribadi Kenzo, hari Rabu."


"Baik, Pak." Jawab Aini masih menunduk.


"Besok, datanglah ke rumah sakit Graha Medika. Temui dokter yang ada di kartu nama ini."


Ardi menyerahkan sebuah kartu nama berwarna biru yang tadi ia ambil dari dompetnya. Aini pun segera mengangkat wajahnya. Ia lalu menerima kartu nama itu dari Ardi.

__ADS_1


"Oh, iya Pak." Jawab Aini yakin.


Ardi pun tersenyum lega. Ada banyak kelegaan dihatinya saat ini, meski ia belum tahu, apakah Aini bisa menjadi pendonor bagi Kenzo.


"Atau besok, biar Dika menjemputmu ke rumah?" Tawar Ardi tulus.


"Tidak perlu, Pak. In shaa Allah, saya bisa ke rumah sakit sendiri." Jawab Aini ragu. Karena memang, Aini juga belum tahu lokasi rumah sakit itu.


"Baiklah. Jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku! Kamu masih menyimpan kartu namaku bukan?"


"Iya Pak, masih."


"Baiklah, itu nomor pribadiku. Hubungi aku jika kamu butuh bantuan!" Pinta Ardi tanpa ragu.


"Baik, Pak."


"Dan satu hal lagi. Jika nanti hasil tesmu bagus, sebelum dan sesudah melakukan operasi, kamu harus tinggal satu rumah dengan Kenzo." Imbuh Ardi.


"Tapi Pak, bagaimana dengan pekerjaan saya jika saya harus tinggal di rumah Bapak?" Tanya Aini bingung.


"Kamu harus berhenti bekerja sementara waktu."


Aini terdiam. Ia tak mengira, jika ia harus berhenti dari pekerjaannya yang sekarang.


"Kondisimu dan kondisi Kenzo akan dipantau langsung oleh dokter pribadi Kenzo selama ini. Jadi, dengan kamu tinggal satu atap dengan Kenzo, dia akan lebih mudah memantau kondisi kalian nantinya."


Aini mendengarkan dengan seksama ucapan Ardi. Ia juga sependapat dengan Ardi. Jadi, jika nanti memang ia bisa menjadi pendonor bagi Kenzo, jika terjadi sesuatu padanya pasca operasi, semua akan segera bisa ditangani.


"Baik, Pak. Saya akan mengatakan hal itu pada pak Galih dan bu Dewi nanti." Jawab Aini paham.


Ardi segera mengulas senyum seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia dan Aini sejenak terdiam, setelah obrolan yang cukup penting tadi.


Begitu juga Aini. Ia juga berharap bisa sedikit membantu Kenzo untuk sembuh dari sakitnya selama ini. Dan juga, bisa kembali bersama dengan Umar, yang selalu menjadi semangat hidupnya.


Aini sedikit melirik pada Ardi yang sedang bersandar di kursinya dengan penuh harap. Dan Ardi menyadari tatapan Aini.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Ardi santai.


"Eh, iy,, iya, Pak." Jawab Aini terkejut.


"Katakanlah!"


Aini berusaha mengumpulkan keyakinan hatinya untuk menanyakan pertanyaan yang mengganjal hatinya sejak kemarin. Ia takut, jika ia menanyakan hal itu pada Ardi, Ardi akan salah paham padanya.


"Kenapa diam? Katakanlah, apa yang ingin kamu tanyakan! Aku tak akan memakanmu, hanya karena sebuah pertanyaan darimu." Pinta Ardi santai.


Aini malah terkejut mendengar jawaban Ardi. Hatinya malah makin menciut karena ucapan lawan bicaranya itu.


"Aku bukan peramal atau pesulap yang bisa membaca pikiranmu. Jadi, katakanlah apa yang ingin kamu tanyakan!"


"Maaf, Pak. Bagaimana keadaan Kenzo sekarang?" Tanya Aini perlahan, sambil menoleh pada Ardi.


Ardi tersenyum kecil pada Aini. Ia tak menyangka, pertanyaan itu yang akan Aini ajukan padanya. Ia tadi mengira, Aini akan menanyakan tentang bayaran yang harus dibayarnya jika sampai ia tidak bisa menjadi pendonor bagi Kenzo.


"Dia sudah pulang dari rumah sakit kemarin. Mungkin akan berangkat sekolah beberapa hari lagi." Jujur Ardi.

__ADS_1


"Syukurlah jika seperti itu." Sahut Aini lega.


Aini pun kembali diam.


"Itu saja yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Ardi bingung.


"Sebenarnya, saya ingin meminta tolong pada Bapak." Ucap Aini ragu.


"Katakan!"


Aini meraih tas yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tas itu.


Ardi memperhatikan Aini dengan seksama.


"Kenzo sering meminta pada saya untuk dibuatkan kue ini. Bolehkah saya menitipkan ini pada Anda, untuk Kenzo?" Ucap Aini, seraya menyodorkan sebuah kotak bekal di meja yang ada di hadapannya.


Hati Aini sedikit gelisah sejak pertemuan terakhirnya dengan Ardi. Apalagi kalau bukan karena ucapan Dika yang memberitahu jika Kenzo pingsan di rumah. Ia sangat mengkhawatirkan anak itu.


Jadi, kemarin Aini berinisiatif membuatkan Kenzo kue yang sering ia minta untuk dibuatkan. Hanya kue sederhana, bolu pisang. Meski ia tak yakin, apakah kue itu bisa sampai ke tangan Kenzo atau tidak.


Ardi kembali menarik sudut bibirnya.


"Tentu. Aku akan memberikannya pada Kenzo nanti. Dia pasti bahagia menerimanya. Terima kasih." Jawab Ardi penuh ketulusan.


"Iya, Pak. Sama-sama." Jawab Aini lega.


Ruangan kebesaran Ardi kembali hening. Tak ada obrolan atau suara kecil sedikitpun dari para penghuninya.


"Maaf Pak, saya permisi pulang jika sudah tidak ada yang dibicarakan." Pamit Aini memecah keheningan.


"Oh, iya. Silahkan!" Jawab Ardi santai.


"Terima kasih, Pak."


"Iya."


Aini segera berdiri, yang langsung diikuti oleh Ardi. Aini sedikit menganggukkan kepalanya pada Ardi. Ardi pun membalasnya. Aini segera keluar dari ruangan Ardi dan pulang.


Saat di lift, Aini tiba-tiba merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa aku bisa menerima tawaran gila itu? Astagfirullah. Bagaimana ini? Apa aku bisa membatalkannya? Tapi, bagaimana dengan Umar? Aahh, aku harus bagaimana?"


Aini mendadak menyesali keputusannya yang telah menerima tawaran gila dari Ardi. Tapi, ia juga mengkhawatirkan Umar yang tak berada di sampingnya. Ia bahkan bergumam tanpa henti di sepanjang jalan sebelum ia sampai di parkiran motornya.


Seperginya Aini dari ruangan Ardi, Ardi segera memanggil Dika melalui telepon di ruangannya. Ternyata Dika sedang tidak di mejanya. Ia lalu menelepon Dika dengan ponselnya.


"Siapkan tim hukum terbaik kita! Minta mereka segera mengajukan pengalihan hak asuh Umar ke tangan Aini! Bantu mereka mendapatkan bukti untuk memenangkan hak asuh Umar kembali pada Aini!" Pinta Ardi tegas.


"Baik, Pak." Jawab Dika di seberang telepon.


"Aku akan pulang. Kamu tangani kantor!"


"Baik, Pak."


Ardi pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dika. Ia segera berjalan ke arah meja kerjanya untuk sedikit merapikan berkas yang sedikit berantakan. Ia juga mengambil tas dan jas kerjanya. Lalu kembali ke meja tamunya, untuk meraih kotak bekal yang Aini titipkan untuk Kenzo. Ia bahkan tersenyum kecil saat mengambil kotak bekal itu.

__ADS_1


Ardi ingin segera memberikan kue pemberian Aini tadi pada putranya. Ia yakin, Kenzo akan sangat bahagia menerima kue itu. Dan itu, bisa jadi semangat tersendiri baginya. Yang nantinya pasti akan mempengaruhi kondisi kesehatannya.


Setiap orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya bahagia. Tersenyum dan menikmati setiap waktunya dengan kegembiraan. Dan setiap orang tua, akan melakukan banyak hal demi hal itu. Bahkan mungkin, hal yang mereka lakukan, diluar kata nalar.


__ADS_2