Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Gangguan


__ADS_3

"Ini?"


Aini segera mengambil bingkai foto yang fotonya sedang diamatinya dengan lebih seksama.


"Kapan mas Ardi mengambil foto ini?" Gumam Aini bingung.


Aini menemukan foto dirinya tengah tertawa lepas di atas hamparan pasir pantai yang berwarna putih. Ditemani gulungan ombak kecil yang sedang mengejar kakinya.


Aini pun akhirnya tersenyum kecil. Ada rasa bahagia yang tak terkira karena menemukan fotonya di meja kerja Ardi. Ia tak menyangka, Ardi bahkan memajang fotonya di sana.


Ardi memang memajang foto Aini di meja kerjanya. Di kantor dan di rumah. Karena dari foto itulah, Ardi bisa sejenak melepas rindunya pada Aini yang berada jauh dengannya. Itu juga bentuk rasa cinta Ardi pada Aini, yang memang belum hilang dari dalam hatinya sampai saat ini.


Di luar ruang rapat,,


"Aini sudah di ruangan Ardi." Ucap Rama.


"Baik, Pak. Saya mengerti."


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Hati-hati, Pak!"


"Oh, iya. Berikan ini pada Ardi!" Ucap Rama sambil memberikan sebuah kotak berlapis kain beludru berukuran kecil pada Dika.


"Baik, Pak."


Rama pun segera meninggalkan Dika dan meninggalkan Aini juga pastinya. Karena memang itulah tujuan Rama pergi ke kantor Ardi. Untuk mengantar Aini.


Dika terlebih dulu pergi ke ruangan Ardi sebelum kembali ke ruang rapat.


"Pak Dika? Rapatnya sudah selesai?" Tanya Aini saat melihat Dika masuk.


"Belum. Hanya saja, pak Rama tadi berpesan pada saya. Beliau meminta maaf, karena harus pergi dengan segera saat ini. Salah satu rekannya baru saja menghubunginya dan ia harus menemuinya secepatnya." Bohong Dika.


Aini diam tak bereaksi.


"Beliau meminta Anda untuk pulang dengan pak Ardi nanti."


Aini tersenyum. "Papa ada-ada saja."


Dika pun tersenyum lega. Ia yakin, Aini paham dengan maksud Rama saat ini.


"Baiklah, Pak Dika. Saya akan menunggu mas Ardi di sini. Bapak bisa kembali ke ruang rapat. Tapi tolong, jangan katakan pada mas Ardi kalau saya di sini!"


"Tentu, Bu Aini." Jawab Dika bahagia.


"Terima kasih, Pak."


"Tentu saja, Bu."


Dika lalu kembali menghampiri Ardi di ruang rapat. Dan sesuai janjinya, ia tidak mengatakan pada Ardi jika Aini menunggunya di ruangan.


Saat jam makan siang tiba, rapat Ardi baru selesai. Ia pun segera kembali ke ruangannya. Tapi, saat hampir sampai ke ruangannya, ponselnya berbunyi. Tanda sebuah pesan telah masuk. Ia pun membukanya.


"Papa?"


Gunakan kesempatanmu dengan baik! Sebelum Papa benar-benar menjadikan Aini sebagai istri muda. Dan apa yang ada di dalam kotak itu, adalah pilihan Aini.


"Aku sepertinya harus berjuang lebih keras untuk mengalahkan papa. Tapi, kotak apa?" Gumam Ardi seraya membuka pintu ruang kerjanya.


"Maaf, Pak!" Panggil Dika tiba-tiba.


Ardi pun menunda untuk masuk. "Ada apa?"


"Ini titipan dari pak Rama. Tadi beliau kemari mengantarkannya." Jujur Dika, sebelum Ardi masuk ke ruang kerjanya.


"Papa kemari?"


"Iya, Pak. Beliau hanya sebentar, dan menitipkan itu untuk Anda."


"Yasudah. Terima kasih."


"Tentu, Pak."


Ardi pun menerima kotak itu dan segera melihat isinya.


"Cincin?"


Ardi lalu teringat pesan dari Rama tadi. Ia pun tersenyum kecil, karena mulai memahami maksud dari pesan itu dan barang yang sedang dipegangnya.


"Terima kasih, Pa. Aku pasti akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya." Yakin Ardi, seraya memasukkan kotak berisi cincin tadi ke sakunya.


Ardi lalu masuk begitu saja ke ruang kerjanya.


"Aini?" Ucap Ardi penuh keterkejutan, saat melihat Aini sedang melihat koleksi bukunya.


Aini yang sudah mendengar pintu yang dibuka dari luar, sudah menatap Ardi dengan ramah.


"Rapatnya sudah selesai, Mas?" Sambut Aini.

__ADS_1


"Kamu,,"


"Papa yang mengantarku ke sini tadi."


"Papa?"


Aini pun mengangguk. Ia lalu berjalan menuju kursi tamu dimana tadi ia duduk, begitu juga dengan Ardi.


"Pak, ada,," Sela seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Ardi tanpa permisi.


"Oh, Bapak sedang ada tamu rupanya." Imbuh laki-laki tadi dengan wajah sedikit bersalah.


Dia Evan. Laki-laki bertubuh tegap, namun sedikit gemulai sikapnya. Wajahnya cukup tampan, dengan setelan kemeja yang yang ia kenakan. Dia adalah sekertaris Ardi. Meski sikapnya terlihat kurang pas, tapi kemampuannya sangat mumpuni dalam pekerjaannya.


Ardi dan Aini yang bersiap untuk duduk, akhirnya menatap Evan dengan sedikit datar.


"Ada apa? Kenapa tidak mengetuk?" Ketus Ardi tiba-tiba.


Aini lalu tersenyum kecil mendengar nada bicara Ardi. Ia yakin, Ardi mendadak kesal karena ada seseorang yang tiba-tiba masuk dan secara tidak sengaja mengganggu waktunya.


"Maaf, Pak. Pintunya sedikit terbuka, jadi saya masuk gitu aja." Jujur Evan sambil sedikit meringis.


Evan lalu melirik ke arah Aini. Ia seketika mengerutkan keningnya.


"Maaf, Bu. Apa kita pernah bertemu? Saya sepertinya pernah melihat Anda. Tapi saya lupa dimana." Tutur Evan santai.


"Mungkin hanya mirip saja. Saya baru kali ini ke Bandung." Jujur Aini.


"Tapiii,,"


Evan masih berusaha mengingat wajah Aini yang terasa familiar baginya. Dan sejurus kemudian, Evan berlari kecil menuju meja kerja Ardi. Ia lalu mengambil bingkai foto yang ada di meja itu. Ia mulai melihat secara bergantian ke arah Aini dan foto itu.


"Sama. Ibu yang di foto ini, kan?" Terka Evan tanpa ragu.


"Lebih cantik aslinya tapi." Imbuh Evan santai.


Aini hanya tersenyum. Tapi tidak dengan Ardi. Wajah Ardi sudah berubah menjadi sangat kesal pada Evan. Dan Evan menyadari itu.


"Ups! Maaf, Pak. Saya tidak tahu jika tamu Anda sangat istimewa." Ucap Evan, sambil perlahan mengembalikan bingkai foto yang diambilnya tadi.


Ardi hanya diam tak menjawab.


"Saya akan memberikan laporan rapat tadi pada pak Dika saja." Imbuh Evan mulai cemas.


Evan lalu berjalan menuju pintu kembali. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah mengganggu waktu atasannya bersama wanita istimewanya.


"Maaf, Pak, Bu! Silahkan dilanjutkan kembali." Imbuh Evan sebelum keluar dan menutup pintu perlahan-lahan.


"Jangan sampai kedatangan tamu pak Ardi tersebar! Jika karyawan lain sampai tahu siapa tamu pak Ardi, kamu jelas akan mendapatkan hukuman." Tegas Dika.


"Ayolah, Pak Dika! Itu kabar baik, kan?" Santai Evan.


"Terserah! Tapi jika karyawan lain sampai tahu, lihat saja hadiah apa yang kamu terima dari pak Ardi!"


Bukan tanpa alasan Dika melakukan itu. Karena jika karyawan Ardi tahu, Aini datang ke kantor, pasti akan ada kehebohan yang membuat Ardi tidak suka dan akan menjadi kesal karena waktunya dengan Aini sedikit terganggu.


Saat Ardi memajang foto Aini saja, para karyawan Ardi sangat penasaran dengan wajah wanita yang ada di foto. Apalagi jika mereka tahu orang itu datang langsung ke kantor. Mereka pasti akan sangat ingin bertemu dan melihat langsung sosok Aini. Yang jelas akan membuat kegaduhan yang sebenarnya tidak diperlukan.


Evan berpikir sejenak. "Oke, Pak Dika. Mulut akan saya kunci rapat."


"Bagus." Singkat Dika, yang lalu pergi meninggalkan Evan.


"Tapi tidak dengan jempol saya." Batin Evan cengengesan.


Evan segera mengambil ponselnya dan membuat pesan singkat di grup pesan rekan-rekan kantornya, dimana Dika tidak ada dalam grup itu. Ia jelas mengatakan bahwa,,


Wanita itu nyata. Calon nyonya Ardi sudah ada di kantor.


Dan dengan cepat berita itu menyebar. Para karyawan Ardi pun semakin penasaran dengan sosok asli dari foto yang ada di meja kerja Ardi. Karena selama ini, mereka mengira foto itu tidak nyata. Sebab Ardi tidak pernah terlihat bersama orang yang ada di foto itu.


Beberapa karyawan yang bersiap untuk makan siang, sejenak menunda makan mereka. Mereka memilih menemui Evan dan bertanya langsung atau bahkan ingin melihat langsung sosok wanita di foto itu.


Depan ruangan kantor Ardi pun mendadak ribut dan gaduh karena kedatangan beberapa karyawan yang sangat kepo dengan sosok wanita itu. Mereka memberondongi Evan dengan pertanyaan tentang sosok wanita itu.


Dan hal itu belum diketahui oleh Dika dan Ardi. Karena Dika sedang keluar membeli makan siang, sedang Ardi jelas sedang menikmati waktunya dengan Aini.


Di ruangan Ardi,


"Itu tadi siapa, Mas?" Tanya Aini, seraya duduk di kursi.


"Sekertarisku. Kalau saja kemampuannya tidak sebaik itu, sudah aku pecat dia." Ketus Ardi, yang juga ikut duduk di dekat Aini.


"Mas tidak sedang cemburu, kan?" Goda Aini.


Ardi menoleh dan menatap Aini dengan aneh. Ia malah mendapat ide jahil. Ia lalu mecondongkan tubuhnya pada Aini. Wajahnya pun semakin mendekat ke wajah Aini.


"Kalau aku cemburu, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?" Bisik Ardi.


Aini malah tersenyum. "Mas maunya aku bagaimana?"

__ADS_1


"Kamu menantangku, Sayang?"


"Sedikit." Santai Aini.


Ardi pun tertawa geli. "Kamu sudah pandai menggodaku sekarang."


"Kamu yang mengajariku, Mas."


"Beruntung kita sedang di kantor, Sayang. Kalau di rumah, aku pasti akan menerkammu."


Aini pun tersenyum manis. Dan,,


Krrruukk, kruk, krruuukk. Perut Ardi berbunyi sedikit nyaring. Membuat dua insan yang sedang saling adu pandang itu mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara. Dan sedetik kemudian, mereka pun tertawa bersama.


"Kita makan dulu, Mas! Mas pasti sangat lapar. Karena tadi pagi, Mas tidak menghabiskan sarapan. Iya, kan?" Ajak Aini perhatian.


Ardi pun teringat kekesalannya pada Angga tadi pagi.


"Apa Angga memang sering mengunjungimu?" Datar Ardi, setelah kembali menegakkan tubuhnya.


"Dia mengunjungi Erna, Mas. Mereka memang masih merahasiakan hubungan mereka darimu. Karena takut, kamu akan melarangnya." Jujur Aini.


"Aku?"


"Iya. Mereka takut, kamu akan marah karena mereka menjalin hubungan dan kamu akan memisahkan mereka nantinya."


"Kenapa aku harus melakukan itu?"


"Angga cukup paham dengan sifatmu, Mas. Ia takut, saat ia menikah dengan Erna nanti, secara tidak langsung ia akan meminta Erna berhenti bekerja, dan itu berarti membuat Erna tidak lagi menjagaku. Ia takut kamu akan marah pada mereka dan mempersulit kehidupan mereka."


"Apa aku sekejam itu?"


"Itu yang dikatakan Erna dan mas Angga padaku."


Ardi pun menggeram kesal. Aini segera menyentuh tangan Ardi dengan lembut, hingga membuat Ardi mendadak hilang kekesalannya.


"Jangan halangi mereka, Mas! Apa Mas juga mau, jika suatu saat nanti, hubungan Mas dengan seseorang, dihalangi dan dipersulit oleh orang lain?" Pinta Aini perhatian.


Ardi terdiam. Ia ingat, apa yang harus ia lalui dulu saat ingin bersama dengan Aini. Beberapa orang berusaha sangat keras memisahkannya.


"Iya, aku mengerti." Jawab Ardi lembut.


Aini tersenyum lega. "Mas mau makan di kantor atau di luar?"


"Di kantor saja, ya? Pekerjaanku banyak sekali. Kalau di luar pasti akan terlalu lama. Aku juga ingin pulang cepat hari ini." Jawab Ardi sedikit manja.


Aini pun mengangguk paham. Ardi lalu memesankan makanan melalui layanan pesan antar. Mereka lalu memutuskan untuk menjalankan ibadah sholat dulu sembari menunggu makanan mereka datang.


"Ada apa ini?" Tanya Ardi sedikit tegas, saat ia keluar dari ruangan dan melihat banyak karyawan ada di depan ruangannya.


"Kan jam istirahat, Pak. Lagi ngerumpi sama si tukang rumpi." Celetuk salah satu di antara mereka.


"Tukang rumpi?" Ulang Ardi bingung.


"Evan, Pak. Dia juara rumpi di kantor, Bapak." Jawab karyawan lain.


Ardi paham dengan jawaban karyawannya. "Dika!"


"Pak Dika sedang keluar membeli makan siang, Pak." Sahut Evan.


"Minta dia menemuiku nanti!" Singkat Ardi.


"Baik, Pak." Patuh Evan.


Ardi lalu sedikit berbalik badan. Ia pun meraih tangan Aini yang bersiap keluar.


"Ayo!" Ajak Ardi sedikit posesif.


Aini pun dengan patuh menerima perlakuan Ardi yang menggandengnya dengan begitu lembut dan perhatian. Dan saat Aini keluar, jelas ia jadi pusat perhatian para karyawan Ardi.


Mereka mulai berkomentar sesuai apa yang mereka pikirkan. Banyak yang berkomentar baik dan memuji Aini. Tapi, ada beberapa juga yang sedikit sirik dengannya.


Ardi dan Aini jelas mendengar itu. Ardi pun seketika menghentikan langkahnya. Ia sudah mulai kesal karena mendengar hal itu. Aini pun dengan segera meraih lengan Ardi dan mengusapnya lembut, demi menenangkan Ardi.


"Jangan dengarkan mereka, Mas!" Pinta Aini lembut.


"Tapi,,"


"Mas! Itu hak mereka untuk berkomentar apapun." Jelas Aini lagi.


Ardi menghela nafas berat. Karena hal itulah Ardi ingin merahasiakan hubungannya dengan Aini lebih dulu. Sebab ia tak mau, ada komentar buruk untuk Aini. Hingga mungkin akan merubah sikap Aini padanya dan akan menjadi gangguan dalam hubungan mereka.


"Ayo, Mas! Sholat dulu." Ajak Aini segera, demi mengalihkan perhatian Ardi.


Ardi masih mematung.


"Ayo, Mas!" Rengek Aini.


Ardi pun akhirnya menuruti Aini. Mereka lalu berjalan berdua menuju masjid yang ada di kantor Ardi.

__ADS_1


Kita tak pernah tahu, bagaimana pendapat orang tentang kita. Apakah itu baik atau buruk, kita tak pernah bisa mengendalikan apa yang mereka pikirkan. Tapi satu yang pasti, itu adalah hak mereka untuk menilai. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri tanpa harus menuruti setiap yang mereka katakan.


__ADS_2