Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Masa Lalu Part 3


__ADS_3

"Apa? Siapa yang mengatakan itu?" Tanya Aini panik.


"Dokter. Kamu berarti tahu jika sekarang kamu sedang hamil kan? Kenapa tak mengatakannya padaku Ni? Dia anakku bukan?" Tanya Adit lagi dengan penuh perhatian.


Aini hanya diam, dan lalu membuang muka dari Adit.


"Aku panggil dokter dulu."


Adit pun memanggil dokter yang tadi menangani Aini. Adit bersikap sangat lembut dan penuh perhatian pada Aini. Ia benar-benar terlihat seperti seorang suami bagi Aini. Bahkan dokter tidak curiga sama sekali pada Adit yang berbohong dan mengaku bahwa ia adalah suami Aini.


"Ayo ikut aku!" Ajak Adit setelah ia selesai menyelesaikan administrasi Aini.


"Maaf Pak, saya tidak bisa. Saya harus kembali ke rumah makan." Jawab Aini sekenanya.


"Tidak! Kamu harus ikut aku pulang sekarang. Aku akan bertanggung jawab."


"Apa? Tapi,,"


"Tak ada penolakan. Aku akan bertanggung jawab padamu. Karena dia adalah anakku. Benar bukan?"


"Bukan. Dia bukan anak Bapak." Sahut Aini datar sambil menatap lurus ke arah jalan raya.


Aini masih belum menjawab pertanyaan Adit tentang anak siapa yang ada dalam kandungannya. Tapi Adit sangat yakin, itu adalah hasil dari benih yang ia titipkan pada Aini malam itu.


"Benarkah?" Cibir Adit santai.


"Tentu. Ini bukan anak Bapak." Jawab Aini getir.


Aini sangat yakin, jika ia tak akan mendapat restu dari Suharti jika ia mengaku bahwa ia sedang hamil cucu kandungnya. Mengingat, Suharti sangatlah pemilih mengenai calon menantunya. Dan ia sangat mementingkan bibit, bebet, bobot dari sang calon menantu. Yang itu, jelas tidak ada pada diri Aini.


"Kalau begitu, mari lakukan tes DNA! Kita sedang di rumah sakit sekarang." Tawar Adit santai.


Aini langsung kelabakan. Ia tak akan bisa mengelak lagi jika sampai Adit melakukan tes DNA pada janin yang ada dalam rahimnya. Karena memang, janin yang ada dalam kandungan Aini adalah anak Adit.


Adit menyadari kegugupan Aini. Ia segera menggandeng tangan Aini dan membawanya ke mobil. Hati Adit sedang sangat bahagia saat ini. Ia benar-benar akan memiliki Aini seutuhnya dalam waktu dekat. Bahkan, sudah ada buah hati yang menantinya dalam rahim Aini.


Aini sedikit meronta saat Adit memaksanya ikut dengannya. Tapi karena Aini tak ingin membuat kegaduhan di tempat umum, ia akhirnya mengalah pada Adit.


"Adit akan menikahi Aini secepatnya Pak, Bu'." Ucap Adit penuh keyakinan.


"Ibu tidak setuju! Kita sudah pernah membicarakan ini bukan?" Tolak Suharti cepat.


"Ibu tidak bisa menolak kali ini. Karena Aini sedang hamil anak Adit." Sahut Adit cepat.


Hadi dan Suharti segera menoleh pada Aini yang sedang tertunduk dalam. Wajahnya masih sedikit pucat karena kelelahan.


"Dia pasti berbohong! Dia pasti merayumu agar mau bertanggung jawab pada anak haram dalam kandungannya yang entah milik siapa." Tuduh Suharti.


Hati Aini begitu perih mendengar penuturan Suharti. Sungguh, ia tak pernah memikirkan hal sehina itu selama ini. Dan bahkan, ia kemarin sudah memutuskan untuk merawat anak itu seorang diri, demi menghindari ucapan pedas Suharti seperti saat ini.


"Tidak Bu'. Aini tak pernah merayu Adit. Adit yang selalu mendekatinya. Bahkan Adit yang menjebaknya malam itu agar Adit bisa memilikinya tanpa penolakan dari Ibu." Jujur Adit.

__ADS_1


Kedua orang tua Adit beserta Aini segera menatap Adit dengan penuh rasa tak percaya.


"Maaf Ni! Aku menjebakmu malam itu dengan jus mangga yang aku berikan padamu saat di kantor. Jus itu sudah aku beri obat perangsang dan aku juga sengaja mengikutimu pulang saat itu." Imbuh Adit.


"Kenapa Bapak melakukan itu pada saya?" Ucap Aini getir.


BUG.


Hadi mendaratkan pukulan kerasnya tepat di wajah Adit. Adit terjatuh bersimpuh tepat di kaki Aini. Hadi bahkan memukul Adit kembali beberapa kali demi meluapkan amarahnya.


Suharti segera menghampiri suaminya untuk menenangkannya dan agar berhenti menghajar putranya sendiri. Aini segera berdiri dari posisinya. Ia sangat terkejut melihat Adit dihajar oleh ayahnya sendiri.


"Kami tak pernah mengajari hal hina seperti itu padamu." Marah Hadi dengan keras.


Adit meringis kesakitan.


Aini tetaplah seorang wanita dengan hati yang lembut. Ia tak akan tega melihat seseorang dihajar seperti itu. Ia segera menghampiri Adit setelah Hadi selesai memberi pelajaran pada putra semata wayangnya.


"Dia putra Anda Pak Hadi. Kenapa Anda memukulnya seperti itu?" Tanya Aini tak percaya.


"Biar dia ingat, apa yang sudah kami ajarkan selama ini padanya Nak." Jawab Hadi sambil meredam amarahnya yang memuncak.


"Kalau saja Ibu sudah menyetujui permintaan Adit untuk meminang Aini sejak kemarin, Adit tak akan melakukan hal itu." Sahut Adit sambil menahan wajahnya yang memar dan sedikit mengeluarkan darah.


"Dia tidak selevel dengan kita." Sahut Suharti tanpa ragu.


"Adit tak peduli dengan itu Bu'. Adit hanya ingin menikah dengan Aini. Bukan orang lain." Tegas Adit.


Aini yang masih terkejut dengan semua kejadian yang baru saja terjadi, dan segala ucapan Suharti yang begitu menyayat hatinya, terduduk lemas dan hampir jatuh karena kepalanya mendadak kembali pusing dan berdenyut kencang.


Aini hanya menggelengkan kepalanya.


"Cih! Drama." Cibir Suharti.


"Cukup Bu'!" Bentak Hadi yang juga kesal dengan omongan pedas sang istri.


Hadi segera mendekati Aini. Hati ayah satu ini, tak tega melihat wanita tak bersalah itu terlihat begitu lemah saat ini. Ia tahu betul, seorang wanita hamil bisa menjadi lebih lemah fisiknya.


"Ayo, berbaringlah dulu di sofa!" Pinta Hadi lembut.


Adit pun membantu Aini berdiri. Sedang Hadi menyiapkan bantal sofa untuk bantalan Aini tiduran. Aini yang memang tidak dalam keadaan baik, hanya pasrah saja. Ia lantas berbaring di sofa yang tadi ia duduki.


"Tenanglah Nak! Kami akan bertanggung jawab. Kami akan segera ke rumahmu." Ucap Hadi untuk menenangkan Aini.


"Tapi Pak,," Sela Aini lirih.


"Bapak!" Teriak Suharti tak terima.


"Ibu diam saja!" Bentak Hadi singkat sambil menoleh ke arah Suharti.


"Tak ada tapi Nak. Bayi itu juga cucuku. Aku tak akan menyia-nyiakannya begitu saja." Sahut Hadi lembut.

__ADS_1


"Terima kasih Pak." Sahut Adit cepat.


Air mata Aini mengalir tanpa permisi. Ia tak tahu harus bagaimana dengan semua ini. Apakah ia harus bahagia, karena keluarga Adit akan bertanggung jawab padanya? Ataukah ia harus sedih, mengingat penolakan dari Suharti yang begitu keras? Lalu, bagaimana dengan ibunya?


"Tenanglah Nak! Besok kami akan ke rumahmu untuk melamarmu. Dan kalian, harus segera menikah!" Ucap Hadi penuh perhatian.


"Sekarang, istirahatlah dulu di sini! Ada yang harus Bapak lakukan." Imbuh Hadi.


"Jaga calon istrimu Dit!" Pinta Hadi tegas.


"Tentu Pak!" Jawab Adit yakin dengan senyum bahagia.


"Bapak nggak bisa seperti itu! Ibu nggak mau,," Sela Suharti tiba-tiba.


"Diam Bu'!" Bentak Hadi lagi.


Hadi akhirnya mengajak Suharti pergi, dan meninggalkan Adit dan Aini di rumah. Adit sejenak meninggalkan Aini untuk membersihkan lukanya. Aini pun menenangkan dirinya sembari menunggu Adit.


Sore harinya, Adit mengantar Aini pulang. Ratmini sangat terkejut saat melihat Aini diantar pulang oleh Adit. Karena memang, Aini selama ini tak pernah diantar pulang oleh seorang laki-laki.


Adit sejenak mampir dan mengobrol dengan Ratmini. Ia pun menceritakan tentang kehamilan Aini karena ulahnya dua bulan lalu.


Ratmini seakan ingin marah pada Aini yang tak bisa menjaga kehormatannya. Tapi, ia juga tak bisa menyalahakan Aini sepenuhnya, karena Adit mengakui ulahnya menjebak Aini dengan obat perangsang malam itu.


Keesokan paginya, Hadi dan Suharti datang ke rumah Aini untuk melamar Aini. Hadi meminta maaf pada Ratmini atas ulah putranya hingga membuat Aini hamil diluar nikah. Dan ia berjanji, akan menjaga Aini dengan baik nantinya setelah ia menikah dengan Adit. Karena memang, Hadi menyukai Aini sejak ia bertemu dengannya di rumah makan.


Ratmini tak bisa berbuat banyak. Semua telah terjadi. Kehamilan Aini tak akan bisa ditutupi dengan begitu saja. Jadi, Ratmini pun menerima lamaran Hadi untuk Aini.


Dan ijab qobul akan diadakan dua minggu lagi. Mengingat, usia kehamilan Aini teruslah berjalan. Tak mungkin menundanya terlalu lama.


Setelah menikah, Adit langsung membawa Aini ke rumah pribadinya. Mereka tinggal terpisah dari orang tua masing-masing.


Banyak omongan orang yang mencurigai pernikahan Aini yang tiba-tiba. Bahkan, karyawan di rumah makan Adit pun membicarakannya.


Dan hal itu membuat Aini sedikit tertekan setelah pernikahannya. Aini lebih banyak diam. Tapi karena perhatian yang tulus dari sang suami, perlahan ia mulai bisa bersikap biasa.


Aini yang awalnya tak menaruh hati pada Adit pun, lambat laun bisa menerima kehadirannya dengan cintanya. Ia pun mulai bisa mencintai sang suami dengan sepenuh hati, seiring berjalannya waktu.


Flashback Off


"Kamu membuatku jatuh cinta padamu dengan semua sikap dan cinta tulusmu. Haruskah aku menerima semua ini Mas?" Ucap Aini dengan air mata yang terus mengalir.


"Tentu saja tidak Sayang. Maka dari itu, dengarkan aku! Kamu tak perlu kembali bekerja! Aku yang akan menafkahi kalian. Itu tugasku." Jawab Adit yakin seraya menarik Aini dalam pelukannya.


Aini menumpahkan rasa hatinya dalam pelukan sang suami. Adit pun dengan sabar menemani istrinya, yang ia tahu, hatinya sedang tidak dalam keadaan baik saat ini.


Cukup lama Aini menangis. Ia akhirnya kelelahan dengan tubuh demamnya. Adit pun membawa Aini kembali ke ranjangnya dan membantunya untuk tidur.


Adit membiarkan Aini beristirahat dengan menemaninya di sampingnga. Tapi sayang, separuh pikiran Adit melayang jauh pada seseorang yang sedang berada di rumah orang tuanya sendiri juga malam ini. Siapa lagi kalau bukan Ratri.


Ah memang, hati Adit sudah sangat bercabang saat ini. Atau mungkin, memang sejak awal sudah bercabang. Hanya saja, kemarin mungkin cabang itu sempat terkubur dan nyaris mati. Tapi kini, malah tumbuh dan berkembang semakin panjang dan jelas.

__ADS_1


Adit memang mencintai dua istrinya itu. Dan yang manakah yang lebih ia cintai, itu masih belumlah jelas. Tapi satu yang pasti, Adit berusaha sangat keras untuk bisa adil pada dua istrinya. Meski, tetap ada salah satu dari mereka yang lebih mendominasi hati Adit.


Siapakah dia? Apakah Aini? Atau Ratri? Apakah istri pertama ataukah cinta pertama yang akan menang?


__ADS_2