
Malam telah bergulir. Membawa para penikmatnya menuju ke setiap hal yang mereka kehendaki. Menapaki cerita demi cerita yang berbeda-beda bagi setiap pribadinya.
Mobil Ardi baru saja terparkir rapi di depan sebuah rumah yang belum lama selesai dibangun dan ditempati. Rumah satu lantai berukuran sedang dengan desain sederhana, namun nampak begitu nyaman dan hangat. Rumah baru Rama dan Niken.
Rama dan Niken memang sengaja pindah rumah setelah pernikahan Ardi dan Aini. Mereka ingin menikmati masa tua mereka sendiri dan membiarkan sang putra membina rumah tangganya dengan keluarga kecilnya.
Jarak rumah baru Rama dengan rumah Ardi memang cukup jauh. Karena Rama membangun rumah itu di sebuah desa yang cukup jauh dari keramaian kota. Rama dan Niken ingin menikmati masa tua, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan lalu lintas kehidupan yang semakin riuh dengan segala hal.
Padahal baru juga dua minggu Rama dan Niken pindah ke rumah baru, tapi keluarga kecil Ardi bahkan sudah dua kali menginap di sana karena rindu. Mereka sedikit merasa kehilangan setelah Rama dan Niken pindah. Jadi, mereka pun menginap di rumah baru itu untuk melepas rindu.
"Papa!" Panggil Kenzo dari depan pintu rumah.
Ardi yang baru saja keluar dari mobil bersama Aini, segera melambaikan tangannya pada Kenzo. Mereka lalu segera masuk ke rumah, yang jelas disambut dengan hangat oleh semua yang ada di rumah.
"Kamu baru pulang, Di?" Tanya Niken, karena melihat putranya masih mengenakan setelan kerja.
"Iya, Ma. Aini tadi nyusul ke kantor, katanya mau ikut ke sini." Jujur Ardi.
"Inget, Di! Kamu udah punya Aini sekarang. Jangan keseringan lembur! Kasihan Aini kalau di rumah sendirian." Nasehat Niken.
"Iya, Ma. Ardi ngerti."
"Kalau ngerti, kenapa jam segini baru sampai sini? Ini udah jam tujuh. Kalau memang mau jemput Kenzo sama Umar, kamu kan bisa pulang kantor lebih cepat."
Belum sempat Ardi menjawab, Aini segera memepet Niken.
"Mas Ardi tadi nakal sama Aini Ma, di kantor." Bisik Aini yang memang sedang duduk tepat di samping Niken.
"Nakal gimana?" Bingung Niken.
"Nakal itu Ma,,," Gantung Aini lirih.
Niken segera melirik ke arah Ardi. Ia paham apa yang Aini maksudkan. Tapi yang dilirik, jelas memasang wajah polos, karena tidak tahu apa yang dibicarakan dua wanita itu.
"Maklumlah, kan udah lama puasa, Ni. Pasti bakalan kayak gitu kalau udah ketemu yang udah halal." Sindir Niken sedikit keras.
Aini hanya cekikikan mendengar sindiran Niken. Tapi, dua laki-laki dewasa yang sedang asik mengobrol di seberang meja, sontak menoleh dan penasaran.
__ADS_1
"Kenapa, Ma?" Tanya Rama.
"Enggak, Pa. Obrolan wanita." Jawab Niken sekenanya.
Rama dan Ardi memilih untuk tidak bertanya lagi. Mereka pun kembali mengobrol bersama.
"Kalian jadi ke Surabaya, kan?" Tanya Niken.
"Iya, Ma. Lusa." Jujur Ardi.
"Papa dan Mama juga berangkat bareng kalian aja kalau gitu."
"Mama ada acara di Surabaya?"
"Papa dapat undangan dari teman lamanya."
"Kalau gitu, biar Ardi bilang ke Dika untuk memesankan tiket untuk papa dan Mama sekalian."
Rama dan Niken mengangguk setuju. Ardi segera mengubungi Dika untuk hal itu. Ia tak mau, jika sampai kedua orang tuanya kehabisan tiket dan harus berangkat belakangan. Meski sebenarnya juga tidak masalah untuk itu.
Kebersamaan keluarga. Akan selalu menjadi indah ketika kita saling menghargai dan menerima semua kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling mengerti posisinya satu sama lain. Karena memang itulah hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Matahari pagi sudah mulai menampakkan sinar dan kehangatannya. Menerangi dan menghangatkan bumi dengan keindahan yang begitu paripurna. Langit biru nan indah, menjadi penyerta yang indah di hari yang baru.
Pagi ini, keluarga kecil Ardi dan kedua orang tuanya bersiap untul terbang ke bagian timur Pulau Jawa. Mereka memiliki tujuan masing-masing.
Rama dan Niken akan menghadiri undangan rekan lama Rama yang mengadakan pesta pernikahannya yang kesekian kalinya. Sedang Ardi dan Aini akan menghadiri undangan dari dua pengawal mereka, Angga dan Erna.
Iya, Angga dan Erna akan melangsungkan pernikahan mereka besok. Ardi dan Aini jelas diundang untuk hal itu. Terlebih Aini. Hidup satu atap dengan Erna, berbagi banyak hal dengannya selama satu tahun, membuat Aini begitu dekat dengan pengawalnya itu. Jadi, ia jelas meminta dengan khusus pada Ardi untuk menghadiri acara pernikahannya.
Ardi juga jelas merasa tidak enak hati jika tidak memenuhi undangan itu. Mengingat, Angga adalah salah satu anak buah handalnya yang memang sudah lama bersamanya. Ia sudah membantu Ardi dalam banyak hal.
Dan karena yang menikah adalah dua anak buah Ardi, semua anak buah Ardi meminta ijin untuk bisa menghadirinya. Tapi jelas, Reno dan Dika tidak mengijinkan semuanya hadir. Ada beberapa pengawal yang harus tetap berjaga di Bandung.
"Erna masih ngurusin warungmu di Banyuwangi, Ni?" Tanya Niken, saat mereka bersantai setelah tiba di rumah.
"Enggak, Ma. Sejak sebelum Aini nikah sama mas Ardi, Erna sudah meminta ijin pada Aini untuk tidak kembali bekerja setelah ia menikah dengan Mas Angga." Jujur Aini.
__ADS_1
"Jadi, sebelum kamu menikah, kamu sudah tahu kalau Angga dan Erna akan menikah besok?"
"Sudah, Ma. Mas Angga sudah menemui pak Rohmad, selaku pemilik panti dimana Erna tinggal dan besar selama ini, sebulan sebelum aku dan mas Ardi bertemu di Banyuwangi waktu itu. Ia sudah melamar Erna pada pak Rohmad, yang sudah Erna anggap sebagai orang tuanya."
Erna besar di salah satu panti asuhan di Surabaya. Ia ditemukan oleh pemilik panti asuhan itu, dini hari, sekitar dua puluh empat tahun yang lalu. Ia ditemukan oleh pemilik panti di depan panti itu, di sebuah kardus dengan terselimuti oleh sebuah selimut bayi.
Saat itu, Erna kecil sepertinya baru saja dilahirkan oleh ibunya yang mungkin tidak mau merawatnya karena suatu hal. Ari-ari Erna kecil bahkan masih belum terpotong. Jadi, pemilik panti yang tidak sengaja mendengar tangisan Erna kecil, segera menolong dan merawatnya. Hingga ia dewasa.
Erna tidak pernah tahu, siapa orang tua kandungnya. Karena memang tidak ada petunjuk apapun yang bisa ia jadikan bekal untuk mencari siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Dan karena hal itu, ia menganggap pemilik panti yang merawatnya, sebagai orang tua kandungnya.
Hingga saat Erna akan menikah dengan Angga, Erna meminta pada Angga untuk melamarnya pada pemilik panti yang juga sangat menyayangi Erna.
Niken mengangguk paham. "Apa itu alasanmu tidak melanjutkan usahamu?"
"Iya, Ma. Mas Ardi awalnya memintaku untuk menyerahkan warung pada Erna. Tapi karena Erna jelas akan mengikuti mas Angga setelah menikah, kami akhirnya memutuskan untuk memberikan itu pada mbak Dwi yang memang sudah terbiasa mengelola warung makan."
"Anaknya budhemu itu?"
"Iya, Ma."
"Usaha yang Ardi kelola, malah jadi biro jodoh sepertinya." Canda Niken.
"Iya, Ma, hhihi." Aini sedikit cekikikan.
Saat sore tiba, Ardi baru saja selesai mandi setelah pulang dari kantor untuk beberapa hal. Aini pun membantunya untuk berpakaian.
"Mas,," Panggil Aini manja, seraya mengusap dada bidang suaminya.
"Kenapa, Sayang? Kamu mau minta apa?" Paham Ardi.
Aini tersenyum hangat pada Ardi. Ia bahagia, Ardi begitu memahami dan mengertinya.
"Apa boleh aku meminta sesuatu? Tapi aku harap, Mas tidak marah, dan mau mendengarkan penjelasanku untuk itu sebelum memutuskan." Pinta Aini perlahan.
"Jika itu hal baik, kenapa aku harus marah? Dan aku percaya padamu, kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk."
CUP. Aini lebih dulu mendaratkan ciuman bahagia di bibir Ardi.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak Kenzo dan Umar menemui mbak Oliv dan mas Adit. Apa Mas mengijinkan?" Tanya Aini hati-hati.