Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kondisi Aini


__ADS_3

Cuaca yang cerah menyapa hari baru. Langit biru nan indah, terbentang sempurna menaungi para penghuni bantala. Memberikan semangat baru yang memenuhi hati dengan penuh rasa.


Ardi berangkat ke kantor seperti biasa. Ia sudah berpamitan dengan Aini yang hari ini sedang malas untuk keluar kamar. Ardi pun jelas berpesan pada Niken untuk segera mengabari Ardi, jika terjadi sesuatu yang kurang baik lagi pada Aini.


"Mana Aini?" Tanya Niken, saat Ardi hendak berpamitan padanya.


"Di kamar, Ma. Dia bilang, sedang malas keluar kamar." Jujur Ardi seraya menyalami ibunya.


"Ya sudah, biar Mama nanti yang ke kamar."


"Iya, Ma."


"Oh iya, kamu belum jadi cerita ke Mama tentang kemarin. Kenapa kamu mendadak pulang? Terjadi sesuatu sama Aini?"


Ardi mengingat kejadian kemarin, saat ibunya begitu terkejut mendapati dirinya berada di rumah saat jam kerja.


Flashback On


"Ardi? Kamu udah pulang?" Tanya Niken, saat melihat Ardi sedang duduk dengan Aini di tepi kolam renang.


Niken sebenarnya sudah curiga saat melihat mobil Dika yang terparkir di depan. Ia tahu, Ardi ada beberapa meeting hari ini. Jadi, ia mengira, ada berkas Ardi yang tertinggal di rumah. Tapi ternyata, Ardi malah duduk santai dengan Aini di tepi kolam renang.


Ardi dan Aini menoleh bersama.


"Iya, Ma." Santai Ardi sambil mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, untuk memberikan kode pada ibunya.


Niken yang paham dengan sikap Ardi, segera menjawab dengan santai.


"Yaudah, Mama ke dalam dulu. Mama kira, Dika yang datang."


"Iya Ma. Mobil Ardi dibawa Angga tadi pagi. Jadi, Ardi bawa mobilnya pak Dika, Ma."


"Iya."


Niken lalu beranjak kembali ke dalam rumah. Ia segera disambut oleh Rama yang baru saja masuk, setelah meletakkan sesuatu di kamarnya.


"Ardi yang pulang, Ma?" Tanya Rama memastikan.


"Iya, Pa."


"Dasar anak itu, masih belum ikhlas jauh dari Aini." Cibir Rama.


"Kayaknya, ada yang terjadi sama Aini, Pa. Ardi tadi kasih kode ke Mama."


"Aini kenapa?"


"Mama juga nggak tahu."


"Coba tanya Inah atau Reno!" Usul Rama.


Suara Niken dengan segera menggema ke seluruh penjuru rumah.


"Nah! Inah!" Panggil Niken.


"Inah baru keluar, Ma. Ardi minta beliin sesuatu buat Aini tadi." Sahut Ardi dari taman belakang.


Inah memang sedang keluar membelikan lotis permintaan Aini. Ia berangkat sendiri dengan motor karena Reno masih belum kembali dari mengantar Erna pulang.


Niken dan Rama segera saling pandang.


"Ya." Sahut Niken sedikit keras untuk menjawab Ardi.


"Reno mungkin sedang mengantar Inah, Ma." Celetuk Rama.


"Ya udah, nanti aja, Pa."


Rama pun mengangguk untuk menyetujui ucapan Niken. Rama lalu menuju ruang keluarga. Sedang Niken, menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Mama kayaknya mau masak, Mas. Aku bantuin mama ya, Mas." Ucap Aini, setelah mendengar sesuatu dari arah dapur.


"Nggak! Kamu nggak boleh ngapa-ngapain dulu! Pekerjaan rumah, biar Inah sama mama yang handle." Jawab Ardi tegas.


"Tapi aku pengen bantuin mama, Mas." Rengek Aini.


"Kamu lupa yang dibilang Gilang tadi?"


"Kan cuma bantuin masak, Mas."


"Kamu tadi juga mau masak kan sama Erna?"


"Iya, Mas. Tapi,,"


"Ayolah, Sayang! Jangan mendebatku! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang kurang baik lagi padamu." Bujuk Ardi.


Hati Ardi benar-benar cemas saat ini. Ia masih belum tahu kondisi istri tersayangnya itu secara jelas. Jadi, Ardi jelas melarang Aini melakukan banyak hal, agar hal yang terjadi tadi, tidak terulang kembali.


Aini menatap dengan seksama wajah suaminya. Ia bisa melihat dengan jelas perasaan cemas Ardi dari ekspresi wajahnya. Ia pun akhirnya tersenyum kecil, lalu mengangguk pada Ardi.


Ardi pun membalas senyuman Aini dengan perasaan sangat lega. Dan dengan segera, mendaratkan kecupan di kening Aini.


Tak berselang lama, Inah pulang membawa pesanan Aini. Aini begitu antusias menerima lotis yang dibawa Inah. Ia bahkan mengajak seisi rumah untuk makan bersamanya. Termasuk Inah juga.


Ardi akhirnya tidak kembali ke kantor agar bisa memastikan Aini baik-baik saja. Dan karena Ardi mengikuti Aini setiap saat, membuat Niken dan Rama kesulitan menanyai Ardi tentang kondisi Aini.

__ADS_1


Inah yang tadi juga sempat menjadi sasaran interogasi Niken, ternyata juga sedikit sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Sedang Reno, diminta Ardi membantu Dika di kantor. Karena memang, Ardi sebenarnya sedang banyak pekerjaan.


Selepas maghrib, Ardi sempat menerima telepon di taman belakang. Dan Niken melihat kesempatan itu.


"Jangan masuk dulu! Mama mau tanya." Cegah Niken, saat Ardi ingin kembali ke dalam rumah setelah selesai bertelepon.


"Kenapa, Ma?"


"Aini tadi kenapa? Kamu kenapa sampai mendadak pulang? Nggak ada hal yang kurang baik, kan?"


"Oh, itu. Aini tadi,,"


Tiba-tiba, suara Aini menggema dari ambang pintu. Sepasang ibu dan anak itu segera menoleh.


"Mas,, oh, ada mama juga ternyata." Ucap Aini kikuk.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Ardi perhatian.


"Itu Kenzo minta jalan-jalan, Mas." Jujur Aini.


Ardi menoleh segera pada ibunya. "Nanti aja ya, Ma."


"Ya." Jawab Niken sambil mengangguk dan tersenyum paham.


"Selesaikan dulu aja, Mas!" Pinta Aini saat Ardi berjalan ke arahnya.


"Udah, tenang aja! Bukan hal yang terburu-buru. Yuk!" Sahut Ardi seraya merangkul Aini.


Aini menatap Ardi dengan bingung. Ia bahkan lupa menyapa Niken yang masih penasaran dengan cerita Ardi.


Ardi lalu menemui Kenzo yang meminta untuk berjalan-jalan bersama. Ia membujuk Kenzo untuk berjalan-jalan di lain hari saja. Karena ia masih belum tahu, bagaimana kejelasan kondisi Aini. Sejak tadi, ia belum sempat menghubungi Ratna untuk menanyakan keadaan Aini dulu saat hamil Umar.


Kenzo akhirnya menyetujui rayuan ayahnya. Aini pun paham dengan maksud Ardi yang membujuk Kenzo untuk berjalan-jalan di lain hari saja.


Dan hingga malam, Niken belum bisa menanyai Ardi. Inah pun juga sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Niken tidak sampai hati jika harus mengganggu istirahat Inah.


Flashback Off


"Tapi, Mama jangan bilang ke Umar sama Kenzo, ya!" Pinta Ardi yakin.


"Memang ada apa?" Tanya Niken makin penasaran.


"Aini kemarin mendadak pingsan, Ma."


"Mungkin kelelahan. Dia habis ngapain memangnya?"


"Itu yang masih belum Ardi tahu pastinya, Ma."


"Maksudmu?"


"Erna kemarin ke sini?"


"Iya. Tapi waktu Aini sama Erna mau bikin kue, Aini tiba-tiba kelelahan dan langsung pingsan."


"Gilang?"


"Kemarin Gilang langsung ke sini, tapi belum bisa memastikannya, Ma. Diagnosa sementaranya, karena riwayat donor ginjal Aini dan Aini sekarang sedang hamil."


Niken terdiam.


"Aku belum sempat bertanya ke mbak Ratna, gimana keadaan Aini dulu waktu hamil Umar." Imbuh Ardi.


"Lalu, gimana kondisinya sekarang?"


"Ya, Mama lihat sendiri, kan? Aini kelihatan baik-baik aja. Tapi kita belum tahu kondisi pastinya. Nanti Ardi akan coba tanya ke mbak Ratna saat di kantor. Gilang juga nungguin kabar dari Ardi soalnya."


"Aini tahu diagnosa Gilang?"


Ardi menggeleng. "Jangan dikasih tahu, Ma. Takutnya nanti Aini malah jadi kepikiran."


"Memangnya apa yang Aini nggak boleh tahu?" Sela Rama tiba-tiba, yang baru saja pulang dari jalan-jalan pagi.


"Papa tanya mama aja, ya? Ardi harus ke kantor, Pa." Jawab Ardi santai.


Rama pun menoleh pada istrinya. Niken lalu mengangguk paham.


"Kalau ada apa-apa, kabari Ardi ya, Ma!" Pinta Ardi seraya meraih tangan kanan ibunya untuk berpamitan.


"Iya. Hati-hati!"


"Iya, Ma. Ardi berangkat ya, Pa." Pamit Ardi.


"Iya. Hati-hati!" Jawab Rama, seraya menyambut tangan putranya untuk berpamitan.


Ardi segera melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Angga sudah menunggunya sejak tadi.


"Aini kenapa, Ma?" Tanya Rama, setelah Ardi hilang di balik pintu.


"Kemarin mendadak pingsan, Pa."


"Pingsan ya jelas mendadak dong, Ma. Mana ada pingsan yang direncanain?"


"Mendadak karena Aini nggak ngapa-ngapain, Pa. Tiba-tiba kelelahan trus pingsan."

__ADS_1


"Lha itu, kelelahan."


"Orang bisa kelelahan kalau ngobrolin apa sih, Pa?"


"Apa, ya?"


Niken lalu menceritakan sedikit cerita Ardi tadi pada Rama. Rama pun akhirnya paham dengan kekhawatiran Ardi tadi.


Niken lalu pergi ke kamar Aini untuk menemaninya. Sedang Rama, membersihkan diri di kamar, setelah berjalan-jalan pagi.


...****************...


Pukul sepuluh pagi, Ardi baru saja selesai meeting dengan beberapa karyawannya. Ia teringat dengan rencananya untuk bertanya pada Ratna tentang keadaan Aini dulu.


"Assalamu'alaikum, Mbak." Sapa Ardi, saat panggilan teleponnya tersambung.


"Iya, wa'alaikumussalam. Gimana kabarmu, Di?" Sahut Ratna di ujung telepon.


"Alhamdulillah baik, Mbak. Mbak Ratna sekeluarga gimana?"


"Alhamdulillah baik. Aini?"


"Alhamdulillah, Mbak."


"Syukurlah. Ada apa? Tumben siang-siang telepon?"


"Aku, mau tanya dikit tentang Aini, Mbak."


"Lhoh? Aini emang kemana? Dia nggak pergi lagi, kan?"


"Aini di rumah, Mbak. Sama papa, sama mama."


"Terus?"


"Tentang kondisi Aini, Mbak."


Ratna diam.


"Apa saat hamil Umar, Aini pernah mendadak pingsan, Mbak? Tanpa sebab yang jelas."


"Apa Aini sakit, Di?"


"Ardi belum tahu, Mbak. Hanya saja, kemarin Aini mendadak pingsan di rumah. Padahal, ia hanya mengobrol dengan Erna."


"Lalu?"


"Menurut Gilang, itu efek dari donor ginjal yang dijalaninya dulu. Dan lagi, sekarang dia sedang hamil. Apa dulu Aini juga pernah seperti itu saar hamil Umar, Mbak?"


"Kamu nggak tanya Aini langsung?"


"Ardi takut, Aini jadi kepikiran, Mbak. Jadi Ardi belum bertanya padanya."


Ratna diam lagi.


"Aku denger dari Aini dan almarhumah ibuk dulu, memang saat hamil Umar, Aini gampang banget kelelahan. Tapi, kalau sampai pingsan tanpa alasan yang jelas, kayaknya enggak."


Ardi pun terdiam.


"Atau mungkin, itu juga efek dari donor yang kedua kemarin?"


Ardi masih diam. Ia mencoba memikirkan dengan seksama, apa yang Ratna ungkapkan.


"Kalau saranku, katakan apa adanya pada Aini! Yang jelas tahu kondisi tubuhnya, jelas dia sendiri. Dengan begitu, kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk keluarga kalian juga, jika saling tahu, satu sama lain."


"Tidak apa jika Aini sampai memikirkan hal itu. Karena ia akan lebih hati-hati lagi, jika memang kondisinya kurang baik. Bukan begitu?" Imbuh Ratna.


Ardi menghela nafas perlahan. Apa yang Ratna katakan ada benarnya. Itu semua tentang kondisi tubuh Aini. Dan yang jelas tahu bagaimana kondisi tubuhnya, jelas adalah Aini sendiri.


"Iya, Mbak." Jawab Ardi lega.


"Aku titip Aini dan Umar padamu. Tolong jaga mereka selama jauh dariku! Jangan ragu mengatakan apapun pada Aini atau Umar, agar semua bisa jadi lebih baik!" Pesan Ratna dengan nada sedikit bergetar.


"Tentu, Mbak. Aku akan menjaga mereka. Dan terima kasih untuk nasehatnya." Tulus Ardi lebih lega.


"Iya. Aku tutup dulu, ya! Ada tamu sepertinya."


"Oh, iya, Mbak. Salam buat mas Imron, Rafi dan Deni."


"Nanti aku sampaikan. Salam juga buat pak Rama, bu Niken dan Kenzo."


"Iya, Mbak."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ardi segera mengakhiri sambungan teleponnya. Ia pun bergegas merapikan meja kerjanya. Dan langsung menyambar jas kerja serta tasnya.


"Re-schedule rapat siang nanti! Aku harus segera menemui Gilang." Ucap Ardi, setelah sampai di ruangan kerja Dika.


"Baik, Pak." Paham Dika.


Ardi segera meninggalkan kantor. Dan tak lupa, segera menghubungi Gilang untuk membuat janji temu untuk mengecek kondisi Aini lebih lanjut.

__ADS_1


Kejujuran dan keterbukaan, menjadi salah satu hal penting dalam sebuah hubungan. Mereka menjadi pondasi yang akan menguatkan hubungan itu menjadi lebih kokoh dan bisa bertahan dalam badai besar sekalipun.


__ADS_2